Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.
Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.
“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.
Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alysia 22
Berlian tertawa sinis mendengar ucapan Damian.
"Kamu pikir kamu hebat, Damian?" suara Berlian berubah tajam, tawa renyahnya lenyap seketika, digantikan oleh desis penuh kebencian.
"Kamu hanyalah seorang pria yang sedang berhalusinasi. Tanpa dukungan Ayahku, Kuncoro dan tanpa restu ibumu, kamu akan jatuh miskin dalam semalam. Apakah kamu sanggup melihat istri dan anakmu hidup melarat? Atau kamu sudah lupa bagaimana rasanya hidup di bawah standar yang biasa kalian nikmati selama ini?"
Damian mencengkeram ponselnya lebih erat, buku jarinya menonjol keras.
"Hidup melarat jauh lebih terhormat daripada harus menukar martabatku dan kebahagiaan istriku dengan uang ha-/ram hasil manipulasi kalian. Kamu dan ayahmu bukan rekan bisnis, Berlian. Kamu hanya boneka yang dipakai Ibu untuk menghan-curkan rumah tanggaku. Dan asal kamu tahu, aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
"Sombong sekali," tantang Berlian.
"Ayah sudah di lokasi proyek. Kalau kamu tidak datang dalam satu jam, semua kontrak akan diputus secara sepihak dan media akan tahu bahwa perusahaanmu sedang di ambang kehancuran. Pikirkan baik-baik, Damian. Alysia pun tidak akan mau kembali ke pria yang gagal total!"
Klik.
Sambungan terputus. Damian menatap layar ponselnya yang redup, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Ancaman itu nyata. Jika dia tidak datang, perusahaan yang dibangun kakeknya akan limbung. Namun, jika ia datang, maka dia telah kalah sebelum berperang melawan ibunya.
Sial.
Damian membanting setir, namun kali ini tidak memutar balik. Dia tetap memacu mobilnya ke arah yang berlawanan dari lokasi proyek Pak Kuncoro. Damian memutuskan untuk tidak menyerah pada ancaman Berlian dan ibunya. Dirinya menyadari satu hal krusial, selama ini, dia membiarkan dirinya diikat oleh rasa takut akan kehancuran finansial. Dia membiarkan ibunya menyetir hidupnya karena ia takut kehilangan status.
Saat itu juga, dia menghubungi sekretaris pribadinya kembali.
"Kalian ingin bermain kotor? Baik," gumamnya dingin.
Dia mulai memindahkan akses data, memblokir akses Berlian ke sistem keuangan perusahaan, dan yang terpenting, dia mengirimkan pesan kepada asisten pribadinya yang paling setia. Bukan sekretaris yang selama ini dipengaruhi ibunya. Dan menjadi salah satu wanita yang berusaha mendekatinya di kantor.
‘Kumpulkan semua bukti transfer, notulensi rapat, dan korespondensi antara Ibu, Pak Kuncoro, dan Berlian selama enam bulan terakhir. Jika perlu, beli data dari firma audit luar. Saya akan membersihkan perusahaan, meski harus menghancurkan fondasinya sekalipun.’
Damian menarik napas dalam. Dia tahu, langkah ini adalah bunuh diri karier dalam jangka pendek. Ibunya akan mengamuk, Pak Kuncoro mungkin akan menarik semua aset, dan perusahaan akan terguncang hebat. Tapi, ini adalah satu-satunya cara untuk membuktikan kepada Alysia bahwa dia tidak lagi menjadi orang yang hanya dia butuhkan untuk menjadi ibu anaknya saja. Dia membuktikannya kali ini.
Setelah mengirim perintah itu, dia menatap layar ponselnya yang sejak tadi sunyi. Tak ada balasan dari Alysia.
"Tolong, Alysia. Beri aku waktu untuk memperbaiki ini," bisiknya pada keheningan mobil.
"Pak Damian?" suara di seberang terdengar panik.
"Dengarkan saya, ambil semua berkas audit keuangan internal selama tiga tahun terakhir yang berhubungan dengan kerja sama dengan Pak Kuncoro. Kumpulkan semua bukti adanya intervensi pihak luar dalam pengambilan keputusan proyek. Saya akan menemui pengacara perusahaan sekarang juga."
"Tapi Pak, kalau kita membuka ini, Bapak bisa dituntut karena membiarkan praktik korporasi yang tidak sehat selama ini!"
"Saya lebih memilih menghadapi hukum daripada terus menjadi boneka," tegas Damian.
"Saya akan datang setengah jam lagi. siapkan semuanya di meja saya! Tak boleh ada yang membantah!" panggilan di putus sepihak oleh Damian.
Damian melangkah masuk ke ruang kerjanya dengan langkah yang lebih berat dari biasanya. Aura di kantor itu terasa mencekam. Para karyawan menunduk, merasakan ketegangan yang merambat dari sang direktur utama.
"Pak... Tadi Bu Berlian menghubungi anda harus segera ke proyek bertemu dengan Pak Kuncoro!" ujar sekertaris Damian saat melihat Damian datang.
"Ya..." jawabnya singkat tanpa melihat ke arah wanita itu dan segera masuk ke dalam ruangannya.
Begitu pintu ruang kerjanya tertutup, asisten pribadinya, Rian, sudah menunggu dengan tumpukan map berwarna merah.
"Ini semua, Pak. Data asli, bukan salinan yang biasa diproses untuk laporan bulanan Ibu Chintya," bisik Rian dengan tangan sedikit gemetar.
Damian tidak menjawab. Dia melepas jasnya, melonggarkan dasi, lalu duduk dan mulai membuka map tersebut satu demi satu. Matanya memicing, menelusuri setiap baris angka yang selama ini disembunyikan di balik skema proyek "ekspansi".
Betapa naifnya dia selama ini. Di atas kertas, proyek itu tampak menguntungkan. Namun, jika dibaca di antara barisnya, Damian menemukan pola pengalihan dana yang sistematis ke rekening pribadi milik Pak Kuncoro dan beberapa perusahaan cangkang yang ternyata terafiliasi dengan perusahaan pribadi ibunya, Bu Chintya.
"Jadi ini alasannya," gumam Damian, suaranya sedingin es.
"Mereka bukan hanya memeras perusahaan, mereka mencuci uang melalui proyek fiktif ini."
Dia menemukan satu dokumen yang membuatnya terpaku, sebuah kontrak rahasia yang mencantumkan nama Berlian sebagai penerima komisi utama dari setiap unit yang berhasil terjual. Ini adalah bukti korupsi besar-besaran. Jika dokumen ini dibawa ke pihak berwenang, bukan hanya proyek itu yang akan dihentikan, tapi karier Bu Chintya dan Pak Kuncoro akan tamat.
"Rian, periksa lagi yang lainnya!" perintah Damian. Rian mengangguk.
Damian mulai memeriksa berkas-berkas tersebut dengan teliti. Dia tidak terburu-buru. Damian menelusuri alur transaksi antara perusahaan keluarganya dengan pihak Pak Kuncoro. Setiap lembar yang dia buka seperti menampar wajahnya sendiri.
Dia juga menemukan invoice ganda, pembayaran untuk konsultan fiktif, hingga catatan transfer yang mengalir deras ke rekening atas nama perusahaan cangkang milik keluarga Pak Kuncoro yang ternyata juga memiliki jejak tanda tangan ibunya di setiap surat kuasa.
"Tuhan," bisik Damian, jemarinya gemetar saat memegang bukti transfer yang ditandatangani oleh ibunya sendiri enam bulan lalu.
Ternyata, selama ini bukan hanya perasaannya yang dimanipulasi, tapi integritas perusahaannya telah digerogoti dari dalam. Berlian hanyalah boneka, Pak Kuncoro adalah eksekutor, dan ibunya adalah dalang yang menyiapkan panggungnya. Damian merasa mual. Dia baru menyadari bahwa selama ini dirinya duduk di kursi direktur, namun dia hanyalah pajangan yang disiapkan untuk menanggung dosa saat keadaan menjadi genting.
Bagaimana dia akan mempertanggungjawabkan mandat dari Almarhum ayahnya untuk menjaga perusahaan yang di bangun Dengan susah payah oleh sang kakek. Sedangkan ibunya, sang menantu malah mencoba untuk menghan-curkan perusahaan dari dalam? Dia tak habis pikir bagaimana ibunya bisa berkhia-nat?
biar dy juga merasakan apa yg km rasakan Selama 6th Alysia ,,
cowok yg kayak gini nich...yg berpotensi menghancurkan rumah tangga sendiri,usia boleh dewasa tapi sifatnya yg masih belum dewasa....cerai aja sich alysia,di luar sana masih banyak laki-laki yg lebih dari si Damian,ngapain kamu masih mempertahankan laki laki yg masih belum selesai sama masa lalunya...cuman buang waktu juga nyakitin dirimu sendiri aja.
bukti kan dg tindakan mu
6th sia sia buang waktu.
cerai trus upgrade diri ntar semoga dpt jodoh yg lebih Dr Damian. yg penting gk di setir ortu plus laki yg terbuka dng masa lalu serta yg sdh moveon.
jika km tlah melihat kesungguhan serta bukti bahwa Damian bnr2 berubah ,, baru deh kesempatan mau km kasih atau gx ,,
terlalu takut kehilangan harta Dunia ,,
skraaang yg perlu km lakuin hanya memperbaiki semua ny Damian sblm bnr2 terlambaat