NovelToon NovelToon
Dua Pewaris Rahasia Keluarga Vasillo

Dua Pewaris Rahasia Keluarga Vasillo

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:235.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Tasya tidak pernah memilih takdirnya. Dijual oleh keluarga pamannya demi menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut, ia melarikan diri dari sebuah kamar hotel mewah, tanpa tahu bahwa pria asing yang ia tinggalkan malam itu adalah Alex Roman Vasillo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa di Jerman.

Tujuh tahun berlalu, setelah dia melarikan diri dari Berlin menuju Indonesia, tanah kelahiran Kakeknya.

Tasya hidup tenang di Indonesia bersama dua anak kembarnya, Kenzo dan Kenzi, yang tak pernah tahu siapa ayah mereka sebenarnya.

Sampai suatu hari, di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta yang berada di bawah naungan keluarga Vasillo, seorang bocah enam tahun dengan percaya diri memanggil seorang pria berjas mahal, pria itu Alex Roman Vasillo.

“Daddy!”

"Hah?!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Lift berhenti di lantai paling atas.

Tasya melangkah keluar dengan jantung berdebar. Lantai ini jauh lebih sunyi dibanding lantai lain. Karpet tebal meredam suara langkah, sementara lampu-lampu hangat membuat lorong panjang itu terasa elegan namun menekan.

Di ujung lorong, sebuah pintu besar dengan pelat nama perak terlihat jelas. Tasya menelan ludah, dia tahu ini bukan interview biasa. Sebelum sempat mengetuk, pintu itu tiba-tiba terbuka dari dalam.

Mario berdiri di sana dengan wajah tenang seperti biasa.

“Nona Tasya,” ucapnya singkat.

“Y-ya, Tuan.”

Mario menyingkir sedikit dari pintu.

“Silakan, masuk.”

Tasya melangkah masuk perlahan.

Ruangan itu luas dan mewah, dengan jendela kaca besar yang menghadap ke kota. Cahaya siang masuk terang dari belakang seseorang yang duduk di kursi besar di balik meja kerja.

Namun, wajah pria itu tidak terlihat jelas dari posisi Tasya berdiri. Mario berjalan masuk beberapa langkah.

“Tuan, kandidatnya sudah datang.”

Pria di balik meja itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap berkas di tangannya beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat wajah. Namun, cahaya dari belakang membuat wajahnya tetap setengah tertutup bayangan.

“Baik,” ucap suara pria itu dalam, dingin, dan tegas.

Mario lalu menoleh pada Tasya.

“Anda bisa berbicara langsung dengan Tuan Alex.”

Tasya sedikit terkejut, nama itu terasa asing baginya. Namun, sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, Mario kembali berbicara.

“Sesuai permintaan Tuan Alex, saya akan meninggalkan ruangan.”

Tasya menoleh cepat ke arah Mario.

“Berdua saja?” pikirnya gugup.

Mario berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia sempat melirik Alex sekilas dan seolah memastikan semuanya sesuai rencana.

Pintu kemudian tertutup.

Sekarang hanya ada dua orang di dalam ruangan itu. Alex perlahan berdiri dari kursinya. Langkahnya tenang namun penuh tekanan.

Sementara Tasya tetap berdiri di tempatnya, mencoba menenangkan napasnya. Pria itu akhirnya berhenti di depan meja, menatapnya dari jarak beberapa meter. Tatapan tajamnya mengamati Tasya dari ujung kepala hingga kaki.

Entah kenapa ada sesuatu dalam dirinya yang terasa tidak asing. Alex menyilangkan tangan di dada.

“Nama Anda Tasya Aditya?” tanyanya dingin.

“Ya, Tuan.”

Alex mengangkat berkas di tangannya.

“Menurut CV ini, Anda lulusan IT terbaik di Berlin.”

Tasya mengangguk pelan.

“Benar.”

Alex menatapnya beberapa detik lebih lama. Tatapan itu membuat Tasya merasa seperti sedang diinterogasi.

“Menarik,” gumam Alex.

Ia berjalan perlahan mendekat, setiap langkahnya membuat jarak mereka semakin sempit.

“Kalau begitu,” lanjut Alex dengan suara rendah, “jelaskan satu hal kepada saya.”

Ia berhenti tepat di depan Tasya. Tatapannya menusuk langsung ke mata wanita itu.

“Kenapa seseorang dengan kemampuan seperti Anda … menggunakan ijazah palsu?” Ucapan Alex barusan membuat Tasya sempat terdiam. Namun, hanya beberapa detik. Keterkejutan itu cepat sekali ia tekan. Tasya bukan wanita lemah yang mudah runtuh hanya karena sebuah tuduhan. Ia tahu betul pria seperti Alex Roman Vasillo pasti memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Orang dengan posisi seperti itu terbiasa melihat celah sekecil apa pun.

Tidak heran ia bisa menemukan kejanggalan pada ijazahnya. Namun, satu hal yang juga Tasya yakini, dia memang menggunakan ijazah palsu. Tetapi kemampuannya tidak pernah palsu. Tasya mengangkat dagunya sedikit, mencoba menenangkan napasnya.

“Maaf, Tuan,” ucapnya dengan suara yang berusaha tetap tenang.

“Saya tidak menggunakan ijazah palsu.”

Tatapan Alex tidak berubah, dingin dan tajam. Karena, dia menyadari jika Tasya berbohong padanya.

“Tapi kalau Tuan meragukannya,” lanjut Tasya, “saya bisa membuktikan kemampuan saya.”

Alex menatap wanita itu lebih lama. Jarang sekali ada orang yang berani menyangkal tuduhannya secara langsung. Kebanyakan orang akan gugup atau bahkan langsung mengaku.

Alex menatapnya lekat. Tatapannya turun sebentar, memperhatikan garis wajah wanita itu. Hidungnya, bibirnya dan lalu kembali pada matanya. Dan saat itulah sesuatu melintas di dalam pikirannya. Sekilas, seperti potongan ingatan yang terpendam.

Tatapan mata seorang wanita yang kabur di bawah cahaya lampu redup. Alex tiba-tiba terpaku, matanya sedikit menyipit seolah mencoba mengingat sesuatu yang hampir berhasil ia tangkap.

'Tidak mungkin! Aku pasti salah menebak. Ini semua gara-gara wanita itu! Aku tidak akan melepaskannya jika aku menemukannya. Dia telah berani mengusik ketenangan ku,' Gumam Alex dalam hati dengan tangan terkepal.

Sementara itu Tasya juga menatap pria di depannya dengan napas memburu. Kini ia bisa melihat wajah Alex dengan jelas. Rahangnya tegas, tatapannya tajam. Aura kekuasaan yang kuat terpancar dari dirinya.

Tasya tidak tahu kenapa, namun berdiri sedekat ini dengan pria itu membuat jantungnya berdetak lebih keras dari sebelumnya. Seolah tubuhnya mengenali sesuatu yang tidak mampu diingat oleh pikirannya.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Alex akhirnya memiringkan kepalanya sedikit. Tatapannya masih menancap pada mata Tasya.

“Menarik,” gumamnya pelan. Suara Alex rendah, hampir seperti bisikan.

“Entah kenapa…” Ia berhenti sebentar.

“Saya merasa pernah melihat mata Anda sebelumnya.”

Jantung Tasya berdegup keras tetapi ia tetap berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang. Padahal di dalam dirinya, sesuatu terasa tidak nyaman.

"Mungkin Anda salah lihat, Tuan. Ini pertama kali kita bertemu," kata Tasya, kemudian. karena dia yakin betul, meksipun dia merasa Alex mirip dengan pria malam itu, tetapi Tasya lebih yakin pada instingnya. Alex tidak mungkin pria malam itu.

Tok! Tok! Tok!

Pintu ruangan tiba-tiba diketuk dengan cukup keras dari luar. Bahkan terdengar suara seseorang seperti mengumpat pelan sebelum akhirnya pintu terbuka.

Mario masuk dengan napas sedikit terburu.

“Tuan—”

Namun, kalimatnya terhenti saat melihat posisi Alex yang berdiri sangat dekat dengan Tasya. Tatapan Alex langsung beralih padanya.

“Ijazahnya,” kata Alex dingin tanpa basa-basi.

“Asli atau palsu?”

Pertanyaan itu membuat Tasya menoleh cepat ke arah Mario. Ada ketegangan yang langsung merambat di dadanya.

Mario memegang sebuah tablet di tangannya. Ia tampak ragu sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan.

“Sudah saya cek langsung ke universitas di Berlin, Tuan.”

Mario menarik napas.

“Ijazahnya … palsu.” Ucapan itu seperti palu yang menghantam ruangan.

Tasya terdiam.

Sementara Alex perlahan menoleh ke arahnya, tatapannya berubah. Bukan lagi sekadar menilai melainkan marah.

Dalam satu gerakan cepat, Alex mencengkeram lengan Tasya dengan kuat.

“Siapa yang menyuruhmu menipu perusahaan keluarga Vasillo?” desisnya tajam.

Cengkeraman itu begitu kuat hingga Tasya meringis.

“Apa kau sudah bosan hidup?” lanjut Alex dingin.

Matanya menyala penuh amarah.

“Kau tahu konsekuensi menipu perusahaan saya?”

Tasya yang tadi sempat terpaku akhirnya menatap Alex dengan napas sedikit gemetar. Namun, kali ini bukan karena takut melainkan karena harga dirinya disentuh.

“Saya tidak menipu!” balas Tasya. Ia menghentakkan tangannya dengan kasar hingga cengkeraman Alex terlepas.

Mario sampai terkejut melihat keberanian itu.

“Saya memang memakai ijazah palsu,” lanjut Tasya dengan suara tegas, “tapi nilai-nilai itu milik saya!”

Ia menatap Alex tanpa mundur sedikit pun.

“Saya tidak mencuri kemampuan siapa pun.” Ucapan itu justru membuat amarah Alex semakin memuncak.

“Kau masih menyangkal?” katanya dingi, rahangnya mengeras.

“Kau tidak mau mengaku juga?”

Alex menyeringai tipis, namun senyum itu tidak mengandung sedikit pun kehangatan.

“Baiklah.” Dia menatap Tasya dengan dingin.

“Kalau begitu kau akan melihat apa yang bisa saya lakukan.”

Suaranya turun menjadi lebih rendah dan lebih berbahaya.

“Tidak akan ada satu pun perusahaan yang mau menerimamu bekerja.”

Tatapannya menusuk.

“Karena ijazahmu … palsu.”

Tasya mengepalkan tangannya, dada wanita itu naik turun menahan emosi.

“Kenapa Anda tidak mau percaya pada kemampuan seseorang?” balas Tasya.

Tatapannya tidak kalah tajam.

“Kenapa harus selalu melihat ijazah?”

Ia menatap Alex lurus-lurus.

“Ijazah bisa saja palsu, tetapi kemampuan seseorang tidak mungkin dipalsukan.”

Mario yang berdiri di samping hampir tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Belum pernah ada orang yang berani berbicara seperti ini kepada Alex Roman Vasillo.

Mario bahkan membuka mulut hendak mengatakan sesuatu. Namun, Alex sudah mengangkat tangannya tanpa melihatnya.

Isyarat agar Mario diam. Alex menatap Tasya lama tatapannya tajam namun kini juga bercampur sesuatu yang sulit dijelaskan.

“Belum pernah ada orang,” kata Alex akhirnya dengan suara dingin,

“yang berani berdiri di depan saya, menatap saya seperti itu.” Ia menyipitkan mata.

“Dan berbicara seberani itu.”

Beberapa detik hening, dan lalu suaranya berubah keras.

“Keluar!” Teriakan itu menggema di ruangan.

Tasya menahan napasnya, untuk sesaat ia ingin melawan. Namun, ia sadar melawan pria seperti Alex Roman Vasillo sama saja dengan mencari kehancuran sendiri.

Keluarga Vasillo bukan keluarga biasa. Mereka bisa menghancurkan hidup seseorang hanya dengan satu perintah. Tasya menarik napas panjang. Tasya berbalik menuju pintu namun sebelum keluar, ia berhenti sejenak. Ia menoleh kembali pada Alex, tatapannya tajam.

“Baiklah,” ucap Tasya dingin.

“Kalau suatu hari perusahaan Anda punya masalah keamanan, jangan pernah menghubungi saya!” Katanya tegas, dia menatap Alex lurus-lurus.

“Karena saya juga tidak sudi punya atasan seperti Anda.”

Setelah mengatakan itu,

Brak!

Pintu ruangan ditutup keras, Mario sampai tersentak. Ia menoleh perlahan ke arah Alex. Ekspresi Alex sulit dibaca. Pria itu tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Seseorang baru saja menantangnya. Dan itu adalah seorang wanita bernama Tasya.

"Mario, kirim surat peringatan pada semua perusahaan, yang berani menerima Tasya Aditya bekerja, maka menentang perusahaan keluarga Vasillo!"

Mario menelan ludah, lalu mengangguk pelan.

1
Nyonya Gunawan
Tasya yg bodoh,,penjelasan dri bi mirna g' mo di dengar,,percaya ma arland yg jelas" sdah jahat..
Rokhi jga salah menyembunyikan kebenaran dri tasya
guest1053527528
biar Thor tambah tegang harus juga terkuak cerita dari keluarga vasilo jangan hanya dari kakek rocki
tia
diganti thor,, kasihan Tasya
tia: di gantung thor, kasihan Tasya tdk bertemu Alex,,mala ktemu kakek nya ,
total 1 replies
Susma Wati
bodohnya tuan rochki akan kematian arland yang tidak diselidiki hanya melampiaskan ke pada keluarga vasilo dan membalas dendam dengan membunuh orangtua alex
YuWie
nah lho..dikerjain anakmu pak alex..zombong sih
Joey Joey
emm d adu domba yg belum pasti kan dia iri sama ayah tasya
Esther
Bi Mirna tahu sesuatu soal masa lalu kakek Rockhi, sayangnya Tasya tidak mau mendengar penjelasannya.

Arnold....patut dicurigai, apa yang kamu rencanakan
Oma Gavin
keluarga ruwet problematik ngga kakek ngga anak saling tikung, feeling ku yg ngadu domba rocki dan vasillo adalah paman nya dan yg membunuh ortu tasya juga pamannya karena iri
Ariany Sudjana
Tasya ini katanya lulusan terbaik dari Berlin, tapi bodohnya kebangetan, bukannya cari kebenarannya dulu, tapi percaya penuh sama omongan pamannya
Teh Euis Tea: tasya jgn gampang percaya sm omongan pamanmu, km ga inget dulu psmanmu mau menjual km sama bandot tua, km kan pintet tasya carilah bukti bkn emosi yg di duluin
total 1 replies
ken darsihk
Ayolah kakek Rocki cerita kan yng sebenar nya , kematian orang tua nya Tasya kecelakaan atau ulah dari keluarga Vasillio
Joey Joey
+rumit , kasih c kembar
Aisyah Ajalah
ayo tuan rokhi jelaskan sama Tasya ...biar masalahnya cepat selesai...
Esther
ayo tuan Rockhi bicara jujur, Tasya berhak tahu apa yang sebenarnya trjadi terhadap orangtuanya
Teh Euis Tea
jgn diam aj tuan rocki, bicara terus terang biar ga salah paham trs
Susma Wati
arlond mungkin yang membunuh orang tuanya tasya karena cemburu akan kasih sayang tuan rochki dan mengadu domba tuan rochki dengan tuan vasilo dengan membunuh orangtua Alex dengan dalih membalas dendam karena kematian arland, belum ada yang tahu kan permainan arlond terhadap keluarga nya sendiri
Nyonya Gunawan
Kebenaran hrus terungkap tuan rokhi biar g' terjadi salah paham..
ken darsihk
syafakillah author cepat sehat lagi ya 💪💪
ken darsihk
Semua nya mulai tambah runyam
Aisyah Ajalah
semoga cepat sembuh ya Thor...
Teh Euis Tea
semoga cepat sembuh ya thor, tetap semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!