Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19: Perang Hukum
Kantor Dennis Yoe berada di Jakarta Selatan, di lantai dua sebuah gedung yang dari luar tampak biasa saja. Tidak ada marmer mencolok, tidak ada resepsionis dengan senyum beku. Tetapi begitu Liana masuk, ia merasakan ketenangan yang berbeda dari kantor pengacara yang pernah ia bayangkan.
Rak dokumen tersusun rapi. Di dinding ada sertifikat profesi dan beberapa foto Dennis bersama timnya di ruang sidang. Meja meeting panjang sudah disiapkan dengan air mineral, sticky note, dan folder kosong berlabel nama Liana.
Jessy datang lima menit setelah Liana, rambutnya masih sedikit berantakan karena buru-buru dari rumah.
"Lia, kamu sudah makan?"
Liana menggeleng.
Jessy mengangkat kantong roti. "Aku tahu. Makanya aku bawa ini. Jangan perang hukum pakai perut kosong."
Dalam situasi lain, Liana mungkin tertawa. Hari itu ia hanya menerima roti dengan kedua tangan dingin.
Dennis masuk membawa salinan dokumen. Ia mengenakan kemeja putih tanpa jas, tetapi cara ia meletakkan berkas di meja membuat ruangan langsung berubah menjadi medan kerja.
"Bu Liana, saya sudah baca jawaban dan gugatan balik dari pihak Albert."
Liana menegakkan punggung. "Seberapa buruk?"
"Niatnya buruk. Tapi posisinya tidak sekuat yang dia kira."
Jessy duduk di samping Liana. "Ko Dennis, langsung saja. Dia mau apa?"
Dennis membuka halaman bertanda kuning. "Pertama, Albert menyatakan Bu Liana meninggalkan rumah tanpa alasan sah. Kedua, dia menyebut Bu Liana menelantarkan ibu mertua lanjut usia yang selama ini bergantung pada perawatan rumah. Ketiga, dia meminta majelis mempertimbangkan pembagian harta bersama dengan sangat minimal untuk pihak Bu Liana, bahkan pada beberapa bagian dia mencoba membangun narasi bahwa Bu Liana beritikad buruk."
"Beritikad buruk?" Jessy hampir berdiri. "Yang selingkuh sebelas tahun siapa?"
"Jess," Liana menyentuh lengannya.
Dennis mengangguk. "Emosi itu wajar. Tapi di pengadilan, kita jawab dengan bukti."
Ia menggeser folder pertama. Di dalamnya ada print out bukti transfer, foto, dan salinan pesan WhatsApp yang sebelumnya sudah Liana kumpulkan.
"Kita punya bukti perselingkuhan. Kita punya bukti Apartemen Golden Crown. Kita punya saksi dari pertemuan keluarga, termasuk Om Besar Phua, bahwa ada kesepakatan awal pembagian. Kita juga punya pola intimidasi dari keluarga Albert."
"Jadi dia tidak bisa menang?" tanya Liana.
"Dalam hukum, saya tidak suka menjanjikan hasil mutlak." Dennis menatapnya serius. "Tapi gugatan balik seperti ini bisa kita patahkan, asal bukti perawatan dan kontribusi rumah tangga Bu Liana kuat."
Liana menarik napas. "Bukti perawatan?"
"Ya. Mereka menuduh Ibu menelantarkan keluarga. Kita buktikan sebaliknya. Tiga puluh tahun Ibu mengurus rumah, anak, suami, dan Kim Hwa. Itu bukan pekerjaan yang terlihat di slip gaji, tapi bisa dibuktikan lewat jejak administrasi."
Dennis mulai menulis daftar di papan kecil.
Catatan rumah sakit. Kwitansi panti jompo. Bukti pembayaran obat. Bukti pembayaran sekolah Jason dulu. Pembelian kebutuhan rumah tangga. Foto atau pesan saat Liana mengantar kontrol kesehatan. Saksi tetangga atau kerabat yang tahu Liana diusir, bukan pergi tanpa alasan.
Setiap kata membuat Liana melihat hidupnya sendiri dalam bentuk yang aneh. Selama ini semua itu disebut kewajiban. Hari ini, Dennis menyebutnya kontribusi.
"Saya menyimpan beberapa kwitansi," kata Liana pelan. "Tapi tidak semua."
"Tidak apa-apa. Kita kumpulkan yang ada. Untuk panti jompo, bisa minta salinan administrasi pembayaran. Kalau atas nama Albert tapi Ibu yang mengurus, kita cari pesan atau tanda tangan penerimaan."
Jessy langsung membuka notebook. "Aku bantu catat. Lia, nanti pulang kita bongkar semua folder plastikmu."
"Ada di rumah Jessy sebagian. Sebagian masih di rumah Phua."
Dennis mengangkat wajah. "Jangan ambil sendiri ke rumah Phua tanpa pendamping atau kesepakatan. Kalau perlu, saya kirim surat permintaan dokumen."
Liana mengangguk. Ia baru menyadari betapa mudahnya Albert memutar cerita kalau ia datang sendirian dan terjadi keributan.
Ponsel barunya bergetar.
Pesan WhatsApp dari nomor Tiara muncul. Nama itu membuat dada Liana bergetar kecil.
Ci Liana, maaf aku baru berani kirim sekarang. Tolong jangan bilang Jason dulu.
Di bawahnya, ada file audio.
Liana menatap Dennis.
"Dari Tiara," katanya.
Dennis langsung meminta izin untuk memutar. Liana mengangguk.
Suara dari rekaman itu tidak sempurna. Ada bunyi kursi, napas seseorang, dan suara Jason samar di belakang. Lalu suara Albert terdengar jelas, keras dan penuh penghinaan.
"Kalau kamu tidak suka aturan rumah ini, keluar. Pergi dari rumahku. Jangan harap kamu bisa bawa apa-apa."
Liana memejamkan mata.
Ia ingat malam itu. Ingat lantai ruang tengah yang dingin, ingat tatapan Jason yang tidak berani membelanya, ingat Tiara berdiri pucat di dekat tangga.
Rekaman berlanjut. Suara Kim Hwa menyusul, menusuk dan serak.
"Pergi saja! Perempuan tidak tahu diri. Rumah ini bukan milikmu."
Jessy menutup mulut. Matanya memerah karena marah.
Dennis menghentikan rekaman setelah beberapa menit. Wajahnya tetap tenang, tetapi matanya berubah tajam.
"Ini penting."
"Bisa dipakai?" tanya Liana.
"Sebagai bukti pendukung, sangat berguna. Kita perlu pastikan metadata file, tanggal, dan kalau memungkinkan Tiara bersedia membuat pernyataan tertulis. Tapi bahkan tanpa itu, rekaman ini mendukung narasi bahwa Bu Liana bukan meninggalkan rumah secara sukarela. Ibu diusir dan ditekan."
Liana menatap layar ponsel. Pesan Tiara yang kedua masuk.
Ci, aku takut. Tapi aku tidak bisa diam terus. Waktu itu aku rekam karena aku merasa mereka akan memutar balik cerita.
Air mata Liana akhirnya jatuh satu tetes.
Bukan karena sakit, melainkan karena di rumah yang sama tempat ia dihina, ternyata ada satu orang muda yang diam-diam menyiapkan jembatan untuknya keluar dari fitnah.
Ia mengetik pelan: Terima kasih, Tia. Kamu sudah sangat berani. Aku tidak akan menyebut namamu tanpa izinmu.
Jessy menepuk punggungnya. "Anak itu punya hati."
Dennis menambahkan file Tiara ke daftar bukti. Setelah itu mereka bekerja sampai malam. Jessy menyusun kwitansi berdasarkan tahun. Liana membuka folder Google Drive dari ponsel baru, mengunggah bukti satu per satu. Dennis memberi label: perselingkuhan, kontribusi rumah tangga, pengusiran, harta bersama.
Pukul sembilan lewat, meja meeting dipenuhi tumpukan kertas, gelas kopi kosong, dan roti yang tinggal setengah.
Dennis melepas kacamatanya sebentar. "Ada satu hal lagi."
Liana dan Jessy sama-sama mendongak.
"Bu Liana pernah bilang Apartemen Golden Crown dibeli Albert untuk Yuni selama masa perkawinan, benar?"
"Iya. Saya menemukan tagihan dan cicilan di kartu kreditnya."
"Kalau pembelian itu menggunakan penghasilan selama perkawinan, apartemen itu bisa kita masukkan sebagai objek harta bersama. Bahkan, kalau ada risiko dialihkan atau dijual ke pihak lain, kita bisa ajukan sita jaminan ke Pengadilan Negeri."
Jessy duduk tegak. "Maksudnya dibekukan?"
"Secara sederhana, ya. Tidak bisa sembarangan dijual atau dipindahkan sebelum perkara selesai."
Ruangan itu hening beberapa detik.
Liana memikirkan Yuni di apartemen itu, dengan parfum mahal dan senyum menang. Memikirkan Albert yang memakai uang perkawinan untuk membeli tempat persembunyian bagi pengkhianatannya, lalu berani menuduh Liana ingin menguasai harta.
Jessy menoleh padanya.
Tatapan mereka bertemu.
Satu nama tempat muncul di antara mereka seperti pintu yang tiba-tiba terbuka.
Apartemen Golden Crown.
Halo kakak2, jangan lupa mampir dikarya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
Temen2, dukung dan baca karya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
/Pray/