Devano Garendra, merasa bosan dengan pernikahannya bersama sang istri hingga membuatnya bermain perempuan di luar sana.
Sebagian Alice, yang baru saja memulai kehidupannya yang baru harus kembali di pertemukan dengan sosok yang cukup lama bersamanya.
Akankah mereka kembali mengulang masa lalu yang pernah di lewati bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18
Hujan turun begitu derasnya setelah Alice keluar dari ruangan dokter tadi. Entah apa yang harus dia lakukan saat ini. Berjalan menuju ruangan tempat putranya berada, dia harus apa?
Dia harus melakukan apa saat ini? Langkahnya terasa sangat berat. Bahkan setelah melihat Neil, hatinya semakin hancur.
Bagaimana tidak, anak yang dia perjuangkan selama ini terbaring tak berdaya di rumah sakit. Andai dia bisa menggantikannya, lebih baik Alice yang berada di sana.
Tangisnya di redam guyuran hujan yang begitu deras. Tubuhnya basah kuyup, hingga tiba-tiba ada seseorang yang datang memayunginya.
"Siapa kamu?" tanya Alice dengan suara bergetar saat ada seseorang datang membawa payung untuk dirinya.
"Nyonya, apa yang anda lakukan?" tanya orang tersebut padanya.
Mendengar kata nyonya yang di sematkan laki-laki ini membuat Alice langsung mengerti, jika dia memanggil tidak bisa lepas dari Rendra. Laki-laki itu selalu memberinya penjagaan.
"To-tolong bawa aku pada tuan kalian. To-tolong bawa aku. Aku harus bicara padanya, aku-" Alice tidak sanggup berkata-kata lagi.
Hatinya benar-benar hancur melihat Neil yang tak berdaya seperti itu.
"Silahkan, Nyonya." ucap orang tersebut membawa Alice ke dalam mobil.
"Ini jas milik Pak Rendra, Nyonya." memberikan jas yang katanya milik Rendra
Perjalanan terasa begitu berat baginya. Mau tidak mau dia harus siap bertemu dengan laki-laki itu lagi. Demi Neil, dia harus melakukan semua ini demi Neil. Setelah itu dia akan memikirkan cara lebih lanjut untuk bicara dengannya.
Rendra menunggu dengan gelisah saat mendapatkan kabar dari orangnya jika Alice ingin bertemu dengannya.
Waktu terasa begitu lama baginya saat ini. Sudah hampir setengah jam setelah mendapatkan pesan tersebut, namun Alice belum juga sampai.
Hingga Rendra mendengar suara pintu hotelnya di buka, dia melihat wanita itu yang basah kuyup.
Rendra terkejut saat tiba-tiba saja wanita itu berlutut di depannya. Alice harus melakukan ini demi Neil.
Ya, dia harus melakukan ini demi putranya. "Ku mohon tolong, aku." ucapnya dengan suara bergetar.
Bagaimana cara mengatakannya, jika saat ini anak mereka membutuhkan darahnya.
"Ku mohon bantu aku. Aku mohon, bantu aku."
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Rendra yang berusaha menahan dirinya.
Dia juga tidak tega melihat wanita ini sampai berlutut di hadapannya begini. Penampilannya yang bisa terlihat anggun kini sangat berantakan.
"Ku mohon donorkan darahmu untuk A-anak kita. Ku mohon, bantu aku. Ne-"
"Apa katamu?" tanya Rendra mengguncang tubuh Alice yang bersimpuh di hadapannya saat ini.
Matanya terus saja mengeluarkan air mata. Dia benar-benar membutuhkan Rendra saat ini.
"Anak kita, anak itu masih hidup. Anak yang ku kandung masih hidup. Di-dia membutuhkan kamu saat ini. Ku mohon tolong dia. Ku mohon...hiks...hiks...hiks..." tubuhnya bergetar hebat.
Alice hancur, dia benar-benar hancur. Tapi lebih hancur lagi Rendra. Setelah wanita ini mengatakan jika anaknya di gugurkan, kenapa tiba-tiba saja kini mengatakan anaknya membutuhkan dia.
"Katakan sekali lagi, Alice." ucapnya meminta pada Alice untuk mengatakannya lagi.
"Katakan sekali lagi ALICE!!!" teriak Rendra menggelar.
Tubuh Alice bergetar hebat saat mendengar teriakan Rendra yang begitu menggelegar.
"Apa kau pikir ini lelucon hah? Setelah kau menyembunyikan kehamilan mu, lalu kau menggugurkan-nya, lalu apa ini? kenapa tiba-tiba kau mengatakan jika anak ku membutuhkan ku hah? Katakan apa maksudnya ini Alice, Katakan!!!" teriak Rendra lagi membuat Alice hanya bisa menangis saat ini.
"Hukum aku, aku yang bersalah. Tapi tolong bantu dia. Dia benar-benar membutuhkan mu. Dia membutuhkan darah ayahnya. Dia-"
"Apalagi ini, Tuhan?" tanya Rendra yang begitu frustrasi.
Nafasnya terengah-engah, dadanya berdebar kencang. Pikirannya buyar tidak tau apa yang terjadi saat ini.
Prang...
Alice terkejut, menutupi kedua telinganya melihat kemarahan Rendra yang melemparkan ponselnya begitu saja.
"Kau!" tunjuknya pada Alice.
"Kau benar-benar tega melakukan semua ini Alice. Kau tega! kenapa kau melakukannya, hah? kenapa kau menyembunyikan semua ini dari ku? kenapa, Alice? kenapa???"
"Apa yang harus ku lakukan hah? Apa aku harus mengatakan padamu jika aku hamil anak mu di saat istrimu datang pada ku dan menyeretku keluar dari apartemen! Dia mempermalukan ku di depan banyak orang. Dia mencaci maki diriku, dia menggunting rambutku dan hampir melucuti pakaianku ku depan banyak orang, dan dimana dirimu hah? Kemana aku harus mencarimu?"
Deg!
Rendra merasa tertampar mendengar semua ini. Apa segitu sulitnya hidup Alice setelah dia pergi?
"Istriku bahkan menyebarkan berita hubungan gelap kita di kampung hingga membuat keluarga ku di persulit dan orang tua ku meninggal setelah mengetahui anaknya hamil dengan suami orang! Jadi katakan padaku, apa yang harus ku lakukan saat itu? Apa?" tanya Alice.
Tangisnya benar-benar pecah. Dia hancur, rasa sakit yang di simpannya selama ini akhirnya pecah di hadapan orang yang bersangkutan langsung.
Rendra sendiri terdiam tidak bisa berkata-kata lagi mengetahui kebenaran ini. Melihat Alice yang tampak begitu hancur, hatinya juga ikut hancur.
***