Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.
Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.
Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.
Talak.
Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.
Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.
Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Tekad Raya
"Cepat bawa ke rumah sakit!”
"Ada mobil di depan.”
Semua bergerak cepat, penuh kepanikan.
Raya masih berdiri mematung beberapa detik, sampai akhirnya seseorang menarik lengannya.
"Raya, ayo, ikut!"
Seolah tersadar dari mimpi buruk, Raya langsung berlari dengan langkah tersaruk. Kakinya terasa lemas, tapi ia memaksakan diri.
Ia naik ke mobil tetangga tanpa berpikir panjang. Pintu ditutup keras, dan mobil langsung melaju kencang meninggalkan rumah yang baru saja menjadi saksi kehancuran hidupnya.
—
Sementara itu di rumah, Bu Rahma tak kalah panik. Tubuhnya lemas setelah melihat suaminya tumbang dan mendengar ucapan talak yang mengiris hati.
"Bu… Bu Rahma!”
Beberapa wanita memapahnya.
"Astagfirullah… ya Allah…” lirihnya sebelum tubuhnya ikut lunglai.
Ia dibopong masuk ke dalam kamar utama—kamar yang seharusnya menjadi kamar pengantin Raya dan Kamil. Kamar yang tadi dihias indah dengan nuansa bahagia… kini berubah menjadi tempat penuh duka.
Bu Rahma ditidurkan di atas ranjang. Tangannya gemetar, air matanya terus mengalir tanpa suara.
—
Di dalam mobil, suasana mencekam.
Raya duduk di samping tubuh ayahnya. Tangannya menggenggam tangan Pak Santoso yang dingin.
"Ayah… Ayah bangun…” suaranya bergetar.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara mesin mobil dan napas panik orang-orang di dalamnya.
Jalanan hari Minggu cukup lengang. Mobil melaju tanpa hambatan berarti. Namun bagi Raya, perjalanan itu terasa begitu lama… seperti tak pernah sampai.
Ia terus mengusap tangan ayahnya.
"Ayah… Raya di sini… Ayah jangan tinggalin Raya!”
Air matanya jatuh tanpa henti.
—
Kurang dari satu jam, mobil akhirnya memasuki area rumah sakit. Pintu dibuka dengan tergesa.
"Cepat! Tolong!” teriak seseorang.
Beberapa orang langsung turun dan membuka pintu belakang. Saat itu juga, Om Dani—adik Pak Santoso—yang entah sejak kapan sudah menyusul, berlari keluar dari dalam rumah sakit.
"Mana? Mana Kak Santoso?!” wajahnya panik.
"Di sini, Om!”
Om Dani langsung berteriak ke arah dalam.
"Blankar! Cepat bawa blankar!”
Tenaga medis datang dengan sigap. Pak Santoso segera dipindahkan ke atas brankar dan didorong cepat menuju IGD.
Raya berlari di belakangnya, hampir terjatuh beberapa kali.
"Ayah… tunggu… Ayah!”
Pintu IGD tertutup.
Raya berdiri di depan pintu itu, napasnya terengah. Tangannya gemetar hebat. Dunia terasa sunyi… hanya detak jantungnya yang terdengar begitu keras.
Beberapa menit kemudian—yang terasa seperti berjam-jam—seorang dokter keluar.
Wajahnya serius… lalu perlahan berubah sendu.
"Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun…”
Kalimat itu seperti menghantam Raya tanpa ampun.
"Pasien sudah tidak ada. Beliau… sudah meninggal sebelum sampai ke rumah sakit. Maafkan kami, kami tidak bisa berbuat apa-apa!”
Semua orang terdiam.
Sunyi.
Hancur.
Raya menatap dokter itu dengan mata kosong. Bibirnya bergetar, tapi tak ada suara yang keluar.
Seolah otaknya menolak memahami kenyataan itu.
"Ayah…?” bisiknya lirih.
Lalu dalam sekejap—
"AYAAAAHHHH!!!”
Jeritan Raya menggema di lorong rumah sakit. Suaranya penuh luka, penuh kehilangan, penuh kehancuran.
Tubuhnya limbung.
Dunia benar-benar gelap.
Dan detik berikutnya, Raya jatuh tak sadarkan diri.
Raya tersadar perlahan.
Langit-langit kamar yang familiar menyambut pandangannya. Itu kamar Rana—adik bungsunya. Aroma khas minyak telon dan bedak bayi yang masih tersisa di sudut ruangan membuat dadanya sesak. Sejenak, ia diam… kosong.
Matanya berkedip beberapa kali, mencoba mengumpulkan potongan ingatan yang terasa seperti mimpi buruk.
Akad.
Talak.
Ayah jatuh…
Deg.
Suara gaduh dari luar memecah lamunannya. Tangisan… teriakan… dan suara orang-orang yang saling bersahutan. Suara itu bukan sekadar ramai—itu pilu. Itu kehilangan.
Napas Raya mendadak tercekat.
“...Ayah?”
Tubuhnya bergerak sebelum pikirannya sempat mencerna. Ia bangkit dengan tergesa, hampir terhuyung. Kakinya gemetar saat menyentuh lantai dingin. Tangannya meraih gagang pintu dengan ragu… seolah takut pada kenyataan di baliknya.
Namun saat pintu itu terbuka—
Dunia Raya runtuh untuk kedua kalinya.
Di ruang tengah, terbujur kaku sosok yang paling ia cintai. Tubuh itu sudah diselimuti kain putih. Wajahnya tenang… terlalu tenang.
"Ayah…”
Suara Raya nyaris tak terdengar. Tapi detik berikutnya—
"AYAAAHHH!!!”
Jeritannya memecah udara.
Raya berlari tanpa peduli, menerobos kerumunan orang. Ia menjatuhkan diri di samping jasad ayahnya, memeluk tubuh dingin itu erat, seolah dengan begitu ia bisa mengembalikan kehangatan yang telah hilang.
"Ayaaaah, jangan pergi!” tangisnya pecah, suaranya serak penuh luka. “Ayaaaah… Raya sayang Ayah… bangun Yah… tolong bangun!”
Tangannya gemetar mengguncang pelan tubuh itu, tapi tak ada jawaban. Tak ada gerakan. Tak ada suara.
Hanya diam.
Dan itu yang paling menyakitkan.
Beberapa orang mencoba menarik tubuh Raya, menenangkannya, tapi ia menolak. Ia terus memeluk ayahnya, seolah takut jika dilepas, sosok itu benar-benar pergi selamanya.
Di belakangnya, bisik-bisik mulai terdengar.
"Kasihan ya…”
"Baru aja nikah dan berstatus istri…”
"Langsung jadi janda…”
"Sekarang yatim pula…”
Setiap kata itu seperti pisau. Menyayat tanpa ampun.
Di sisi lain, Rakha dan Rana juga tak kalah hancur. Rakha berusaha tegar, tapi air matanya tetap jatuh tanpa izin. Sementara Rana, si bungsu, menangis histeris, memanggil ayahnya berulang kali dengan suara kecil yang memilukan.
"AYAAAHHH, katanya besok ayah mau nganter Rana lomba menggambar. Ayah bohong, ayah malah pergi ninggalin Rana. Ayaaah, bangun yah!" Rana mengguncang tubuh ayahnya.
Suasana rumah itu dipenuhi duka yang begitu pekat.
Kemudian, sebuah tangan tua menyentuh pundak Raya dengan lembut.
"Sudahlah, Nak…”
Raya menoleh. Kakeknya berdiri di sana, mata tuanya juga basah, tapi berusaha kuat.
"Sadar… semua yang terjadi hari ini adalah garis tangan yang harus kita terima. Ayahmu telah pergi, yang telah pergi tak akan kembali…” ucapnya pelan, namun tegas. “Kamu anak sulung Santoso… kamu harus tegar. Lanjutkan perjuangannya, wujudkan semua cita-cita ayahmu. Bangkitlah Nak, kamu akan bisa melakukan semuanya. Kakek yakin, selalu ada pelangi setelah badai. Inna ma'al usti yusraa. Sesungguhnya setelah kesulitan, pasti ada kemudahan."
Kata-kata itu menembus hati Raya.
Perlahan, tangisnya mereda. Bukan karena sakitnya hilang—tapi karena ia mulai sadar… kini tak ada lagi tempat bersandar.
Ayahnya… benar-benar pergi.
Dengan tangan gemetar, Raya mengusap wajahnya sendiri. Air mata masih mengalir, tapi kini matanya berubah.
Bukan hanya penuh luka.
Tapi juga… penuh tekad.
Raya menggenggam tangan dingin ayahnya erat, seolah tak rela melepaskannya walau satu detik saja. Kepalanya bersandar di sisi tubuh itu, matanya terpejam, sementara air mata terus mengalir tanpa henti.
"Ayah…” suaranya lirih, hampir tak terdengar di antara isak tangis yang masih tersisa.
"Ayah dengar kan… Raya di sini…”
Ia menarik napas panjang, mencoba menguatkan dirinya, meski dadanya terasa seperti diremas.
"Ayah… maafin Raya ya… Raya belum sempat bikin Ayah bangga sepenuhnya. Raya masih sering ngeluh, masih sering manja…” bibirnya bergetar. “Padahal Ayah selalu kuat… selalu jadi sandaran buat kita semua…”
Tangannya semakin menggenggam.
"Tapi Ayah tenang ya…” lanjutnya, suaranya mulai berubah—masih rapuh, tapi ada keteguhan yang perlahan tumbuh. “Mulai hari ini… Raya janji…”
Raya membuka matanya, menatap wajah ayahnya yang kini tak lagi bisa membalas.
"Raya akan mewujudkan semua cita-cita Ayah.”
Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini ia tidak terisak. Ia berbicara dengan keyakinan yang pelan namun pasti.
"Raya akan jadi kuat… seperti yang Ayah mau. Raya akan jaga ibu, Rakha… jaga Rana… Raya akan gantiin Ayah semampu Raya.”
Ia mengusap lembut tangan ayahnya, seperti dulu saat ayahnya menenangkannya.
"Raya juga akan buktiin ke dunia… siapa Raya sebenarnya.”
Suaranya sedikit meninggi, bukan karena marah—tapi karena tekad yang mulai menyala.
"Raya bukan perempuan lemah… bukan perempuan yang bisa dihancurkan begitu saja.”
Ia menunduk, dahinya menyentuh tangan ayahnya.
"Suatu hari nanti… Raya akan berdiri di tempat yang tinggi… dan semua orang akan lihat… bahwa Raya adalah anak Ayah… yang tidak pernah menyerah.”
Tangisnya pecah lagi, namun di sela itu terselip senyum tipis yang penuh luka.
"Dan saat hari itu datang…” bisiknya pelan, "Raya mau Ayah bangga… walaupun Ayah gak ada di sini lagi…”
Ia terdiam sejenak.
Lalu, dengan suara yang hampir seperti doa—
"Tunggu Raya ya, Yah… Raya pasti bisa…”
Dalam diam, di tengah isak tangis dan doa yang mulai dilantunkan—
Setelah mengucapkan janji di dekat jasad ayahnya yang terbujur kaku, Raya juga bersumpah. Ia akan membalas semuanya.
Kamil Riza Mahendra adalah awal dari kehancuran hidupnya hari ini.
Dan Raya tidak akan membiarkan itu berlalu begitu saja.
"Hancurku hari ini…” batinnya lirih, "akan kubalas… berkali lipat." Tekad Raya.
mantappp