Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.
Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.
Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.
Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.
Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.
Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
.
Mobil Alvino melaju pelan meninggalkan pelataran kantor. Lampu kota mulai menyala satu per satu, tapi suasana di dalam terasa hening. Rania menatap lurus ke luar jendela, matanya sembab dan bekas air mata masih terlihat di pipi. Pikirannya masih terbayang bentakan dan tatapan orang-orang tadi, membuat dadanya kembali terasa sesak.
Alvino melirik sekilas. "Kok kamu diam saja? Masih kepikiran kejadian tadi?"
Rania menoleh pelan, senyum tipisnya tak sampai ke mata. "Aku cuma... merasa bersalah."
"Kamu kan tidak berbuat salah, justru kamu terlalu baik. Seharusnya kamu berani membela diri," jawab Alvino tenang.
Rania mengambil nafas dalam.lalu membuangnya kembali. "Aku bukan tidak berani, Bang. Tapi mereka adalah orang tuaku. Biar bagaimanapun, mereka lah yang telah membesarkanku. Aku tidak mau menjadi anak durhaka," ucap Rania dengan suara bergetar.
Alvino tidak langsung menjawab. Pria itu meminggirkan mobil di jalanan dekat taman kota, mematikan mesin, lalu memutar tubuh menghadap Rania. Dengan lembut ia meraih tangan istrinya yang masih dingin dan gemetar.
"Bang?" Rania mengangkat wajahnya menatap lekat wajah suaminya.
Alvino mengecup punggung tangan itu pelan. "Kamu takut dianggap durhaka... tapi pernahkah kamu berpikir, kamu justru membiarkan mereka menjadi orang tua durhaka?”
Rania terdiam, tidak mengerti maksud ucapan Alvino.
"Kamu berbakti itu bagus, itu artinya kamu anak yang baik," lanjut Alvino lembut namun tegas. "Tapi orang tua juga punya kewajiban. Melindungi, menyayangi, membimbing. Bukan memeras, mempermalukan, atau menjadikanmu sumber uang."
Ia mengusap punggung tangan Rania dengan ibu jarinya. "Kamu boleh selamanya membiarkan mereka terus menjadikan kamu sapi perah.”
Rania menunduk, air matanya menetes pelan. “Lalu apa yang harus aku lakukan?”
"Menghormati bukan berarti membiarkan dirimu diinjak. Berbakti bukan berarti menyerahkan seluruh hidupmu. Kamu berhak berkata tidak dan menjaga harga dirimu."
Rania mengangkat wajahnya menatap mata suaminya yang teduh. Perlahan rasa takutnya luntur digantikan rasa damai. "Selama ini aku pikir diam itu jalan terbaik. Aku berharap suatu saat mereka akan berubah."
Rania menarik napas panjang, kepalanya kini terasa jauh lebih ringan. "Aku janji, mulai sekarang aku akan tetap menghormati mereka sebagai orang yang dulu merawatku. Tapi tidak akan membiarkan mereka mengatur hidupku lagi, dan tidak akan takut untuk membela diri.”
Alvino tersenyum bangga, mengusap sisa air mata di pipi istrinya. "Itu baru Nyonya Muda Mahendra."
Rania tersenyum tulus kali ini, lalu menggenggam tangan Alvino erat. "Terima kasih ya, Bang. Bukan cuma sudah membela aku... tapi sudah mengajarkan aku untuk sayang sama diriku sendiri."
"Itu semua karena kamu memang pantas diperlakukan baik," jawab Alvino lembut sambil mengelus puncak kepalanya.
*
Langit senja mulai menggelap saat Arga memarkir mobil di halaman rumah. Biasanya ia langsung masuk, lalu menghabiskan waktu di ruang kerjanya hanya demi menghindari perdebatan dengan Angelina. Tapi belakangan ini, kebiasaan itu tak lagi ia lakukan. Ada tempat lain di mana ia tak lagi harus mendengar segala macam tuntutan dari Angelina.
Arga melangkahkan kakinya menuju gudang. Ruangan terpisah di belakang rumah yang penuh barang lama, tempat Angelina menyingkirkan semua barang yang berhubungan dengan Rania.
Arga mendorong pintunya pelan.
Kriet…
Aroma debu dan kayu tua langsung menyeruak memenuhi indera penciumannya. Arga melangkah ke sisi dinding untuk menyalakan lampu yang hanya remang-remang, lalu berjalan ke sudut yang selalu ia datangi sejak dua minggu lalu. Di sanalah tergeletak beberapa kardus besar.
Arga berjongkok, tangannya gemetar saat membuka tutup kardus itu. Matanya seketika memerah saat melihat bingkai foto yang sangat ia kenali. Arga mengambil salah satu foto pernikahannya dengan Rania. Senyum Rania yang begitu indah, matanya yang berbinar seolah sedang memandang dirinya.
Arga mengusap kaca bingkai dengan ujung jari telunjuknya.
"Dulu..." gumamnya serak. “Senyum indah ini hanya untukku."
Dadanya terasa ditindih beban berat. Ia mengambil bingkai berikutnya. Foto ulang tahun pernikahan pertama, makan malam sederhana di meja makan, foto Rania yang sedang tersenyum di dapur sambil memegang sendok. Hal-hal yang dulu biasa saja, kini terasa seperti harta yang sudah hilang ditelan waktu.
Air mata jatuh satu persatu membasahi pipinya.
"Aku selalu sadar betapa berharganya kamu... Tapi kenapa aku tak bisa mempertahankan kamu di sisiku?"
Arga memejamkan mata sambil memeluk bingkai itu. Bayangan Rania yang menyambutnya pulang kembali terbayang jelas.
"Mas, sudah pulang? Capek ya? Aku sudah siapkan makan malam."
Kata-kata itu kini hanya gema di kepala. Tak ada lagi yang menunggunya. Tak ada lagi cinta yang tulus. Tak ada lagi Rania.
"Aku benar-benar bodoh..."
Isaknya memenuhi ruangan sunyi. Sejak hari menghadiri akad nikah Rania dan Alvino, penyesalannya tak pernah berkurang, malah makin membesar. Setiap melihat Rania tersenyum bahagia di samping orang lain, ia sadar. Ia sendirilah yang melepaskannya.
Itulah yang selalu dilakukan Arga tiap pulang dari perusahaan. Kadang ia tertidur di lantai dingin sambil memeluk album lama. Ia tahu Rania sudah jadi milik orang lain. Tapi hatinya belum mau berdamai dengan kenyataan.
Di sisi lain, Angelina semakin kesal dengan hubungannya dengan Arga. Pria itu terlalu acuh. Bersikap manis hanya jika bersama keluarga besar. Dan dia bukan tidak tahu apa yang dilakukan Arga belakangan ini.
Seperti malam itu, saat Arga kembali menghilang usai makan, Angelina mengikutinya diam-diam. Ia melihat pintu gudang sedikit terbuka.
"Ke sana lagi?" gumamnya dengan rahang mengeras.
Angelina mengepalkan tangannya erat, rasa jantungnya bergemuruh menahan rasa amarah
"Apa hebatnya wanita miskin itu..." suaranya bergetar tertahan, "...kenapa kamu kasih saja memikirkan dia?"
Ia mundur perlahan, lalu berlari masuk ke rumah sambil menghapus air mata yang membasahi pipinya. Sudah berbagai usaha ia lakukan untuk menaklukkan hati Arga, tapi masih juga belum ada hasilnya. Arga memang menyentuhnya. Tak hanya memberi nafkah lahir tapi juga batin. Tapi ia tahu persis Arga melakukan itu dengan hati terpaksa.
"Kurang ajar… Dasar wanita jalang… " desisnya gemetar. "Dia sudah punya suami... kenapa masih harus menghancurkan hidupku?"
Ia segera mengambil ponsel, mencari nomor Bu Ratih. Tak lama, panggilan tersambung. "Mama..."
"Angel… Ada apa? Kenapa suaramu begitu?" tanya Bu Ratih cemas.
Angelina mengusap air matanya kasar. "Ma... sepertinya Mas Arga belum bisa melupakan Rania."
Di seberang sana hening sejenak, lalu terdengar napas kasar Bu Ratih.
"Apa katamu?"
“Pasti wanita miskin itu melakukan sesuatu yang licik!” lapor Angelina.
Bu Ratih mengepalkan tangannya di meja. Wajahnya berubah dingin.
"Perempuan itu lagi..." desisnya tajam. "Sudah jadi istri orang, masih saja bikin keributan di rumah kita."
Ia berhenti sejenak, lalu berkata tegas.
"Dengar Ibu. Sepertinya kita harus melakukan sesuatu agar dia benar-benar tidak bisa lagi mengganggu hidup kalian berdua."
"Apa yang harus aku lakukan, Ma?" tanya Angelina cemas sekaligus penuh dendam.
Bu Ratih tersenyum tipis, senyum yang tak menyenangkan sama sekali.
"Mama belum tahu caranya. Tapi Mama pasti akan membuat wanita itu hilang selamanya dari hidup kalian!"
Angelina tertawa jahat. Dan benih rencana jahat mulai tumbuh perlahan, siap membawa mereka pada kehancuran mereka sendiri.
harta membutakn mati hatinya..smpai berani bwt fitnah kyok gt...hhhmmmm siap"dilibas sm mam's Soraya🫠