Oca dipaksa menikah dengan pria asing di depan altar—demi memenuhi wasiat sang kakek yang tak bisa ia menolak. dan yang tak terduga, suaminya adalah seorang aktor terkenal yang harus disembunyikan rapat-rapat dari dunia, termasuk dari sahabat-sahabatnya sendiri.
Belum sempat ia membiasakan diri dengan kehidupan barunya, datang seseorang yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya—ruang yang sengaja ditinggalkan oleh suaminya sendiri. Oca pun membuka hati, tanpa pernah menyangka ada yang luput dari pandangannya.
Kini ia terjebak di antara dua hati: satu yang seharusnya ia cintai karena status, dan satu lagi yang ia pilih sendiri karena rasa.
Tapi siapa sangka, tak semua yang terlihat tulus benar-benar seperti itu.
Siapakah yang berhak atas hati Oca? 💍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon avy sulas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demam
Langit sudah dipenuhi awan gelap ketika Oca sampai di gerbang sekolah. Beberapa kali suara gemuruh terdengar dari kejauhan. Tanpa berpikir panjang, ia memilih pulang dengan berjalan kaki.
Awalnya hujan hanya turun rintik-rintik. Tapi semakin jauh ia melangkah, tetesan air yang turun semakin deras hingga membasahi seragam dan rambutnya.
Oca sama sekali tidak berhenti untuk berteduh. Ia terus berjalan dengan kepala menunduk, sementara pikirannya masih dipenuhi semua kejadian yang terjadi sejak semalam.
Adegan Anthony yang mencium Emma, terus terbayang di kepalanya. Belum juga rasa sakit itu hilang, sekarang ia mendengar sendiri kalau selama ini Dirga hanya menganggap hubungan mereka sebagai sebuah taruhan.
Tanpa sadar langkah Oca semakin melambat. Ia terlalu larut dalam pikirannya sendiri hingga tak sadar sebuah mobil hitam yang perlahan berhenti tepat di sampingnya.
"Fransesca?"
Oca tersentak dan dengan cepat menoleh ke arah sumber suara.
Ternyata Anthony sedang menatapnya dari balik jendela mobil yang sudah terbuka. Alis pria itu langsung berkerut saat melihat Oca berdiri di tengah hujan dengan seragam yang sudah basah kuyup.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa pulang sambil hujan-hujanan seperti itu?"
Oca hanya menggeleng pelan, menghindari tatapan Anthony.
"Nggak apa-apa."
Anthony memperhatikan mata Oca yang sembap, juga bibirnya yang sedikit bergetar. Ia menghela napas pelan, lalu tanpa berkata apa-apa lagi langsung membuka pintu mobil dari dalam.
"Masuk."
Oca sempat terdiam beberapa detik. Namun karena hujan semakin deras, akhirnya ia melangkah mendekat lalu masuk ke dalam mobil. Begitu pintu tertutup, suara hujan yang semula terdengar begitu jelas kini hanya terdengar samar dari balik kaca.
Mobil kembali melaju membelah jalanan yang diguyur hujan.
Suasana di dalam mobil terasa hening.
Oca hanya memandang ke luar jendela tanpa mengatakan apa pun. Sementara Anthony beberapa kali melirik ke arahnya. Ia tahu ada sesuatu yang sedang dipikirkan gadis itu, hanya saja ia tidak tahu apa penyebabnya.
Namun melihat Oca yang memilih diam, Anthony akhirnya mengurungkan niatnya untuk bertanya.
Beberapa menit kemudian, mobil akhirnya berhenti tepat di depan mansion. Sopir lebih dulu turun untuk membuka pintu sambil membentangkan payung. Di sisi lain, salah seorang pelayan segera menghampiri Oca dengan payung yang lain.
Tanpa sepatah kata pun, Oca langsung melangkah masuk ke dalam mansion. Ia kemudian menaiki tangga menuju lantai dua tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Anthony hanya berdiri di tempat sambil memperhatikan punggung gadis itu hingga menghilang di balik belokan tangga. Ia jelas bisa merasakan perubahan sikap Oca, tetapi memilih untuk tidak mengejarnya.
Setelah itu, Anthony berbalik menuju ruang kerjanya. Ia sengaja membiarkan Oca beristirahat lebih dulu tanpa mengganggunya.
_______
Pagi harinya, Anthony sudah bersiap akan berangkat ke lokasi syuting. Baru saja ia hendak keluar dari mansion, salah satu pelayan berjalan tergesa-gesa menghampirinya dengan raut wajah panik.
"Tuan..."
Anthony menghentikan langkahnya lalu menoleh. "Ada apa?"
Pelayan itu tampak sedikit gugup sebelum menjawab, "Nona belum keluar kamar sampai sekarang. Tadi saya mencoba membangunkannya, tapi badan Nona panas sekali."
Alis Anthony langsung berkerut. "Demam?"
Pelayan itu mengangguk pelan. "Sepertinya cukup tinggi, Tuan."
Anthony terdiam sesaat sebelum akhirnya berkata dengan nada tenang, tetapi tegas.
"Hubungi Dokter Andrew. Katakan padanya untuk segera datang."
"Baik, Tuan."
Pelayan itu mengangguk cepat, lalu segera berbalik dan berjalan pergi.
Anthony memijat pangkal hidungnya pelan. Setelah itu, ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya lalu langsung menghubungi manajernya.
Baru saja sambungan telepon tersambung, Anthony lebih dulu membuka suara.
"Batalkan jadwal syutingku hari ini."
Di seberang telepon, manajernya langsung terdiam beberapa detik.
"Hah?" Batalkan. Tapi... hari ini ada adegan penting dengan Emma. Kru juga sudah lengkap, bahkan lokasi syutingnya sudah disewa dari jauh-jauh hari. Ada sesuatu yang terjadi?"
Anthony mengembuskan napas pelan. "Ada urusan di rumah."
"Tapi, Tuan—"
"Tolong atur ulang jadwalnya."
Setelah mengucapkan itu, Anthony langsung mengakhiri sambungan telepon tanpa memberi kesempatan manajernya bertanya lagi.
Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Tatapannya kemudian beralih Ke arah tangga yang menuju lantai dua. Tanpa berkata apa-apa, ia pun melangkah ke sana.
Setibanya di depan kamar, Anthony membuka pintu perlahan.
Tatapannya langsung tertuju pada sosok Oca yang sedang terbaring di atas ranjang. Gadis itu masih terlelap dengan wajah pucat. Sebuah kain kompres menempel di dahinya, menandakan demamnya belum juga mereda.
Anthony tidak mengatakan apa pun. Matanya terus menatap wajah Oca. Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri diam di tempatnya.
Tanpa sadar, pikirannya kembali teringat pada kejadian kemarin sore. Sosok Oca yang berjalan sendirian di bawah guyuran hujan dengan mata sembab dan bibir yang gemetar kembali terlintas di benaknya.
Sebenarnya... apa yang terjadi pada gadis itu hingga memilih pulang sambil hujan-hujanan?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Namun hingga saat ini, Anthony masih belum menemukan jawabannya.