Setelah sang ayah—ketua mafia legendaris—tewas misterius, Livana ikut terlempar ke dunia novel dan menjadi Bellamy, si antagonis manja yang ditakdirkan mati tragis.
Kejutan besar menantinya! Jiwa sang Papa ternyata ikut bertransmigrasi menjadi ayah Bellamy. Namun, sang Papa terikat Sistem Novel yang akan mengurangi umurnya jika ia berani mengubah alur cerita.
Untungnya, jiwa barbar Livana adalah sebuah glitch yang kebal dari hukuman Sistem!
Menggunakan celah ini, duet maut ayah-anak mafia ini kompak bekerja sama mengacak-acak plot, menendang parasit manipulatif, dan memikat Dallas—si penguasa bayangan yang dingin.
Dua jiwa mafia vs satu Sistem Novel. Siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Detak Jantung yang Tersisa
Mansion mewah keluarga Guinevere mendadak riuh oleh lengkingan suara sirine alarm kebakaran yang memekakkan telinga. Lampu-lampu indikator merah berkedip di sepanjang koridor area dapur belakang, memicu kepanikan massal di antara para pelayan yang berlarian keluar menuju titik evakuasi di halaman depan.
Di dalam area dapur kotor, Odelia terperanjat kaget hingga botol kaca kecil berisi arsenik di tangannya terlepas, jatuh menghantam lantai marmer dan pecah berhamburan. Cairan bening mematikan itu seketika merembes, bercampur dengan tumpahan sup herbal malam milik Diane yang ikut tersenggol tangannya saat ia mencoba berbalik dalam kepanikan.
"Sialan! Kenapa alarmnya harus menyala sekarang?!" jerit Odelia dengan wajah distorsi penuh ketakutan.
"Ibu! Ayo cepat keluar! Kita bisa terjebak di sini jika ada kebakaran sungguhan!" Lucianna menarik paksa lengan ibunya, matanya melotot panik menatap cairan racun yang sudah membasahi lantai. "Rencananya gagal, Ibu! Ayo pergi!"
Di balik dinding koridor, Pak Dodi mengembuskan napas lega sambil menurunkan tangannya dari tuas darurat alarm kebakaran. Ia menatap dua wanita yang berlari tunggang-langgang melewatinya tanpa menoleh itu dengan pandangan dingin. 'Maafkan aku, Odelia. Tapi aku tidak akan membiarkanmu menjadi pembunuh,' batin Pak Dodi sebelum bergegas pergi untuk memastikan situasi benar-benar terkendali.
Sementara itu, di lantai dua mansion, di dalam kamar utama yang tenang, Diane Guinevere terduduk di tepi ranjangnya dengan tubuh gemetar pelan akibat suara sirine yang tiba-tiba berbunyi.
Brak!
James mendorong pintu kamar dengan kasar, melangkah masuk dengan napas memburu. Begitu melihat Diane dalam kondisi aman dan utuh, James seolah melepaskan beban berton-ton dari pundaknya. Tanpa membuang waktu satu detik pun, James langsung melangkah cepat dan merengkuh tubuh ramping Diane ke dalam pelukannya yang sangat erat, nyaris posesif.
"James...? Ada apa ini? Suara alarm apa itu? Apakah ada kebakaran di bawah?" tanya Diane bertubi-tubi dengan nada bingung, tangannya merayap naik menyentuh dada bidang suaminya yang naik-turun ekstrem.
"Tidak ada apa-apa, Diane. Tenanglah," bisik James, suaranya terdengar sedikit lebih serak dan dalam dari biasanya. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Diane, menghirup aroma lavender yang menenangkan dari tubuh istrinya, membiarkan jiwa mafianya—Sylvester—merasakan kehangatan yang nyata. "Hanya si bodoh Dodi yang salah menekan tombol simulasi saat memeriksa panel utama di belakang. Semuanya sudah kutangani."
Diane menghela napas lega, membalas pelukan suaminya. Namun, rasa hangat itu mendadak berganti menjadi kebingungan yang mendalam. Akhir-akhir ini, James berubah seratus delapan puluh derajat. Pria kaku yang dulu mengabaikannya dan selalu sibuk dengan urusan luar kini menjelma menjadi sosok yang sangat posesif, protektif, dan luar biasa lengket padanya. James menjadi sangat hobi memeluk, mencium keningnya tiba-tiba, dan memastikannya selalu berada di dalam jangkauan pandangan matanya.
Saat Diane mencoba mendorong sedikit dada James untuk menatap wajah suaminya, matanya mendadak terbelalak horor. Di bawah temaram lampu kamar, ia melihat helaian rambut James di bagian pelipis hingga ubun-ubunnya telah berubah menjadi uban memutih pekat—sesuatu yang sama sekali tidak ada di sana kemarin malam.
"James... rambutmu..." tangan Diane gemetar menyentuh helaian uban baru di pelipis James. Wajah suaminya pun tampak menyiratkan kelelahan fisik yang amat sangat, seolah pria itu baru saja melewati penuaan paksa selama sepuluh tahun hanya dalam semalam. "Kau... kau sakit? Katakan padaku, James, apa yang terjadi dengan tubuhmu?! Kenapa kau mendadak menua seperti ini?!"
James menangkap tangan Diane, mengecup telapak tangan halus itu dengan lembut namun penuh penekanan. Jiwa Sylvester di dalam dirinya memang sangat kaku jika harus merangkai kata-kata cinta yang puitis, maka ia memilih menunjukkannya melalui tindakan mutlak yang mengunci pergerakan wanita itu.
"Aku sehat, Diane. Jangan mengada-ada," sahut James datar, kembali menarik Diane masuk ke dalam rengkuhan posesifnya, menolak membiarkan istrinya melihat sorot matanya yang meredup akibat potongan vitalitas sistem. "Hanya urusan bisnis yang sedikit menguras pikiran. Cukup diam di sini dan biarkan aku memelukmu seperti ini."
"Tapi, James—"
"Diam, Nyonya Guinevere. Patuhi suamimu," potong James mutlak, mengecup bibir Diane sekilas untuk membungkam protes wanita itu, membuat Diane hanya bisa pasrah dalam kebingungan yang bercampur dengan rasa khawatir yang mendalam.
Di area halaman depan mansion, sebuah mobil sedan hitam berhenti mendadak di tengah kerumunan pelayan yang sedang dievakuasi oleh tim keamanan internal. Bellamy dan Dallas melangkah keluar dari mobil dengan langkah tergesa-gesa.
"Nona Bellamy! Tuan Muda Dallas!" Bram yang sudah tiba lebih dulu untuk berkoordinasi langsung mendekat.
"Bram! Kenapa alarm kebakarannya menyala?! Di mana Papa dan Mama?!" tanya Bellamy dengan binar mata cegil-nya yang mendadak dipenuhi kilat kecemasan yang amat sangat. Khawatir jika alur kematian Diane yang ia ketahui dari sistem novel telah dimulai.
"Tuan James mengonfirmasi bahwa itu hanya kesalahan teknis, Nona. Tapi situasi di dalam mansion sudah aman," jawab Bram cepat.
Tanpa mendengarkan penjelasan lebih lanjut, Bellamy langsung menarik tangan Dallas, berlari menerobos kerumunan pelayan dan masuk ke dalam mansion yang remang-remang, langsung menuju ke lantai dua, ke arah kamar utama tempat orang tuanya berada.
Brak!
Bellamy mendorong pintu kamar utama dengan napas terengah-engah. Begitu matanya menangkap sosok Diane yang sedang dipeluk protektif oleh James, Bellamy tidak bisa menahan getaran di tubuhnya. Ia langsung berlari maju dan menubruk tubuh ibunya, ikut memeluk Diane dengan erat seolah takut wanita paruh baya itu akan lenyap jika ia melepaskan dekapannya.
"Mama... Mama tidak apa-apa, kan? Tidak ada yang terluka, kan?!" bisik Bellamy dengan suara yang bergetar menahan tangis ketakutan—sebuah sisi rapuh dari jiwa Livana yang selama ini tertutup topeng kejamnya.
Diane semakin dibuat bingung di tempatnya. Dua orang di rumah ini—James dan Bellamy—yang selama bertahun-tahun di dalam ingatannya selalu menganggap kehadirannya seperti orang asing dan dingin, kini justru memeluknya dengan sangat erat seolah-olah mereka baru saja menyelamatkannya dari ambang kematian yang nyata.
"Bellamy... Mama tidak apa-apa, Sayang. Kenapa kalian berdua bertingkah sekacau ini?" ucap Diane lembut, mengusap punggung putrinya dengan sayang, sementara tangan kirinya masih digenggam erat oleh James yang berdiri protektif di sampingnya.
Saat Diane mendongak untuk menatap ke arah pintu kamar yang masih terbuka, pandangannya mendadak terkunci pada sosok pria tegap yang berdiri membeku di ambang pintu.
Itu Dallas Enrique.
Dallas berdiri dengan kemeja yang sedikit basah oleh sisa hujan luar, menatap interaksi hangat keluarga Guinevere dengan pandangan yang sulit diartikan. Namun, begitu mata Diane bertemu dengan sepasang manik mata hitam pekat milik Dallas, jantung Diane mendadak berdegup dengan ritme yang aneh.
Ingatan Diane mendadak ditarik paksa masuk ke dalam sebuah mimpi malam yang selama beberapa minggu ini selalu hadir di tidurnya dengan begitu nyata—sebuah mimpi yang terasa seperti kilasan masa depan atau pecahan dimensi lain yang terputus.
Di dalam mimpi buruk yang terasa sangat nyata itu, Diane melihat dirinya sendiri telah meninggal dunia, dan makamnya tertutup oleh tanah yang basah di bawah guyuran hujan deras. Di saat James dan Bellamy dalam mimpi itu tidak ada di sana, ada seorang pemuda jangkung dengan setelan jas hitam yang kotor oleh tanah kuburan, berlutut sendirian di depan nisan namanya. Pemuda itu menangis dalam diam, meletakkan seikat bunga mawar putih kesukaan Diane, dan berbisik dengan suara parau bahwa ia akan membalaskan seluruh dendam keluarga Guinevere.
Pemuda misterius di dalam mimpinya yang setia menjaga makamnya itu... memiliki wajah, sorot mata yang dingin, dan struktur rahang yang persis sama dengan pria yang sekarang berdiri di ambang pintunya.
"Kau..." suara Diane mendadak tercekat di tenggorokan, matanya membelalak lebar menatap Dallas dengan rasa terkejut yang luar biasa hingga tubuhnya refleks menegangkan pelukan James.
Dallas yang menyadari tatapan intens dan penuh kejanggalan dari ibu Bellamy itu hanya bisa mengerutkan alisnya, berdiri diam di bawah ambang pintu tanpa tahu bahwa benang takdir masa lalu dan masa depan mereka baru saja saling berbenturan di dalam kepala Diane.
keren nih othor...
jadi alasan Sylvester masuk ke dunia novel untuk menyelamatkan ponakannya kali yaa... tapi belum tentu pasti plot twist lagi ah nanti... 🤣
ah di othor nih... bikin penasaran aja.. dibuat nama-namanya huruf depannya D semua lagi🤣
lagi tegang gini malah ngelawak Bellamy sama Dallas mah..🤣🤣
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉