NovelToon NovelToon
ISTRI TITIPAN ABANG

ISTRI TITIPAN ABANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DARI BALIK SAMPUL HIJAU

Pelukan Zaid malam itu terasa lebih erat dari biasanya, seolah-olah jika ia melonggarkan sedikit saja lingkar tangannya, Khadijah akan raib diculik kegelapan.

Khadijah bisa merasakan detak jantung Zaid yang memburu di balik kemeja putih suaminya ritme gundah yang tak mampu disembunyikan oleh wajah dingin sang mantan penguasa jalanan.

"Mas Zaid,"

panggil Khadijah lembut, mengusap punggung tegap suaminya yang kaku.

"Napas Mas sangat berat.

Bicaralah pada saya.

Jangan simpan sendiri."

Zaid perlahan mengurai pelukannya.

Matanya turun menatap Al-Qur'an kecil bersampul kulit hijau tua yang tergeletak di atas sajadah Khadijah.

Benda yang selama ini dianggapnya sekadar Kitab Suci hafalan sang istri, ternyata merupakan cawan penyimpan rahasia yang mengundang marabahaya.

"Khadijah,"

Zaid berlutut, memosisikan tingginya sejajar dengan Khadijah yang masih bersimpuh.

tangannya terulur meraih Mushaf itu, membelainya dengan hati-hati.

"Qur'an ini... sejak kapan kamu memegangnya?"

Khadijah mengedipkan matanya, bingung dengan arah pertanyaan suaminya.

"Ini Mushaf hafalan saya sejak di pesantren, Mas.

Tapi... sebelum Kak Farhan meninggal, beliau sempat meminjamnya selama seminggu.

Beliau bilang ingin memperbaiki sampulnya yang agak robek di bagian lipatan dalam."

Zaid menahan napas.

Teka-teki itu kian benderang.

Kakaknya tidak pernah berniat melibatkan Khadijah secara langsung dalam pusaran bahaya ini, namun Kakaknya tahu bahwa musuh-musuhnya tidak akan pernah mencurigai sebuah Mushaf lusuh yang selalu dibawa oleh seorang santriwati.

"Khadijah, boleh aku periksa sampulnya?"

tanya Zaid, suaranya sangat rendah.

Khadijah mengangguk pelan, meski gurat bingung dan kecemasan mulai terukir jelas di wajah cantiknya.

"Boleh, Mas."

Dengan jemari yang sedikit gemetar, Zaid membuka lipatan kulit di bagian dalam sampul belakang.

Jahitan benang nilon berwarna hijau senada tampak rapi, namun jika diperhatikan dengan jeli, ada bekas silet halus yang dilapisi perekat kain transparan.

Zaid menekan lipatan tebal itu.

Terasa ada benda padat, pipih, dan keras terselip di balik lapisan karton pres sampulnya.

Sebuah flashdisk berukuran mikro.

Zaid menghela napas panjang.

Ia menatap Khadijah yang kini menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak tak percaya.

"Ini... ini yang dicari orang-orang itu, Mas?"

suara Khadijah bergetar.

"Iya,"

jawab Zaid mantap, menatap lurus ke mata istrinya.

"Bang Farhan tidak kecelakaan karena nasib buruk, Khadijah.

Dia disingkirkan karena dia memegang bukti pencucian uang milik sindikat besar.

Dan benda kecil ini adalah alasan kenapa Raka, Sherly, dan orang-orang berpakaian rapi itu terus berputar di sekitar kehidupan kita."

Air mata perlahan menetes membasahi pipi Khadijah.

Kenyataan bahwa almarhum calon suaminya tewas dalam konspirasi berdarah menghantam dadanya dengan sesak.

Namun, di saat yang sama, ia menatap Zaid pria yang kini berdiri sebagai benteng utamanya.

"Lalu... apa yang harus kita lakukan sekarang, Mas?"

tanya Khadijah, suaranya menahan isak namun memancarkan keberanian yang luar biasa.

"Saya tidak takut.

Jika ini adalah amanah kebenaran yang ditinggalkan Kak Farhan, saya siap mendampingi Mas Zaid untuk menyelesaikannya."

Zaid merengkuh kepala Khadijah, mencium puncak kepalanya dengan penuh takzim.

"Kita akan bongkar semuanya, Khadijah.

Tapi dengan cara yang bersih.

Aku tidak akan membiarkan satu tetes pun darah kotor mereka menodai hidup kita."

Pukul dua dini hari, suasana rumah Al-Idrus tenggelam dalam keheningan yang mencekam.

Di dalam ruang kerja Habib Umar yang terkunci dari dalam, sebuah laptop tanpa koneksi internet menyala temaram.

Zaid duduk di depan layar, didampingi oleh Habib Umar dan Haikal yang baru saja tiba lewat pintu belakang rumah.

Khadijah duduk di sofa samping, menggenggam tasbih dengan jemari yang tak henti bergerak.

Zaid memasukkan flashdisk mikro itu ke dalam pemutar kartu adapter, lalu mencolokkannya ke port USB laptop.

Layar berkedip sebentar sebelum meminta kata sandi enkripsi.

Sebuah kotak dialog muncul dengan petunjuk singkat:

“Tempat pertama kita berjanji.”

Zaid menatap layar itu, lalu menoleh ke arah Khadijah.

Habib Umar menghela napas panjang.

"Itu tanggal akad nikah yang seharusnya dilaksanakan Farhan dan Khadijah..."

Zaid mengetikkan delapan digit angka tanggal tersebut, lalu menekan tombol Enter.

_Access Granted._

Sebuah folder besar terbuka.

Puluhan dokumen PDF, rekaman suara, dan foto transaksi perbankan berderet rapi.

Haikal mendekatkan wajahnya ke layar, matanya membelalak membaca nama-nama lembaga dan perusahaan cangkang yang tertera di sana.

"Gila..."

bisik Haikal dengan suara tercekat.

"Ini bukan cuma pencucian uang biasa, Zaid.

Ini alokasi dana hibah pembangunan yayasan dan bantuan kemanusiaan yang diputar ke bisnis judi online dan penyelundupan barang mewah di wilayah Asia Tenggara."

Zaid menggeser kursor ke bawah, membukakan satu dokumen analisis hukum yang dibuat secara rinci oleh Farhan.

Di lembar paling akhir, tertulis nama pemegang saham utama dari Konsorsium tersebut.

_Drs. Handoko Pratama, http://M.Si.\_

seorang tokoh pengusaha dermawan yang sering tampil di televisi dan memiliki pengaruh kuat di kalangan pejabat pemerintahan serta kepolisian.

"Pak Utama..."

Zaid menggeram, menyebut nama alias yang sempat diucapkan Sherly.

"Ternyata dia."

Habib Umar mengelus dadanya yang terasa sesak.

"Handoko itu... dia pernah datang ke rumah ini dua tahun lalu untuk memberikan sumbangan pada pesantren Abi.

Farhan rupanya sudah mencium aroma busuk itu sejak lama."

"Zaid, ini terlalu besar,"

Haikal menepuk bahu sahabatnya dengan cemas.

"Ini bukan lagi urusan Raka yang bisa lo gertak pakai tim buser Polres.

Handoko punya jaringan hukum dan orang-orang bayaran yang jauh lebih terlatih.

Kalau mereka tahu _flashdisk_ ini ada di tangan kita, mereka bisa menggunakan cara apa saja."

"Justru karena benda ini ada di tangan kita, kita yang pegang kendali,"

potong Zaid dingin.

Matanya memancarkan ketajaman seorang mantan ketua geng yang kini dilengkapi oleh pengetahuan hukum.

"Handoko tidak tahu kalau kita sudah berhasil membukanya.

Dia pikir kita masih meraba-raba."

Zaid mencabut _flashdisk_ itu, memindahkannya ke dalam sebuah loket terenkripsi ganda yang ia unggah ke peladen awan rahasia, lalu menyalin file fisik itu ke dalam dua simpanan eksternal terpisah.

"Haikal,"

perintah Zaid tegas.

"Satu copy ini lo simpan di tempat yang cuma lo dan Tuhan yang tahu.

Jangan pernah bawa benda ini ke bengkel."

"Siap, Zaid,"

Haikal menerima flashdisk cadangan itu dengan raut wajah sangat serius.

"Dan Abi,"

Zaid menoleh pada Habib Umar.

"Zaid minta Abi jangan ubah rutinitas harian Abi.

Tetap beraktivitas seperti biasa agar pihak Handoko tidak curiga bahwa kita sudah mengantongi bukti ini.

Biar Zaid yang memainkan perannya dari luar."

Khadijah berdiri dari sofanya, melangkah mendekati meja kerja.

"Lalu bagaimana dengan saya, Mas?"

Zaid menatap istrinya lekat-lekat, menggenggam jemari Khadijah yang terasa dingin.

"Kamu tetap mengajar di yayasan seperti biasa, Khadijah.

Tapi mulai besok, kamu tidak akan pernah jalan sendiri.

Haikal dan tim pengawal internal kita akan mengawasi setiap jengkal pergerakanmu dari jarak jauh."

"Mas Zaid mau melakukan apa?"

tanya Khadijah, matanya menatap tajam, mencari kebenaran di balik ketenangan suaminya.

Zaid mengumbar senyum tipis senyuman berbahaya yang penuh dengan kalkulasi matang.

"Aku akan memancing Pak Utama keluar dari sarangnya.

Dia suka bermain di balik kaca gelap, kan?

Kalau begitu, aku yang akan memecahkan kaca itu tepat di depan mukanya."

Dua hari kemudian, Jakarta diguyur terik matahari yang menyengat.

Di sebuah restoran mewah bernuansa privat di kawasan Menteng, Zaid duduk seorang diri di meja sudut.

Ia mengenakan setelan jas hitam rapi, kemeja putih tanpa dasi, memancarkan aura seorang calon advokat muda yang penuh percaya diri.

Di depannya, duduk seorang pria paruh baya berkacamata emas dengan rambut klimis yang tersisir rapi.

"Handoko Pratama."

"Suatu kehormatan bisa bertemu dengan putra bungsu Habib Umar Al-Idrus,"

ucap Handoko dengan suara yang sangat berat dan berwibawa, menyunggingkan senyum ramah yang tampak begitu alami.

"Saya dengar kamu baru saja lulus ujian sarjana hukum dengan predikat memuaskan.

Selamat, Zaid."

Zaid menyesap kopi hitamnya perlahan, lalu meletakkan cangkir porselen itu tanpa suara.

Matanya menatap lurus ke dalam iris mata Handoko tanpa rasa gentar sedikit pun.

"Terima kasih, Pak Handoko,"

jawab Zaid, nadanya santai namun sarat penekanan.

"Tapi saya yakin, Bapak meluangkan waktu bertemu dengan saya bukan hanya untuk mengucapkan selamat atas gelar hukum saya, kan?"

Handoko terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang mahal.

"Anak muda yang langsung pada intinya.

Saya suka gaya bicaramu.

Berbeda dengan almarhum kakakmu, Farhan... yang terlalu idealis hingga kurang berhati-hati di jalan raya."

Kalimat itu diucapkan dengan nada begitu kasual, namun di telinga Zaid, itu adalah sebuah pengakuan terselubung atas pembunuhan kakaknya.

Zaid mencengkeram jemarinya di balik paha, menekan gelombang amarah yang ingin meledak.

Ia ingat janjinya pada Khadijah: _hadapi dengan kepala dingin._

"Bang Farhan memang idealis, Pak Handoko,"

Zaid menyunggingkan senyum tipis.

"Tapi beliau sangat teliti.

Beliau meninggalkan banyak dokumen berharga sebelum wafat.

Dokumen yang belakangan ini membuat orang-orang suruhan Bapak seperti Raka dan anak buahnya bertindak seperti cacing kepanasan."

Senyum ramah di wajah Handoko perlahan memudar.

Matanya memicing tajam di balik kacamata emasnya.

Suasana hangat di restoran berpendingin udara itu mendadak berubah menjadi sedingin es.

"Hati-hati dengan ucapanmu, Zaid,"

bisik Handoko, suaranya kini mengandung nada dingin yang mengancam.

"Dunia hukum dan bisnis di Jakarta ini sangat licin.

Langkah yang salah bisa membuat karirmu yang baru mulai... hancur sebelum berkembang.

Atau lebih buruk lagi, merusak ketenangan keluarga kecilmu yang baru dibina."

Zaid memajukan tubuhnya, menopang kedua tangannya di atas meja, menatap Handoko dari jarak hanya beberapa puluh sentimeter.

"Bapak yang harus hati-hati, Pak Handoko,"

gertak Zaid, suaranya sangat rendah namun mematikan.

"Raka hanyalah sampah jalanan yang mudah saya tangkap.

Tapi Bapak?

Bapak punya nama baik, punya perusahaan, punya jabatan.

Satu lembar dokumen yang ditinggalkan Bang Farhan lepas ke media dan KPK besok pagi... dan seluruh kekaisaran Bapak akan runtuh dalam hitungan jam."

Handoko mengepalkan tangannya di bawah meja.

Ketenangan yang biasanya ia miliki terusik oleh keberanian pria muda di depannya.

"Apa yang kamu mau, Zaid?"

tanya Handoko dingin.

"Saya tidak mau uang Bapak,"

jawab Zaid tegas.

"Saya hanya ingin memberi tahu Bapak satu hal: jangan pernah sentuh istri saya, jangan pernah mendekati keluarga saya.

Sekali saja saya melihat orang-orang Bapak berada dalam radius seratus meter dari Khadijah... dokumen itu tidak hanya sampai ke tangan polisi, tapi akan saya pastikan seluruh jaringan bisnis Bapak hangus tanpa sisa."

Zaid berdiri, merapikan kancing jasnya dengan gerakan elegan.

Ia menatap Handoko yang terpaku kaku di kursinya.

"Nikmati kopi Bapak.

Ini adalah peringatan pertama dan terakhir dari saya."

Zaid berbalik dan melangkah keluar dari restoran dengan kepala tegak.

Di luar, angin sore Jakarta berembus kencang.

Zaid tahu, perang ini belum selesai.

Ia baru saja menyalakan api di kandang singa, namun kali ini, ia bukan lagi berandalan yang bertarung tanpa arah.

Ia adalah seorang suami, seorang calon penegak hukum, dan pelindung utama dari cahaya hidupnya, Syarifah Khadijah.

1
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!