NovelToon NovelToon
Sang CEO Tersembunyi

Sang CEO Tersembunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sulaiman1927

Di tengah hiruk-pikuk Kota Surabaya, hiduplah Arka, seorang pemuda sederhana yang bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan kecil. Di mata rekan kerjanya, termasuk Dinda—wanita tulus yang diam-diam dicintainya—Arka hanyalah pegawai biasa yang hidup pas-pasan, tenang, dan tidak memiliki apa-apa. Namun, tak ada satu pun yang tahu bahwa di balik penampilan sederhana itu, Arka adalah pewaris tunggal dan pemilik sah Grup Wijaya, konglomerasi bisnis terbesar di negeri ini.

Atas pesan terakhir mendiang ayahnya, Arka sengaja menyembunyikan identitasnya selama dua tahun untuk merasakan getirnya kehidupan rakyat kecil dan memahami dunia dari bawah, sebelum memegang kendali penuh. Di siang hari ia mengurus berkas-berkas kantor, namun di malam hari, dari kamar apartemen sempitnya, ia mengendalikan kerajaan bisnisnya dan mengawasi gerak-gerik orang-orang yang berniat jahat merugikan perusahaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sulaiman1927, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

warisandarah

Beberapa hari setelah konferensi pers yang mengguncang itu, suasana di kantor pusat Grup Wijaya mulai terasa kembali tenang, namun ada ketegangan halus yang mengudara. Arka merasa ada sesuatu yang salah, sesuatu yang lebih besar dan lebih gelap sedang bergerak di balik layar. Meskipun tuduhan-tuduhan resmi dari pemerintah mulai ditarik kembali karena terbukti tidak berdasar, Arka tahu Pak Surya dan kelompoknya tidak akan menyerah begitu saja. Ancaman yang mereka kirimkan kemarin hanyalah permulaan.

Pagi itu, saat Arka sedang meninjau laporan kemajuan proyek pemulihan sejarah di daerah pinggiran kota, seorang staf keamanan masuk dengan wajah bingung dan sedikit cemas.

"Maaf mengganggu, Tuan Arka. Ada tamu yang ingin bertemu dengan Anda," lapornya pelan. "Dia tidak mau memberi nama. Dia bilang dia adalah kerabat jauh keluarga Anda, dan dia membawa pesan penting yang hanya boleh disampaikan langsung kepada Anda."

Arka mengerutkan kening. Kerabat jauh? Sejauh yang dia tahu, silsilah keluarganya sudah sangat jelas. Kakeknya hanya memiliki satu anak, ayahnya, dan ayahnya hanya memiliki dia. Tidak ada kerabat lain yang tercatat, apalagi yang dekat. Selama ini, semua keluarga besar yang pernah ada sudah meninggal atau putus hubungan sejak zaman kakeknya.

"Dia tua? Muda? Bagaimana penampilannya?" tanya Arka waspada.

"Sudah sangat tua, Tuan. Tubuhnya bungkuk, rambut dan janggutnya putih semua, kulitnya keriput sekali. Tapi matanya... matanya sangat tajam dan kuat. Dia dibawa oleh dua orang asing yang berpakaian gelap, orang-orang Pak Surya sepertinya. Mereka menunggunya di lobi."

Jantung Arka berdegup kencang. Nama Pak Surya disebut lagi. Ini pasti jebakan. Namun rasa penasaran dan instingnya sebagai pewaris sejarah keluarga mendorongnya untuk bertemu. Jika ini ada hubungannya dengan masa lalu, dia harus tahu.

"Bawa dia ke ruang pertemuan khusus di lantai bawah. Jauh dari karyawan lain. Pastikan tidak ada orang asing lain yang bisa masuk. Dan awasi gerak-gerik orang-orang yang menunggunya," perintah Arka tegas.

Beberapa menit kemudian, Arka masuk ke ruangan pertemuan yang sederhana namun tertutup rapat. Di sana, duduk seorang lelaki tua yang sangat renta di kursi kayu. Pakaiannya sederhana dan lusuh, namun bahannya sangat mahal dan kuno. Saat Arka masuk, lelaki tua itu mengangkat wajahnya perlahan.

Arka tertegun. Wajah itu... wajah itu sangat dikenalnya. Garis rahang, bentuk mata, lengkung alis... persis seperti wajah di foto-foto lama kakeknya, bahkan lebih mirip lagi dengan wajah ayahnya. Ada kemiripan yang sangat kuat, seolah lelaki tua ini adalah saudara kembar dari kakeknya, atau mungkin ayahnya.

"Kau tumbuh menjadi pemuda yang gagah, Arka," suara lelaki tua itu parau, berat, namun berwibawa. Suara yang terdengar seperti suara angin yang berhembus melewati gua-gua tua. "Persis seperti ayahmu. Dan persis seperti aku, saat aku masih muda."

Arka berdiri diam di dekat pintu, tangannya mengepal erat. "Siapa Anda? Dari mana Anda tahu nama saya? Dan apa hubungan Anda dengan keluarga saya?"

Lelaki tua itu tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. Ia menunjuk kursi di seberangnya. "Duduklah, cucuku. Sudah lama sekali aku menunggu momen ini. Sudah lama sekali aku menunggu saat di mana keturunan Wijaya terakhir yang berani jujur dan berani mengubah nasib akhirnya muncul. Kau tahu, kakekmu... dia pengecut. Dia takut pada kebenaran. Dia takut pada kekuatan yang dia miliki. Dia lebih memilih menyembunyikan segalanya dan hidup dalam kepalsuan."

Arka perlahan duduk, matanya tidak lepas dari wajah lelaki tua itu. "Anda belum menjawab pertanyaanku. Siapa Anda?"

Lelaki tua itu menarik napas panjang, lalu berbicara dengan nada yang berat dan penuh beban sejarah. "Namaku Baskara Wijaya. Aku adalah ayah dari kakekmu. Aku adalah pendiri pertama kerajaan bisnis ini, jauh sebelum kakekmu mengambil alih dan mengubah segalanya menjadi kejahatan dan darah."

Darah Arka terasa berhenti mengalir. Ayah dari kakeknya? Itu berarti lelaki ini adalah kakek buyutnya. Orang yang menurut semua catatan sejarah, dokumen keluarga, dan cerita orang tua, sudah meninggal dunia lebih dari 70 tahun yang lalu, saat kakeknya masih kecil.

"Itu tidak mungkin," bisik Arka tak percaya. "Semua orang bilang Anda meninggal saat kakekku berumur lima tahun. Makam Anda ada di pemakaman keluarga."

"Makam kosong," jawab Baskara dingin. "Kakekmu dan orang-orang kepercayaannya yang mengurus semuanya. Mereka menyebarkan berita kematianku, membuat makam palsu, dan menghapus namaku dari sejarah. Kenapa? Karena aku menolak melakukan apa yang mereka inginkan. Aku membangun kekayaan ini dengan kerja keras, kecerdasan, dan perdagangan yang jujur. Aku membuat perjanjian dengan roh tanah bukan untuk mengorbankan nyawa manusia, tapi untuk menjaga keseimbangan, untuk saling menguntungkan. Tapi kakekmu... dia serakah. Dia ingin lebih. Dia ingin kekayaan yang tak terbatas, kekuasaan mutlak, dan umur panjang. Dia mengubah perjanjian itu menjadi perjanjian darah. Dia mengusirku, mengurungku, dan membiarkanku hidup dalam kegelapan selama puluhan tahun, hanya agar dia bisa bebas berbuat kejahatan atas namaku."

Air mata mulai menetes di pipi keriput Baskara, namun matanya tetap tajam dan penuh amarah.

"Aku melihat semuanya, Arka. Aku melihat bagaimana kakekmu menghancurkan apa yang aku bangun. Aku melihat bagaimana dia membunuh, menindas, dan mengorbankan banyak nyawa demi kekayaan. Aku melihat bagaimana ayahmu berusaha memperbaikinya tapi terlalu takut dan lemah. Dan sekarang... aku melihatmu. Kau melakukan hal yang sama seperti aku dulu. Kau berani membongkar kejahatan, kau berani meminta maaf, kau berani mengembalikan hak rakyat. Kau berani memutus rantai darah yang dibangun kakekmu."

Arka terguncang hebat. Segala sesuatu yang dia ketahui tentang sejarah keluarganya ternyata salah. Semua cerita tentang kakeknya yang mulia ternyata kebohongan. Di balik itu ada lelaki tua ini, Baskara, yang menjadi korban pengkhianatan anaknya sendiri, dikurung hidup-hidup, dan melihat warisannya dirusak dan dicemari selama tujuh puluh tahun.

"Tapi kenapa baru sekarang Anda muncul?" tanya Arka dengan suara bergetar. "Kenapa Anda tidak datang saat ayahku masih hidup? Kenapa Anda membiarkan semua ini berlangsung begitu lama?"

"Karena aku tidak punya kekuasaan, Arka," jawab Baskara sedih. "Kakekmu mengurungku di tempat yang tidak ada orang yang tahu. Dia mengawasiku terus-menerus. Hanya setelah kakekmu meninggal, aku sedikit lebih bebas, tapi aku masih diawasi oleh orang-orang kepercayaannya, termasuk Pak Surya. Ya... Pak Surya adalah murid kesayangan kakekmu. Dia tahu segalanya. Dia tahu aku masih hidup. Dia menjagaku bukan karena setia, tapi karena dia tahu aku menyimpan rahasia terbesar yang bisa menghancurkan nama Wijaya selamanya jika terungkap. Dan sekarang... saat kau mulai mengganggu bisnis mereka, saat kau mulai merusak kekuasaan mereka... mereka menggunakanku sebagai senjata terakhir."

Baskara mengeluarkan selembar kertas tua dari saku baju lusuhnya dan meletakkannya di meja.

"Mereka menyuruhku datang ke sini, menyuruhku berbicara padamu, dan menyuruhku memberikan bukti-bukti ini ke media massa jika kau tidak mau berhenti. Di sini tertulis semua hal buruk yang pernah dilakukan kakekmu, semua kejahatan, semua pembunuhan, semua ritual jahat. Tapi ada satu hal lagi... hal yang paling mengerikan, yang bahkan aku sendiri tidak berani mengungkapkannya sampai sekarang."

Baskara mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya berubah menjadi bisikan serak yang menakutkan.

"Kakekmu tidak hanya mengubah perjanjian menjadi perjanjian darah, Arka. Dia juga melakukan hal yang lebih mengerikan. Dia menukar jiwa keluarganya. Dia berjanji bahwa setiap anak laki-laki dari keturunan Wijaya akan menjadi 'makanan' bagi roh-roh penjaga itu setelah mereka berusia 30 tahun, sebagai bayaran atas kekayaan yang tak habis-habisnya. Ayahmu meninggal muda tepat saat usianya menginjak 30 tahun. Dan kau... kau sekarang berusia 29 tahun, Arka. Satu tahun lagi... dan kau akan menjadi korban berikutnya."

Arka merasa seolah tanah bergerak di bawah kakinya. Ingatannya melayang kembali ke kematian ayahnya yang mendadak dan misterius, yang selalu dikatakan sebagai serangan jantung. Ingatannya kembali pada pesan-pesan peringatan, teror, dan ancaman yang selalu berulang. Semuanya masuk akal sekarang.

"Pak Surya dan kawan-kawannya tahu tentang ini," lanjut Baskara. "Mereka membiarkanmu hidup sampai sekarang karena mereka ingin kau bekerja keras, memperbesar kekayaan, dan menikmati hasilnya sebelum waktumu habis. Tapi sekarang, karena kau memberontak... mereka mengancam akan mempercepat proses itu. Mereka mengancam akan membuka rahasia ini ke publik, membuatmu dibenci dan dikutuk oleh seluruh rakyat, dan membiarkan roh-roh itu datang mengambil nyawamu lebih cepat dari jadwal."

Baskara menatap Arka dengan pandangan sedih namun penuh harap.

"Aku datang ke sini bukan untuk mengancammu seperti perintah mereka. Aku datang karena aku melihat kebaikan di hatimu, Arka. Kau adalah satu-satunya harapan untuk mengakhiri kutukan ini selamanya. Kau tidak hanya harus melawan manusia jahat, kau tidak hanya harus menebus dosa masa lalu... kau juga harus menyelamatkan nyawamu sendiri, nyawa anakmu, dan masa depan keturunan Wijaya agar tidak lagi menjadi tumbal perjanjian jahat itu."

Arka memegang kertas tua itu dengan tangan gemetar. Beban yang dipikul pundaknya kini menjadi seribu kali lebih berat. Dia bukan lagi sekadar CEO yang berjuang menegakkan kebenaran. Dia adalah pewaris kutukan mematikan yang sudah berlangsung hampir satu abad. Dan dia hanya punya waktu satu tahun, atau mungkin kurang, untuk menyelesaikan segalanya.

"Apa yang harus aku lakukan, Kakek Buyut?" tanya Arka dengan suara rendah namun penuh tekad. "Katakan padaku. Aku akan melakukan apa saja, meski aku harus bertarung melawan seluruh dunia dan kekuatan gaib sekalipun."

Baskara tersenyum tipis, senyum lega melihat keberanian itu.

"Kau harus pergi ke tempat di mana semuanya dimulai. Tempat di mana kakekmu melakukan ritual penukaran jiwa itu. Tempat yang tersembunyi, yang hanya diketahui oleh ketua klan Wijaya dan penerusnya. Tempat itu ada di bawah tanah, di lokasi proyek Wijaya Karya yang dulu kau bersihkan. Di sana ada ruangan rahasia. Di sana ada altar hitam. Di sana kau harus membatalkan sumpah itu dengan cara yang benar, dengan darahmu sendiri, dengan keberanianmu sendiri, dan dengan pengorbanan yang tulus. Tapi ingat... jalan itu penuh bahaya. Tidak hanya dari manusia, tapi juga dari kekuatan gelap yang sudah menguasai tempat itu selama puluhan tahun. Dan Pak Surya... dia pasti akan ada di sana, menunggu untuk membunuhmu atau mengorbankanmu secara resmi."

Arka berdiri tegak, menyimpan kertas itu dengan aman di saku dalam jasnya. Dia menatap Baskara dengan pandangan yang tidak lagi ragu atau takut.

"Terima kasih, Kakek. Terima kasih sudah bertahan hidup dan datang memberitahuku. Aku akan pergi ke sana. Aku akan mengakhiri semuanya. Aku akan membebaskan kita semua, baik yang hidup maupun yang sudah tiada. Dan aku akan pastikan bahwa tidak ada lagi nama Wijaya yang harus mati sia-sia demi kekayaan."

Saat Arka berjalan keluar ruangan, dia tahu perang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan kali ini, taruhannya bukan hanya uang atau jabatan, tapi nyawanya sendiri dan masa depan keluarganya.

1
Rian Moontero
mampiiirrr😍
Sulaiman1927: siap laksanakan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!