Kehamilan yang selama ini mati-matian disembunyikan Anisa akhirnya terbongkar. Ironisnya, orang pertama yang mengetahui rahasia itu justru Reinhart—dokter magang di kampus tempatnya menimba ilmu.
Sejak hari itu, hidup Anisa berubah. Semakin ia berusaha menghindar, semakin sering takdir mempertemukan mereka. Tatapan penuh rasa ingin tahu dari Reinhart perlahan berubah menjadi kepedulian yang sulit diabaikan.
----------------------------
"Siapa ayah dari bayimu?"
"Itu bukan urusan Dokter."
"Kalau begitu... izinkan saya menjadi ayah untuk bayi itu."
Anisa hanya tersenyum getir.
"Maaf. Saya menolaknya."
-----------------------
Namun, sampai kapan rahasia itu bisa disembunyikan? Dan ketika kebenaran akhirnya terungkap, apakah cinta Reinhart masih cukup kuat untuk menerima Anisa... beserta luka dan masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Pertama
Suasana upacara penerimaan mahasiswa baru di kampus Harapan Bangsa mendadak ricuh saat ada seseorang yang berteriak di antara kerumunan.
"Tolong, ada yang pingsan!" seru seorang gadis hingga membuat semua atensi tertuju kepadanya.
"Bawa ke klinik kampus saja!" seru yang lainnya.
Beberapa mahasiswa perempuan ikut membantu mengangkat tubuh gadis berhijab itu dan di bawa ke posko pelayanan kesehatan.
"Apa yang terjadi?" Salah seorang petugas di posko bertanya pada si mahasiswi bernama Rhea.
"Saya tidak tahu, Kak. Tadi Anisa sempat mengeluh sakit kepala saat upacara akan dimulai. Wajahnya juga udah pucat sebelum upacara."
Si petugas mengangguk. "Baiklah, kami akan bawa ke klinik untuk diperiksa. Kalian bisa kembali ke barisan."
Rhea mengangguk. "Iya, Kak. Terima kasih."
Tubuh Anisa yang tak sadarkan diri di bawa dengan brankar menuju ke klinik kampus. Tiba di klinik, seorang dokter muda langsung menanganinya.
"Cepat bawa ke bilik nomer satu," ucap dokter muda bernama Reinhart itu.
Mata Reinhart membulat menatap sosok berwajah pucat berhijab hitam itu.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Reinhart.
"Temannya bilang dia pingsan saat upacara berlangsung."
"Baiklah. Kalian boleh kembali berjaga. Saya akan periksa kondisinya dulu."
"Terima kasih, Dokter."
Reinhart mengangguk lalu mulai memeriksa kondisi Anisa. Dilihat dari jas almamater yang dipakainya, Reinhart tahu jika mahasiswi ini dari jurusan kedokteran.
Sebelum memeriksa, Reinhart meminta izin terlebih dahulu pada Anisa meski gadis itu tidak bisa mendengarnya.
Tangan Reinhart menyentuh pergelangan tangan Anisa dan memeriksa denyut nadinya.
Dahi Reinhart berkerut setelah pemeriksaan berakhir.
"Gadis ini ...." Reinhart tak mampu melanjutkan kalimatnya. Ia memutuskan untuk menunggu hingga Anisa siuman.
Tiga puluh menit berlalu, akhirnya Anisa mendapatkan kesadarannya kembali. Matanya menyipit mendapati dirinya terbaring di tempat asing.
"Kamu sudah bangun?"
Suara yang asing di telinga Anisa membuatnya segera bangun dari brankar.
"Hei, pelan-pelan saja. Kamu ada di klinik kampus." Reinhart mendekati Anisa.
Mata Anisa menatap wajah Reinhart sekilas lalu memalingkan wajah.
"Ke-kenapa saya bisa ada disini?"
Reinhart terpana sejenak mendengar suara lembut Anisa.
"Kamu lupa? Kamu pingsan saat upacara di lapangan kampus."
Anisa tidak menjawab lagi. Ia memilih untuk turun dari brankar dan hendak pergi.
"Tunggu! Istirahat saja dulu disini," cegat Reinhart.
"Te-terima kasih. Sebaiknya saya kembali ke barisan. Saya gak enak sama teman-teman yang lain." Anisa membungkukkan kepala dan berpamitan. Ia melewati tubuh tegap Reinhart begitu saja.
"Jangan memaksakan diri. Kamu sedang hamil."
DEG!
Langkah Anisa terhenti mendengar ucapan Reinhart. Tubuhnya mematung di tempat dan terasa kaku untuk bergerak lagi.
Hamil? Anisa memegangi perutnya yang masih rata.
"Dilihat dari reaksimu, sepertinya kamu sudah tahu tentang kondisimu ini."
Anisa mengepalkan tangan. Ia tak siap jika ada yang mengetahui soal ini, terutama orang asing seperti Reinhart.
"Se-sekali lagi terima kasih, Dokter. Saya permisi!" Anisa memilih benar-benar pergi dari ruangan bernuansa putih itu.
Reinhart menatap kepergian Anisa dengan tatapan yang sulit diartikan.
* * *
Anisa berjalan menyusuri lorong-lorong kampus menuju ke lapangan tempat upacara berlangsung. Perasaan cemas langsung menggelayuti hatinya. Tak pernah ia duga jika kehamilannya akan diketahui oleh orang lain terlebih sama-sama ada di kampus ini.
"Ya Allah, apa yang harus kulakukan?" Anisa memejamkan mata sejenak. Sebisa mungkin ia harus bersikap normal di depan teman-temannya nanti.
Anisa melanjutkan langkahnya hingga benar-benar tiba di lapangan. Upacara telah berakhir dan beberapa teman Anisa menghampirinya.
"Anisa? Kamu gak apa-apa? Kenapa kesini lagi dan bukannya malah istirahat?" Rhea, teman yang baru ditemuinya beberapa hari lalu ini sungguh perhatian pada Anisa.
"Aku udah gak apa-apa kok," balas Anisa diiringi senyum.
"Tapi muka kamu masih pucat. Kenapa gak tiduran dulu aja di klinik? Eh, kata teman-teman, dokter yang jaga di klinik kampus itu ganteng banget. Bener gak sih?" Rhea menyenggol lengan Anisa.
"Hmm? Gak tahu sih. Aku ... gak perhatiin."
"Yaah, sayang banget. Lain kali aku bakal ikut ke klinik kalo kamu pingsan lagi."
Anisa menggeleng pelan. Tidak ada lain kali. Anisa bertekad untuk tidak bertemu dengan dokter muda itu lagi.
"Sebisa mungkin aku harus menghindar dari dia."
* * *
TING
Pintu lift terbuka. Kaki Reinhart melangkah keluar dari lift dan menuju ke unit apartemen miliknya. Semenjak lulus kuliah beberapa bulan lalu, Reinhart memutuskan untuk keluar dari rumah dan memilih hidup mandiri. Bahkan Reinhart menolak tawaran sang kakek yang memintanya bekerja di rumah sakit milik keluarga. Reinhart memilih bekerja di klinik kampus tempatnya dulu menimba ilmu.
Begitu memasuki kamar, Reinhart melepas satu persatu kain yang melekat di tubuhnya kemudian menuju ke kamar mandi. Ini adalah hari pertamanya bekerja di klinik kampus, tapi sudah cukup dibuat sibuk karena banyak mahasiswi baru yang sengaja datang untuk menemuinya. Rupanya rumor mengenai dokter muda dan tampan di klinik kampus cepat menyebar.
"Haaaaah." Reinhart mengembus napas kasar.
Tubuhnya ia biarkan terguyur air dingin shower yang langsung mendinginkan kepalanya juga. Namun, sekelebat bayangan tiba-tiba muncul dibenaknya.
"Gadis itu?"
Reinhart mematikan keran shower dan mengusap wajahnya. Wajah Anisa tiba-tiba hadir dan mengusiknya.
Reinhart segera menyudahi mandinya lalu keluar menggunakan baju handuk. Bertepatan dengan itu, ponsel Reinhart bergetar. Nama ibunya tertera dilayar.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam. Akhirnya diangkat juga. Mama udah telponin dari tadi."
"Maaf, Ma. Aku baru selesai mandi. Ada apa?"
"Kamu jadi malam ini mau ke rumah? Mama akan siapkan makan malam spesial di hari pertama kamu kerja. Gimana tadi di klinik?"
Reinhart memijat pelipisnya pelan. Hari pertamanya di klinik cukup melelahkan dan ia ingin istirahat saja di apartemen.
"Maaf, Ma. Kayaknya aku gak bisa datang malam ini. Hari ini capek banget rasanya."
Terdengar helaan napas dari seberang sana. Reinhart tak enak hati menolak, tapi mau bagaimana lagi? Hari ini ia tak ingin pergi kemanapun. Bahkan untuk makan malam, Reinhart berencana akan memesan lewat online saja.
"Ya sudah, kalau kamu lelah. Kamu istirahat saja! Untuk acara makan malamnya bisa ditunda kapan-kapan."
Telepon langsung terputus saat Reinhart ingin menjawab lagi.
"Cih, untuk apa sok peduli kalau ujung-ujungnya hanya akting belaka?" Reinhart membanting ponselnya ke ranjang. Inilah salah satu alasan kenapa ia ingin keluar dari rumah itu. Rumah besar penuh kemewahan dan bagaikan surga bagi yang melihatnya. Namun, terlihat seperti benteng besar yang memenjarakan Reinhart.
* * *
Tengah malam Reinhart terbangun dari tidurnya. Napasnya memburu karena ada bayangan seseorang yang tiba-tiba hadir di mimpinya.
"Sial! Kenapa aku sampai memimpikan gadis itu?" Reinhart mengusap wajahnya kasar.
Reinhart meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. Beberapa kali panggilannya tidak dijawab. Hingga di panggilan ke lima, suara serak seseorang terdengar di seberang sana.
"Astaga, Rein. Lo tahu gak sekarang jam berapa?" Riyan, sahabat Reinhart terdengar kesal.
"Sorry, Yan. Gue butuh bantuan lo."
"Jam segini?" Riyan melirik jam dinding di kamarnya. Pukul dua dini hari.
"Iya, sorry banget ya." Reinhart terdengar menyesal.
"Cepetan bilang ada apaan?"
"Lo kan staf admin di kampus. Gue minta tolong lo kirim data mahasiswa baru jurusan kedokteran sekarang juga."
"Sinting! Buat apaan data mahasiswa baru?"
"Gue gak bisa bilang sekarang. Please tolongin gue, Yan." Suara Reinhart terdengar frustrasi hingga membuat Riyan tidak tega.
"Ya udah iya. Lo tunggu bentar. Gue harus buka laptop dulu. Tapi, lo harus janji jangan salah gunakan data-data itu. Ngerti?"
"Iya, gue ngerti. Lo tenang aja. Gue gak bakal macam-macam kok."
"Ya udah, tutup telponnya. Nanti gue kirim datanya via whatsapp."
"Thanks banget ya, Yan. Lo emang bisa diandelin."
* * *
Reinhart mondar mandir tidak tenang menunggu pesan dari Riyan. Entah kenapa hatinya tidak tenang sebelum tahu tentang Anisa.
"Lama banget sih?" Reinhart berencana akan menghubungi Riyan lagi, tapi akhirnya ia urungkan. Bisa saja Riyan marah dan tidak jadi memberikan data itu padanya.
"Aku tunggu aja deh!"
Tak lama kemudian, ponsel Reinhart bergetar. Matanya berbinar senang saat melihat jika Riyan yang mengiriminya pesan.
Reinhart segera membuka pesan yang berformat pdf itu. Matanya fokus menatap satu demi satu daftar nama mahasiswa baru jurusan kedokteran. Lebih mudah untuk mencari karena ada foto mereka juga disana.
Bibir Reinhart tertarik ke atas saat melihat wajah yang beberapa jam ini menghantuinya.
"Ini dia. Dia bernama ... Anisa Maharani."
Reinhart tak hentinya senyam-senyum sendiri menatap foto Anisa.
"Sekarang aku bisa tidur dengan nyenyak. Sampai bertemu besok, Anisa Maharani."
*****
Seperti hari kemarin, Anisa tetap melakukan aktifitasnya sebagai mahasiswa baru.
"Lho? Nisa? Kupikir kamu izin hari ini." Rhea cukup terkejut dengan kehadiran Anisa.
"Aku baik-baik aja kok." Anisa mengulas senyum.
Saat terdengar pengumuman untuk kumpul di lapangan, Anisa dan Rhea segera menuju ke sana. Namun, tiba-tiba saja sebuah pengumuman lain dari pengeras suara mengejutkan semua orang yang ada di sana.
"Ehem, cek cek cek. Tes satu dua tiga. Perhatian sebentar semuanya. Bagi mahasiswi bernama Anisa Maharani dari jurusan kedokteran, ditunggu di ruang admin jurusan kedokteran. Sekarang juga! Terima kasih."
Anisa dan Rhea saling pandang dengan raut wajah bingung.
"U-untuk apa aku ke ruang admin?" gumam Anisa mulai panik sendiri.
"Udah deh, mendingan kamu langsung ke sana aja dulu." Rhea mendorong pelan tubuh Anisa.
Dengan langkah yang sedikit ragu, Anisa berjalan menuju ke ruang admin.
"Sebenarnya ada apa sih?" Anisa masih tak mengerti dengan yang sedang terjadi.
Begitu tiba di depan ruang admin, Anisa mengetuk pintu.
"Masuk!" Terdengar suara dari dalam ruangan itu.
"Permisi, Pak. Apa Bapak memanggil saya?" Anisa masuk sambil bicara sendiri. Ia celingukan mencari sosok yang suaranya terdengar tadi.
"Sudah datang rupanya." Reinhart keluar dari persembunyiannya dengan wajah tampan dan senyum manis untuk menyambut Anisa.
"Do-dokter? Dokter ngapain ada di sini?" Anisa sangat terkejut melihat kehadiran Reinhart di ruangan itu.
"Perkenalkan, nama saya Reinhart. Nama kamu ... Anisa kan?" Reinhart mengulurkan tangannya.
Anisa merasa sudah dibodohi dengan tingkah aneh Reinhart kemarin dan hari ini. Anisa menggeleng pelan. Sungguh ia tak habis pikir dengan si Reinhart ini. Ia tak menyambut tangan Reinhart yang masih terulur.
"Dasar aneh!" Anisa berbalik badan dan bersiap pergi.
"Meski kamu pergi saya akan panggil kamu lagi untuk datang. Jadi, sebaiknya kamu menurut saja."
Anisa mengepalkan tangan. "Mau dokter apa sih? Kenapa ganggu saya?"
"Saya gak mau ngapa-ngapain kok. Saya hanya mau memastikan kalau kondisi kamu baik-baik saja. Kamu itu sedang hamil, Anisa. Sebaiknya jangan memaksakan diri untuk mengikuti upacara pelantikan mahasiswa baru. Itu akan membuatmu kelelahan."
Lagi dan lagi Anisa tertegun mendengar pernyataan Reinhart. Kenapa Reinhart terus membahas soal kehamilannya?
"Sa-saya tidak hamil." Anisa berusaha mengelak.
"Kamu tidak bisa membodohi saya, Anisa. Saya seorang dokter. Dan dari pemeriksaan sekilas kamu memang sedang hamil."
Anisa memejamkan mata. Ia tak bisa berkata-kata lagi. Ia mengingat semua hal yang terjadi padanya beberapa bulan ini.
"Andai saja semua itu tidak terjadi, mungkin aku tidak akan berada dalam masalah begini."
"Istirahatlah saja dulu disini. Tempat ini aman kok," pinta Reinhart.
"Apa yang harus kulakukan?"
Apa Anisa menerima tawaran Reinhart?
daebaklah! karya baru terus pkoknya!🤸