Kaelus Danurwenda terkejut ketika mendapati dirinya di pagi hari tanpa mengenakan pakaian. Dia mengumpat marah ketika mengingat kejadian tadi malam.
Kaelus mencari jejak si wanita namun nihil. Pencarian Kael berlangsung selama 4 tahun lamanya, tapi tak menghasilkan apapun.
Ketika harapannya pupus, dan hendak menerima perjodohan yang diatur orang tuanya, tiba-tiba seorang bocah dengan mata coklat kekuningan menabrak tubuhnya.
"Maap Om, Al nda senaja."
Debaran aneh memenuhi hati Kaelus Wajah bocah itu sangat tidak asing di matanya.
"Kamu ... ."
"Maaf Tuan, anak saya berlari tanpa arah. Permisi."
Melihat ibu dari anak itu, Kaelus samar-samar mengingat tentang wanita di malam yang salah itu.
Apa yang akan dilakukan Kaelus? Apa dia akan melanjutkan perjodohan yang diatur, atau malah mencari ibu dan anak tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ATSP 15
Akhir pekan tiba, namun bagi Rowan sama saja dengan hari-hari biasa. Karena mulutnya yang tak bisa dijaga utu, Rowan akhirnya mendapat hukuman dari Kael untuk mengerjakan semua pekerjaan dan menyelesaikannya pekan ini juga. Alhasil, ketika akhir pekan pun dia harus masuk untuk bekerja.
"Bos kejaaaaaam!!!" teriaknya marah.
Drtzzzz
Eh?
Rowan melihat ponselnya yang berdering. Dia tampak terkejut dengan siapa yang menghubunginya.
"Buset, ini bos punya indra keenam apa ya, kok dia tahu kalau aku lagi ngumpatin dia," ucap Rowan asal.
Tak ingin membuat sang atasan menunggu dalam waktu yang lama, Rowan pun langsung mengangkat panggilan dari Kael tersebut.
"Yap Bos, aya naon?"
"Kemar cepat, nggak pake lama."
Tuuuuut
Panggilan yang singkat itu hanya berisi sebuah perintah. Rasa kesal Rowan semakin meningkat, namun dia kemudian tersenyum. Pasalnya dirinya tak harus berkutat seharian dengan tumpukan pekerjaan di akhir pekan ini.
Dengan semangat membara, pria berusia 30 tahun yang masih single itu bergegas menuju ke tempat sang tuan berada. Benar-benar tak membutuhkan waktu lama sampai Rowan berada di depan sosok Kael sekarang ini.
"Ada apa, Bos?" tanya Rowan langsung. Dia tak perlu berbasa-basi dengan atasannya itu karena sudah pasti akan ada perintah yang mengikuti di belakang jika ada panggilan seperti ini.
"Ikut aku, pake baju tebal punya ku aja. Nggak usah banyak tanya, ikut aja,"ucap Kael sebelum Rowan membuka mulutnya.
Terang saja Rowan langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Dia berlari ke kamar Kael, mengambil jaket tebal lalu kembali berdiri di sisi sang tuan.
"Kamu jadi pergi sama Iras? Mau bawa Rowan juga?" tanya Griz.
Aaaah
Kini Rowan paham mengapa dirinya dipanggil, ternyata karena sang tuan hendak pergi dengan wanita yang katanya tengah dekat ini.
Sebenarnya Rowan sedikit bertanya-tanya, mengapa Kael mau mengikut keinginan ibunya untuk dekat dengan Iras. Padahal jelas-jelas Kael masih memikirkan wanita yang bernama Rosalina itu.
Namun meski memiliki banyak pertanyaan, Rowan tak mengungkapkannya. Dia merasa bahwa perubahan Kael yang mau dekat dengan wanita, adalah hal yang bagus. Setidaknya Kael tidak terkungkung dengan pikirannya tentang wanita tak kasat mata tersebut.
Ya bag Rowan, Rosalina adalah wanita yang tak kasat mata. Pasalnya mau sekeras apa dicari, wanita itu sama sekali tidak bisa ditemukan. Maka dari itu Rowan bahkan menganggap Rosalina itu ghaib.
"Iya Mam, aku bawa Rowan. Nggak ngerti kenapa, tapi aku emang harus bawa Rowan. Buat jaga-jaga," jawab Kael.
"Ya udah kalau gitu, hat-hati."
Padahal Griz sudah senang. Dia merasa akhirnya Kael mau buka hatinya terhadap Iras. Namun dengan Kael membawa Rowan, maka dugaan Griz jelas salah besar. Kael sama sekali belum membuka hati itu wanita itu.
Griz jadi semakin sadar bahwa apa yang Kael lakukan selama ini hanya sekedar mengikuti keinginannya.
Ada rasa yang tidak nyaman dalam hati Griz tentang hal tersebut. Tapi setidaknya Griz tidak terlalu merasa bersalah karena dia tak lagi mendorong Kael kepada Iras. Ketika Griz berkata kepada Iras agar wanita itu berusaha sendiri mendekati Kael, pada saat tu juga Griz tak mau memaksa Kael untuk dekat dengan Iras. Dia tak lagi menyuruh-nyuruh Kael pergi berdua dengan Iras.
"Semoga kamu membawa hal baik setelah pertemuan mu dengan Iras kali ini, Kael,"ucap Griz lirih.
Kael dan Rowan pun pergi setelah berpamitan. Rowan tetap bertindak sebagai sopir saat bepergian bersama sang atasan. Namun bagi Rowan itu tidak masalah karena setidaknya dia tidak harus berkutat dengan pekerjaannya yang menggunung itu.
"Jadi Bos, apa sudah manteb sama pilihan kali ini?"
"Jangan ngomong sembarangan. Aku sama sekali nggak ada keinginan menjalin sebuah hubungan sama wanita itu."
Kael menjawab dengan mata tertutup. Rowan bisa merasakan bahwa tuannya ini memang enggan.
"Lantas, kenapa nemuin dengan effort ngajak aku gini?"
"Aku males ketemu dia sendri. Nggak tahu kenapa aku punya feeling nggak enak soal pertemuan kali ini."
Degh!
Rowan merasa sedikit aneh dengan jawaban dari Kael. Biasanya jika feeling sang bos tidak baik, maka dia tidak akan melakukannya. Akan tetapi kali ini Kael tetap melakukan sesuatu meski sudah memilik firasat yang buruk.
"Kenapa?" kali ini pun Rowan tidak sabar untuk bertanya.
"Entahlah, aku juga nggak ngerti,"jawab Kael asal.
Sungguh, Rowan selalu dibuat bingung dengan tindakan Kael. Menjadi asisten pribadinya sudah bertahun-tahun, tapi Rowan tetap saja tidak mengerti tentang sang atasan.
Sedangkan Kael, dia pun merasa tidak mengerti dengan dirinya sendiri kali ini. Tak pernah sebelumnya ia melakukan sesuatu jika ragu. Tapi kali ini dia tetep melakukannya meski pikirannya berkecamuk tidak karuan.
Mobil terus melaku. Kael dan Iras memang tidak berjanji akan pergi bersama. Iras berkata bahwa lebih baik mereka bertemu di tempat tujuan saja. Bagi Kael tentu itu tidak masalah dan malah menyenangkan.
Ternyata niat hati Kael yang awalnya hendak menerima kedekatan Iras terhadap dirinya tak sepenuhnya bisa ia terima. Ternyata dalam dirinya masih sulit untuk menerima keberadaan Iras di sisinya.
"Mungkin nanti akan berbeda. Mungkin setelah ini aku bisa membuka pikiran ku bahwa nggak ada salahnya memulai sebuah hubungan."
Kael bicara dalma hatinya, dia mencoba untuk berpikiran positif tentang pertemuannya kali ini. Namun sebenarnya dengan membawa Rowan bersamanya sudah membuktikan bahwa dirinya ragu akan pertemuannya dengan Iras. Ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya dimana tak bisa dijelaskan secara mendetail.
Mobil telah sampai di tempat tujuan. Tak membutuhkan waktu lama, hanya satu jam setengah saja dan beruntung jalanan masih belum macet mengingat ini adalah akhir pekan.
Udara dingin langsung terasa ketika mereka keluar dari mobil. Rowan merasa beruntung, karena tadi mengambil jaket milik sang bos yang lebih lumayan tebal ketimbang yang dilihatnya.
"Kak Kael!"
Suara teriakan seorang wanita yang memanggil nama Kael langsung bisa diketahui identitasnya. Siapa lagu kalau bukan Iras. Wajahnya nampak begitu riang, tapi tetap saja ekspresi tidak suka Iras ketika melihat Rowan sudah tertangkap oleh mata Kael. Dan wanita itu benar-benar pandai menyembunyikan reaksi tidak sukanya.
"Udah datang ya, ayok kita jalan-jalan," Ajak Iras. Wanita itu menggamit lengan Kael tanpa ragu. Kael sendiri juga diam saja dan mengikuti Iras yang berjalan.
Tapi Rowan, entah mengapa dia tidak suka melihat Iras. Selama ini dia hanya mendengar cerita saja tentang hubungan Kael dan Iras. Saat melihat langsung wanita itu, Rowan sungguh merasa tak suka.
Meski demikian, Rowan teta berjalan mengikuti mereka. Dibawanya dia ke tempat ini oleh Kael, pasti untuk tetap berada di sisi sang tuan.
"Sial, dia ngikutin terus. Kalau kayak gini, bakalan susah pasti buat ngejalanin rencanaku. Kenapa juga sih Kael harus bawa asprinya. Kan jadi susah," gerutu Iras sepanjang jalan.
TBC
n faham
semangat n sehat sehat author🩷🩷
teman nya si kael gk d kasih pelajaran,,karna dia mereka jd sengsara