Selama tujuh tahun, Zahira Narapati mengorbankan karier dan mimpinya demi mendampingi Deris Adikara membangun usaha. Namun, saat kesuksesan akhirnya diraih, Deris justru menceraikannya karena menganggap Zahira tak lagi sejalan dengan kehidupannya dan memilih wanita lain.
Semua orang mengira perceraian itu akan menghancurkan Zahira. Nyatanya, ia bangkit dari nol, membangun kembali kariernya hingga menjadi perempuan sukses yang berdiri di atas kakinya sendiri.
Dalam perjalanan itu, Zahira bertemu Revan Wiranata, pria yang menghargai kesetiaan dan memberinya kebahagiaan baru. Ketika Deris menyesali keputusannya dan ingin kembali, Zahira memilih melangkah bersama seseorang yang benar-benar menghargainya. Sebab, setiap luka bukanlah akhir, melainkan awal dari kebangkitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode — 20.
Lobi utama Wiranata Corp mendadak menjadi pusat perhatian. Para karyawan yang baru saja melewati area resepsionis diam-diam melirik ke arah seorang perempuan bergaun putih yang berdiri anggun di depan lift VIP.
Tak sedikit yang mengenal wajahnya, Almira Prabaswara putri tunggal dari Capital Group. Salah satu konglomerasi terbesar yang selama bertahun-tahun menjadi rekan bisnis Wiranata Corp.
Beberapa staf saling berbisik pelan.
"Itu Nona Almira."
"Katanya dijodohkan dengan Pak Revan."
"Benarkah?"
"Rumornya sudah lama."
Revan menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di depan Almira. Tatapannya dingin dan tajam, tanpa sedikit pun menunjukkan kehangatan.
"Kenapa kamu datang ke kantor tanpa pemberitahuan?" Nada suaranya rendah, tegas, dan penuh tekanan. Bukan suara seorang pria yang sedang menyambut tamu, melainkan seorang pemimpin yang sedang mempertanyakan pelanggaran terhadap batas yang telah ia tetapkan.
Almira tersenyum manis. "Aku ingin memberi kejutan."
"Aku tidak suka kejutan di tempat kerja."
Senyum Almira sedikit memudar. "Apa kita tidak bisa bicara sebentar?"
"Bisa." Revan menoleh kepada sekretarisnya. "Tunda rapat lima belas menit."
"Baik, Pak."
"Kita bicara di ruang tamu."
"Bukan di ruang kerjamu?" tanya Almira.
"Tidak." Jawaban itu singkat, tetapi cukup membuat Almira memahami batas yang sedang dibuat Revan.
Di lantai dua, Zahira melihat Revan berjalan bersama perempuan itu menuju ruang tamu eksekutif. Namun ia tidak memikirkannya lebih jauh. Baginya, urusan pribadi atasannya bukan sesuatu yang pantas dicampuri.
"Ada revisi jadwal distribusi, Bu." Salah seorang supervisor menghampirinya.
"Baik, kita bahas sekarang."
Tanpa menoleh lagi ke arah lobi, Zahira berjalan menuju ruang operasional.
Di ruang tamu eksekutif, Almira duduk sambil memperhatikan Revan yang masih berdiri.
"Kamu tidak mempersilahkanku masuk ke ruang kerjamu?"
"Ruang kerja digunakan untuk urusan pekerjaan."
"Lalu kita?"
Revan menatap Almira dengan tenang. "Memangnya ada hubungan apa di antara kita?"
Pertanyaan itu membuat Almira terdiam, namun dia segera tersenyum kembali. "Kau juga sebenarnya sudah tahu, orang tua kita sudah lama menjodohkan kita."
"Itu keinginan mereka." Timpal Revan dingin.
"Apa salahnya dicoba?"
"Tidak ada kewajiban bagiku untuk menerimanya."
Almira menggenggam tas kecilnya. "Revan... aku tahu kamu pria yang rasional. Bukankah pernikahan seperti ini juga menguntungkan kedua perusahaan?"
"Itulah alasan utama aku menolaknya." Tatapan Revan tetap tenang.
Almira mengernyit, mencoba memahami perkataan pria itu.
"Wiranata Corp dibangun oleh ayahku dengan kerja keras, aku melanjutkannya dengan prinsip yang sama. Perusahaan ini tidak membutuhkan pernikahan sebagai alat memperkuat bisnis."
"Hubungan keluarga akan membuat posisi kita jauh lebih kuat." Ucap Almira.
"Kalau kerja sama itu benar-benar kuat, tanpa pernikahan pun akan tetap bertahan." Sekali lagi, jawaban Revan terdengar tegas dan tak memberi ruang untuk ditafsirkan. "Aku akan membuktikan... bahwa Wiranata Corp mampu berkembang karena kualitas perusahaan, bukan karena siapa yang dinikahi oleh direktur utamanya."
Almira menarik napas panjang, Ia mulai memahami bahwa Revan bukan hanya sekedar bersikap dingin padanya, tapi juga sedang mempertahankan prinsip hidupnya.
Beberapa saat kemudian, pintu ruang tamu diketuk.
"Masuk."
Sekretaris membawa beberapa dokumen. "Pak, Bu Zahira meminta tanda tangan Bapak untuk revisi anggaran operasional."
"Suruh masuk."
"Baik."
Tak lama kemudian Zahira memasuki ruangan. Begitu melihat Almira duduk di sana, langkahnya berhenti sesaat. "Maaf, Pak. Saya tidak tahu Bapak sedang menerima tamu."
"Tidak apa-apa."
Revan menerima map yang dibawa Zahira. "Ada perubahan apa?"
"Kami menemukan dua vendor lokal dengan kualitas yang sama, tetapi biaya distribusinya lebih rendah sebelas persen. Kalau disetujui, perusahaan bisa menghemat hampir tiga miliar rupiah per tahun."
Revan langsung membuka dokumen itu, Ia membaca beberapa halaman tanpa terganggu oleh kehadiran Almira.
"Perhitungannya sudah diverifikasi?"
"Sudah, Pak. Tim keuangan juga sudah mengecek seluruh datanya."
Revan mengambil pena, menandatangani dokumen itu. "Terapkan mulai bulan depan."
"Baik, Pak."
Tak sampai tiga menit, pembicaraan selesai. Zahira menerima kembali map tersebut. "Kalau tidak ada lagi, saya permisi."
“Silakan,” jawab Revan singkat.
Nada suara pria itu tenang seperti biasa, tetapi Almira menyadari cara pria itu berbicara kepada Zahira, terdengar jauh lebih lunak dibandingkan saat berbicara dengannya.
"Permisi." Zahira mengangguk sopan kepada Almira.
Lalu ia keluar dari ruangan, semuanya berlangsung begitu profesional.
Namun, tatapan Almira mengikuti langkah Zahira hingga pintu kembali tertutup. Ia teringat ucapan perempuan yang menghubunginya kemarin.
"Hati-hati, Revan selalu membela bawahannya itu. Mereka teman SMA, Revan pernah menyukai Zahira.“
Awalnya, Almira tidak terlalu percaya. Tetapi sekarang, Ia melihat sendiri bagaimana Revan langsung memanggil Zahira masuk tanpa sedikit pun merasa canggung. Dan juga berbicara lebih lembut pada Zahira.
"Dia memang sering masuk ke ruang kerjamu?"
"Kalau ada pekerjaan."
"Hanya pekerjaan?"
Revan menatap Almira tajam. "Aku tidak pernah mencampuradukkan urusan pribadi dengan kantor."
Jawaban pria itu terdengar meyakinkan, namun keraguan tumbuh di hati Almira.
Sementara itu di sebuah kafe tak jauh dari perusahaan Revan, Kayla menerima pesan singkat dari nomor Almira.
>'Aku sudah bertemu dengan Zahira.'
Membaca pesan itu, senyum tipis kembali terukir di bibir Kayla. Ia yakin benih kecurigaan yang baru saja ia tanam akan perlahan tumbuh di hati Almira. Dan saat waktunya tiba, wanita itu sendiri yang akan menghancurkan Zahira.
Saat jam kerja berakhir, Zahira melangkah keluar dari gedung perusahaan. Sebuah mobil mewah telah terparkir di depan lobi, seolah sengaja menunggunya.
Seorang sopir turun, lalu berjalan menghampirinya. "Maaf, Bu Zahira. Nona Almira ingin bertemu dengan Anda."
"Ada perlu apa?" Zahira mengernyit.
"Saya hanya menjalankan perintah, Bu."
Meski diliputi rasa heran, Zahira tetap mengikuti sopir itu hingga berhenti di samping mobil hitam yang terparkir tak jauh dari sana. Kaca jendela belakang perlahan turun, Almira menoleh sekilas ke arah Zahira.
"Masuk, kita bicara di tempat lain."
Zahira tetap berdiri di tempat. "Maaf, saya rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan."
Tatapan Almira langsung berubah tajam. "Aku tidak sedang meminta! Aku bilang masuk!"
"Maaf." Zahira tetap menggeleng pelan.
Rahang Almira mengeras. "Kalau begitu, jangan salahkan aku kalau hidupmu di perusahaan ini menjadi sangat sulit."
Ancaman itu baru saja keluar ketika suara langkah kaki terdengar cepat dari belakang.
Tak... tak... tak...
Seseorang berhenti tepat di samping Zahira. Sebelum wanita itu sempat bereaksi, sebuah tangan meraih pergelangan tangannya dengan mantap, menariknya menjauh dari mobil Almira. Zahira menoleh, Revan berdiri di sampingnya.
Tatapan pria itu tertuju kepada Almira, begitu dingin dan tajam tanpa sedikit pun menunjukkan rasa sungkan.
"Kau tidak berhak memerintah pegawaiku." Suara Revan terdengar rendah, dan penuh tekanan. "Pergi!"
Almira mengepalkan kedua tangannya. "Revan, aku hanya ingin—"
"Aku tidak mau mengulangi ucapanku! Pergi!" Tatapan pria itu semakin menusuk.
Beberapa saat keduanya saling menatap. Pada akhirnya, Almira mengalihkan pandangan lebih dulu. Dengan wajah yang dipenuhi amarah, ia memberi isyarat kepada sopirnya. Mobil itu pun melaju meninggalkan halaman perusahaan.
Begitu mobil Almira menghilang, Revan masih belum melepaskan genggaman di pergelangan tangan Zahira.
"Ayo." Tanpa menunggu jawaban, ia mengajak Zahira menuju mobilnya sendiri.
Setelah keduanya duduk di kursi belakang, mobil perlahan meninggalkan area parkir.
"Pak... kita mau ke mana?" tanya Zahira pelan.
Revan tetap menatap lurus ke depan, rahangnya masih mengeras akibat kejadian beberapa saat lalu.
Zahira menatap pria itu dengan kesal, "Revan..."
Barulah pria itu menoleh, ekspresinya perlahan melunak. "Kita makan malam, aku belum sempat mentraktirmu setelah sukses dalam forum bisnis kemarin."
Zahira mengangguk pelan. "Oke."
Beberapa saat kemudian, wanita itu kembali berdehem kecil. "Tapi... bisakah kamu melepaskan tanganku dulu?"
Revan langsung menunduk, baru saat itulah ia menyadari sejak tadi masih menggenggam pergelangan tangan Zahira.
"Maaf..." pria itu hendak melepaskannya.
Namun tepat pada saat itu...
Ciiit!
Mobil mengerem mendadak karena sebuah sepeda motor berhenti tiba-tiba di depan. Tubuh Zahira kehilangan keseimbangan dan terdorong ke arah Revan.
Bruk!
Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti, ujung hidung keduanya saling bersentuhan. Mata Zahira membelalak, jantungnya berdetak begitu cepat. Ia buru-buru hendak menjauh, namun sebuah tangan besar telah lebih dulu melingkari pinggangnya agar tubuhnya tidak kembali terlempar.
Revan menatap wanita itu tanpa berkedip, begitu pula Zahira. Di dalam mobil yang mendadak sunyi, hanya terdengar embusan napas mereka yang saling beradu, sementara detak jantung keduanya berpacu semakin cepat.
Dan kesalahan tu yg bikin mereka gx ingin melihat Dunia luar lgii ,, 😏😏😏😏😏😏
dsnii bakal keliatan ,,
mana yg berdiri dg kaki ny ,,
Dan mana yg berdiri msh menggunakan kaki orang tuany ,, 😒😒😒😒🤭🤭🤭🤭