NovelToon NovelToon
Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Ibu Tiri
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."

Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.

Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?

Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4: Gadis Kecil yang Menolak Makan

Malam pertamanya di mansion keluarga Oliver dilewati Viona dengan tidur yang tidak sepenuhnya nyenyak.

Meskipun kasur di kamar tamu lantai dua itu begitu empuk—jauh lebih mewah daripada ranjang mana pun yang pernah ia tiduri selama menikah dengan Lin—benak Viona tetap terjaga oleh sisa-sisa ketegangan dari peristiwa di depan gerbang sore tadi.

Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Lin yang memucat ketakutan dan tatapan menghunus dari Oliver bergantian hadir dalam mimpinya.

Namun, ketika jarum jam dinding baru menunjuk ke angka lima pagi, Viona sudah memaksa dirinya untuk bangun.

Ia melipat selimut dengan rapi, membersihkan diri, dan mengenakan pakaian terbaik yang tersisa dari tas ranselnya yang usang—sebuah blus rajut tipis berwarna krem yang warnanya sudah agak turun, dipadukan dengan rok panjang hitam.

Saat melangkah keluar dari kamarnya, koridor lantai dua masih diselimuti keremangan subuh yang sunyi.

Namun, dari arah dapur utama di lantai bawah, sayup-sayup terdengar kesibukan para pelayan yang sedang mempersiapkan sarapan.

Viona memutuskan untuk turun.

Ia tidak ingin dicap sebagai menantu kontrak yang malas, walau status aslinya di rumah ini adalah seorang pekerja domestik.

"Selamat pagi, Nona Viona,"

sapa Pak Pelayan yang mendadak muncul dari balik pilar marmer, membuat Viona sedikit terkejut.

Pria paruh baya itu selalu tampak rapi dan sigap, seolah ia tidak pernah tidur.

"Anda bangun sangat pagi. Tuan Besar baru saja berangkat ke kantor sepuluh menit yang lalu."

Viona agak tertegun.

"Jam lima pagi? Tuan Oliver sudah berangkat kerja?"

"Jadwal Tuan Oliver sangat padat, Nona. Terutama setelah... kejadian sore kemarin,"

Pak Pelayan tersenyum penuh arti.

Viona langsung paham. Keputusan Oliver untuk memboikot total bisnis keluarga Lin pasti langsung memicu efek domino di dunia korporasi kota sejak subuh ini.

Oliver sedang mengurus eksekusi dari kata-katanya sendiri.

"Bagaimana dengan Yoyo? Apakah dia sudah bangun?" tanya Viona beralih ke prioritas utamanya.

"Nona Kecil biasanya baru bangun jam enam. Namun..."

Pak Pelayan menghela napas pendek, gurat kecemasan kembali membayang di wajah tuanya.

 "Koki utama baru saja memberi tahu saya bahwa menu sarapan pagi ini ditolak mentah-mentah oleh Nona Kecil lewat interkom kamarnya. Beliau bahkan belum melihat makanannya, tapi sudah berteriak tidak mau makan. Tampaknya, trauma paginya kembali kambuh."

Viona mengernyitkan dahi. Di episode sebelumnya, ia memang berhasil membujuk Yoyo untuk menghabiskan makan malamnya.

Namun, luka psikologis anak-anak yang mendalam tidak pernah bisa disembuhkan hanya dengan satu kali suapan.

Itu adalah proses yang panjang, penuh dengan pasang surut emosi.

"Boleh saya melihat apa yang disiapkan koki untuk sarapannya, Pak?" tanya Viona.

"Tentu saja. Mari ikut saya ke dapur."

Di dapur berteknologi canggih yang luasnya menyerupai restoran bintang lima, koki utama sedang memandang frustrasi ke arah sepiring pancake blueberry lembut beraroma mentega yang dihias dengan krim kocok berbentuk wajah beruang manis.

Di sampingnya, ada segelas susu stroberi hangat.

Tampilan sarapan itu sangat sempurna dan menggugah selera untuk anak seumurannya.

"Nona Kecil menolak semuanya,"

keluh sang koki saat melihat kedatangan Pak Pelayan dan Viona.

"Beliau bilang semua makanan di rumah ini rasanya seperti plastik dan obat pahit. Saya sudah mencoba mengganti menunya tiga kali sejak jam empat subuh, tapi responnya tetap sama."

Viona berjalan mendekati meja konter dapur. Ia mengamati piring pancake tersebut, lalu beralih menatap deretan bahan makanan segar yang tersusun rapi di lemari pendingin transparan.

"Makanan ini terlalu sempurna," gumam Viona pelan.

Pak Pelayan menoleh. "Apa maksud Anda, Nona Viona?"

"Yoyo sedang mengalami trauma psikologis yang membuatnya merasa terasing dan tidak aman,"

jelas Viona, matanya memancarkan kedalaman analisis yang lahir dari pengalamannya sendiri menghadapi depresi.

"Bagi anak yang sedang ketakutan, makanan yang terlalu indah, terlalu formal, dan disajikan oleh koki profesional dengan seragam putih justru terasa seperti makanan di rumah sakit atau institusi.

 Itu mengingatkannya pada prosedur medis, obat-obatan, dan keharusan untuk menjadi 'anak normal'. Makanan ini kehilangan satu hal yang paling dicari oleh Yoyo saat ini."

"Apa itu?" tanya sang koki.

"Kehangatan rumah yang berantakan," Viona tersenyum tipis.

"Bolehkah saya menggunakan sudut dapur ini? Saya ingin membuatkan sesuatu yang sangat sederhana untuknya. Sesuatu yang tidak terlihat seperti makanan buatan koki bintang lima."

Setelah mendapat anggukan ragu dari sang koki dan izin penuh dari Pak Pelayan, Viona mulai bergerak.

Ia tidak menyentuh tepung premium atau mesin pembuat pancake otomatis.

Viona justru mengambil beberapa butir telur segar, sedikit sosis yang dipotong acak-acakan, nasi putih dingin sisa semalam yang disimpan di lemari es, dan sebotol kecap manis sederhana yang untungnya tersedia di sudut bumbu masakan Asia.

Dengan cekatan, Viona menyalakan kompor gas manual, memanaskan wajan biasa, dan mulai menumis sosis.

 Aroma bawang merah dan sosis yang digoreng seketika memenuhi dapur, menggantikan aroma mentega barat yang manis.

Ketika nasi dimasukkan dan diaduk bersama kecap manis, suara desisan wajan dan aroma khas nasi goreng kampung yang gurih dan sedikit gosong menguar kuat.

Viona tidak mencetak nasi goreng itu menggunakan mangkuk agar berbentuk bulat sempurna.

 Ia hanya menyendokkannya begitu saja ke atas piring keramik putih biasa yang agak lebar.

Di atasnya, ia menaruh telur dadar tipis yang digulung asal dan dipotong-potong kecil.

"Nasi goreng kecap?"

Pak Pelayan mengangkat alisnya, tampak tidak yakin apakah menu sesederhana itu layak disajikan di kediaman Oliver.

"Bagi anak-anak yang menutup diri, aroma yang kuat dan masakan yang terlihat 'rumahan' jauh lebih memicu rasa ingin tahu daripada makanan estetis,"

ujar Viona penuh keyakinan. Ia mengangkat nampan berisi piring nasi goreng hangat itu dan segelas air putih hangat—bukan susu stroberi.

"Saya akan mengantarkannya ke atas sekarang."

Viona berdiri di depan pintu kamar Yoyo.

Dari dalam, suasana terasa sunyi, berbeda dengan kemarin yang dipenuhi suara pecahan piring.

Viona mengetuk pintu tiga kali dengan irama yang tenang.

"Yoyo, ini Bibi Viona. Boleh Bibi masuk?"

Hening sejenak, sebelum terdengar suara langkah kaki kecil yang mendekati pintu. Kunci pintu berputar, dan celah kecil terbuka. Yoyo mengintip dari balik pintu.

Rambut dikucir duanya tampak agak berantakan, dan ia masih mengenakan piyama bermotif awan.

Matanya yang bulat menatap Viona dengan pandangan waspada, namun begitu melihat wajah teduh Viona, ketegangan di bahu kecilnya sedikit mengendur.

"Bibi membawa makanan plastik itu lagi?" tanya Yoyo dengan nada ketus yang dipaksakan.

"Bukan. Bibi membawa makanan yang sangat jelek dan baunya agak gosong," jawab Viona jujur sambil tersenyum geli.

"Bibi membuatnya sendiri di dapur bawah, dan kokinya tadi sempat memarahi Bibi karena dapur indahnya jadi bau bawang."

Mendengar kata "makanan jelek" dan cerita tentang koki yang marah, rasa ingin tahu Yoyo langsung terpancing.

Ia membuka pintu lebih lebar, matanya langsung tertuju pada piring di nampan Viona.

Aroma gurih nasi goreng kecap yang kuat langsung menusuk indra penciumannya, seketika membangkitkan rasa lapar yang belum sepenuhnya terpuaskan sejak kemarin.

"Bentuknya memang tidak cantik,"

komentar Yoyo sambil melihat nasi goreng yang bentuknya tidak beraturan itu.

"Tapi rasanya sangat jujur," sahut Viona.

"Boleh Bibi masuk dan kita makan bersama lagi? Bibi belum sarapan dan perut Bibi sudah berbunyi sejak tadi."

Yoyo tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan berbalik dan berjalan menuju sofa kecil di dekat jendela kamarnya, membiarkan pintu terbuka sebagai tanda izin.

Viona masuk, menutup pintu dengan sikunya, dan meletakkan nampan di atas meja kecil di depan sofa.

Viona duduk di lantai, posisi yang sama seperti kemarin, menyamakan tinggi matanya dengan Yoyo yang duduk di sofa.

Ia menyodorkan sendok kecil kepada Yoyo.

"Ini. Cobalah sedikit. Kalau rasanya tidak enak, Yoyo boleh membuangnya ke tempat sampah."

Yoyo menerima sendok itu dengan ragu.

Ia menyendok sedikit nasi goreng kecap bersama potongan sosis dan menyuapkannya ke dalam mulut.

Viona memperhatikan dengan saksama.

Detik pertama, mata Yoyo berkedip cepat.

Detik berikutnya, kunyahannya melambat, dan ekspresi wajahnya yang semula tegang perlahan-lahan melunak.

Nasi goreng kecap yang manis dan gurih itu memberikan kehangatan instan yang tidak mengintimidasi lidahnya.

Makanan ini terasa nyata, seperti pelukan seorang ibu yang menyambut anaknya pulang bermain di hari yang dingin.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Yoyo kembali menyendok nasi goreng itu dengan gerakan yang lebih cepat. Satu sendok, dua sendok, tiga sendok.

Viona bernapas lega dalam hati. Teorinya terbukti benar.

 Yoyo menolak makanan bukan karena tidak lapar atau karena membenci rasa makanan tersebut, melainkan karena ia menolak

"tekanan" yang ada di balik makanan-makanan mewah yang disajikan untuknya.

Gadis kecil ini hanya merindukan kesederhanaan hidup yang hilang sejak ibunya tiada.

"Bibi Viona..."

ucap Yoyo di sela-sela kunyahannya, suaranya kini terdengar seperti anak lima tahun yang normal, bukan lagi seperti anak yang penuh dendam.

"Iya, Yoyo?"

"Apakah... apakah besok Bibi akan membuatkan makanan jelek ini lagi untukku?"

tanya Yoyo, matanya menatap Viona penuh harap.

Di balik pertanyaan itu, Yoyo sebenarnya sedang bertanya: "Apakah Bibi akan tetap berada di sini besok dan tidak membuangku seperti yang lain?"

Viona merasakan dadanya sedikit sesak oleh rasa haru.

Ia mengulurkan tangannya, dengan lembut merapikan anak rambut Yoyo yang berantakan di dahinya.

Yoyo tidak menolak sentuhan itu; ia justru sedikit menyandarkan kepalanya ke telapak tangan Viona yang hangat.

"Tentu saja,"

jawab Viona dengan suara yang bergetar menahan emosi.

"Bibi akan membuatkan makanan apa saja yang Yoyo mau setiap hari. Selama Yoyo berjanji untuk tidak membiarkan perut Yoyo lapar lagi. Setuju?"

Yoyo mengangguk kuat-kuat. "Setuju!"

Dalam waktu sepuluh menit, piring nasi goreng itu bersih tak bersisa.

Yoyo bahkan meminum air putih hangatnya hingga habis.

Tepat setelah suapan terakhir, pintu kamar tamu terbuka tanpa ketukan.

Seorang pria dengan aura dingin yang luar biasa melangkah masuk.

Oliver berdiri di ambang pintu, masih mengenakan jas abu-abu gelapnya, namun dasinya sudah sedikit dilonggarkan.

Di belakangnya, Pak Pelayan berdiri dengan wajah yang dipenuhi senyuman lega. Tampaknya Oliver baru saja kembali dari kantor atau sengaja pulang sebentar setelah mendapat laporan interkom subuh tadi.

Oliver menatap piring kosong di atas meja, lalu beralih menatap putrinya yang kini tampak jauh lebih tenang, bahkan ada sisa kecap sedikit di sudut bibirnya.

Tatapan mata elang Oliver yang biasanya tanpa emosi, kali ini menyiratkan kilatan rasa terkejut yang mendalam.

Ia memandang Viona yang masih duduk bersila di lantai dengan mantel wol hitam miliknya semalam yang tergeletak di lengan kursi.

"Kau berhasil lagi, Nona Viona," suara berat Oliver memecah keheningan kamar.

Viona berdiri perlahan, merapikan roknya, lalu membukukan kepala dengan sopan.

"Ini hanya tugas saya sebagai Ibu Tiri Kontrak di rumah ini, Tuan Oliver."

Oliver berjalan mendekat, melirik piring yang menyisakan aroma bawang putih dan kecap manis tersebut.

Ia lalu menatap langsung ke dalam manik mata jernih Viona.

Untuk pertama kalinya, dalam pertemuan mereka yang singkat ini, kebekuan di wajah sang tirani dingin tampak sedikit retak, digantikan oleh rasa hormat yang tulus terhadap kemampuan wanita berjiwa rapuh di depannya.

"Pak Pelayan,"

panggil Oliver tanpa melepaskan pandangannya dari Viona.

"Siapkan mobil. Kita akan pergi ke Biro Urusan Sipil sekarang. Pernikahan kontrak ini harus diresmikan detik ini juga."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!