Kayla hancur saat tunangannya, Damar, ketahuan selingkuh dan menghina dirinya sebagai wanita “mandul”. Dikhianati keluarga sendiri, ia kabur dalam keadaan terluka hingga tanpa sadar menghabiskan malam dengan seorang pria asing di hotel. Tanpa ia ketahui, pria itu adalah Adrian, CEO dingin dan berkuasa yang kemudian menjadi atasan barunya di hotel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
Hotel Perdana sore itu tampak jauh lebih sibuk dibandingkan biasanya. Beberapa teknisi hilir mudik membawa tangga lipat, gulungan kabel, serta kotak-kotak berisi kamera pengawas baru. Suara bor dan ketukan palu terdengar hampir di setiap sudut hotel, membuat seluruh karyawan bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Kali ini Aldo, sekretaris sekaligus tangan kanan Presiden Direktur Adrian Wijaya, turun langsung mengawasi seluruh pekerjaan. Ia berdiri sambil membawa denah hotel, sesekali menunjuk titik tertentu agar kamera dipasang sesuai arah yang diinginkan.
"Pak, sebenarnya kita sedang mempersiapkan kedatangan tamu penting, ya?" tanya Ledi, salah seorang direktur operasional yang sejak tadi ikut mendampingi.
Aldo hanya menganggukkan kepala pelan.
"Anggap saja begitu. Mulai sekarang, seluruh area hotel harus benar-benar aman. Jangan ada satu pun sudut yang luput dari pengawasan."
"Baik, Pak."
Setelah memastikan pemasangan CCTV berjalan sesuai rencana, Aldo kembali berjalan menyusuri lorong hotel. Ia berhenti di beberapa titik yang setiap hari dilalui Kayla menuju ruang kerjanya.
"Karpet di sini diganti."
Seorang teknisi segera menghampiri.
"Dengan yang seperti apa, Pak?"
"Gunakan karpet antiselip kualitas terbaik. Pastikan tidak ada bagian yang bergelombang ataupun mudah terlipat."
"Siap, Pak."
Tak lama kemudian, beberapa petugas langsung menggulung karpet lama dan menggantinya dengan karpet antiselip baru. Bahkan di dekat tangga dan pintu masuk dipasang rambu peringatan lantai licin yang lebih besar daripada sebelumnya.
Belum selesai sampai di situ, Aldo kembali memanggil kepala bagian fasilitas.
"Semua kursi kerja karyawan diganti bantalannya. Gunakan bantalan ergonomis supaya lebih nyaman."
"Baik, Pak."
Beberapa staf langsung membawa puluhan bantalan baru ke setiap ruangan. Seluruh kursi karyawan mendapatkan bantalan yang sama agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Namun, ketika tiba di meja kerja Kayla, Aldo menghentikan langkah mereka.
"Biar yang ini saya sendiri."
Para staf saling berpandangan heran, tetapi tidak ada yang berani bertanya.
Aldo mengeluarkan sebuah bantalan berwarna merah muda dengan motif Hello Kitty. Di salah satu sudutnya terbordir tulisan Kayla Permana menggunakan benang emas yang tampak elegan. Bantalan itu terbuat dari bahan memory foam premium sehingga jauh lebih empuk dibandingkan bantalan milik karyawan lainnya.
Aldo meletakkannya perlahan di atas kursi Kayla. Setelah memastikan posisinya rapi, ia menganggukkan kepala kecil.
"Beruntung sekali Anda, Nyonya," gumamnya dalam hati. "Tuan bahkan belum mengakui hubungan ini, tetapi perhatian beliau sudah sedetail ini. Kalau nanti semuanya terungkap, Anda akan menjadi istri orang paling berkuasa di kota ini."
Pekerjaan baru benar-benar selesai menjelang tengah malam. Setelah memeriksa ulang setiap kamera pengawas, setiap karpet, hingga jalur evakuasi hotel, Aldo akhirnya mengembuskan napas lega.
"Besok seharusnya sudah aman," gumamnya pelan.
Keesokan paginya Kayla datang seperti biasa. Bar beberapa langkah memasuki ruang kerja, ia langsung menyadari begitu banyak perubahan di dalam hotel.
Lorong terlihat lebih terang. Kamera pengawas bertambah di hampir setiap sudut. Karpet yang biasa dilewatinya juga tampak baru.
Saat duduk di mejanya, ia kembali terkejut.
"Eh?"
Di atas kursinya sudah terpasang sebuah bantalan empuk berwarna merah muda dengan gambar Hello Kitty. Bahkan terdapat bordiran kecil bertuliskan namanya.
"Kayla, kok punyamu lucu begitu?" tanya Lisa sambil tersenyum lebar.
Kayla hanya mengangkat bahu. Pikirannya sedang dipenuhi hal lain. Sejak mengetahui dirinya hamil, yang ada di kepalanya hanya dua hal, yaitu menghindari Adrian dan memantapkan tekad untuk mengakhiri kehamilan itu.
"Hei, ada kabar baru!" seru Mila tiba-tiba sambil berlari memasuki ruangan.
"Apa lagi?" tanya Mira penasaran.
"Bos besar menyediakan makan siang spesial buat semua karyawan. Katanya makanan itu langsung dipesan dari restoran bintang lima."
"Wah, serius?"
Suasana ruangan langsung menjadi ramai. Hampir semua orang tampak antusias mendengar kabar tersebut.
Di saat yang sama, Rina baru saja memasuki ruangan. Matanya langsung menyapu seluruh isi kantor. Ia sempat berhenti ketika melihat bantalan kursinya hanya berwarna putih polos.
Lalu pandangannya beralih kepada kursi Kayla.
Bantalan berwarna merah muda dengan motif Hello Kitty itu tampak jauh lebih menarik. Ditambah lagi ada bordiran nama Kayla Permana berwarna emas yang membuatnya terlihat begitu istimewa.
"Pasti ini karena kamu, Rin," ujar Mira sambil menghampiri Rina.
"Iya. Terima kasih, ya. Kamu pasti yang meminta Pak Adrian menyediakan semua fasilitas baru ini untuk kita," puji Mila dengan wajah penuh kekaguman.
Rina sebenarnya tidak mengetahui apa pun mengenai perubahan tersebut. Namun, melihat semua orang memujinya, ia langsung tersenyum lebar.
"Aku hanya sempat bilang kalau kesejahteraan karyawan juga harus diperhatikan. Mungkin Pak Adrian mengabulkan saranku."
"Wah... hebat sekali."
"Makanya bos besar perhatian sekali sama kita."
Rina semakin menikmati pujian itu. Ia sengaja melirik Kayla dengan senyum penuh kemenangan.
"Walaupun ada orang yang tidak tahu diri kepadaku, aku tetap memikirkan kesejahteraan semua karyawan."
Tatapan sinisnya jelas tertuju kepada Kayla.
Kayla hanya mengembuskan napas pelan. Ia sama sekali tidak berminat menanggapi ucapan Rina. Yang memenuhi pikirannya hanyalah hari Sabtu yang semakin dekat. Hari ketika ia berniat mengakhiri semua masalah yang sedang dihadapinya.
Tanpa sadar, telapak tangannya kembali menyentuh perutnya.
"Perhatian, semuanya."
Suara Aldo terdengar dari ambang pintu. Di belakangnya berdiri beberapa karyawan dapur yang mendorong troli berisi puluhan kotak makan siang.
"Mulai hari ini, seluruh karyawan akan mendapatkan makan siang dari Presiden Direktur sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras kalian."
"Wah... bos besar dermawan sekali!"
Seruan kagum langsung terdengar dari berbagai penjuru ruangan.
Satu per satu nama dipanggil untuk menerima kotak makanan.
"Benar-benar dari restoran bintang lima," gumam Mila kagum sambil membaca logo restoran yang tercetak pada kotak makanannya.
Semua kotak makanan berwarna hitam elegan. Namun, hanya ada satu kotak yang dihiasi pita emas.
"Rina Lesmana."
Rina segera maju dengan senyum lebar.
Aldo menyerahkan sebuah kotak makan hitam biasa kepadanya.
Tatapan Rina langsung tertuju pada kotak berpita emas yang masih berada di tangan Aldo.
"Pak Aldo... yang berpita itu untuk siapa?"
"Untuk seseorang yang istimewa."
Rina tersenyum yakin. Ia langsung menyodorkan kotak miliknya.
"Kalau begitu, sepertinya itu milik saya."
"Itu bukan untuk Anda."
Jawaban Aldo terdengar datar tanpa sedikit pun keraguan.
"Silakan kembali ke tempat."
Wajah Rina langsung berubah kaku. Dengan menahan malu, ia kembali ke mejanya sambil merasakan tatapan rekan-rekan kerjanya.
"Kayla Permana."
Kayla berjalan pelan ke depan.
Aldo hampir saja memanggilnya dengan sebutan Nyonya, tetapi berhasil menahan diri tepat waktu.
Ia kemudian menyerahkan kotak makan berpita emas itu kepada Kayla.
"Terima kasih, Pak Aldo," ucap Kayla pelan.
Aldo hanya menganggukkan kepala.
"Seharusnya seluruh hotel ini berterima kasih kepada Anda, Nyonya. Kalau bukan karena Anda dan kedua calon pewaris keluarga Wijaya, mana mungkin mereka ikut menikmati semua fasilitas ini,"batinnya.
"Wah, ternyata Kayla yang dapat kotak spesial!"
Lisa sengaja mengucapkannya dengan suara keras hingga seluruh ruangan mendengar.
Wajah Rina, Mila, dan Mira langsung memerah karena malu.
"Kay, kok laukmu lebih banyak daripada punyaku?" Lisa membuka kotak makanan Kayla dengan mata berbinar.