Keisya bangun kembali ke masa lalu–tepat sebelum kecelakaan yang mengubah segalanya. Dulu, rasa iri dan provokasi membuatnya menyiksa Keyla yang merupakan anak kandung keluarga Jordan yang tlah lama hilang, hingga akhirnya ia mati dibunuh oleh keluarga yang membesarkannya itu..
Kini, ia kembali ke usia 15 tahun dengan ingatan penuh penyesalan, dan setiap ia mengingat masa dimana ia menyiksa Keyla, kepalanya akan terasa sangat sakit, oleh sebab itu, sekarang ia hanya punya satu tekad yaitu melindungi Keyla dari bahaya, menebus kesalahan, dan membiarkan gadis itu mendapatkan tempatnya yang sesungguhnya di keluarga Jordan sebelum dirinya pergi dari keluarga itu agar bisa menjalani hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Keyla berdiri terpaku di depan pintu ruang perawatan tanpa sekali pun mengalihkan pandangannya. Di sepanjang koridor tersedia beberapa bangku yang bisa digunakan keluarga pasien untuk beristirahat, tetapi ia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk duduk.
Kakinya seolah menolak bergerak dari tempat itu, sementara pikirannya terus dipenuhi oleh wajah remaja yang kini berada di balik pintu.
Kalimat terakhir yang diucapkan Keisya sebelum kehilangan kesadaran terus terngiang di telinganya.
"Untung... kamu selamat."
Semakin diingat, dadanya semakin terasa sesak.
Wajah Keisya yang pucat, darah yang mengalir dari pelipis dan hidungnya, serta senyum lega yang tetap menghiasi bibirnya meski berada dalam kondisi seperti itu, membuat rasa bersalah perlahan menggerogoti hati Keyla.
"Keisya Anatasya Jordan..."
Ia bergumam pelan, mencoba mengingat kembali nama yang sempat ia baca pada bordiran seragam sekolah remaja itu.
"Itu namanya, kan?"
Nama tersebut terasa asing di telinganya. Padahal mereka berada di angkatan yang sama.
Mustahil ia tidak pernah mendengar nama putri keluarga Jordan jika memang mereka satu sekolah. Namun kenyataannya, wajah Keisya benar-benar baru pertama kali ia lihat hari itu.
Belum selesai pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan, bayangan tentang dokter muda yang tadi menemuinya kembali muncul.
Pria itu datang tergesa-gesa, menanyakan keadaan Keisya dengan wajah penuh kekhawatiran. Akan tetapi, sebelum memasuki ruang perawatan, dokter tersebut sempat berhenti di hadapan Keyla.
Tatapan mereka sempat bertemu. Entah mengapa Keyla merasakan sesuatu berdesir di dalam dadanya.
Perasaan asing yang begitu kuat. Seolah ada benang tak kasatmata yang menghubungkan dirinya dengan dokter muda tersebut.
Ia mencoba mengingat-ingat.
'Mungkin pernah bertemu? Atau mungkin hanya wajah yang mirip seseorang?'
Namun semakin dipikirkan, semakin kosong pula ingatannya.
Lamunannya buyar ketika suara langkah kaki tergesa terdengar dari ujung koridor.
Keyla menoleh, disana ada dua orang pria sedang berjalan cepat menghampiri ruang perawatan.
Salah satunya tampak jauh lebih dewasa dengan pembawaan yang tenang dan berwibawa. Sementara pria yang satunya memiliki wajah dingin dengan sorot mata tajam yang membuat siapa pun enggan menatap terlalu lama.
Begitu tiba di hadapannya, keduanya melakukan hal yang sama seperti dokter muda tadi.
Mereka menatap Keyla lekat-lekat. Tatapan yang begitu intens hingga membuatnya merasa canggung.
Tanpa sadar Keyla merasakan tubuhnya sedang diamati dari ujung kepala hingga ujung kaki. Seolah kedua pria itu sedang memastikan sesuatu.
'Ada apa dengan mereka?' Pertanyaan itu bergema di dalam hatinya.
Semakin lama menerima tatapan tersebut, pikirannya justru melayang ke arah yang sama sekali tidak positif.
Sampai akhirnya pria yang tampak paling tua berdeham pelan.
"Apa kamu temannya Keisya?" Suara berat itu membuat Keyla sedikit terkejut.
Entah mengapa, mendengar suara pria tersebut menghadirkan perasaan hangat yang sulit dijelaskan. Namun ia segera menggelengkan pikirannya.
Sekarang bukan waktunya melamun, ia berusaha mencerna pertanyaan tadi.
'Teman? Bagaimana mungkin? Baru hari aku ia mengetahui keberadaan Keisya Jordan.'
Meski begitu, setelah mempertimbangkannya beberapa saat, Keyla memilih jalan paling aman, lalu menganggukkan kepala pelan.
"Iya."
Pria itu lalu mengulurkan tangannya.
"Saya Alex, ayahnya Keisya."
Keyla segera menyambut uluran tangan tersebut dengan sopan.
"Keyla, Om."
Namun sesaat setelah berjabat tangan, ia kembali merasa heran karna Alex tidak segera melepaskan genggamannya.
Pria itu justru menoleh ke arah pemuda di sampingnya, seolah sedang menyampaikan sesuatu hanya melalui tatapan mata.
Untungnya, pintu ruang perawatan terbuka pada saat yang sama seorang dokter keluar dari dalam ruangan.
Alex pun akhirnya melepaskan tangan Keyla.
Dalam sekejap, aura hangat yang tadi sempat ia rasakan menghilang, berganti dengan kewibawaan yang jauh lebih mendominasi.
"Bagaimana keadaan anak saya, Sam?"
Nada suara Alex terdengar jauh lebih serius, kemudian dokter yang dipanggil Samuel itu menghela napas pendek.
"Mari ke ruangan saya."
"Kita bicarakan di sana."
Alex hanya mengangguk sebelum mengikuti Samuel meninggalkan koridor.
Kini yang tersisa hanyalah Keyla dan pria berwajah dingin tadi, suasana pun menjadi canggung.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan sebelum pria itu akhirnya membuka suara.
"Alden."
Keyla sedikit bingung.
"Ya?"
"Nama saya Alden, kakak sulung Keisya."
"Oh..." Keyla segera mengangguk sopan.
"Saya Keyla. Salam kenal."
Alden membalas anggukan itu tipis. Lalu tanpa banyak bicara, ia membuka pintu ruang perawatan.
"Ayo masuk."
Keyla mengikuti dari belakang.
Begitu memasuki ruangan, pandangannya langsung tertuju pada sosok Keisya yang sedang bersandar lemah di atas ranjang.
Dokter muda yang tadi ditemuinya kini membantu Keisya meminum beberapa teguk air.
Wajah gadis itu masih sangat pucat. Perban putih melilit kepalanya dengan bercak samar bekas darah yang mulai mengering.
"Bagaimana keadaannya?"
Alden berdiri di sisi ranjang. Tatapannya meneliti setiap luka yang ada pada adiknya. Tak seorang pun menyadari bagaimana buku-buku jarinya memutih akibat mengepal terlalu kuat.
Ia sedang menahan amarah. Amarah kepada pihak sekolah yang membiarkan kecelakaan seperti itu terjadi.
Ivan meletakkan gelas di meja kecil sebelum menghela napas.
"Cedera kepala."
kok dikit amat siiihhhhh
satu dua tiga scroll abisssssa nunggu bab selanjutnya 😭😭😭😭
up banyak banyak yaa thorrrrr
semangattttttttttttt 💪💪💪💪
kesiannya keysia 😭😭
biar saja keluarga mu semua menyesal karena sudah mengabaikan mu keu
nih dikasih otot biar makin kuat ngetik alur cerita 🤭🤭🤭🤭🤭
lagi adegan krusial nih penting banget . apakah akan kecolongan ataukah akan bisa dihindari kejadian racun tersebut. heemmmm keysia sampai segitunya kau ingin merubah alur kehidupan mu dan orng2 disekitar mu😭😭😭😭😭