Demi cinta, Kataleya rela meninggalkan kokpit dan menyerahkan mimpinya menjadi Kapten Pilot pada suaminya, Arkana. Ia memilih menjadi istri dan ibu, mengorbankan karier yang dulu hampir berada di puncak.
Enam tahun kemudian, pengorbanan itu justru dibalas dengan pengkhianatan. Arkana berselingkuh, menghina penampilan Kataleya, dan menyebutnya wanita yang sudah tak pantas berdiri di sisinya.
Akan tetapi Arkana lupa satu hal, langit itu dulunya milik Leya. Saat wanita itu menuntut cerai dan kembali mengenakan seragam pilotnya, seluruh dunia penerbangan mulai menyadari siapa dia sebenarnya.
Di akademi pilot, ia bertemu Kaisar... pria misterius yang selalu berada di sisinya. Arkana baru sadar terlalu terlambat, wanita yang dulu ia rendahkan kini kembali terbang lebih tinggi darinya. Leya menjadi Kapten Pilot, yang tak akan pernah bisa ia miliki lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 23.
Di ranjang rawatnya, Shanaz kembali tertidur. Ruangan kembali sunyi dari teriakan wanita itu. Arkana menatapnya dengan pandangan rumit. Namun pada akhirnya ia berbalik, dan keluar dari ruangan.
Sementara di rumah Leya, wanita itu baru selesai mandi setelah pulang dari maskapai. Rambutnya masih setengah basah saat ia berjalan menuju ruang tengah.
Di lantai, Arsen sedang bermain mobil-mobilan. Anak itu mendorong mobil mainnya dengan suara mesin yang dibuat-buat.
“Vroom... vroom...“
Leya tersenyum melihatnya, baru saja ia akan duduk di dekat putranya bermain... bel rumah berbunyi.
Ting!
Leya mengerenyit, “Siapa sore-sore begini..."
Saat Leya pulang dari maskapai, ibu dan ayahnya pamit pergi. Anehnya saat Leya bertanya, orang tuanya tak mengatakan akan pergi kemana.
Leya berjalan ke pintu, begitu pintu terbuka... Ia terdiam. Di depannya, berdiri Kaisar. Dan di kedua tangan pria itu, penuh kantong belanjaan.
“Sore...“ kata Kaisar santai.
Leya berkedip, ia menatap barang bawaan Kaisar yang banyak sekali. “Kenapa kamu seperti orang pindahan?“
“Boleh masuk dulu! Berat loh ini...“ Kaisar nyengir.
Leya masih bingung tapi akhirnya ia mundur memberi jalan. Arsen yang mendengar suara Kaisar sontak menoleh, mereka pernah beberapa kali bertemu karena Kaisar sering mengantar Leya pulang dari akademi waktu itu.
“Waaahhhhhh! Om Kai bawa apa?“
Kaisar berjongkok, ia membuka salah satu kantong. Satu per satu mainan keluar, ada robot, mobil remote, pesawat mainan, helikopter, dan kotak lego besar.
Arsen sontak melompat kegirangan. “WOOOWWW! YEEYYY!“
Di belakang Kaisar, Leya memijit pelipisnya. “Kai... ini terlalu banyak."
“Ini strategi."
“Strategi?"
“Aku mau jujur sama kamu, kata adik perempuanku... kalau ingin mengambil hatimu, aku harus pintar ambil hati anakmu.“ Kaisar malah mengatakan strateginya itu.
Mata Leya menyipit, dia ingin kembali berpura-pura tak mengerti maksud kata-kata Kaisar, namun pada akhirnya wanita itu hanya menghela nafas pelan.
“Kamu serius mendengarkan nasihat itu?"
“Serius dong, aku benar-benar ingin kamu mempertimbangkan ku.“ Kaisar bersungguh-sungguh.
Pria itu mengambil mobil remote, ia menunjukkannya ke Arsen. “Nak, kamu suka mobilnya?"
"SUKA!"
“Bagus! Ayo main sama Om! Biarkan Mamamu buat cemilan untuk kita, Om mau es cappucino sama donat kentang buatan Mama kamu yang katanya lezat itu."
Leya berdecak ringan. “Darimana kamu tau aku suka bikin donat kentang?“
Kaisar menatap wanita itu dengan wajah santai. “Menurutmu?"
“Pasti ibu yang cerita ke Tante Kartika. Ibumu dan ibuku hampir setiap hari bertemu. Kalau Tante Kartika nggak datang kesini, ya ibuku yang datang ke rumahmu. Mereka seperti saudara yang terpisahkan..."
Kaisar mengangkat bahu. “Mama cuma bilang, dia mau cepat punya cucu dariku. Masalahnya, satu-satunya wanita yang ingin aku habiskan sisa hidupku bersamanya... masih menolakku. Jadinya Arsen yang dimanja Mama.“
Leya sudah terbiasa mendengar gombalan Kaisar, namun kata-kata pria itu barusan tiba-tiba saja membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Ia segera menarik nafas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
“Jangan-jangan, kamu dan orang tuaku kerja sama?"
Kaisar menatap Leya dengan wajah berpura-pura bingung, padahal ia tahu maksud wanita itu.
“Tadi, ibu sama Ayah tiba-tiba keluar mau cari angin sore. Pas aku tanya mau kemana, mereka juga nggak jawab jelas.“ Leya menyipitkan matanya. “Terus, kamu datang. Masa iya, semua ini kebetulan? Kalian, sekongkol kan?“
Kaisar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tebakan Leya benar adanya. Persisnya, orang tua mereka berdua lah sengaja memberi kesempatan agar dia dan Leya bisa lebih dekat. Mereka sangat mendukung hubungan keduanya.
“K-kamu... marah?" tanya Kaisar hati-hati.
Leya menggeleng, “Aku nggak marah, hanya kesal. Kalian semua merencanakan sesuatu di belakangku."
“Leya, anggap saja ini bentuk usaha mereka mendukung hubungan kita." Kaisar menghela nafasnya, "Jujur saja, aku sering merasa rendah diri di depanmu.“
Pria itu menatap Leya dengan mata sendu. “Kamu wanita hebat, saat terpuruk... kamu bisa bangkit. Kamu mandiri, kuat. Kadang aku merasa, aku bukan laki-laki yang pantas untukmu. Tapi mau bagaimana lagi, aku udah terlanjur mencintaimu. Dan aku... tak akan pernah mundur.“
Kali ini... Leya benar-benar terdiam. Ia tak pernah menyangka pria setampan Kaisar, bahkan lebih muda darinya bisa menyukai dirinya yang seorang wanita janda dan sudah mempunyai anak.
“Sudahlah, kamu main saja sama Arsen dulu. Aku buatkan cemilan, sekalian kopi pesananmu.“ Leya berjalan ke arah dapur, dia akhirnya memilih tak menerima perasaan Kaisar tapi juga tak menolaknya.
Satu jam berlalu, ruang tengah sudah seperti arena balap. Mobil remote menabrak kursi, helikopter mainan jatuh ke karpet.
Arsen tertawa keras, “Om Kai... kalah!"
“Nggak mungkin! Om adalah pilot terbaik!" Kaisar berpura-pura terkejut
“Om kalah!"
Kaisar menjatuhkan diri ke sofa dengan dramatis. “Aku dikalahkan anak lima tahun, hikss...“
Arsen memeluk Kaisar sambil terkikik geli, keduanya akhirnya tertawa bersama.
Leya yang sudah selesai membuat cemilan dan duduk di sofa, menutup mulutnya menahan tawa. Ia benar-benar tak menyangka Kaisar bisa cepat dekat dengan anaknya. Suasana saat ini terasa hangat, seperti satu keluarga yang bahagia.
Seandainya dulu Arkana tidak dibutakan nafsu dan berselingkuh, mungkin yang sedang tertawa bahagia bersama Arsen sekarang adalah pria itu. Sekarang, Arkana sudah menuai apa yang dulu dia tabur.
Namun keesokan harinya, sesuatu terjadi di maskapai.
Saat Leya berjalan di lorong gedung dengan seragam kapten pilotnya, langkahnya tiba-tiba terhenti. Ia melihat Kaisar dan Kikan berdiri berdekatan sambil tertawa. Kaisar bahkan beberapa kali menepuk kepala Kikan dengan sangat akrab.
Leya mengerutkan kening. “Dasar pria! Semua sama saja! Sukanya wanita muda, tapi malah pura-pura tertarik padaku yang lebih tua darinya! Katanya, dia insecure padaku?! Nyatanya akrab sekali dengan Bu Kikan, padahal itu atasannya!“
Dengan kesal, Leya berbalik pergi. Kaisar sama sekali tidak menyadari kehadirannya barusan. Pria itu masih mengobrol santai dengan Kikan.
Di ruang briefing sebelum para kapten pilot bertugas, Kaisar menghampiri Leya sambil membawa secangkir kopi.
“Nih..." Pria itu menaruh kopi di atas depan Leya.
Leya malah mendorong cangkir kopi itu pelan. “Tidak, terimakasih. Aku sudah minum kopi di rumah, berikan saja kopinya pada wanita yang membuatmu tertawa tadi.“
Kaisar terpaku, ia merasa Leya sedang marah padanya. Padahal sejak terakhir kali bertemu kemarin di rumah wanita itu, hubungan mereka baik-baik saja. Bukan hanya itu, kemarin Kaisar malah merasa... Leya mulai sedikit membuka hati untuk dirinya.
Namun sekarang, ada apa sebenarnya? Wanita siapa yang dimaksud Leya?
*
*
*
Cieeeee Leya, cemburu mah ngomong aja🫣Yang manis-manis dulu dikit ya ♥️♥️♥️
tapi awas bikin gosip yg gak bener tentang Leya atau Kaisar, Bu wa bahaya untuk mu sendiri itu
kak author gx sxan di basmi aj si rafi ini ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭😁😁😁
krn di balik suami yg sukses pasti ad istri hebat yg berkorban ,,
bukan pelakor yg berkibar oleh angin sesaat ,,
saat angin berhenti ia akan mencoba trap berkibar dg cara apa aja Sekali pun dg cara yg kotor/Smile//Smile//Smile/