Kanaya Adistia adalah seorang gadis desa yang super polos, lugu, dan selalu melihat dunia dengan penuh prasangka baik. hidup seorang diri di sebuah rumah tua dan tidak layak di tinggali, ayah dan ibunya telah lama meninggal dan keluarga yang lain tidak ada yang mau menampungnya. Namun, sebuah kecelakaan aneh membuat jiwanya terbangun di dalam tubuh Anaya Alysha Wicaksono, seorang siswi SMA kota yang terkenal nakal, pemberontak, dan sering membuat masalah. Di rumah, Anaya asli dikenal sebagai gadis yang sangat dingin, tertutup, dan enggan berinteraksi dengan keluarganya sendiri. Ia selalu mengurung diri di kamar, menghindari obrolan di meja makan, dan sengaja membangun benteng pembatas yang tinggi dengan orang tua serta kakaknya. Karena nama panggilan mereka sama-sama Naya, orang-orang di sekitar Anaya tidak menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh itu telah tertukar. Lalu bagaimana kelanjutan kehidupan Kanaya Adistia setelah bertransmigrasi ke tubuh Anaya Alysa Wicaksono? Yukkk lanjut baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandhyaruntala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : HILANG INGATAN
Mom?" panggil keduanya kompak.
Kedua pria itu masih terpaku di ambang pintu. Mereka terbiasa melihat Anaya yang menatap mereka dengan sorot mata dingin, penuh jarak, atau bahkan memalingkan muka setiap kali mereka masuk ke ruangan. Namun kini, gadis yang terbaring di brankar itu justru menatap mereka dengan sepasang mata bulat yang berbinar jernih, bersih dari segala kebencian.
Siska tersenyum tipis, lalu menjawab lirih, "Princess kita amnesia."
Deg!
Jantung Arka terasa mencelos. Amnesia? Adiknya yang sedingin es batu itu melupakan mereka? Arka langsung menoleh ke arah brankar. Di sana, gadis kecil itu—yang jiwanya adalah Kanaya—sedang memandangi mereka bergantian dengan jari telunjuk yang mengetuk dagunya sendiri. Sangat imut, sesuatu yang tidak akan pernah dilakukan oleh Anaya yang asli.
"Itu Daddy dan Abang, Sayang," ucap Siska lembut pada putri bungsunya.
Daddy Hendra tidak membuang waktu lagi. Dengan langkah lebar, pria berwibawa itu mendekati ranjang rumah sakit. Wajah tegasnya melunak seketika melihat sang putri kesayangan. "Princess... ini Daddy, Nak. Ini Daddy-mu," ucap Hendra dengan suara parau, berusaha keras menahan gejolak emosi di dadanya.
"Daddy?" beo Kanaya dengan suara imutnya. "Jadi... Om ini Daddy-nya Naya?"
"Iya, Sayang. Ini Daddy. Naya tidak perlu takut, ya?" Hendra mengusap rambut cokelat putrinya dengan sangat lembut, seolah takut gadis itu akan hancur jika disentuh terlalu keras.
Kanaya tersenyum manis hingga matanya menyipit membentuk bulan sabit. "Naya ndak takut, Daddy. Daddy tampan sekali, Naya suka!"
Mendengar pujian polos itu, runtuh sudah seluruh pertahanan Hendra. Ia langsung memeluk putrinya erat-erat. Selama bertahun-tahun, Anaya selalu menolak dipeluk dan selalu menghindar. Sekarang, pelukan hangat ini terasa seperti mukjizat yang nyata bagi Hendra.
"Wahhhhh... Daddy Naya ganteng, xixi," ucap Kanaya sambil cekikikan di dalam pelukan sang ayah.
Sementara itu, Arka masih berdiri kaku di kaki ranjang. Ia menyilangkan dada, mencoba menyembunyikan rasa gengsinya walau sudut matanya mulai memerah karena menahan haru. Dan tentu saja... menahan gemas!
‘Anjirlah, adek gue kenapa jadi seimut ini sih?’ batin Arka menjerit.
Ingin rasanya ia maju dan langsung mengunyel-unyel pipi tembam adiknya itu. Tapi sayang, dia masih takut kena omel Bunda Ratu alias Mommny Siska, haha!
(Dasar nih si Arka, emang kamu doang yang mau unyel-unyel Naya? Author pun pengen wkwkwk!)
Kanaya yang menyadari keberadaan remaja laki-laki tinggi di sana, langsung melambaikan tangan kecilnya.
"Kalau Abang yang tinggi itu... siapa namanya, Mommy?" tanyanya sambil melirik ke arah Siska.
Arka mendengus pelan, lalu melangkah maju. Ia menatap adiknya dengan tatapan tsundere khasnya. "Nama gue Arka. Gue abang lo. Masa ketabrak tangga saja bisa langsung lupa sama ketampanan abang sendiri?" ketusnya. Ia mencoba mencairkan suasana padahal jantungnya sendiri berdegup kencang karena gugup.
“Abangg.. jaga ucapan kamu di depan adikmu” peringat sang mommy
Kanaya tidak marah mendengar nada ketus itu. Di desanya dulu, para pencari kayu bakar yang lebih tua juga sering berbicara blak-blakan seperti itu padanya. Kanaya justru memiringkan kepalanya, memandangi wajah Arka dari atas ke bawah.
"Wah... Kak Arka juga tampan seperti Daddy!" puji Kanaya jujur tanpa beban. "Tapi Kak Arka jangan galak-galak, ya? Nanti cepat tua seperti Bapak RT."
‘Argghhhh! Bukankah itu sangat lucu? Sial, pengen gue karungin aja rasanya!’ teriak Arka dalam hati frustrasi karena tingkat keimutan adiknya sudah meloloskan batas normal.
Tanpa memedulikan gengsinya lagi, Arka melangkah mendekat lalu memeluk adiknya dengan sangat sayang. Namun sedetik kemudian, otaknya baru memproses kalimat terakhir sang adik.
‘Tapi tunggu... tua seperti Bapak RT?’ beonya bingung dalam hati.
Mommy Siska yang melihat ekspresi Arka seperti baru terkoneksi dengan perkataan adiknya, akhirnya tidak mampu lagi menahan tawa.
"Ppfftttt!" Mommy Siska langsung menutup mulutnya yang kelepasan tertawa.
Daddy Hendra pun terkekeh kecil, melirik putra sulungnya yang kini wajahnya langsung memerah padam karena diejek mirip Bapak RT oleh adiknya sendiri.
Kanaya tertawa dengan renyah dan ceria menatap abangnya yang tampak ingin meledak dengan muka memerah seperti kepiting rebus, antara malu dan kesal.
(Lagian Arka lemot juga ternyata, wkwkwk!)
‘Ayah, Bunda... Naya belum bisa nyusul kalian sekarang,’ batin Kanaya dalam hati sambil menatap hangat ketiga orang di sekelilingnya. ‘Tapi sekarang Naya punya Mommy, Daddy, dan Abang yang baik di sini. Naya berjanji akan menjaga raga ini dengan baik.’
Setelah menyapa adiknya yang kemudian langsung dimonopoli kembali oleh sang Daddy, Arka memilih duduk di samping mommynya. Mereka berdua menatap haru ke arah Daddy Hendra dan sang princess yang sedang bercanda.
"Mom, kalau boleh egois... Arka mau Naya tetap hilang ingatan saja," bisik Arka pelan dengan nada serius. "Arka suka Naya yang sekarang, Mom. Naya yang ceria dan polos. Arka nggak mau Naya balik jadi pendiam dan dingin kayak dulu lagi."
Ungkapan jujur Arka itu diam-diam disetujui sepenuhnya oleh sang ibu di dalam hati.
"Princess, ingat nama Daddy Hendra, ya. Pokoknya kamu tidak boleh lupa lagi sama Daddy," ucap Hendra penuh harap.
"Eumm! Daddy Hendra. Daddy sama Abang tampan, Naya suka, xixi," ucap Naya malu-malu dengan pipi yang merona merah.
"Naya juga cantik, kayak Mommy, xixi," lanjutnya lagi sambil cekikikan dan menutupi mulut mungilnya dengan kedua tangan.
Sang Daddy yang mendengar itu hanya bisa terkekeh puas melihat tingkah putrinya yang luar biasa menggemaskan.
...****************...
Setelah dua hari pasca-siuman dari tidur panjangnya, Naya mulai merasa bosan dengan bau obat-obatan rumah sakit. Dia mulai rewel dan terus-menerus meminta pulang.
"Naya mau pulang, Mommy..." ucapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca menahan kantuk dan bosan.
Suasana kamar VVIP yang mewah sekalipun tidak mampu meredam keinginan Naya untuk segera keluar dari tempat berbau antiseptik itu.
"Tunggu Daddy lagi bicara sama dokter ya, Sayang. Kalau memang sudah boleh, nanti kita langsung pulang ke mansion, yah," ucap Siska lembut seraya mengusap punggung Naya untuk menenangkannya.
"Tapi... tapi Naya sudah bosan sekali," ucapnya lagi sambil mengerjap lucu, membuat air mata yang menggenang di pelupuk matanya hampir jatuh. Siska hanya bisa terkekeh gemas lalu memeluk erat putri imutnya itu.
Tidak lama kemudian, setelah selesai berkonsultasi dengan dokter mengenai kondisi pemulihan Naya dan menyelesaikan seluruh administrasi rumah sakit, Daddy Hendra kembali ke ruang inap putrinya. Namun, baru saja pintu kayu besar itu terbuka, dirinya sudah langsung disambut oleh pertanyaan heboh sang putri.
"Daddy! Naya sudah boleh pulang, kan? Yeayyy!" teriaknya heboh dengan tangan terangkat ke udara, padahal dia sendiri belum tahu apakah sang dokter sudah memberikan izin atau belum.
Hendra tertawa gemas melihat pemandangan itu. Ia segera menghampiri ranjang, lalu dengan gemas menciumi pipi tembam putrinya bertubi-tubi tanpa ampun, membuat sang empunya tubuh langsung menggeliat kegelian.
"Ampun Daddy, geliii! Hahahahaha!" tawa Naya pecah, memenuhi seisi ruangan. "Mommyyyy... tolong Naya... ada monster kiss-kiss, Mommyyyy!" jeritnya riang, meminta pertolongan pada sang ibu.
Jeritan lucu itu tentu saja disambut oleh kekehan geli dari Siska.
"Dad, sudah, kasihan Naya. Nanti perutnya bisa sakit karena terlalu banyak tertawa," lerai Siska pada akhirnya dengan sisa tawa di wajahnya.
"Putri Daddy kenapa bisa manis sekali, hmm?" ucap Hendra sambil mencubit lembut hidung Naya yang memerah akibat tertawa.
"Daddy... jadi kan Naya pulang hari ini?" tanya Naya lagi, masih saja mengingat tujuan utamanya dengan wajah penuh harap yang super menggemaskan.
...****************...
# HAI GUYSSS ✨#
GIMANA NIH CERITA DI BAB DUA..
PASTI SERU BANGET KAN!!
STAY TUNE TERUS SETIAP JAM 19.00 YA GUYS. KARNA BAB BARU AKAN UP SETIAP JAM 19.00😙
JANGAN LUPA YAAA
LIKE 👍🏻 DAN KOMENNYA 💬, KARNA DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERARTI DAN BUAT AKU SEMANGAT BERKARYA.
THANK YOU SUDAH MAMPIR DI KARYA KU🥰🫶
udah bikin satu kelas mikir berjamaah dianya malah anteng anteng aja🤭
Jangan lupa like, komen dan klik favorit yaa🥰
HAPPY READING & HOPE YOU ENJOY GUYSSS💜