Alea Winslow (22th), melanjutkan pendidikan S2-nya di salah satu kampus ternama di Belanda.
Hidupnya yang awalnya dia pikir akan bebas, malah hancur lebur karena harus berhadapan dengan Damon Alvaro. Dokter tampan 39 tahun, kadang hangat kadang dingin, yang tiba-tiba mulai terlibat dalam hidupnya.
Damon selalu menjadi saksi Alea melakukan hal-hal konyol. Bahkan mencuri di salah satu pertokoan di Belanda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah alamat
"Elora ya ampun, ini club malam Eloraa. Bukan restoran atau semacam cafe untuk kita bersantai. Ini tuh tempatnya laki-laki hidung belang sama cewek-cewek dada besar semua! Astaga, gue emang udah punya banyak catatan mau ngapain aja selama hidup mandiri di negara orang. Tapi bukan ke tempat kayak gini say. Ini kalo daddy gue tahu, bisa-bisa kepala gue dipenggal sama emak guee! Lo tahu larangan paling utama di keluarga gue? Nggak boleh masuk club malam! Ampun deh Elora, kok bisa-bisanya lo salah bedain tempat makan sama club malam sih ..."
Omel Alea panjang lebar. Dia gemas banget pada Elora. Padahal mereka berdua tadi niatnya mau ke tempat makan, Elora pun dengan cepat bilang dia saja yang cari tempat makanan yang makanannya enak-enak. Karena gadis itu sudah lama banget tinggal di negara ini, tentu saja Alea gak mikir panjang. Eh, tahu-tahunya mereka malah muncul di club malam.
Elora sendiri masih menatap ke dalam ruangan ini dengan wajah polos tanpa dosanya. Dia juga belum pernah masuk ke yang namanya club malam. Dan sebenarnya jarang jalan-jalan keluar kecuali kampus, makanya gak kayak gak tahu dunia tapi pura-pura tahu di depan Alea. Alhasil, ya begini jadinya.
Padahal baru sehari mereka bertemu, tapi dia dan Alea sudah seakrab itu. Gimana gak akrab coba, waktu di kelas tadi mereka berdua ngobrol terus sambil ketawa-tawa sampai dikeluarkan dari kelas oleh pak Anthony, si dosen sensitif, killer abis pokoknya.
"El… ini beneran bukan restoran…" ulang Alea sambil menunjuk papan nama besar yang jelas-jelas berkedip dengan musik berdentum dari dalam. Lampu warna-warni menyala dari celah pintu. Dentuman bass bahkan terasa sampai ke dada. Orang-orang keluar masuk dengan pakaian yang … menurut Alea, terlalu niat untuk sekadar makan. Seksi abis deh pokoknya.
Elora berkedip beberapa kali, lalu menoleh ke Alea dengan senyum polosnya.
"Eh… tapi di maps tadi tulisannya ada makanan juga…" gumamnya ragu.
Alea memijat pelipisnya.
"Ya ampun… iya, mungkin ada makanan. Tapi itu bukan tujuan utama tempat beginian!" desisnya setengah kesal.
"Lo ini yah, bener-bener..." Alea terus mengomel.
Bibir Elora mengerucut merasa bersalah.
Seorang pria penjaga pintu melirik mereka sekilas. Tatapannya seperti menilai apakah dua gadis ini cukup umur dan layak masuk. Pasalnya gaya berpakaian dan tingkah mereka memang kayak anak remaja banget. Mana muka dan badan mendukung pula. Elora langsung mundur satu langkah, tapi Alea malah maju. Elora langsung menatap Alea bingung.
"Kamu mau masuk?"
"Ya iya dong. Udah di sini juga. Gue udah keburu laper." balas Alea.
"Tapi Lea, tadi kamu bilang kalau daddy kamu tahu ..."
"Udah buruan! Masalah itu belakangan. Isi perut dulu." dia menarik tangan Elora masuk ke dalam.
Elora bahkan tidak sempat protes lagi. Dalam hitungan detik, ia sudah terseret masuk ke dalam bersama Alea.
"Lea … Lea … ini beneran kita masuk?" bisiknya panik, matanya langsung membesar melihat suasana di dalam.
Lampu remang-remang dengan warna neon menyala di mana-mana. Musik berdentum keras, membuat lantai seakan ikut bergetar. Orang-orang memenuhi area dansa, bergerak bebas tanpa peduli siapa melihat siapa. Beberapa tertawa keras, beberapa sibuk dengan minuman di tangan mereka. Alea berhenti sejenak, matanya menyapu seluruh ruangan.
"Wow!"
Elora menatapnya.
"Wow apanya? Tadi kamu yang paling nolak!"
Alea menelan ludah, lalu berdeham kecil.
"Gue tetap nolak … tapi … kita udah di sini. Jadi … ya… observasi dulu."
"Observasi?!" Elora hampir tersedak.
"Iya. Penelitian sosial. Kita kan anak S2," jawab Alea santai, seolah itu alasan paling masuk akal.
Elora hanya bisa menatapnya tidak percaya. Alea kemudian menarik Elora ke arah sisi ruangan yang sedikit lebih tenang, dekat area bar tapi tidak terlalu ramai.
"Duduk di sini aja. Kita cari yang aman dulu," katanya. Seorang pelayan datang menghampiri mereka.
"What would you like to order?"
Alea langsung menjawab cepat,
"Ada makanan berat?" Pelayan itu sedikit mengangguk.
'Yes, we have some menu. Pasta, steak, fries…"
"NAH! Bener kan ada makanan." Alea langsung menoleh ke Elora dengan wajah menang. Elora menghela napas panjang.
"Iya, tapi tetap aja ini club malam…"
Alea tidak peduli. Ia langsung memesan makanan seadanya, sementara Elora masih terlihat tegang, matanya sesekali melirik ke sekitar. Tempat ini asing sekali.
"Relax, El. Relax. Kita makan, habis itu cabut. Nggak ada yang tahu kok." ujar Alea sambil menyenggol bahunya. Dia lupa sekali dengan pengawal bayangannya. Belum sempat makanan datang, seseorang berhenti tepat di depan meja mereka. Bayangan tubuh tinggi itu menutupi cahaya lampu di atas.
Alea mengernyit, lalu perlahan mendongak. Dan detik berikutnya ...
"Astagaa... Dia lagi." katanya malas.
Damon berdiri di sana, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Dunia sekecil ini apa sampai ketemu sama om-om nyebelin ini terus?"
Elora ikut melirik ke laki-laki tinggi besar yang berdiri di dekat mereka. Lebih tepatnya di sebelah Alea. Kata pertama yang terpikir di otaknya adalah ... Tampan sekali.
"Lea, kamu kenal?" bisiknya.
"Mm, tetangga gue. Tapi kita musuhan."
Elora mengernyit bingung. Sementara Damon terus fokus menatap Alea dengan tatapan tajam.
"Kau kenapa di tempat seperti ini?" suaranya rendah. Alea balas menatap pria itu berani.
"Lah, emangnya kenapa? Ini kan tempat makan juga. Wajar dong aku sama teman aku makan di sini. Lagian, om juga ada di sini. Ngapain tanya-tanya aku ke sini? Iri ya?"
Damon menatapnya tanpa berkedip, ekspresinya tetap datar, tapi jelas tidak suka dengan jawabannya.
"Iri?" ulangnya pelan, nyaris seperti mengejek. Alea mengangkat dagu.
"Iya. Siapa tahu om sebenarnya pengen ngajak aku ke sini duluan tapi gak kesampaian."
Elora di sampingnya langsung menutup wajahnya pakai tangan.
"Ya ampun… percaya diri sekali dia." bisiknya malu.
Damon menghela napas panjang, lalu sedikit menunduk agar sejajar dengan Alea.
"Kau ini benar-benar tidak tahu tempat," ucapnya dingin.
"Nggak tahu tempat?" Alea berkacak pinggang kesal menatap Damon. Belum sempat dia bicara, pria itu sudah menariknya turun dari kursi bar.
"Ayo pulang."
Alea langsung menahan tangannya.
"Eh! Eh! Lepas om! Malu tahu di tarik sama om-om." protesnya, berusaha menarik lengannya kembali.
Damon tidak menggubris. Genggamannya tetap kuat. Elora di belakang ikut berdiri.
"Om! Jangan culik aku ih! Temen aku masih di sana!"
Damon berhenti sebentar menatap gadis yang datang bersama Alea itu. Saking fokusnya hanya ke Alea, dia jadi tidak memperhatikan ada gadis lainnya yang berada di sana juga. Mantap. Dua-duanya tampak polos, dan masuk ke club malam. Damon jadi bersyukur Anthony mengajaknya bertemu di sini. Kalau tidak, mungkin Alea dan temannya itu akan dimanfaatkan oleh orang-orang tidak bertanggung-jawab.
"Damon, ada apa ini?"
Anthony mendatangi mereka karena Damon tidak balik-balik juga. Dia langsung mengenali Alea dan Elora. Kepalanya makin pusing melihat dua gadis itu.
"Kalian ..."
"Ya ampun pak Anthony yang tampan gak ada tiganya! Pak, lihat ini... Mahasiswi teladan bapak mau di culik sama om-om!"
Alea langsung menyebut nama Anthony dengan lantang.