NovelToon NovelToon
Oh! Mantan Kekasihku

Oh! Mantan Kekasihku

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:424.6k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.

Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.

Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kapten Gavin!

Gavin langsung menegakkan tubuhnya, ia menekan tombol interkom pada headset dan menghubungkan suaranya langsung ke kokpit pilot.

"Ini Komandan Kompi, berapa lama lagi kita sampai di Rumah Sakit kota?" tanya Gavin.

​"Lapor, Kapten! Di depan ada gumpalan awan dan angin sakal yang cukup kuat, kita harus sedikit memutar. Perkiraan mendarat sekitar dua puluh menit lagi!" suara pilot terdengar kresek-kresek di balik pengeras suara.

​"Dua puluh menit terlalu lama, Pak Joko tidak akan bertahan!" sela Hazel panik dan langsung duduk di lantai agar lebih mudah menangani Pak Joko.

Tangannya dengan cekatan merogoh tas medis, mengambil ampul obat epinefrin untuk menaikkan tekanan darah dan mengganti botol infus yang sudah hampir habis dengan cairan koloid. Di dalam kabin yang terus bergoyang hebat karena guncangan awan, memasukkan jarum suntik ke dalam selang infus adalah hal yang sangat sulit, tangan Hazel pun sempat meleset sekali.

​Melihat Hazel yang mulai panik, Gavin tidak tinggal diam. Ia melepaskan sabuk pengamannya lalu berlutut di lantai kabin yang dingin tepat di samping Hazel, tubuh tegap Gavin yang besar seolah menjadi tameng bagi Hazel dari guncangan helikopter, Gavin memegangi lengan baju Hazel dengan kedua tangannya agar posisi tangan Hazel tetap stabil.

​"Tenang, Hazel. Fokus pada pasienmu, aku yang menahan tubuhmu," ucap Gavin lewat interkom yang sengaja ia pakaikan satu sisinya ke telinga Hazel.

​Mendengar suara Gavin yang begitu tenang di telinganya, napas Hazel yang tadinya memburu mulai teratur. Dengan satu gerakan mantap, ia berhasil menyuntikkan obat tersebut ke dalam jalur infus Pak Joko. Selama sepuluh menit berikutnya, Hazel terus memantau grafik di monitor dengan cemas, sampai akhirnya angka tekanan darah Pak Joko perlahan bergerak naik dan kembali stabil, meskipun pria itu masih belum sadarkan diri.

​Hazel terduduk lemas di lantai kabin, menyandarkan punggungnya pada dinding helikopter yang bergetar, ia menyeka keringat dingin di dahinya. Saat ia menoleh, ia menyadari wajah Gavin hanya berjarak beberapa sentimeter saja darinya, Gavin masih setia berlutut di sampingnya dan memastikan Hazel tidak terbentur dinding kabin saat helikopter bergoyang.

​Di bawah temaram lampu kabin yang berwarna merah redup, sepasang mata elang Gavin menatap lekat-lekat wajah Hazel yang pucat dan kelelahan. Ada seulas rasa kagum yang ia sembunyikan rapat-rapat di balik wajah datarnya, gadis manja yang dulu takut melihat dar*h saat lututnya tergores di sekolah, kini menjelma menjadi seorang Dokter yang luar biasa berani di hadapannya.

​Tepat pukul setengah satu dini hari, helikopter militer itu akhirnya menyentuh landasan helipad di atap Rumah Sakit. Begitu pintu geser terbuka, embusan angin kota yang sejuk langsung menerpa wajah mereka. Di luar, tim medis rumah sakit lengkap dengan ranjang dorong darurat sudah bersiap siaga di tepi landasan.

​"Ayo, cepat pindahkan pasiennya!" perintah Gavin kepada para kru medis yang langsung bergerak gesit memindahkan Pak Joko dari dalam kabin helikopter.

​Hazel ikut melompat turun dari helikopter. Namun, begitu kakinya memijak lantai yang keras, rasa lelah yang luar biasa bercampur dengan rasa mual akibat guncangan udara langsung menyerang tubuhnya. Kakinya yang masih lecet karena luka kemarin mendadak terasa lemas seperti kehilangan tulang, Hazel terhuyung ke samping dan hampir saja terjatuh jika sebuah lengan kekar tidak dengan cepat menahan pinggangnya.

​Gavin menahan tubuh Hazel, merapatkan tubuh wanita itu ke dadanya agar tidak jatuh tersungkur. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Gavin, suaranya terdengar cemas yang tak bisa lagi ia sembunyikan.

​Hazel hanya mengangguk lemah, tangannya memegangi lengan jaket Gavin sebagai tumpuan. "Hanya... sedikit pusing, aku harus ikut ke ruang operasi untuk memberikan laporan medis kepada Dokter di sana," ucap Hazel.

​"Tidak perlu. Biarkan tim medis yang ambil alih, tugasmu di sini sudah selesai, Hazel. Kamu sudah menyelamatkan nyawanya di atas sana," ucap Gavin.

Gavin kemudian menuntun Hazel berjalan perlahan menuju area ruang tunggu luar yang lebih tenang di lantai bawah, ​Gavin mendudukkan Hazel di sebuah kursi besi yang panjang. Setelah itu, ia berjalan pergi sebentar dan kembali beberapa menit kemudian dengan membawa dua botol air mineral hangat yang ia beli dari mesin penjual otomatis. Pria itu membuka tutup botolnya terlebih dahulu sebelum menyodorkannya kepada Hazel.

​"Minum dulu, wajahmu sudah seperti mayat," ucap Gavin dengan gaya bicaranya yang kembali agak ketus, namun tindakannya sangat perhatian.

​Hazel menerima botol itu dan meminumnya, rasa hangat dari air itu perlahan-lahan menenangkan perutnya yang bergejolak. Setelah merasa lebih baik, Hazel menatap Gavin yang kini duduk di sampingnya dengan jarak satu jengkal. Pria itu tampak menyandarkan kepalanya ke dinding dengan mata terpejam, wajahnya juga memancarkan kelelahan yang amat sangat.

"Gavin," panggil Hazel pelan.

​Gavin tidak membuka matanya, namun ia menyahut dengan bergumam pelan. "Hmm?"

"Terima kasih untuk yang tadi di helikopter, kalau tidak ada kamu yang menahan tubuhku, mungkin aku sudah mengacaukan suntikannya," ucap Hazel tulus.

​Gavin akhirnya membuka matanya perlahan dan menoleh menatap wajah Hazel dari samping, keheningan di koridor rumah sakit malam itu terasa sangat kontras dengan kebisingan di pos perbatasan maupun di dalam helikopter tadi. Di sini, di bawah sinar lampu rumah sakit yang putih bersih, ketegangan di antara mereka perlahan mencair.

​"Aku hanya melakukan tugasku sebagai komandan, siapa pun Dokternya, pasti akan aku bantu," jawab Gavin datar, mencoba membangun kembali benteng pertahanan di hatinya.

"Aku tahu, tapi tetap saja aku harus mengucapkan terima kasih," ucap Hazel.

Di koridor rumah sakit yang sepi itu. Baik Gavin maupun Hazel tahu, ada banyak hal yang ingin mereka tanyakan, ada banyak luka yang ingin mereka perjelas. Namun, ego dan rasa takut masih menjadi sekat yang tebal di antara mereka.

​Baru saja Hazel hendak membuka suara untuk mencairkan suasana diantara mereka, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa dari arah pintu masuk koridor, suara ketukan sepatu hak tinggi itu terdengar nyaring dan menggema di sepanjang lorong rumah sakit yang sepi.

​"Kapten Gavin!" panggil seorang wanita.

Gavin dan Hazel spontan menoleh ke arah sumber suara secara bersamaan. Dari ujung lorong, tampak seorang wanita muda berjalan setengah berlari ke arah mereka. Wanita itu terlihat sangat modis dan elegan, mengenakan trench coat berwarna krem yang dipadukan dengan celana kulot hitam, rambutnya yang dipotong sebahu bergoyang seiring langkah kakinya yang cepat. Wajahnya yang cantik tampak dihiasi riasan tipis, namun pancaran kepanikan tidak bisa disembunyikan dari matanya.

​Wanita itu langsung mengabaikan keberadaan Hazel dan langsung berdiri di depan Gavin, menggenggam kedua lengan jaket pria itu dengan raut wajah yang sangat khawatir.

.

.

.

Bersambung.....

1
Naufal hanifah
👍👍👍
Nurwana
hazel... kau itu terlalu bego, sudah tau ibumu kejam, tidak mau kau punya inisiatif sendiri, pintar dikit kenapa,punya uangkan, gunakan uangmu untuk merekrut orang orang yang jago bela diri untuk menjagamu dan cari orang yang bertalenta dibadangnya, misal jago IT. kau juga belajar bela diri diam diam. jadi kalau memiliki orang orang tersebut gampang aja untuk kabur dan berdikari. masa selama 15 tahun kau hanya jadi diam ditempat Tanpa usaha.
Evy
Sakitnya yang luar biasa pas kontraksi datang.. tapi ada rasa lega pas bayinya sudah keluar...
Evy
Awal tugas bukannya hanya 6 bulan saja.kok sekarang bisa jadi 2 thn..
Evy
Kepo aja nih Suster..
Evy
2 th lagi usia Bu Dokter sudah 33thn dong...gak papa deh .demi Pak Kapten ...
Evy
Keras banget Ibunya Ya..apa Ibu kandung??? Suami saja tidak berkutik dibuatnya...semua bisa tenang kalo Ibunya itu sudah terkena stroke...ha ...ha...canda aja ya ...
Evy
Pak Jaksa ini sombong dengan jabatan nya... walaupun mereka jadi menikah gak bakalan cocok.
Senja Malam
demi kebahagiaan anak laki-laki nya.. keren bu anggita
⋆.˚Khaira🦋
sukka bgt sama ceritanya.. ada tegangnya ada sedihnya, ada senengnya , ada senyum² sendiri juga... aaah sukkaaa laah pokoknya di setiap bab nya... sukses selalu yaa thor 🤗❤️❤️❤️
⋆.˚Khaira🦋
happy ending 💐
⋆.˚Khaira🦋
yeyyyy... congrated akhirnyaaaa kawiiiiiinnn 💐
⋆.˚Khaira🦋
hahaha... di buat mingkem mama vivian... mamam tuh, makanya jd ortu jgn egois😄
⋆.˚Khaira🦋
bentar..bentar...gimana?? katanya di awal bilang bulan thor, kok jd 2 thn..klu 2 thn berrti dah gak pake nunggu gavin lagi donk... mereka sama² udah kelar masa tugasnya🤔
⋆.˚Khaira🦋
cieeee... gercep yee pak komandan 🤭
tenang...tenang... pasti di acc kok sama emaknya hazel, wong tujuan hazel di kirim ke perbatasan kan emang buat di jodohin sama kamuuu pak komandan 😄
⋆.˚Khaira🦋
"genggam lengan ku sayang, dekap lah aku, peluk diriku" 🎤🎶
uhuuuyyy 🤭😄
⋆.˚Khaira🦋
masih tetep usaha yaa komandan gavin biar bu dokter gak salah paham 🤭😆
⋆.˚Khaira🦋
aku ikutan sediiiihhh iiih gavin... kasian hazel tauuu 🥲💔
⋆.˚Khaira🦋
hati aku ikutan periiiihhh iiih 🥲
⋆.˚Khaira🦋
hazel sini menepi sebentar biar aku peluuuukk kamuu 🤗🥹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!