Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Ganda menghela napas panjang melihat bagaimana beringasnya Diaz menyiram tanaman, sampai-sampai beberapa pot bunga sudah tergenang air hampir meluap.
Dengan langkah pelan, ia berjalan menghampiri istri pertamanya itu dan berdiri tepat di sampingnya.
"Dik, sudah, yuk. Ayo kita ke mall," ajak Ganda dengan nada suara yang lembut, berusaha meruntuhkan sisa-sisa kekesalan di hati Diaz.
"Kita belanja bulanan sekalian beli perabotan rumah yang semalam belum sempat kita beli karena... kejadian itu."
Diaz tidak menoleh. Pandangannya tetap lurus ke arah dedaunan yang basah.
"Pergilah sama dia saja, Ganda. Aku mau di rumah saja menyiram tanaman," sahutnya ketus, kentara sekali sedang melempar kode mogok.
Ganda tertawa kecil mendengar jawaban ketus itu.
Ia menunjuk ke arah tanah yang sudah berubah menjadi kubangan lumpur kecil akibat semprotan air Diaz.
"Menyiram tanaman sih boleh, Dik. Tapi apa kamu ingin rumah baru kita ini banjir? Itu airnya sudah mau masuk ke teras."
Diaz mendengus, merasa tertangkap basah. Namun, sedetik kemudian raut wajahnya kembali mendung. Ia menurunkan selang air itu perlahan.
"Kamu harus adil, Mas. Pergilah dan berikan hak waktu kamu hari ini kepada Laura. Nanti kalau kamu terus-terusan di sini, mereka—keluargamu dan orang pondok—akan kembali menganggap..." Diaz menjeda kalimatnya, tenggorokannya mendadak terasa tercekat. "...mereka akan menganggap Diaz wanita jahat, Diaz anak kota yang egois, Diaz yang merebut Ustaz mereka, Diaz yang..."
"Sepertinya ada yang sedang cemburu nih," potong Ganda cepat, menyunggingkan senyum menggoda demi menghentikan kalimat-kalimat negatif yang mulai meracuni pikiran Diaz lagi.
"Cemburu? Amit-amit ya, Ganda! Jangan kegeeran!" semprot Diaz spontan dengan mata melotot.
Kesal karena digoda, Diaz langsung mematikan keran air dengan sentakan kasar, menjatuhkan selang begitu saja, lalu melangkah lebar kembali masuk ke dalam ruang tengah rumah.
Ganda hanya bisa terkekeh pelan di belakangnya, lalu ikut melangkah masuk.
Begitu mereka berdua menginjakkan kaki di ruang tengah, Laura yang sejak tadi menguping dari balik pilar langsung keluar.
Dengan wajah yang sengaja dibuat memelas, ia langsung merangsek maju dan menggenggam erat lengan jubah suaminya, menatap Ganda dengan pandangan menuntut.
"Mas, aku juga mau kamu ajak bicara lembut seperti itu," rengek Laura, melirik sinis ke arah Diaz yang sedang berjalan menuju sofa.
"Hari ini kan jatahku, Mas. Kenapa Mas Ganda malah terus-terusan merayu dia?"
Diaz yang mendengar rengekan itu langsung duduk di sofa depan televisi besar.
Ia meraih remote TV, menyalakannya dengan volume yang agak keras, lalu menoleh ke arah Ganda dan Laura dengan senyum cuek yang mematikan.
"Sana pergilah, Mas yang adil. Bawa istri mudamu itu jalan-jalan. Dan, aku mau nonton SWAT saja di rumah. Lebih seru lihat baku tembak daripada lihat drama rumah tangga," celetuk Diaz santai, langsung memindahkan saluran TV ke serial aksi favoritnya.
Sebelum Ganda sempat merespons, Diaz sudah mengangkat sebelah tangannya, melambaikan jari-jarinya ke udara tanpa menoleh lagi dari layar kaca.
"Bye, Mas," ucapnya dengan nada acuh tak acuh yang sengaja dibuat-buat demi menutupi secuil rasa gengsi di hatinya.
Ganda hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menatap Diaz yang sudah fokus pada adegan aksi di televisi, sementara Laura terus menarik-narik lengannya untuk segera keluar dari rumah.
Ganda akhirnya mengalah pada tarikan Laura. Ia melangkah masuk ke dalam kamar istri keduanya itu demi menunaikan keadilan waktu yang menjadi kewajibannya.
Begitu melintasi ambang pintu, aroma parfum mawar yang menyengat langsung menyergap indra penciuman Ganda.
Ceklek.
Laura dengan cepat mengunci pintu kamar rapat-rapat.
Dalam sekejap mata, sikap ketus dan wajah cemberutnya yang ia tunjukkan di depan Diaz tadi meleleh, berubah menjadi godaan yang teramat manja.
Laura merapatkan tubuhnya pada dada bidang Ganda, melingkarkan lengannya di leher sang suami sembari mulai mengeluarkan suara desahan manja demi memancing gairah pria itu.
"Mas, ayo, aku ingin kamu melakukan kewajibanmu pagi ini. Hari ini kan jatahku," bisik Laura dengan nada sensual, meraba dada tegap Ganda.
Sebagai suami yang mencoba runtut pada hukum agama, Ganda menganggukkan kepalanya pelan.
Ia bersiap memenuhi kewajiban batinnya. Bagaimanapun, ia sudah berjanji di dalam hati bahwa jika ia sudah melakukan hubungan suami istri dengan Diaz, maka Laura juga harus mendapatkan hak batin yang sama agar tidak ada celah ketidakadilan.
Melihat Ganda yang menganggukkan kepalanya tanda setuju, Laura mendongak.
Sepasang matanya berkilat penuh selidik saat melontarkan pertanyaan yang sejak tadi menyumbat dadanya.
"Apakah Mas sudah melakukannya dengan wanita itu semalam?" tanya Laura, memastikan dugaannya tentang kejadian di hotel.
Ganda terdiam sejenak, lalu menganggukkan kepalanya dengan jujur.
"Sudah, Laura."
Mendengar konfirmasi itu, ada rasa panas yang membakar hati Laura, namun ia meredamnya dengan niat untuk membuktikan bahwa dirinya bisa memberikan pelayanan yang lebih baik. Laura menarik Ganda perlahan menuju ranjang.
Ganda pun mengikuti alur, perlahan mendekati Laura di atas kasur yang empuk.
Namun, tepat saat ia hendak menyentuh Laura lebih jauh dan memulai skinship yang lebih intim, pikiran Ganda mendadak mengunci total.
Bagai gulungan film yang diputar paksa, bayangan wajah Diaz saat menangis lirih semalam, cengkeraman erat jemari Diaz di punggung tegapnya hingga kukunya memutih, serta aroma alami tubuh Diaz dalam kesakralan malam darurat di hotel mewah itu mendadak muncul dengan sangat jelas dan pekat di pelupuk mata Ganda.
Jantung Ganda berdegup kencang dengan frekuensi yang abnormal.
Namun, getaran hebat itu bukan karena gairah atau ketertarikan pada godaan Laura yang ada di depannya, melainkan karena getaran rindu dan rasa kepemilikan yang mendalam yang tertinggal dari sosok Diaz semalam.
Sentuhan Laura mendadak terasa hambar, bahkan ditolak oleh batinnya sendiri.
Ganda mendadak menjauhkan tubuhnya dengan sentakan pelan.
Ia bangkit dari atas ranjang, berdiri membelakangi Laura dengan napas yang memburu berat seolah baru saja kehabisan oksigen.
Ia mengusap wajahnya dengan kasar sembari melafalkan kalimat thoyyibah dengan lirih.
"Astaghfirullahaladzim... Astaghfirullah..." bisik Ganda, mencoba mengusir kekacauan yang berkecamuk di dalam dadanya.
Tubuhnya mendadak kaku, menolak untuk melanjutkan kewajiban batin itu bersama Laura malam ini.
Laura terperangah. Ia bangkit dari posisinya, wajahnya dipenuhi kebingungan yang bercampur jengkel.
"Mas, ada apa? Kita baru saja akan mulai, kenapa berhenti mendadak?" protesnya dengan nada tidak terima.
Demi menutupi pergolakan batin yang nyaris meledakkan dadanya, Ganda memegangi perutnya dengan ekspresi yang ia buat-buat sesakit mungkin.
"Maaf, Laura. Perutku mendadak sakit sekali, mungkin karena makan malam semalam kurang bersih. Aku ke kamar mandi dulu ya," ucapnya cepat sebelum akhirnya bergegas melangkah keluar dari kamar itu menuju kamar mandi di lorong.
Ganda segera mengunci pintu kamar mandi rapat-rapat. Ia menyalakan keran air dengan debit penuh agar suaranya tersamarkan dari pendengaran Laura di luar sana.
Ia membasuh wajahnya yang tegang dengan air dingin, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih memburu.
Pria itu kemudian terduduk lemas di tepi bak mandi.
Kepalanya tertunduk dalam, kedua tangannya meremas rambutnya sendiri dengan perasaan bersalah yang luar biasa.
Ia merasa tersiksa; sebagai seorang suami yang paham akan kewajibannya, ia sangat ingin berlaku adil, namun hati dan instingnya menolak Laura seolah ada tembok tinggi yang memisahkan mereka.
Bayangan saat ia bersatu dengan Diaz semalam terus menghantui.
Kelembutan, kerentanan, dan bagaimana ia menjaga Diaz semalam telah menciptakan ikatan batin yang tak terduga.
“Kenapa aku tidak bisa adil? Kenapa bayangan Diaz terus mengikatku?” batin Ganda frustrasi.
Ia menyadari bahwa malam itu telah mengubah segalanya.
Dinamika rasanya telah bergeser total—ia tidak lagi memandang kedua istrinya dengan bobot yang sama.
Sesuatu di dalam jiwanya telah terkunci pada Diaz, dan setiap kali ia mencoba melangkah menuju Laura, hatinya justru teriak menolak.
Rasa bersalah karena telah membuat Laura menggantung, sekaligus rasa bersalah karena tidak bisa memberikan apa yang seharusnya ia berikan, menghantam Ganda bertubi-tubi di balik pintu kamar mandi yang dingin itu.
Ganda perlahan keluar dari kamar mandi, masih dengan tangan yang memegangi perutnya.
Untuk menutupi pergolakan batin yang sebenarnya, ia sengaja berakting dengan wajah yang dibuat sepucat mungkin sembari melangkah ke ruang tengah, berpura-pura mencari kotak obat di antara tumpukan barang yang belum sepenuhnya dirapikan.
Diaz yang sedang asyik menonton serial SWAT di sofa mendengar suara berisik langkah kaki suaminya.
Merasa ada yang tidak beres, ia berdiri dan menghampiri Ganda.
Melihat wajah Ganda yang tampak benar-benar pucat dan gusar, Diaz bertanya dengan nada datar, namun tak mampu menyembunyikan rasa khawatir yang terselip di dalamnya, "Kamu kenapa?"
Ganda hanya menggelengkan kepala pelan dengan senyum dipaksakan.
Ia tidak sanggup jujur bahwa batinnya menolak Laura demi dirinya.
"Hanya... agak mulas, Dik," dustanya lirih.
Di saat yang bersamaan, pintu kamar sebelah terbuka.
Laura keluar dengan wajah cemberut dan napas yang dihentak-hentakkan tanda jengkel.
Ia hanya mengenakan jubah kimono tidurnya yang tipis, memperlihatkan dengan jelas bahwa momen intim yang baru saja dimulai terganggu di tengah jalan.
Pandangan Diaz seketika terjatuh pada penampilan Laura yang mengenakan kimono tipis tersebut.
Seketika itu juga, hati Diaz bagai dihantam godam, berdenyut sangat perih.
Kesadarannya sebagai wanita kota mendadak memunculkan asumsi liar; ia langsung salah paham dan mengira bahwa Ganda baru saja menuntaskan hubungan intim bersama Laura—sama persis, hangat, dan intim seperti yang ia rasakan bersama Ganda semalam di kamar hotel.
Ternyata benar, setelah denganku, dia langsung memberikan hak yang sama pada Laura, batin Diaz getir.
Ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di balik saku kulotnya, menyembunyikan rasa cemburu dan luka yang membakar dadanya di balik wajah yang kembali dibuat secuek mungkin.
Merasa atmosfer di dalam rumah barunya semakin mencekam akibat salah paham dan kegagalannya bersikap adil pagi itu, Ganda merasa dadanya sesak. Ia membutuhkan ruang untuk bernapas. Dengan gerakan cepat, ia meraih kunci mobil SUV-nya di atas meja.
"Aku ke pondok sebentar ya, Dik," pamit Ganda, menatap Diaz dan Laura sekaligus tanpa berani membalas sorot mata istrinya lebih lama.
Laura yang merasa ditinggalkan begitu saja langsung berlari mengejar ke ambang pintu dengan wajah kecewa dan menuntut.
"Mas Ganda! Kenapa buru-buru sekali sih?!"
Tanpa menengok lagi ke belakang, Ganda terus melangkah lebar menuju halaman.
"Aku berangkat dulu, assalamualaikum," ucapnya tegas sembari menutup pintu depan.
Ganda melangkah pergi masuk ke dalam mobil dengan perasaan yang berkecamuk hebat, memikirkan bagaimana cara menjadi imam yang benar.
Sementara di dalam rumah, ia meninggalkan Diaz yang kini tenggelam dalam kesalahpahaman yang sangat menyakitkan—mengira suaminya telah membagi rasa yang sama—dan Laura yang berdiri menggeram marah karena jatah paginya digagalkan total oleh bayang-bayang istri pertama yang tak kasat mata.
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡