Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 - Mode Baru Kamera Tua
Adnan berdiri mematung beberapa meter dari Liza dan Fajar. Keramaian di sekitar lokasi kebakaran masih terus berlangsung. Polisi memasang garis pembatas tambahan. Petugas forensik sibuk mendokumentasikan lokasi. Warga berkerumun sambil berbisik-bisik membicarakan musibah yang baru saja terjadi.
Namun semua suara itu perlahan terasa menjauh bagi Adnan. Pikirannya kosong. Matanya masih tertuju pada dua tandu yang terbaring tidak jauh dari sana.
"Mas Wildan..." gumamnya lirih.
Sulit menerima kenyataan bahwa beberapa jam lalu semuanya masih normal. Pagi tadi dia masih melihat majikannya tersenyum. Kini kemungkinan besar pria itu telah menjadi salah satu korban.
Adnan menghela napas panjang. Saat itulah pandangannya tanpa sengaja tertuju ke arah mobil. Pintu mobil masih terbuka sedikit. Di atas dashboard, terletak sebuah benda yang sangat dia kenal.
Kamera tua itu. Kamera misterius yang beberapa kali menunjukkan kemampuan aneh. Awalnya Adnan tidak terlalu memikirkannya.
Namun sesuatu membuatnya mengernyit. Ada cahaya merah kecil yang berkedip-kedip pada bagian samping kamera. "Kok nyala?" gumamnya.
Padahal sebelumnya lampu itu tidak pernah menyala seperti sekarang. Rasa penasaran langsung muncul.
Adnan berjalan menuju mobil. Ia membuka pintu dan mengambil kamera tersebut. Benda itu terasa hangat di tangannya. Lampu merah kecil itu masih terus berkedip perlahan.
"Ada apa lagi sekarang?"
Karena penasaran, Adnan menyalakan kamera. Layar kecilnya langsung menyala. Tidak ada yang aneh. Sama seperti biasanya. Namun entah mengapa, Adnan merasa kamera itu seolah memintanya merekam sesuatu. Perasaan itu begitu kuat. Akhirnya dia mengangkat kamera dan mulai merekam keadaan sekitar.
Layar memperlihatkan puing-puing rumah yang hangus. Mobil pemadam. Petugas polisi. Warga yang berkerumun. Semuanya terlihat normal. Sampai akhirnya lensa kamera mengarah ke dua jenazah yang sudah ditutup kain. Saat itulah sesuatu yang tidak masuk akal terjadi.
Adnan membeku. Di layar kamera muncul tulisan-tulisan samar berwarna merah. Awalnya dia mengira matanya yang bermasalah. Namun tulisan itu semakin jelas.
Korban 1: Budi Santoso. Usia 52 tahun. Pekerjaan: Tukang Kebun.
Korban 2: Surti. Usia 47 tahun. Pekerjaan: Pembantu Rumah Tangga.
"Apa?!" Adnan hampir menjatuhkan kameranya. Ia menatap layar itu lekat-lekat. Tulisan tersebut masih ada. Bahkan semakin jelas. Jantungnya langsung berdegup kencang.
"Tidak mungkin..."
Ia mengarahkan kamera ke tempat lain. Tulisan itu menghilang. Saat kembali mengarahkannya ke kedua jenazah, informasi yang sama muncul lagi.
Adnan mengenal kedua nama itu. Mereka memang bekerja di rumah keluarga Narendra. Pak Budi adalah tukang kebun. Sedangkan Bi Surti sudah bertahun-tahun menjadi pembantu rumah tangga.
"Nggak mungkin..." bisiknya. Kalau informasi ini benar, maka dua jenazah itu bukan Wildan dan Glenda. Artinya mereka masih hidup.
Mata Adnan langsung membelalak. Tanpa berpikir panjang, sia berlari menghampiri Liza dan Fajar.
"LIZA!"
Liza menoleh dengan mata sembab. "Apa lagi, Ad?"
"Mereka masih hidup!"
"Hah?"
"Papamu sama mamamu masih hidup!"
Liza langsung berdiri. Wajahnya penuh kebingungan. "Apa?"
Fajar juga mengangkat kepalanya. "Kakak nggak salah dengar?"
"Mereka hidup!" ulang Adnan.
Liza mengernyit. "Ad... kamu ngomong apa sih?"
"Dua jenazah itu bukan Nas Wildan dan Mbak Glenda."
Seketika suasana berubah. Liza dan Fajar saling berpandangan. Harapan yang hampir padam mendadak muncul kembali. Namun bersamaan dengan itu muncul kebingungan besar.
"Bagaimana kamu tahu?" tanya Liza.
Adnan langsung terdiam. "Tadi..."
Ia hampir saja mengatakan tentang kamera ajaib itu. Namun segera mengurungkan niatnya. Tidak mungkin dia menjelaskan semuanya sekarang. Apalagi di tengah situasi seperti ini.
"Aku cuma... yakin saja."
Liza langsung melotot. "Yakin dari mana?!"
"Iya, Kak Ad!" timpal Fajar. "Itu kan mayat hangus!"
"Kamu bahkan nggak bisa lihat wajah mereka!" pungkas Liza.
Adnan menggaruk kepala. Penjelasannya memang terdengar tidak masuk akal. "Aku cuma punya firasat."
"Firasat?" Liza nyaris meledak. "Orang tuaku mungkin meninggal dan kamu jawab pakai firasat?!"
"Tapi aku yakin."
"Kenapa?"
"Aku nggak tahu."
"ADNAN!"
Adnan langsung mundur satu langkah. Biasanya dia tidak takut menghadapi omelan Liza. Namun kali ini berbeda. Karena memang sulit menjelaskan alasan sebenarnya. Untungnya sebelum perdebatan itu berlanjut, sebuah suara terdengar.
Semua terdiam. Ponsel milik Liza berbunyi. Liza menoleh. Tangannya yang gemetar perlahan mengambil ponsel dari saku. Matanya membesar. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Karena nama papa yang muncul di layar membuat seluruh tubuhnya membeku.
Liza sampai tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "P-Papa..."
Suaranya bergetar. Fajar langsung mendekat. "Itu Papa?!"
Liza mengangguk pelan. Air mata kembali mengalir di pipinya. Namun kali ini bukan karena kesedihan. Dengan tangan gemetar dia mengangkat panggilan tersebut.
"Halo?"
Terdengar suara yang sangat familiar dari seberang sana. "Liza! Astaga, akhirnya kamu angkat!"
Tubuh Liza langsung lemas. Itu benar-benar suara Wildan.
"Papa!"
Tangisnya langsung pecah.
Fajar ikut menangis di sampingnya. "Papa! Papa di mana?!"
"Kamu nggak apa-apa kan?"
"Aku baik-baik saja! Papa sama Mama juga baik-baik saja!"
Kalimat itu membuat kaki Liza hampir kehilangan tenaga. Ia terduduk di aspal.
Fajar memeluknya sambil ikut menangis. "Papa masih hidup..." isaknya.
Wildan terdengar kebingungan dari seberang. "Ada apa sebenarnya? Kenapa rumah kita kebakaran?"
Liza menangis semakin keras. Sampai sulit menjawab. Akhirnya Fajar mengambil ponsel itu.
"Papa! Rumah kita habis terbakar!"
"Apa?!"
"Benar, Pa!"
Terdengar suara Glenda dari kejauhan. "Ada apa? Apa kata anak-anak?"
Wildan tampaknya menjelaskan sesuatu. Lalu suara Glenda terdengar panik.
"Kami segera ke sana!"
Panggilan berakhir beberapa menit kemudian. Liza masih terduduk di jalan. Air matanya tidak berhenti mengalir. Perasaan yang sejak tadi menghancurkan dirinya perlahan berubah menjadi harapan.
Tak jauh dari sana, Adnan mengembuskan napas panjang. Dadanya terasa jauh lebih ringan. Ia melirik kamera tua yang masih Berada dalam genggamannya. Lampu merah kecil itu kini sudah mati. Seolah tidak pernah menyala sebelumnya.
Adnan menatap benda itu beberapa detik. Lalu menelannya dalam-dalam. Untuk kesekian kalinya, kamera tua tersebut menunjukkan sesuatu yang mustahil.
'Tunggu dulu, yang tadi kameranya dalam mode apa?' batin Adnan sembari mengamati kameranya untuk yang kesekian kali.