Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.
Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.
Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.
Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.
Seorang penegak hukum menikahi penjahat?
Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Pertolongan dari Pintu yang Salah
"Kak, proyek ini menyangkut ribuan karyawan." Saras menatap kakaknya dengan sorot mata penuh permohonan sekaligus frustrasi. "Di perusahaan, Papa sedang menghadapi krisis, Kak. Please... hanya minum segelas doang."
Chantika menggenggam gelas itu lebih erat sebelum akhirnya meneguk isinya hingga tandas.
"Jika ada yang mulai gak beres, aku harus segera pergi." Itulah yang ada di kepalanya.
Senyum tipis terukir di sudut bibir Bryan. "Bagus."
Saras ikut tersenyum. "Kalau begitu, sekarang kita bisa lanjut membicarakan investasi, 'kan?"
"Tentu." Bryan mengangguk pelan. "Tapi sebelumnya, Nona Saras, aku mau meminta bantuanmu mengambil dokumen proposal yang tertinggal di mobilku. Aku baru ingat, asistenku menitipkannya di sana."
"Tentu." Saras langsung berdiri.
"Biar Kakak saja, Ras." Chantika ikut berdiri.
"Nona Chantika tetap di sini saja," kata Bryan. "Aku sekalian ingin mengenal calon rekan bisnis keluargamu."
"Kak, temani sebentar ya," pinta Saras. Ia mendekat ke kakaknya, lalu berbisik, "Kakak bisa berkelahi. Jika ada apa-apa Kakak bisa membela diri. Sedangkan aku... Kakak gak mau terjadi apa-apa 'kan sama adikmu ini?"
Lalu tanpa menunggu jawaban dari kakaknya Saras segera meraih kunci dari Bryan, kemudian keluar dari kamar.
Mau tak mau Chantika kembali duduk. Karena yang dikatakan adiknya memang masuk akal.
Begitu pintu tertutup, pandangan Bryan beralih pada Chantika. "Aku dengar... putri tertua keluarga Rahardja memilih menjadi seorang polwan. Itu kamu, bukan?"
"Benar."
Namun, sebelum sempat melanjutkan kalimatnya, kepala Chantika mendadak terasa berat. Pandangannya mulai berputar. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
"Maaf... saya permisi sebentar."
Ia berusaha berdiri. Namun, baru beberapa langkah, tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terhuyung.
Bryan memerhatikan perubahan pada wajah Chantika. Kedua pipi gadis itu mulai memerah. Napasnya sedikit memburu, sementara sorot matanya perlahan kehilangan fokus.
Sudut bibir Bryan bergerak samar, nyaris tak terlihat. Lalu bergumam pelan, nyaris berbisik, "Akhirnya bekerja juga."
Chantika mengerjapkan mata beberapa kali. Kepalanya terasa semakin berat.
"Apa... yang kau masukkan ke dalam minuman itu?" suaranya mulai melemah.
"Aku hanya ingin kita bisa berbincang dengan lebih santai." Bryan bangkit dari sofa, lalu melangkah perlahan mendekatinya.
Spontan Chantika mundur selangkah. "Jangan mendekat."
"Tenang saja." Bryan masih tersenyum. "Aku tidak akan menyakitimu."
Tatapan Chantika berubah tajam. Meski pandangannya mulai kabur, nalurinya sebagai penegak hukum menangkap bahaya yang terpancar dari pria itu.
"Kau bohong."
Bryan terus mendekat. "Kau cantik, Nona Chantika. Sangat disayangkan kalau malam ini berakhir begitu saja."
Ia mengulurkan tangan hendak menyentuh pipi Chantika.
Plak!
Chantika menepis tangan itu sekuat tenaga. "Jangan sentuh aku!"
Bryan mengembuskan napas kesal. "Kau masih bisa melawan rupanya."
"Kalau kau mendekat lagi, aku akan menangkapmu," ancam Chantika.
Ucapan itu justru membuat Bryan tertawa. "Menangkapku? Lihat dirimu dulu."
Bryan malah menerjang.
Meski tubuhnya limbung, refleks Chantika masih terlatih. Begitu Bryan meraih lengannya, Chantika memutar tubuh, melepaskan cengkeraman lawan, lalu menghantam siku pria itu.
Brak!
Bryan terdorong menghantam meja. Tanpa memberi kesempatan, Chantika menendang lututnya. Pria itu kehilangan keseimbangan dan jatuh berlutut.
"Sial!"
Chantika memanfaatkan kesempatan itu. Dengan napas tersengal, ia berlari menuju pintu.
"Berhenti!"
Bryan berusaha mengejar, tetapi benturan tadi membuat langkahnya lambat. Namun ia berhasil menarik ujung blouse Chantika.
Tak ingin terus di kejar, dengan gerakan goyah Chantika menendang perut Bryan. Lalu--
BUGH!
Chantika memukul tengkuk pria itu. Dalam hitungan detik Bryan kehilangan kesadaran. Dan--
BRUK!
Tubuh Bryan jatuh ke lantai.
Chantika membuka pintu dan berlari keluar. Lorong hotel tampak berputar di depan matanya. Lampu di langit-langit seperti titik-titik cahaya. Namun ia terus memaksa kedua kakinya melangkah meski tubuhnya semakin lemah.
"Aku... harus bertemu dokter...."
Langkahnya mulai sempoyongan. Dinding menjadi satu-satunya penopang agar ia tidak jatuh.
Dengan tangan gemetar, ia membuka tasnya, mencari ponsel.
"Sial!" umpatnya pelan.
Sebelum meminum wine itu, ia memang sudah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Jika terjadi sesuatu, ia akan segera menghubungi rekan kerja atau kantor polisi. Namun, ponselnya hilang.
"Siapa yang ngambil?"
Kepalanya semakin berat. Ia tak punya waktu memikirkan jawabannya.
Tangannya meraba setiap pintu kamar yang dilewatinya, berharap menemukan seseorang yang bisa dimintai pertolongan.
Hingga akhirnya, telapak tangannya menekan sebuah pintu yang ternyata tidak terkunci.
Klik.
Pintu itu terbuka ke dalam. Tubuh Chantika kehilangan keseimbangan. Ia terhuyung beberapa langkah sebelum akhirnya jatuh ke arah seorang pria yang baru saja keluar dari ruang tengah kamar.
Pria itu refleks menangkap tubuhnya.
Mata Chantika yang mulai berat berusaha menatap wajah pria tersebut, tetapi semuanya terlihat buram.
"Tolong...."
Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari bibirnya sebelum kesadarannya benar-benar menghilang di dalam pelukan pria asing itu.
Tangannya tanpa sengaja menyentuh kulit dada pria yang mengenakan kimono tidur itu. Anehnya, ia merasakan ketenangan dari sentuhan tersebut.
"Nona, apa kau sadar dengan yang kau lakukan?" tanya pria itu dengan suara rendah.
"Panas," gumam Chantika. Tubuhnya tampak gelisah. "Tolong aku...."
Ia menempelkan pipinya di dada Enzo yang, entah mengapa, terasa begitu nyaman. Tangannya bergerak tanpa sadar di atas dada bidang pria itu.
Enzo, yang biasanya sangat benci disentuh wanita, entah mengapa kali ini justru tak mampu menjauh dari gadis yang telah lancang menyentuh tubuhnya.
"Bantu aku...." Chantika menarik leher pria itu, lalu mengecup bibirnya.
Enzo mengepalkan tangan saat Chantika menciumnya semakin agresif. Ia tak ingin memanfaatkan gadis yang jelas sedang berada di bawah pengaruh obat itu. Namun, entah mengapa jantungnya justru berdegup kencang dan darahnya mengalir lebih cepat. Hal yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Matanya terpejam, berusaha meredakan gejolak dalam dirinya. Namun....
"Kau yang menggodaku. Jadi, jangan salahkan aku."
Tanpa aba-aba, Enzo melingkarkan lengannya di bawah bokong Chantika dan mengangkat tubuh gadis itu. Dengan kakinya, ia menutup pintu, lalu membawa Chantika ke atas ranjang.
...🔸🔸🔸...
..."Takdir sering kali datang bukan melalui jalan yang indah, melainkan melalui pengkhianatan yang tak pernah kita duga."...
..."Orang yang berniat menjatuhkanmu mungkin berhasil membuatmu tersandung, tetapi takdir tetap mampu membawamu kepada seseorang yang telah dipersiapkan untukmu."...
..."Ada pintu yang kita buka karena putus asa, tanpa menyadari bahwa di baliknya, hidup kita akan berubah selamanya."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Chantika masih mempertimbangkan untuk menggunakan cincin pemberian Enzo. Menunggu saat dan tempat yang tepat. Jangan sampai keputusannya salah.
Enzo dari jarak jauh mengenali gerakan kecil ibu jari Chantika
Duuh Chantika disandra - badannya, lehernya disikep tangan kekar lawan, ditodong pistol tepat di pelipisnya.
Penyandera minta disiapkan kendaraan.
Penyandera menyeret tubuh Chantika mundur selangkah demi selangkah.
Duuuuh malah terjadi tembak menembak.
Rizal kena sasaran tembak. Bersyukur mengenakan rompi anti peluru, kalau tidak sudah terlentang tinggal nama. Tapi peluru kedua menyerempet bahu kirinya.
Kalau Chantika tidak tepat waktu menerobos hujan peluru untuk melindungi Rizal dari dua pria bersenjata, tamat sudah riwayatnya.
Tembakan Chantika tepat sasaran, salah satu pria bersenjata langsung roboh. Yang satunya lagi berlindung.
Kuat ya Chantika menyeret Rizal dengan satu tangan untuk di bawa ke balik kontainer.
Enzo masih membiarkan istri dan anggota Resmob berlari keluar dari kejaran lawan yang semakin bertambah dari arah belakang.
Belum saatnya Enzo turun.
Chantika dan tim sudah terdesak, sekarang saatnya anting dilepas dan dilempar ketengah kerumunan.
Gelombang suara berfrekuensi tinggi efeknya luar biasa untuk mengalihkan perhatian lawan.
Seluruh pria bersenjata jadi terlihat kacau.
Chantika tidak menyia-nyiakan kesempat yang ada. Ia memberikan perintah menyerang.
Chantika memberikan tembakan perlindungan. Menyuruh anggotanya keluar.
Duuuh Chantika kehabisan peluru lagi. Rizal juga pelurunya tinggal sedikit.
Chantika membagikan penyumbat telinga pada rekan-rekannya. Dipakai nanti kalau terdesak kali.
Duuuhhh IPTU Chantika sudah dikenali oleh pemimpin lawan.
Saatnya timnya memakai penyumbat telinga, setelah Chantika bilang - sekarang.
Chantika dan timnya sudah dikepung
Waduuuh - komandannya tidak melihat situasi yang dihadapi Chantika dan timnya. Kelamaan datangnya tim bantuan.
Enzo si The Ghost dan seluruh tim yang sudah siap menolong Chantika.
Tak ada pilihan keluar selain mundur ke dermaga.
Waduh anggota perempuan terkena serpihan peluru dikakinya. Chantika segera menarik rompi rekannya.
Lawan lebih dari dua puluh orang.
Lawan yang dipanggil Bos meremehkan polisi, melihat cuma satu tim yang datang.
Melarang anak buahnya menghabis Chantika dan timnya. Instruksinya tangkap hidup-hidup.
Menatap Chantika yang berada dibawah hujan peluru memimpin anggotanya mundur dengan tenang.
Titik berdiri Enzo jauh amat. Beberapa ratus meter dari Chantika berada.
Jangan sampai tidak bisa memberikan perlindungan untuk Chantika.
Vito saja sangat khawatir dengan keselamatan Chantika.
Sepertinya yang buka pintu kontainer nomor tujuh belas anak buah Vito. Anak buah Vito jadi tahu isi kontainer minyak goreng.
Yang kena getahnya Chantika dan timnya ini.
Duuuh Chantika dan timnya dalam bahaya. Kepala Chantika hampir kena sasaran tembak.
Seruuuuu...ikut sport jantung membacanya
Enzo sendiri tahu lawan Chantika dan timnya bukan orang biasa.
Semoga saja Enzo tiba di kawasan pelabuhan belum terlambat.
Enzo pasti tahu apa resiko yang akan dihadapi Chantika serta timnya di sana.
Bagaimana bisa dengan tepat menyelesaikan laporan, kalau Saras sering meninggalkan kantor di jam kerja.
Kapok kau Saras. Tiga puluh menit belum ada di kantor, dianggap mengundurkan diri.
Akhirnya Saras mesti harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan laporan evaluasi proyek.
Jangan harap bisa mengetahui siapa Enzo.
Tanggung jawab kerjaan diabaikan. Keperluan pribadi kepo siapa Enzo diutanakan. Dasar Saras. Macam begini kok mau jadi manajer.
Tidak bisa menjawab cepat pertanyaan dari Papanya. Keperluan pribadi.
Weleeehhh Saras
Enzo menyuruh Marco yang turun menemui Saras. Dan mengatakan tidak mengenal Saras.
Saras sangat kesal terhadap Marco yang tidak mengenalnya.
Mau ketemu kakak ipar kok sulit ya Saras 😁. Dianggurin satu jam di ruang tunggu.
Bisa jadi tuh Enzo yang menghubungi Papa mertua.
Di depan meja resepsionis, Saras bilang mau bertemu Enzo. Belum ada janji. Dia bilang adik iparnya.
Marco yang sudah dihubungi resepsionis, memberi tahu Enzo.
Dokumen pengiriman menyebutkan muatan berupa mesin industri.
Anak buah Vito sudah memastikan isi kontainer minyak goreng.
Pemiliknya belum diketahui. Pengawalnya kelompok bersenjata.
Chantika memimpin tim surveillance.
The Ghost dan anak buahnya malam nanti juga akan menggagalkan penyelundupan minyak goreng.
Pertempuran nanti malam bakal seru.