NovelToon NovelToon
Saat Asa Berkahir Duka

Saat Asa Berkahir Duka

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:155
Nilai: 5
Nama Author: TastyTeaTime Time

Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8

"Kaivandra ..."

"Iya, maaf."

"Berapa kali Valeska masuk rumah sakit? Papa sudah kirim uang supaya kalian baik-baik saja."

Kaivandra terdiam, jemarinya sepat memainkan ujung jaketnya sebelum menjawab pertanyaan dari sang papa.

"Ini di luar kuasa kita sebagai manusia, Pa."

"Kalau kamu nggak bisa urus Valeska, biar Papa saja." Kaivandra tertawa, lalu melanjutkan ucapannya. "Urus? Coba saja kalau Papa bisa. Pulang saja jarang!"

"Kai, sampai kapan kamu mau menghindar seperti ini? Papa kerja buat kalian."

"Papa ... ah, sudahlah! Abang juga punya urusan lain."

***

Pukul 08:00 pagi, seorang perawat sudah menyarankan agar pasien segera bersiap-siap karena hari ini akan dilakukan beberapa pemeriksaan. Seperti, CT-Scan, dan Pet-Scan. Sedangkan untuk pemeriksaan Biopsi, dan tes darah akan dilanjutkan di hari berikutnya, agar tubuh Valeska tidak merasa terbebani. Gadis itu meneguk Saliva nya susah payah, karena dia merasa jika sudah melakukan serangkaian pemeriksaan yang sudah dijelaskan, artinya kondisi dirinya sedang tidak baik-baik saja. Jauh dari kata sehat.

Dan akhirnya, Kaivandra berada di sini. Di rumah sakit yang tidak banyak mewujudkan harapan pasien. Dengan gerak lambat, dia membuka pintu ruangan dokter bedah saraf dan mendudukkan dirinya di kursi yang tersedia. Ruangan bernuansa putih dan abu, membuat Kaivandra takut.

"Langsung saja ya," ucap dokter, Fahru.

Kaivandra hanya mengangguk dan tersenyum kecil.

"Valeska Delina Putri, apa benar itu adik kamu?"

"Benar dok,"

"Sebelum pemeriksaan dilakukan, saya ingin menyampaikan beberapa hal. Untuk melakukan MRI, rasanya pasien atas nama Valeska tidak akan sanggup, karena dia akan dimasukkan ke dalam sebuah tabung sempit yang memicu rasa takut, dan mungkin saja dia akan tremor membuat hasil buram."

"Jadi, saya akan mengambil langkah awal dengan CT-Scan, yang akan menggunakan kontras, dan menghabiskan lima atau sepuluh menit. Paham?" tanya dokter Fahru.

"Paham dok," jawab Kaivandra.

Dokter itu pun menghela napas sejenak sebelum melanjutkan penjelasannya. "Setelah itu, saya berikan jeda untuk istirahat dan kembali puasa selama enam jam karena akan dilakukan pemeriksaan Pet-Scan. Dan itu memakan waktu kisaran enam puluh menit, sudah termasuk Tracer dan pemindaian. Sampai sini, apakah ada yang ditanyakan?"

"Tidak, dok. Bisa dilanjut," jawabnya, pelan.

Sejujurnya, dia tidak begitu paham, tapi ya sudahlah. "Baik, karena kemarin dokter Rijal mendeteksi ada sebuah masalah yang mengganggu kesehatan pasien. Maka dari situ, saya akan melakukan Biopsi selama tiga puluh menit, dan diperlukan puasa. Setelahnya ada tes darah juga. Dua pemeriksaan ini akan dilakukan besok pagi, karena jika dilakukan sekarang, takutnya tubuh pasien tidak stabil."

"Dok ..." akhirnya Kaivandra mulai bersuara sembari menatap dokter Fahru. Membuat sang dokter beranjak dari duduknya, lalu duduk di samping pemuda yang baru menginjak 21 tahun.

"Tidak apa, saya akan membantu semuanya." Ujarnya, dia menatap dalam kedua netra Kaivandra sebelum akhirnya mengelus lembut bagian rambut.

"Nggak ada yang perlu kita khawatirkan, yakini hati kamu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Serahkan semuanya pada Tuhan." Lanjutnya, membuat Kaivandra kembali tersenyum.

"Jadwal untuk besok dan seterusnya, sudah saya siapkan." Lagi dan lagi, Kaivandra hanya bisa mengangguk.

"Baik dok, terima kasih. Satu pertanyaan lagi, efek sampingnya ada nggak, dok?" tanya Kaivandra, polos.

"Pasti ada, tapi nanti kalau ada apa-apa bisa hubungi saya saja. Jangan pernah sungkan, oke?" Kaivandra membalas dengan anggukan.

Saat ini Valeska sedang terduduk di kursi roda, lebih tepatnya di depan ruangan CT-Scan. Sejak tadi, Valeska memegang tangan Kaivandra karena ada rasa takut yang tidak bisa di jelaskan.

Kaivandra duduk menghadap sang adik, selagi semua alat yang akan digunakan sedang dipersiapkan. Bagi keduanya, ini semua terasaabu-abu.

"Adek ..." panggil Kaivandra, sembari mengelus lembut rambut Valeska.

"Adek, nggak apa-apa, bang." Jawab Valeska, setelah menyadari ada kegelisahan yang tercetak jelas dalam wajah abangnya.

"Nggak apa-apa gimana, hari ini kamu harus CT-Scan dan Pet-Scan, dek."

"Bang ..." panggilnya setengah lirih.

"Pasien atas nama Valeska Delina Putri, silakan masuk." Panggilan dari seorang tenaga medis mengalihkan atensi keduanya. Valeska mengangguk sembari tersenyum ke arah petugas, dan memberikan isyarat kepada Kaivandra agar mengantarkannya sampai ke dalam.

"Maaf, abang nggak bisa masuk ke dalam,"

"Abang tunggu di sini ya, jangan kemana-mana, awas aja kalau ngilang. Adek takut bang ..."

Kaivandra berjongkok, lalu memeluk tubuh sang adik. "Cantiknya abang, pemberani."

Valeska sudah masuk ke dalam ruangan, menyisakan suasana tenang sedikit mencekam. Kaivandra duduk didepan ruangan dengan tatapan kosong, jari jemarinya sibuk memainkan ujung kemejanya. Dia berharap, dari pemeriksaan Ct-Scan dan Pet-Scan yang dilakukan secara berkala ini dapat memberi jawaban, tapi jujur saja dia menyimpan banyak ketakutan akan hasil yang segera terungkap.

Sementara di dalam ruangan, Valeska merasakan suhu dingin yang benar-benar menyayat kulit, cat putih, dans angat steril. Bau khas dari rumah sakit begitu jelas terasa di setiap embusan napas. Dua orang tenaga medis membantu Valeska agar berbaring di atas meja pemeriksaan. Tubuh Valeska gemetar, bukan hanya karena dingin, tapi juga karena perasaan cemas yang sudah merambat ke dalam pikirannya.

"Tenang ya, dek," ujar seseorang dengan suara lembut sembari mengatur posisi tubuh Valeska.

Mesin Ct-Scan mulai berdengung pelan, kemudian suara putaran mesin semakin jelas. Suaranya terdengar stabil, tapi terasa seperti menambah beban di dada, Valeska. Dia diminta menahan napas waktu yang terasa sangat panjang bagi Valeska seakan dalam satu embusan napas itu, sedang ditentukan ke depannya akan seperti apa.

"Baik, sudah boleh bernapas kembali," kata petugas, namun Valeska tetap merasa sulit menarik napas lega.

Setelah selesai, dia kembali berjalan keluar dan diantarkan oleh petugas sampai depan ruangan. Valeska bertemu kembali dengan abangnya, keduanya tidak banyak berbicara, hanya saling memandang satu sama lain.

Pukul 09:00, Valeska sudah selesai pemeriksaan Ct-Scan, dan sekarang harus menunggu lagi sekitar 7 jam sebelum menjalani Pet-Scan. Kurun waktu 7 jam, mungkin terdengar sebentar bagi sebagian orang, tapi bagi Valeska tidak. Tujuh jam itu lama, membuat pikirannya merambat ke berbagai kemungkinan yang akan terjadi ke depannya.

Apakah hasilnya akan baik? Atau justru malah sebaliknya? Valeska menundukkan kepalanya membuat Kaivandra khawatir.

"Kita kembali ke ruangan dulu, dan kebetulan dikasih waktu makan sekitar satu jam. Habis itu, adek harus puasa lagi, bawa tidur aja biar nggak kerasa,"

Valeska mengangguk pelan, dan mengusap wajahnya. "Adek pengen roti bang, boleh'kan? Badan adek, lemes banget, seakan semua tulangnya mau lepas." Kaivandra mengiyakan, namun rasa cemas masih bersarang di dadanya membuat dirinya sulit berekspresi.

Dan akhirnya, mereka sudah sampai di ruang rawat, membiarkan waktu berjalan dengan semestinya. Kaivandra mengambil dua bungkus roti yang dibawakan oleh Arjuna kemarin malam.

"Makan bareng, biar makin nikmat." Ucapnya lembut.

Valeska tersenyum simpul, dia sangat paham bahwa abangnya sedang berusaha membuat segalanya terasa ringan. Valeska menerima roti yang sudah dibuka, dan mulai memakannya. Tapi beberapa saat kemudian, pikirannya pun kembali melayang ke udara, dia merasa tidak bisa benar-benar menikmati momen ini.

Valeska benar-benar tidak tahu apa yang sedang menantinya nanti, apakah hidup akan berjalan seperti hari kemarin, atau semuanya akan berubah dalam sekejap? Pertanyaan seperti ini begitu berat baginya, seakan tidak memberikan ruang untuk bernapas.

Kaivandra mengelus punggung sang adik, setelah menyadari ada kegelisahan yang mengganggu pikirannya.

"Apa pun hasilnya, abang akan selalu ada, kita hadapi bareng-bareng. Cantiknya abang nggak boleh sedih."

Valeska menatap abangnya dan mengangguk, "Iya bang, maafin adek kalau ke depannya adek bakal nyusahin abang."

Tujuh jam telah berlalu. Mereka disusul oleh suster dan berjalan menuju ruangan Pet-Scan rumah sakit. Sebelum berpuasa seperti yang dianjurkan oleh dokter, Valeska sempat makan, meski hanya tiga suap dan 2 potong roti. Setelah makan, dia kembali tidur sebentar.

Sekarang waktunya Pet-Scan, Valeska paham ini bukan akhir dari segalanya, melainkan langkah awal dalam perjalan baru. Apapun hasilnya nanti, ia sadar bahwa ia tidak sendirian, ada tangan abangnya yang akan selalu menggenggamnya, apa pun yang terjadi.

Mesin terlihat lebih besar dari sebelumnya, dilengkapi dengan tabung panjang dan sempit. Valeska berbaring lagi, tapi kali ini tangannya dipasang selang infus terlebih dahulu untuk menyuntikkan zat radioaktif.

Pemeriksaan kali ini membuat Valeska tidak nyaman, karena ada zat radioaktif yang mengalir melalui pembuluh darah.

"Dek, jangan banyak gerak ya. Harus tenang, biar hasilnya akurat," jelas salah satu petugas. Valeska memejamkan mata, berusaha mengalihkan semua pikiran negatif yang terus berdatangan layaknya ombak ditepi pantai.

Tabung mesin mulai bergerak, suara mesin pun kembali mengisi ruang kosong. Setelah ini, Valeska yakin hidup tidak akan sama, mungkin ada perjuangan baru, atau bisa jadi akan ada kabar baik.

Pet-Scan sudah selesai dalam kurun waktu 60 menit, itu sudah termasuk penyebaran tracer dan pemindaian. Valeska sudah berada di luar ruangan bersama dengan abangnya, Kaivandra mendorong kursi roda pelan ditemani oleh cahaya sore hari dari jendela rumah sakit.

"Abang makasih." Valeska berucap setelah kembali tiduran dengan nyaman di kasur rumah sakit, tubuh nyaterkulai lemas.

Saat Valeska ingin memejamkan mata, Kaivandra menahannya dan berkata. "Adek minum obat dulu, habis ini baru boleh istirahat. Kebetulan abang juga mau mengerjakan tugas kuliah," Valeska mengacungkan ibu jarinya disertai senyuman manis.

"Akhir-akhir ini, adek selalu sakit kepala. Bahkan yang tadinya bangku adek di barisan ke lima, jadi pindah ke barisan paling depan karena adek nggak bisa melihat tulisan di papan tulis dengan jelas." Valeska mulai bercerita, membuat Kaivandra semakin heran.

"Waktu abang nggak pulang ke apartemen, malam itu kepala adek juga sakit. Sampai ke sekolah sakitnya nggak ilang, adek nggak tahan, jadi adek pingsan."

Kaivandra menyimak setiap kata yang keluar dari mulut adiknya. "Abang kenapa diem? Abang capek?" tanya Valeska.

Kaivandra menggelengkan kepala kuat. "Nggak kok, mana ada capek, adek aja semangat, masa abang lesu?"

"Abang jangan sakit ya,"

"Iya nggak, lanjutin ceritanya, dek," Valeska hanya diam sebelum akhirnya kembali berkata. "Adek capek, mau tidur aja. Besok lanjutin ceritanya, gapapa kan? Lagian abang juga mau mengerjakan tugas kuliah."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!