Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.
Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.
Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.
Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.
Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Interogasi : 15
Sakta menyobek plastik pembungkus botol mineral, lalu memutar tutupnya, dan mulai meneguk minuman, sesudahnya kembali menaruh di atas meja.
“Semoga saja dia tersadar setelah dicurangi sedemikian rupa,” kalimatnya tertuju ke Helyara. Tadi Sakta sudah mendengarkan penuturan dari Prayoga yang menceritakan masalah menimpa Helyara, lewat sambungan ponsel.
“Terkadang sedikit sulit menyadarkan wanita yang apa-apa dinilai pake hati, hanya melibatkan perasaan, bukan logika,” bisik Yudis, lalu terdiam kala sudut matanya melihat Helyara berjalan mendekat.
“Ini surat dari dokter.”
Pria berkemeja putih sulur hitam, lengan digulung melewati siku, mengambil selembar kertas. Sakta perhatikan tanda tanda dokter, lalu membaca setiap kata tanpa terlewati.
“Ini tanda tangan asli.” Sakta meraih ponsel di atas meja, mengklik nama sang dokter dan mencari jati dirinya pada aplikasi dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI).
Hasilnya keluar, menampilkan data resmi dokter, ada juga foto, nomor STR, tempatnya bekerja, dan universitas asal.
“Berarti surat itu asli, dan diagnosisnya bukan palsu?” suara Helya mengecil, hatinya merasa kerdil.
“Untuk penyelidikan lebih lanjut, saya perlu waktu. Biar surat ini kami bawa sebagai bukti fisik, Anda tidak keberatan bukan?” Sakta meminta izin.
“Tidak. Bawa saja kalau memang sewaktu-waktu diperlukan.”
“Ini ponsel yang tadi dipesan oleh tuan Prayoga, ada juga kartunya. Apa Ibu butuh bantuan untuk melakukan registrasi? Biar sekalian saya urus.” Yudis menarik kotak dari dalam paperbag, sebuah ponsel kelas menengah warna hitam baru saja dibeli.
“Boleh. Terima kasih sebelumnya, Pak.” Helya menarik kwitansi berniat membayar memakai uang tunai.
“Biasa saja, Bu. Jangan terlalu formal, hanya bantuan kecil.” Ia mulai membongkar kotak ponsel.
“Sudah dibayarkan oleh Prayoga, kebetulan kami satu angkatan sedari SMP dan SMA yang sama,” cegahnya kala melihat Helyara hendak beranjak.
“Oh ….” Helya kembali duduk di sofa tunggal.
Sementara Yudis sibuk mengotak-atik ponsel baru milik Helyara, Sakta kembali mengajukan pertanyaan lanjutan.
“Sumber kekayaan bu Helyara dari mana saja asalnya? Berapa keuntungan bersih didapatkan setiap bulannya? Jumlah karyawan. Tolong jabarkan.”
Helyara menyanggupi. “Saya memiliki dua toko emas yang berada di persimpangan pasar induk, barisan ruko dipusat perbelanjaan modern. Jumlah karyawan di sana ada 41 orang termasuk pandai emas yang bekerja di lantai atas."
“Satunya lagi di mal terbesar kota ini. Dikelola oleh sepuluh karyawan,” sambungnya.
“Apa nama tokonya?”
Helyara menjawab pertanyaan pengacara berkulit sawo matang, wajah bersih dari bulu jambang dan kumis baru dicukur. “Toko Emas Utomo.”
“Toko perhiasan besar, mewah itu milik Ibu, ternyata. Saya beberapa kali menemani keluarga berbelanja di sana,” celetuk Yudis.
“Warisan dari almarhum orang tua, Pak,” jawabnya merendah.
Sakta langsung mencari nama toko Emas Utomo di aplikasi pintar, terdapat dua tempat yang berbeda di kawasan strategis.
“Berapa income bersih yang Anda terima setiap bulan atau menggunakan sistem periode waktu tertentu?”
“Perbulan, Pak. Alandi menyetorkan keuntungan bersih sebanyak 20-25 juta ke saya.”
Kedua pria langsung mencari kejujuran di mata Helyara.
Ditatap sedemikian rupa, Helya gelisah sampai mengambil bantal sofa dan dipangku.
“Keuntungan itu dari satu toko atau sudah keseluruhan?” suara Sakta sedikit terkejut.
“Semuanya.”
“Sejak kapan Anda mulai menerima nominal tersebut?”
“Semenjak kepergian kedua orang tua saya,” melihat raut janggal seolah tidak percaya, perasaan Helya tak menentu.
“Apa jumlah keuntungan yang saya sebutkan tadi termasuk sedikit, Pak?” tanyanya tidak lagi memikirkan rasa malu jika dianggap tak pintar di bidang bisnis.
“Maaf sebelumnya, saya tidak akan berbasa-basi demi menyenangkan, menenangkan hati klien.” Sakta menaikan kaki kiri di atas lutut kanan.
“Bukan sedikit, tapi tidak masuk akal. Bisnis emas termasuk menguntungkan dan tidak beresiko tinggi. Keuntungan diambil dari selisih harga beli dan jual. Ongkos pembuatan tergantung tingkat kerumitan sesuai desain.”
“Kemudian ada lagi potongan apabila pelanggan menjual kembali perhiasannya, toko memotong biaya pembuatan awal dan potongan penyusutan, sehingga toko mendapatkan bahan baku dengan harga lebih murah,” jabarnya lugas.
“Terakhir, jika model perhiasan tidak laku atau ketinggalan zaman, emas dapat dilebur kembali menjadi emas batangan yang nilainya tetap mengikuti harga pasar,” Sakta menjelaskan rincian tentang keuntungan bisnis perhiasan.
“Toko Emas Utomo bukan bisnis kecil-kecilan, tetapi berskala besar, dan memiliki jumlah karyawan puluhan yang melayani pembelian offline maupun online ke seluruh wilayah dalam negeri. Jika ditilik dari itu, maka keuntungan didapatkan bisa sampai tiga kali lipat,” imbuh Sakta, ada rasa iba melihat rona pucat wajah Helyara.
Lemas sudah badan Helya, bahunya terkulai, bibir terlipat berusaha keras untuk tidak menangis.
“Saya ditipu habis-habisan oleh mereka,” bisikannya masih terdengar di telinga kedua pengacara menangkap menjadi detektif swasta.
“Bu, dari kedua toko Emas Utomo, bangunannya masih menyewa atau sudah milik pribadi?” Yudis menarik pelindung tipis layar ponsel yang sudah dilengkapi anti gores.
“Yang di persimpangan pasar induk sudah bersertifikat hak pribadi. bangunan itu terdiri dari sembilan ruko dijadikan satu. Namun satu lagi, sistem sewa per-2 tahun sekali.” Helyara menerima ponsel yang sudah siap pakai.
Sakta menimpali. “Sertifikat toko, dan dari yang saya dengar, Prayoga juga mengatakan jika rumah ini milik Anda, surat hak milik siapa yang memegang?”
“Saya simpan di dalam kotak brankas Safe Deposit Box, salah satu bank swasta terpercaya,” sejak nama kepemilikan diubah, dan hal itu terjadi sebelum pernikahan, Helyara memutuskan menyimpan surat-surat penting bernilai belasan miliar rupiah ke tempat aman.
“Anda cukup cerdik,” puji pria berahang melebar dan rata di bagian bawah dengan sudut gonial mendekati 90°. Bentuk ideal memberikan kesan tegas dan simetris.
“Waktu itu yang ada dalam pikiran saya, gak mau diribetkan sama urusan mencari tempat aman dalam rumah untuk menyimpan sertifikat,” balasnya.
“Sekarang kita beralih ke pertanyaan, siapa yang mengelola toko Emas Utomo? Jabatan penting dipegang siapa saja?” Yudis gantian bertanya.
Sakta sedang menerima panggilan dari salah satu kliennya.
“Jabatan kasir utama dipegang oleh Zanaya, kakak ipar saya. Suaminya bekerja sebagai kepala cabang, bertugas memastikan target penjualan tercapai, serta menjaga standar layanan dan keamanan toko,” Helyara mengatakannya sambil menahan emosi.
“Mengawasi seluruh operasional harian, memantau kualitas barang, mengatur keuangan, dan menetapkan strategi pemasaran — Alandi yang mengaturnya,” lanjutnya sambil memejamkan mata.
Helyara sadari jika dirinya sangatlah bodoh. Mau menyesali pun tak ada gunanya, malah menambah beban pikiran berat.
“Anda yang memberikan jabatan itu secara cuma-cuma, atau ada paksaan?” Sakta sudah selesai urusan panggilan telepon genggam.
“Waktu itu terjadi pemecatan massal. Para karyawan memiliki jabatan tinggi, dari mulai manajer, staf gudang, administrasi pembukuan, kasir, kedapatan melakukan korupsi besar-besaran,” ingatan Helya kembali ke masa silam.
“Kemudian Alandi datang bak pahlawan, dan dia juga yang membongkar persengkongkolan para karyawan, bukankah begitu alur ceritanya, bu Helyara?”
.
.
Bersambung.
mau minta duitmu itu, Hel...
tabok aja mukanya...bilang aja, reflek karena kaget 🤭
mobil udah di jual..
abis ini cari rumah baru.
rumah lama mau di apain nih?
kan umumnya yg dtang ke toko emas,orang yg punya duit 🤭