NovelToon NovelToon
RESEP RAHASIA MANTAN ISTRI

RESEP RAHASIA MANTAN ISTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.

​Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Ilusi Sukses & Penindasan di Sudut Dapur

Bab 23: Ilusi Sukses & Penindasan di Sudut Dapur

​Hari pertama peluncuran "Menu Spesial Tradisional" hasil racikan Santi membawa angin segar yang semu bagi Adrian. Berkat promosi besar-besaran dan potongan harga setengah harga yang gila-gilaan, area parkir restoran "Rasa Hana" yang biasanya sepi mendadak dipenuhi kendaraan. Pelanggan baru berdatangan karena penasaran dengan menu ayam goreng lengkuas dan sambal bajak manis yang digembar-gemborkan di media sosial.

​Malam harinya, Ibu Broto pulang ke rumah mewah dengan wajah yang berseri-seri, menenteng kantong belanjaan berisi baju-baju bermerek baru hasil gesekan kartu kredit Adrian. Di belakangnya, Santi berjalan dengan langkah yang sengaja dibuat anggun, menyandang tas tangan baru pemberian Ibu Broto sebagai hadiah atas "keberhasilan" menu barunya.

​"Hahaha! Ibu bilang juga apa, Adrian! Menu Santi ini membawa hoki besar!" seru Ibu Broto sembari melemparkan kantong belanjaannya ke atas sofa ruang tengah dengan jemayanya. "Restoran kita ramai lagi! Uang masuk ratusan juta rupiah hari ini! Ini baru namanya perempuan pembawa rezeki, tidak seperti orang yang cuma bisa dikurung di atas dan membawa aura sial untuk bisnis suami!"

​Adrian yang baru saja menuangkan wiski ke gelasnya tersenyum lega. Beban utang bank di pundaknya seolah terangkat sesaat karena ilusi kesuksesan hari pertama ini. Ia melirik Santi yang kini berdiri di dekat meja konter dapur dengan tatapan penuh binar kemenangan.

​Untuk merayakan "kemenangan semu" itu, Ibu Broto menyuruh Santi menyiapkan makan malam mewah di rumah. Mereka bertiga—Ibu Broto, Adrian, dan Santi—makan bersama di meja makan marmer dengan penuh tawa canda, melupakan keberadaan Hana seolah-olah wanita itu sudah lenyap dari silsilah keluarga mereka.

​Jelang pukul sepuluh malam, acara makan-makan itu selesai. Meja makan dipenuhi oleh piring-piring kotor bergumpal lemak ayam, mangkuk sayur yang lengket, dan gelas-gelas sisa noda sambal yang berminyak.

​Hana baru saja turun ke lantai bawah untuk mengambil obat penguat kandungannya ketika Ibu Broto tiba-tiba menggebrak meja makan dengan telapak tangannya, menghentikan langkah Hana tepat di depan lorong dapur.

​"Eh, Hana! Kebetulan sekali kamu turun!" seru Ibu Broto dengan nada suara yang melengking kencang, sarat akan niat menindas yang teramat kentara. "Lihat itu! Piring kotor di meja menumpuk. Santi ini sudah capai seharian memikirkan resep restoran dan melayani suamimu. Sekarang, giliran kamu yang tahu diri! Cuci semua piring-piring kotor sisa perayaan kami ini sampai bersih!"

​Hana menghentikan langkahnya. Wajahnya yang semula pucat kian memutih. Ia menatap tumpukan piring kotor yang berlemak itu, lalu beralih menatap Ibu Broto dengan sorot mata yang teramat jernih namun dingin. "Maaf, Bu. Kondisi kandungan saya sedang lemah. Dokter melarang saya melakukan pekerjaan domestik yang berat, apalagi berdiri terlalu lama di depan bak cuci piring."

​Mendengar penolakan Hana, Santi langsung memasang akting andalannya. Ia maju satu langkah, menundukkan kepalanya dalam-dalam sembari meremas ujung kausnya, matanya dibuat berkaca-kaca seolah-olah ia adalah korban yang paling tersakiti di rumah itu.

​"I-ibu... tidak apa-apa... biar Santi saja yang cuci piringnya," cicit Santi dengan suara yang bergetar hebat, sengaja memancing simpati Adrian. "Santi tidak apa-apa kalau harus capai sampai tengah malam... asal Mbak Hana tidak marah sama Santi... Santi tahu diri kalau Santi cuma numpang di sini..."

​"Santi! Kamu tidak boleh mengalah terus!" bentak Ibu Broto sengaja memotong kalimat Santi, lalu beralih menatap Adrian dengan wajah berang. "Adrian! Kamu lihat sendiri bagaimana kelakuan istrimu yang pemalas ini?! Dia sengaja ingin menindas Santi karena iri dengan kesuksesan menu baru Santi di restoran! Mau jadi apa rumah ini kalau istri sahnya kerjanya cuma tidur dan membangkang?!"

​Adrian yang egonya sedang melambung tinggi akibat ilusi sukses hari pertama, ditambah pengaruh alkohol yang mulai menguasai otaknya, langsung berdiri dari kursi makannya. Ia menatap Hana dengan pandangan mata yang dingin, penuh dengan rasa muak yang tak lagi disembunyikan.

​"Hana! Cukup!" bentak Adrian dengan suara baritonnya yang menggelegar, memecah kesunyian malam di dalam rumah mewah itu. "Jangan keterlaluan jadi istri! Santi sudah berjuang mati-matian menyelamatkan mukaku dan bisnis restoranku yang hampir hancur karena resep barumu yang gagal! Sekarang, cuma disuruh mencuci piring sisa makan malam saja kamu banyak alasan?! Di mana rasa terima kasihmu sebagai istri?!"

​Bentakan keras dari Adrian terasa seperti hantaman godam yang tak kasat mata tepat di dada Hana. Rasa kecewa, sedih, dan terhina yang teramat sangat bergolak hebat di dalam benak Hana. Suami yang dahulu berjanji akan menjaganya dan calon anak mereka, kini berdiri membentaknya demi membela seorang pelayan yang telah merusak ranjang pernikahan mereka.

​Hana terpojok di sudut dapur, tangannya dengan gemetar memegangi perut bawahnya yang mendadak kembali terasa melilit dengan intensitas yang jauh lebih menyakitkan daripada sebelumnya. Kram hebat itu merayap dengan cepat, membuat napas Hana terasa sesak. Namun, di hadapan aliansi keserakan yang sedang menatapnya dengan penuh kebencian itu, Hana menolak untuk meneteskan air mata.

​"Terima kasih...?" desis Hana dengan suara yang teramat perlahan namun tajam, sepasang matanya menatap langsung ke dalam manik mata Adrian dengan kegetiran yang mendalam. "Kamu meminta rasa terima kasih dariku... untuk perayaan yang dibangun di atas kehancuran harga diriku, Adrian? Baik... jika mencuci piring kotor ini adalah harga yang harus kubayar untuk melihat batasan akhir dari kebiadaban kalian..."

​Hana melangkah maju dengan tubuh yang gemetar menahan sakit fisik yang luar biasa, mendekati bak cuci piring di sudut dapur. Di belakangnya, Santi menyembunyikan senyuman kelicikan yang luar biasa puas di balik tundukan kepalanya, sementara Ibu Broto mendengus menang.

​Mereka tidak menyadari bahwa di balik kepatuhan Hana yang dipatahkan malam ini, ada badai berdarah yang sedang bersiap meledak, karena rasa sakit fisik di perut Hana kini telah mencapai batas puncaknya.

1
THE GIRL COOL😑
good jop 👍👍👍👍 lanjut kan😍😍😍
gendiz: terimakasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!