NovelToon NovelToon
Aku Yang Jatuh Cinta

Aku Yang Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:201
Nilai: 5
Nama Author: citaaaa

Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIGA

Arun berjalan menuju ruangan Bio dengan kening berkerut, "Lah bang?" ucap Arun saat berpapasan dengan Dimas yang baru saja dari ruangan Bio.

"Arun? Mau kemana lo?" tanya Dimas.

"Lah, gue dipanggil sama pak Bio tadi lewat telpon katanya suruh ke ruangannya. Gak tau juga suruh ngapain" balas Arun.

"Kenapa dia gak nyuruh gue aja sekalian tadi ya?" ujar Dimas.

"Nah, itu dia. Gue juga bingung, kalo enggak lo balik lagi aja bang ke ruangannya" usul Arun.

"Ogah! Kan lo yang dipanggil. Udah sana, semangat!!" ucap Dimas sambil menepuk bahu Arun kemudian pergi meninggalkannya.

"Ihh, tapi bang? WOII BANG DIMAS?!!" panggil Arun dengan keras.

Kecurigaan Arun makin bertambah, sebenarnya apa maksud Bio memanggilnya saat sedang ada Dimas disana.

Arun menghela napas kasar lalu pergi menuju ruangan Bio.

Tok tok tok

"Permisi"

Ucap Arun dengan suara lembut. Arun masih tahu sopan santun, meski kelakuannya sedikit bar-bar.

Hah?!!

Sedikit?!!

Gak salah?!!

"Masuk" ucap Bio dengan suara berat.

Arun membuka pintu tersebut lalu berjalan perlahan menuju meja Bio berada. "Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Arun langsung.

Bio bangkit dari duduknya lalu menatap Arun. Arun yang merasa ditatap merasa risih sambil berusaha tenang dengan menarik dan hembuskan napasnya.

"Maaf pak. Bapak kenapa minta saya datang ke sini ya?"

"Kamu gak tau saya?"

"Tau, kan tadi bapak baru kenalan"

"Ckk, maksud saya kamu tahu saya sebelumnya kan?" tanya Bio jengah.

"Enggak"

"Kamu cewek scoopy item tadi pagikan?" tanya Bio langsung to the point.

"Bapak tau merk sama warna motor saya? Wahh!!" ucap Arun sambil menutup mulutnya karena terkejut.

Bio tak habis pikir dengan perempuan satu ini, apa yang ada di otaknya sekarang sampai kejadian tadi pagi saja dia tidak mengingatnya.

"Kamu cewek yang marahin saya tadi pagikan, waktu dijalan" ucap Bio.

"Mampus lo Run! Dipecat abis ini lo!"

Batin Arun bersuara, saat otaknya mengingat kejadian pagi tadi.

"S--saya gak marahin bapak" elak Arun dengan nada terbata-bata karena gugup.

Ralat bukan gugup tapi takut!

"Kamu bilang saya buta. Jangan mengelak saya masih inget semuanya, apa aja yang keluar dari mulut kamu" ucap Bio dengan nada dingin.

"Ya itukan salah bapak! Kenapa bapak gak liat rombongan bebek yang mau nyebrang jalan!" ucap Arun dengan emosinya sambil menatap Bio.

"Sekarang kamu juga masih salahin saya?!!"

Arun tidak ingin menghabiskan tenaga dan suaranya saat ini. Lebih baik sekarang main aman saja.

"Oke-oke. Saya minta maaf atas kejadian tadi pagi" ucap Arun sambil menundukkan kepalanya.

"Kenapa kamu minta maaf?"

"Lah, terus saya harus apa pak?" tanya Arun mulai frustasi.

Bio kembali duduk di kursinya sambil menghadap Arun, "Jangan panggil saya 'Bapak', kamu kira saya tua apa!" ujar Bio.

"Hah?! Terus saya harus panggil bapak apa?" tanya Arun heran.

"Bio, panggil nama aja" ujar Bio dengan santai.

"Gak! Maksud saya gak sopan pak"

"Kan saya yang suruh. Saya gak nyaman dipanggil 'Bapak'"

"Tapi pa ..."

Tiba-tiba, Bio memotong perkataan Arun. "Kamu bisa balik, lanjutin kerjaan kamu" ujar Bio.

Arun sempat diam sejenak, lalu memutuskan untuk langsung keluar dari ruangan itu.

"Kalo gitu saya permisi pak" ujar Arun kemudin pergi.

"Susah banget dibilangin!" ujar Bio saat melihat pintu ruangannya ditutup oleh Arun.

.........

"Run, tadi kamu dipanggil pak Bio?" tanya Akbar.

"Oh iya, Lo tadi suruh ngapain?" sambung Dimas.

Saat ini mereka semua tengah beristirahat, seperti biasa makan lalu setelah itu duduk bersama.

Arun yang merupakan perempuan sendiri merasa seperti ratu disebuah kerajaan. Arun tidak merasa takut saat bersama ketiganya dan dia malah sudah menganggap mereka sebagai abang-abangnya.

"Gak disuruh ngapa-ngapain" balas Arun.

"Gak mungkin. Kalo gitu ngapain lo disuruh ke ruangannya?" tanya Erik.

"Dia nyuruh gue buat jangan panggil dia dengan sebutan 'Bapak' tapi nama aja" ujar Arun.

"Sama, dia juga bilang sama gue kayak gitu" ucap Dimas.

"Lo manggil dia apa Dim?" tanya Erik.

"Bio lah, orangnya sendiri yang minta. Gue mah nurut aja" balas Dimas kemudian meneguk gelas berisi jus jeruk tersebut.

"Kalo kamu?" tanya Akbar pada Arun.

"Tetep gue mah, Pak Bio!" ujar Arun tegas. "Lagian dia kan bos kita, apalagi umur gue sama dia beda kalo kalian mah cowok enak akrab keliatannya, kalo cewek itu beda" jelas Arun.

Mereka bertiga hanya menganggukkan kepala, "Lo cewek Run?" tanya Erik.

Arun melotot ke arah Erik, "Bang! Sumpah ya pertanyaan lo hari ini semuanya buat gue emosi!" ujar Arun.

"Gue percaya lo cewek, kalo lo ada yang naksir" ledek Erik lalu berlari pergi meninggalkan mereka semua.

"Kurang ajar!! Awas ya lo bang!!" teriak Arun.

Dimas hanya menggelengkan kepala lalu bangkit dari duduknya untuk melanjutkan pekerjaannya, "Udah, bang Erik cuma bercanda. Waktu istirahatnya udah selesai, ayok?!" ujar Akbar sambil mengulurkan telapak tangannya setelah dia berdiri.

Arun yang masih terduduk dengan wajah kesalnya langsung menatap Akbar heran, "Lo, mau ngapain?" tanya Arun.

"Aku bantu kamu buat berdiri, Atau mau bangun sendiri?" tanya Akbar.

Arun dengan cepat menerima uluran tangan Akbar, "Makasih" ucap Arun dengan wajah malu-malu dia berlari kembali ke tempat kerjanya.

"Lah" ucap Akbar saat melihat Arun berlari.

Tahu gak waktu apa yang paling banyak orang nunggu??

Iyappp, waktu pulang kerja.

Selesai membereskan cafe, Arun, Akbar, Erik serta Dimas keluar cafe menuju parkiran.

Namun langkah mereka terhenti saat melihat Bio sedang berdiri sambil sesekali menempelkan hpnya di telinga.

"Gue udah gak percaya tadi ngasih kunci mobil sama dia!!" umpat Bio.

Ternyata umpatan Bio terdengar oleh keempat karyawan yang berada dibelakangnya.

"Belum balik pak?" tanya Erik pada Bio.

Bio membalikkan tubuhnya, "Menurut kamu?!" tanya Bio ketus.

"Wadaw" gumam Arun.

Mereka semua terdiam saat mendengar nada ketus yang keluar dari mulut sang bos 'baru' mereka.

Bio mengusap wajahnya saat melihat mereka semua terdiam, "Maaf, saya gak bermaksud buat bentak kalian" ujar Bio.

"Iya pak gak pa-pa, mas Ilham gak bisa jemput pak?" tanya Dimas.

Bio menggelengkan kepala, "Saya telpon dari tadi gak diangkat" ujar Bio.

Semua terdiam, entah apa yang harus mereka lakukan.

Tiba-tiba menjentikkan jarinya, "Gini aja pak, berhubung saya juga hari ini lagi nebeng Erik. Gimana kalo bapak pulang pake motornya Arun?" ujar Dimas.

Arun terdiam saat tangannya hendak memasangkan helm pada kepalanya sambil membulatkan matanya pada Dimas. Dimas mengode Arun melalui mimik wajahnya agar Arun setuju meminjam kan motornya pada Bio.

"Aduh, gimana ya?" ucap Arun saat semua mata kini tertuju padanya. "Besok gue ada kuliah pagi, nanti kalo motornya dibawa gue berangkat ke kampusnya gimana?" tanya Arun hati-hati.

"Besok aku juga ada kelas pagi, nanti berangkat bareng aja. Aku jemput" ujar Akbar.

"Nah, bagus. Ide bagus itu, lagian rumah kalian juga deketan terus satu kampus lagi. Udah sekarang lo kasih geh kuncinya ke pak Bio" perintah Dimas.

Arun hanya bisa tersenyum paksa saat ini, bukannya dia tidak ingin meminjamkan tapi Arun takut akan memiliki urusan yang panjang dengan bos barunya tersebut.

"Cepet, kasih in kuncinya" bisik Erik sambil menyenggol pelan lengan Arun.

Arun menatap Erik kesal, lalu memasukan tangannya ke dalam tas.

"Nih" Arun memberikan kunci dengan gantungan berbentuk strawbery kecil.

"Ini beneran gak papa?" tanya Bio.

"Iya udah pake aja pak, nanti saya bisa nebeng Akbar" balas Arun.

"Tapi di sini gak pake helm amankan?" tanya Bio.

Arun menatap horor Bio.

"Kalo jam segini, sampe villa bapak aman kok pak" balas Dimas.

"Kalo gitu saya duluan ya? Kalian hati-hati di jalan" ucap Bio lalu melangkah menuju motor Arun.

Setelah menyalakan mesin motornya, Bio langsung membawanya pergi.

"Katanya lo suruh manggil nama, kenapa lo panggil pak juga tadi?" tanya Erik sambil menepuk pundak Dimas.

"Gue baru sadar. Di dunia pekerjaan karyawan ya karyawan, bos ya bos. Gak bisa temen gitu, gak bisa" ujar Dimas.

"Halah, bilang aja nyali lo ciut waktu dia bentak tadi. Padahal gue yang dibentak" ledek Erik.

"Kalo besok gue dapet banyak masalah, lo bang orang pertama yang gue cari! Yok Bar, balik" ucap Arun sambil mendorong tubuh Akbar untuk berjalan.

"Duluan bang" pamit Akbar pada Dimas dan Erik.

"Lah kok gue?" tanya Dimas Heran. "kan yang bawa motornya pak Bio? Arunn!!" panggil Dimas namun tidak dihiraukan Arun yang sudah mulai naik ke motor Akbar.

"Pulang yok Dim, gue capek. Ngantuk juga" ucap Erik.

"Emang gue salah ya Rik?" tanya Dimas.

"Enggak lo gak salah. Lo orang paling baik kok Dim, nih kunci motornya lo yang bawa!" ujar Erik namun dengan nada sedikit mengejek.

"Gue serius, anjirr!" ucap Dimas namun diabaikan Erik yang sudah berjalan menuju motornya terparkir.

Tbc.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!