NovelToon NovelToon
Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas / Action
Popularitas:115.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.

Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.

Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.

Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.

Seorang penegak hukum menikahi penjahat?

Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Pertolongan dari Pintu yang Salah

"Kak, proyek ini menyangkut ribuan karyawan." Saras menatap kakaknya dengan sorot mata penuh permohonan sekaligus frustrasi. "Di perusahaan, Papa sedang menghadapi krisis, Kak. Please... hanya minum segelas doang."

Chantika menggenggam gelas itu lebih erat sebelum akhirnya meneguk isinya hingga tandas.

"Jika ada yang mulai gak beres, aku harus segera pergi." Itulah yang ada di kepalanya.

Senyum tipis terukir di sudut bibir Bryan. "Bagus."

Saras ikut tersenyum. "Kalau begitu, sekarang kita bisa lanjut membicarakan investasi, 'kan?"

"Tentu." Bryan mengangguk pelan. "Tapi sebelumnya, Nona Saras, aku mau meminta bantuanmu mengambil dokumen proposal yang tertinggal di mobilku. Aku baru ingat, asistenku menitipkannya di sana."

"Tentu." Saras langsung berdiri.

"Biar Kakak saja, Ras." Chantika ikut berdiri.

"Nona Chantika tetap di sini saja," kata Bryan. "Aku sekalian ingin mengenal calon rekan bisnis keluargamu."

"Kak, temani sebentar ya," pinta Saras. Ia mendekat ke kakaknya, lalu berbisik, "Kakak bisa berkelahi. Jika ada apa-apa Kakak bisa membela diri. Sedangkan aku... Kakak gak mau terjadi apa-apa 'kan sama adikmu ini?"

Lalu tanpa menunggu jawaban dari kakaknya Saras segera meraih kunci dari Bryan, kemudian keluar dari kamar.

Mau tak mau Chantika kembali duduk. Karena yang dikatakan adiknya memang masuk akal.

Begitu pintu tertutup, pandangan Bryan beralih pada Chantika. "Aku dengar... putri tertua keluarga Rahardja memilih menjadi seorang polwan. Itu kamu, bukan?"

"Benar."

Namun, sebelum sempat melanjutkan kalimatnya, kepala Chantika mendadak terasa berat. Pandangannya mulai berputar. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.

"Maaf... saya permisi sebentar."

Ia berusaha berdiri. Namun, baru beberapa langkah, tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terhuyung.

Bryan memerhatikan perubahan pada wajah Chantika. Kedua pipi gadis itu mulai memerah. Napasnya sedikit memburu, sementara sorot matanya perlahan kehilangan fokus.

Sudut bibir Bryan bergerak samar, nyaris tak terlihat. Lalu bergumam pelan, nyaris berbisik, "Akhirnya bekerja juga."

Chantika mengerjapkan mata beberapa kali. Kepalanya terasa semakin berat.

"Apa... yang kau masukkan ke dalam minuman itu?" suaranya mulai melemah.

"Aku hanya ingin kita bisa berbincang dengan lebih santai." Bryan bangkit dari sofa, lalu melangkah perlahan mendekatinya.

Spontan Chantika mundur selangkah. "Jangan mendekat."

"Tenang saja." Bryan masih tersenyum. "Aku tidak akan menyakitimu."

Tatapan Chantika berubah tajam. Meski pandangannya mulai kabur, nalurinya sebagai penegak hukum menangkap bahaya yang terpancar dari pria itu.

"Kau bohong."

Bryan terus mendekat. "Kau cantik, Nona Chantika. Sangat disayangkan kalau malam ini berakhir begitu saja."

Ia mengulurkan tangan hendak menyentuh pipi Chantika.

Plak!

Chantika menepis tangan itu sekuat tenaga. "Jangan sentuh aku!"

Bryan mengembuskan napas kesal. "Kau masih bisa melawan rupanya."

"Kalau kau mendekat lagi, aku akan menangkapmu," ancam Chantika.

Ucapan itu justru membuat Bryan tertawa. "Menangkapku? Lihat dirimu dulu."

Bryan malah menerjang.

Meski tubuhnya limbung, refleks Chantika masih terlatih. Begitu Bryan meraih lengannya, Chantika memutar tubuh, melepaskan cengkeraman lawan, lalu menghantam siku pria itu.

Brak!

Bryan terdorong menghantam meja. Tanpa memberi kesempatan, Chantika menendang lututnya. Pria itu kehilangan keseimbangan dan jatuh berlutut.

"Sial!"

Chantika memanfaatkan kesempatan itu. Dengan napas tersengal, ia berlari menuju pintu.

"Berhenti!"

Bryan berusaha mengejar, tetapi benturan tadi membuat langkahnya lambat. Namun ia berhasil menarik ujung blouse Chantika.

Tak ingin terus di kejar, dengan gerakan goyah Chantika menendang perut Bryan. Lalu--

BUGH!

Chantika memukul tengkuk pria itu. Dalam hitungan detik Bryan kehilangan kesadaran. Dan--

BRUK!

Tubuh Bryan jatuh ke lantai.

Chantika membuka pintu dan berlari keluar. Lorong hotel tampak berputar di depan matanya. Lampu di langit-langit seperti titik-titik cahaya. Namun ia terus memaksa kedua kakinya melangkah meski tubuhnya semakin lemah.

"Aku... harus bertemu dokter...."

Langkahnya mulai sempoyongan. Dinding menjadi satu-satunya penopang agar ia tidak jatuh.

Dengan tangan gemetar, ia membuka tasnya, mencari ponsel.

"Sial!" umpatnya pelan.

Sebelum meminum wine itu, ia memang sudah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Jika terjadi sesuatu, ia akan segera menghubungi rekan kerja atau kantor polisi. Namun, ponselnya hilang.

"Siapa yang ngambil?"

Kepalanya semakin berat. Ia tak punya waktu memikirkan jawabannya.

Tangannya meraba setiap pintu kamar yang dilewatinya, berharap menemukan seseorang yang bisa dimintai pertolongan.

Hingga akhirnya, telapak tangannya menekan sebuah pintu yang ternyata tidak terkunci.

Klik.

Pintu itu terbuka ke dalam. Tubuh Chantika kehilangan keseimbangan. Ia terhuyung beberapa langkah sebelum akhirnya jatuh ke arah seorang pria yang baru saja keluar dari ruang tengah kamar.

Pria itu refleks menangkap tubuhnya.

Mata Chantika yang mulai berat berusaha menatap wajah pria tersebut, tetapi semuanya terlihat buram.

"Tolong...."

Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari bibirnya sebelum kesadarannya benar-benar menghilang di dalam pelukan pria asing itu.

Tangannya tanpa sengaja menyentuh kulit dada pria yang mengenakan kimono tidur itu. Anehnya, ia merasakan ketenangan dari sentuhan tersebut.

"Nona, apa kau sadar dengan yang kau lakukan?" tanya pria itu dengan suara rendah.

"Panas," gumam Chantika. Tubuhnya tampak gelisah. "Tolong aku...."

Ia menempelkan pipinya di dada Enzo yang, entah mengapa, terasa begitu nyaman. Tangannya bergerak tanpa sadar di atas dada bidang pria itu.

Enzo, yang biasanya sangat benci disentuh wanita, entah mengapa kali ini justru tak mampu menjauh dari gadis yang telah lancang menyentuh tubuhnya.

"Bantu aku...." Chantika menarik leher pria itu, lalu mengecup bibirnya.

Enzo mengepalkan tangan saat Chantika menciumnya semakin agresif. Ia tak ingin memanfaatkan gadis yang jelas sedang berada di bawah pengaruh obat itu. Namun, entah mengapa jantungnya justru berdegup kencang dan darahnya mengalir lebih cepat. Hal yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Matanya terpejam, berusaha meredakan gejolak dalam dirinya. Namun....

"Kau yang menggodaku. Jadi, jangan salahkan aku."

Tanpa aba-aba, Enzo melingkarkan lengannya di bawah bokong Chantika dan mengangkat tubuh gadis itu. Dengan kakinya, ia menutup pintu, lalu membawa Chantika ke atas ranjang.

 

...🔸🔸🔸...

..."Takdir sering kali datang bukan melalui jalan yang indah, melainkan melalui pengkhianatan yang tak pernah kita duga."...

..."Orang yang berniat menjatuhkanmu mungkin berhasil membuatmu tersandung, tetapi takdir tetap mampu membawamu kepada seseorang yang telah dipersiapkan untukmu."...

..."Ada pintu yang kita buka karena putus asa, tanpa menyadari bahwa di baliknya, hidup kita akan berubah selamanya."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anitha
Pak Raharja tidak sebodoh itu Bryan
Beliau sudah mempersiapkannya sejak dulu,jadi jangan pernah mimpi permainanmu akan berhasil,di samping itu ada Menantu yang sangat berkuasa yang di takuti semua orang yaitu Enzo...

Lihat nanti rumah tangga Saras dan Bryan bakal seperti apa.

Pak Raharja Ayah yang sangat bijak dalam bersikap terhadap putrinya.
Siti Jumiati
lanjuuuut kak nana💪🙏
asih
selagi ada Enzo kayaknya mimpimu g bakal terwujudkan Bryan jangan terlalu PD kau akan kecewa nanti ..di saat kekecewaanmu kalau kau menyakiti laras saat itu juga mimpimu hancur
Puji Hastuti
semakin menarik,Bryan dg pasti kalau rencananya akan berhasil,sedang Raharja sudah siap dg strategi nya.
Oma Gavin
kepedean banget bryan jgn harap mudah raharja bukan orang bodoh apalagi enzo ada di pihak Raharja jgn terlalu percaya diri bryan takutnya ngga sesuai ekspektasi mu dan nyungsep
Anonim
Setelah mendengar jawaban Chantika yang sudah mengajukan izin menikah ke institusinya. Enzo mau ikut pulang bersama Chantika. Mau melamar.

Kalau lamarannya ditolak - Chantika pasti tidak menyangka jawaban dari Enzo 😄.

Kalau ngomong aneh-aneh lalu dihajar Papanya Chantika, Enzo gak apa-apa. Asal setelahnya, putri kesayangannya diserahkan padanya.

Mas kawin dari Enzo untuk Chantika masih rahasia.

Kejutan apa yang akan diberikan Enzo untuk seluruh keluarga Chantika sehubungan dengan mas kawin nanti di saat lamaran.

Sampai segitu yakinnya Enzo setelah acara lamaran dan mas kawin yang diberikan. Sampai berkata - tidak akan ada jalan lagi untuk membiarkan Chantika lepas darinya.

Pastinya, keselamatan Chantika akan aman apabila bersama Enzo.
Anonim
Enzo tidak selalu ada di dekat Chantika. Jadi Chantika punya kesempatan melindungi diri sendiri dengan perhiasan-perhiasan dan jam tangan yang dipakainya.

Chantika pasti sangat terharu, Enzo benar-benar memikirkan semuanya.

Enzo sempat terkejut ketika Chantika langsung memeluknya, dan mengucap terima kasih.

Enzo mengatakan - jangan berterima kasih. Karena tugasnya sebagai suami adalah memastikan istrinya selalu pulang dengan selamat.

Chantika bergumam - masih saja bilang aku istrimu. Dan berkata seperti biasanya - kita belum menikah 😄.
Anonim
Enzo melarang Chantika menemui Bryan sendirian.

Enzo menawarkan bantuannya. Sekelas Ezo saja merasa tidak tenang kalau Chantika berhadapan dengan Bryan. Enzo tahu sepak terjang Bryan - investor playboy.

Enzo benar-benar ingin melindungi Chantika. Ia memberi Chantika perhiasan serta jam tangan yang dirancang sedemikian rupa, terpasang alat untuk melindungi Chantika yang seorang polisi.
Puji Hastuti
aduh kayak buah simalakama
asih
gara² kebodohan satu orang seluruh keluarga jadi susah ..

q juga curiga kekayaan Bryan itu muncul Dari mana .. atau jangan² dia dalang Dari semua barang selundupan atau illegal itu Dan victor atau siapa itu hanya kaki tangannya saja
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Nay, itu kau tau! 😂😂😂 Kenapa kau malah melakukan itu, ha? Dasar Bodoh! Otak dangkal! 😁😁😁 Mikirn6a cuma untuk saat ini doang. Nggk mikirin juga apa, kedepannya. 😂😂😂 Kalau kau lumpuh Selerti Ryuhan Kai Zander, gimana Coba? ha? Makin susah lagu, hidupmu tau! 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Kaulah yang bodoh! 😂😂😂 Demi menggugurkan janinmu, kau malah menyakiti dirimu sendiri. 😂😂😂 Dasar Bodoh! Kenapa nggk mengakhiri hidup saja sekalian? ha? 😂😂😂 jelas pula kau masuk ke neraka... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Nah kan! 😂😂😂 Aku sudah menduganya sedari awal. Soalnya, pertanyaan kamu oada dokter tadi itu sudah aneh tau... 😂😂😂 Ternyata, memang kau sengaja ya, menggugurkan kandunganmu sendiri? 😂😂😂 Dasar! Kau tidak bisa mengibuli aku tau... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Yaaah, sudah Capek-capek mencelakai diri sendiri, eh... Bayi sialan itu nggk juga keguguran... 😂😂😂🙏
Fadillah Ahmad
Kok, aku merasa pertanyaan kamu ini agak aneh ya, Saras? 🤔🤔🤔 Kayak, seolah-olah kamu sengaka gitu loh, menyelakai dirimu Sendiri! 🤔🤔🤔 Sedikt aneh deh Perranyaanmu itu... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Hahaha, tepat sekali! Aku berpik8ran sama seperti kau Ranti! Aku curiga kalau Saras sengaja menumpahkan sqmbun itu, untuk menggugurkan kandungannya... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Benarkah? 😂😂😂 Kok, aku nggk percaya ya? 😂😂😂 Aku malah berpikiran, kalau kau sengaja melakukan itu, untuk menggugurkan kandunganmu, iya kab? Kamu sengaja bukan? 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Waaah, apakah Saras akan ke guguran dengan sendirinya? Di karenakan tertekan oleh keadaa 🤔🤔🤔
Anitha
Nunggu keputusan dari Pak Raharja apakah Saras akan di nikahkan sama Bryan atau tidak,jadi serba salah...

Enzo saat ini hanya perlu mengawasi saja tidak ikut campur dulu selagi Pak Raharja bisa mengatasinya...

jika nanti Saras nikah dengan Bryan..
tentu saja Enzo dan Chantika bakal pindah ke Apartement Enzo yang lebih nyaman tidak ada parasit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!