Juara 🥉 Event Air Mata Pernikahan S3
Ainsley dan Charlie adalah sepasang suami istri yang juga anggota FBI. Mereka bertugas menggagalkan penyelundupan narkotika di pelabuhan New York yang dilakukan oleh mafia bernama John Wilson.
Tapi rencana mereka di ketahui oleh musuh sehingga terjadi baku tembak antara kedua kubu.
John Wilson berhasil kabur, tapi Charlie tidak membiarkannya begitu saja. Dia mengejar John hingga terjadi kecelakaan tragis yang menewaskan Charlie.
Ainsley terpuruk dan memutuskan untuk mengundurkan diri dari FBI. Dia terus mencari keberadaan suaminya karena dia tidak percaya suaminya meninggal jika belum melihat jasadnya. Bahkan dia berencana untuk balas dendam.
Tapi beberapa bulan kemudian saat dia berlibur, dia bertemu dengan pria yang mirip dengan suaminya. Tapi sayangnya, pria itu bernama Michael dan mempunyai tunangan.
Siapakah Michael sebenarnya? Dan apakah Ainsley bisa membalaskan dendam kematian suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Data Pribadi
Henry mengumpat dan mengeluarkan sumpah serapahnya karena tidak mendapatkan informasi keberadaan Ainsley dari Clara, tapi justru wanita itu menguras habis uangnya hanya untuk makan saja.
"Sial!!! Dimana sebenarnya wanita itu? Bahkan Clara yang dekat dengannya pun tidak tahu dimana dia sekarang. Atau jangan-jangan dia hanya berpura-pura? Dia tahu di mana Ainsley dan juga Charlie. Tapi itu tidak mungkin. Jika Clara tahu, pasti dia sudah heboh dan memberitahu semua orang." ucapnya bermonolog. Dia kembali berfikir, kira-kira dimana mereka bersembunyi. Sampai dia teringat akan satu hal. "Rumah Ainsley. Ya, rumah Ainsley. Aku yakin mereka bersembunyi di sana. Aku harus mencari alamatnya." Henry keluar dari ruangannya dan bergegas ke ruang rahasia di mana semua dokumen penting di simpan di sana.
Dia melihat Audrey masih berjaga di depan ruang tersebut. Dia memikirkan cara agar bisa masuk kesana. "Bagaimana caranya aku masuk kesana?'' batin Henry. Dia terdiam sejenak sampai terbit seringai licik di bibirnya
Henry menghampiri Audrey dan berkata, "Audrey, aku diminta kapten untuk mengambil berkas penting. Bisa kau membantuku mengambilnya?" seru Henry
"Berkas apa?" tanya Audrey
"Tentang gembong narkoba yang dihukum mati beberapa tahun yang lalu. Kapten ingin aku menyelidikinya, apakah pelaku yang sekarang tertangkap ada kaitannya dengannya atau tidak."
Audrey mengangguk paham. Tanpa rasa curiga, dia mulai memasukkan sandi yang hanya dia yang tahu lalu membuka pintu tersebut menggunakan kunci. Namun saat dia masuk, tiba-tiba Henry memukulnya dari belakang hingga pingsan.
"Cih... Ternyata sangat mudah." Dia melihat keluar untuk memastikan jika tidak ada yang melihatnya. Baru setelahnya, dia menutup pintu dan mengambil kunci yang Audrey bawa dan meninggalkan wanita itu tergeletak di lantai begitu saja.
"Maaf Audrey. Tapi aku harap kau tidak sadar sebelum aku mendapatkan apa yang aku inginkan." ucap Henry. Dia mulai mencari data pribadi milik Ainsley.
Di ruangan itu tersimpan banyak berkas-berkas penting. Tidak hanya data pribadi anggota FBI, tapi juga data penjahat dan kasus-kasus penting yang pernah terjadi.
Henry yang sudah hafal betul letak data anggota FBI, langsung menuju bagian brankas yang dia cari dan membukanya dengan kunci yang dia dapat dari Audrey. Dia mulai mencari berkas milik Ainsley.
"Dimana data pribadi milik Ainsley?" Henry mencari dengan buru-buru. Sesekali dia menoleh kearah Audrey untuk memastikan jika wanita itu belum sadar.
"Ini dia." Henry membuka berkas tersebut dan mencari alamat lama Ainsley . Dia menyeringai dan menghubungi John.
"Halo John, aku punya kabar baik untukmu."
...----------------...
Sementara itu, Clara menemui Kapten Aaron untuk memberitahu tentang pengkhianatan yang dilakukan oleh Henry. Dia memastikan terlebih dahulu jika tidak ada siapapun di sana.
"Kapten, ada yang ingin aku bicarakan. Ini mengenai Henry." seru Clara
"Henry?" tanya Kapten Aaron dengan kening yang mengkerut penasaran
"Iya. Aku melihat Henry bersama dengan John, kapten."
Deg
Kedua mata kapten Aaron melebar sempurna. "A-apa maksud mu?" tanya Kapten Aaron
"Henry adalah seorang pengkhianat, kapten."
"Jangan bicara sembarangan, Clara. Dia adalah salah satu anggota FBI yang berbakat dan berjasa terutama dalam kasus yang berhubungan dengan John. Jadi, tidak mungkin jika dia adalah seorang pengkhianat."
"Aku sudah menduga jika anda tidak akan percaya. Untuk itu aku ingin anda memerintahkan anggota FBI untuk mengawasinya. Nanti kita akan tahu wajah asli Henry."
Kapten Aaron nampak terdiam. Dia masih tidak percaya dengan apa yang Clara katakan. Rasanya tidak mungkin jika Henry adalah seorang pengkhianat. Jika benar, apa alasan pria itu melakukan hal itu?
"Kau tahu Clara, ucapanmu ini bisa menimbulkan masalah besar. Untuk itu, apa kau berani bertanggung jawab jika perkiraan mu salah?" tanya Kapten Aaron yang di jawab anggukan tegas oleh Clara. "Saya berani mempertanggungjawabkan apa yang sudah saya katakan, kapten. Bahkan jika aku di pecat secara tidak terhormat sekalipun."
Kapten Aaron mengangguk. "Baiklah, aku akan melakukan apa yang kau katakan. Tunjuk siapa yang menurutmu bisa di percaya untuk mengawasi Henry dan panggil dia kemari!! Aku akan memberikan perintah padanya." ujar kapten Aaron
"Terimakasih kapten." sahut Clara senang. Dia segera keluar dari ruangan kapten Aaron dan menghubungi Ainsley.
"Aku berhasil meyakinkan kapten Aaron. Sekarang dia berada dibawah pengawasan FBI." ucapnya setelah teleponnya tersambung dengan Ainsley
"Benarkah?" tanya Ainsley
"Yeah... Kapten Aaron memintaku untuk menunjuk anggota FBI yang akan mengawasi Henry. Dengan begitu, dia akan mendapatkan balasan atas apa yang telah dia lakukan."
"Baguslah kalau begitu. Aku senang mendengarnya." sahut Ainsley
"Baiklah kalau begitu, aku tutup dulu teleponnya." Clara memutuskan sambungan telepon dan segera mencari orang yang bisa dipercaya untuk mengawasi Henry.
Namun saat dia hendak keluar dari ruangannya, dia melihat Henry yang tersenyum senang. Hal itu membuat Clara curiga. Rasanya baru tadi dia membuat Henry kesal, tapi kenapa sekarang pria itu terlihat senang?
"Aneh, apa yang membuatnya sesenang itu?" gumam Clara. Dia mengerutkan keningnya karena baru sadar jika Henry berjalan dari arah ruang penyimpanan dokumen rahasia. Dia mencoba mencari tahu apa yang pria itu cari. Namun yang dia temukan adalah Audrey yang tertidur di tempatnya dengan posisi menyembunyikan wajahnya di kedua tangannya yang dilipat dimeja.
"Kenapa Audrey tidur? Apa dia sakit?" Clara menghampiri wanita itu dan mencoba membangunkannya. "Audrey!!! Kau baik-baik saja?" tanya Clara. Tapi tidak ada respon. Dia menggoyangkan tubuh Audrey, tapi lagi-lagi Audrey tidak merespon, justru tubuhnya merosot jatuh kelantai seandainya Clara tidak reflek menopang tubuh Audrey.
"Oh my God!! Audrey!! Kau kenapa?" Clara menepuk-nepuk pelan pipi Audrey, mencoba membangunkannya. "Audrey!!"
"Ugh..." Audrey mengerjapkan matanya perlahan. "Clara!!" lirihnya
"Iya, ini aku." Clara membantu Audrey untuk bangun. "Kenapa kau bisa pingsan? Apa yang terjadi?" tanya Clara
"Tadi kalau tidak salah, Henry datang dan mengatakan ingin mengambil dokumen penting tentang gembong narkoba yang di hukum mati beberapa tahun yang lalu. Dia bilang, kapten Aaron yang menyuruhnya. Tapi saat aku masuk, tiba-tiba ada yang memukulku dari belakang." terang Audrey
Deg
"Tidak mungkin. Untuk apa Henry mencari dokumen milik penjahat yang sudah dihukum mati?" batin Clara
"Ra, tidak mungkin Henry yang sudah memukulku, kan?" tanya Audrey tidak percaya
"Jika dipikir-pikir, hanya ada kau dan Henry waktu itu. Lalu ada orang yang memukulku hingga pingsan, menurutmu, siapa pelakunya?" tanya Clara
Audrey melebarkan kedua matanya. Dia bergegas bangun dan masuk ke ruang rahasia untuk memeriksa apakah ada data yang hilang atau tidak.
"Apa yang kau lakukan, Audrey?" tanya Clara yang mengekor dibelakang Audrey.
"Aku hanya ingin memastikan, apakah ada dokumen yang hilang atau tidak. Jika Henry sampai melakukan hal itu padaku, itu artinya dia mencari informasi penting. Bisa saja dia mencurinya." seru Audrey
"Ta-tapi Audrey, brankas sebanyak ini, bagaimana kau tahu brankas mana yang Henry buka?" tanya Clara bingung
Audrey tidak menjawab pertanyaan Clara. Dia hanya fokus memeriksa satu persatu lubang kunci brankas tersebut. Hingga dia menemukan satu brankas yang menurutnya adalah brankas yang telah di buka Henry. Dia meraba lubang kunci dan bagian depan brankas. "Aku yakin, Henry membuka brankas ini." seru Audrey.
"Dari mana kau tahu?" tanya Clara.
"Mudah saja. Kebanyakan brankas-brankas di sini berdebu walaupun sudah di bersihkan. Dan lihat!! Ada jejak tangan di bagian depan. Dan lubang kunci ini juga tidak sejajar. Pasti ada yang membukanya." terang Audrey. Dia membuka brankas tersebut dan memeriksanya. Dan ternyata benar, tatanan dokumen di dalam brankas tersebut sedikit berubah.
Clara merasa kagum dengan keahlian Audrey. Dia bisa melihat dan mengingat sekecil apapun yang menurutnya berbeda dari biasanya. Pantas saja dia di percaya untuk menjaga ruang tersebut. Tapi tunggu dulu!!!
"Data pribadi." lirih Clara. Dia nampak berfikir, untuk apa Henry membuka brankas tersebut. Hingga dia menyadari sesuatu, "Ainsley!!"
kerennnnn