Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam rahimnya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
satu satunya darah murni yang tersisa
Dahulu kala, legenda menceritakan tentang satu keluarga bangsawan yang namanya sangat dikenal, disegani sekaligus ditakuti. Mereka menutup rapat urusan dalam dan keuangan, hidup tertutup dari dunia luar. Yang paling membuat orang segan adalah sifat mereka yang kejam dan tak kenal ampun — dikenal luas sebagai keluarga pembunuh bayaran yang tak tertandingi.
Ciri khas mereka tak perlu diragukan lagi. Jika darah masih murni, rambut mereka berwarna perak keemasan pucat, berkilau tipis saat terkena cahaya. Mata mereka sejernih es beku — biru terang hingga menebarkan rasa dingin hanya dengan sekali tatap. Di zamannya, keluarga ini memegang kekuasaan penuh, bisa mengatur segalanya sesuka hati. Namun di balik kekayaan dan kekuasaan itu tersembunyi satu tradisi aneh yang menjadi alasannya: setiap lima puluh tahun sekali, mereka wajib menyerahkan satu nyawa sebagai tumbal — dan harus yang berdarah murni, bukan campuran.
Lama-kelamaan, keturunan darah murni makin sulit didapat. Sulit memiliki keturunan, banyak yang meninggal muda — membuat fondasi keluarga yang kokoh itu mulai retak dan goyah.
Suatu malam, di dalam gedung besar yang remang dan sedingin makam, sepasang suami istri berdiri berhadapan dengan keributan. Orang-orang tak dikenal menerobos masuk — suruhan para tetua keluarga. Sang istri hanya berdarah campuran, namun suaminya murni penuh. Mereka memiliki seorang putri berusia sepuluh tahun — Sofia. Para tetua ingin mengambil gadis itu untuk dijadikan tumbal berikutnya.
Keduanya mahir bertarung, namun jumlah lawan terlalu banyak. Akhirnya sang suami memutuskan menahan semua penyerang sendirian. Sang istri hanya sempat melirik sekali — hati hancur berkeping-keping — lalu segera menarik tangan mungil putrinya dan berlari keluar. Ia memegang tangan anaknya dengan lembut namun erat, tak ingin Sofia terjatuh meski napasnya terengah-engah dan dadanya sesak. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan tak ada yang terlalu dekat.
Mereka terus berlari, menerobos masuk ke dalam hutan yang gelap dan lebat, berharap bisa mencapai perbatasan dan lolos dari wilayah kekuasaan keluarga itu. Sofia hanya mengikuti langkah ibunya dengan tubuh gemetar hebat, ketakutan menyelimuti setiap inci tubuhnya. Wajahnya masih terbayang jelas — ayahnya yang harus ditinggalkan sendirian di tengah kerumunan pengejar. Ia ingin berteriak, memanggil, namun lidahnya terasa kelu seolah tertanam di langit-langit mulut.
Belum jauh berlari, lima orang pengejar mulai mendekat. Sang ibu berhenti mendadak, mendorong tubuh Sofia sedikit menjauh ke balik semak, lalu langsung menyambut dua orang yang paling depan. Gerakannya secepat kilat — hanya dalam hitungan detik, keduanya sudah tergeletak tak bergerak. Ia segera kembali menghampiri anaknya, berlutut di tanah yang basah dan dingin, memegang kedua pipi Sofia dengan tangan yang sedikit bergetar.
Rambut perak keemasan gadis itu terurai panjang, sedikit berantakan terkena ranting dan dahan tajam. Matanya yang biru bening berkaca-kaca, penuh air mata dan ketakutan yang tak bisa disembunyikan. Ia masih mengenakan gaun tidur putih yang kini kotor terkena lumpur dan daun kering. Tangannya meringkuk di dada, sesenggukan tak berhenti, bahunya naik turun menahan isak tangis yang menyakitkan.
Ibunya menahan sesak di tenggorokan, berusaha tersenyum meski matanya juga basah berkaca-kaca. Ia mengeluarkan sebilah belati dari pinggangnya, lalu menaruh gagangnya ke telapak tangan Sofia dan memeganginya agar tak terlepas dari genggaman kecil itu.
Belati itu terasa berat di tangan anak itu. Bilahnya panjang dan mengilap, memantulkan cahaya remang dari bulan yang tersembunyi di balik awan. Ada ukiran halus yang memanjang di sepanjang permukaannya — pola yang rumit namun indah, seolah menyimpan kisah berabad-abad. Gagangnya terbuat dari bahan gelap yang pas digenggam, dihias ukiran logam yang rumit di bagian ujung dan silangnya. Sarungnya juga sama, dipadukan kulit bertekstur dan hiasan logam yang serasi. Benda ini bukan sekadar senjata — terasa seperti warisan yang menyimpan beban berat, namun juga perlindungan yang tak terlihat.
Dari balik pepohonan yang gelap, tiga orang lagi muncul mendekat. Suara ibu itu berubah tegas, namun nadanya tetap bergetar menahan tangis yang tertahan di kerongkongan:
"Sayang… kau putri kesayangan Ibu. Kau kuat, kan? Bawa ini. Pergilah sejauh mungkin." Ia menatap mata biru anaknya dengan pandangan yang dalam — penuh cinta, penuh kepedihan, penuh perpisahan yang tak terucap. "Ingat… kalau ada yang menyakitimu, pakai belati ini. Faham? Cepat pergi, Nak."
Anak itu hanya menggeleng cepat, air matanya makin deras membasahi pipi. Ia tak mau melepaskan tangan ibunya, tak mau pergi sendirian ke dalam kegelapan yang menakutkan itu. Namun ibunya sudah berdiri, berbalik memunggungi Sofia, menghadap kedatangan musuh sambil bersiap bertarung lagi — tubuhnya gemetar, bukan karena takut, tapi karena harus meninggalkan satu-satunya alasan untuk tetap hidup.
Tiba-tiba teriakan keras memecah keheningan hutan — penuh keputusasaan dan cinta yang tak terukur:
"SOFIA! PERGI! PERGI SEKARANG! LARI DAN JANGAN PERNAH BERHENTI!"
Gadis itu menoleh sekali lagi — satu kali, untuk selamanya. Melihat ibunya yang sudah dikelilingi oleh bayangan-bayangan gelap, bertarung sekuat tenaga meski tubuhnya mulai terluka, darah menetes jatuh ke tanah hutan yang lembap. Ia menggenggam belati itu erat-erat sampai buku-buku jarinya memutih, sampai kuku menancap ke telapak tangannya sendiri, lalu memutar badan dan berlari — sekuat tenaga kaki mungilnya bisa membawanya. Sempat terantuk akar pohon yang besar dan jatuh telungkup ke tanah yang berlumpur, tapi ia bangkit lagi tanpa membuang waktu, terus berlari masuk ke dalam kegelapan yang pekat — membawa air mata yang tak henti menetes, dan belati itu yang terasa makin berat di tangannya, seolah menanggung seluruh beban darah yang mengalir di dalam dirinya.
Bertahun-tahun berlalu.
Terbentang sebuah desa kecil yang tersembunyi di lembah pegunungan tinggi, jauh dari bising kota dan hiruk-pikuk dunia luar. Di tengah hamparan rumput hijau luas yang penuh bunga liar kuning yang mekar indah, berdiri rumah-rumah kayu sederhana beratap papan. Sudah puluhan tahun berdiri kokoh — kayunya memudar terkena hujan dan matahari, namun tetap kuat tak goyah diterpa angin kencang. Jalan tanahnya berkelok lembut, dipagari kayu dan kawat kasar yang menjadi batas ladang milik warga satu sama lain.
Di kejauhan, gunung-gunung tinggi menjulang gagah, puncaknya sering tertutup kabut tipis seolah tak ingin memperlihatkan seluruh keindahannya. Udara di sini sangat sejuk dan segar, terasa ringan menyejukkan paru-paru saat dihirup dalam-dalam. Kendaraan jarang lewat; sesekali hanya terdengar suara motor melaju pelan di jalan berbatu, membawa sayuran dari kebun lalu berhenti sebentar untuk menawarkannya ke rumah-rumah. Di pinggir jalan ada warung kayu kecil, tempat warga berkumpul belanja beras atau garam, sekaligus mengobrol melepas lelah di sore hari.
Di ujung desa, tak jauh dari sungai yang airnya bening sampai terlihat kerikil di dasarnya, ada air terjun yang menyembur pelan di sela-sela batu besar. Airnya turun perlahan, mengalir tenang di antara bebatuan yang berlumut hijau. Tepat di sebelahnya berdiri rumah kami — dibangun dari batu alam dan kayu tebal, seolah sudah tumbuh menyatu dengan lingkungan sekitar sejak zaman dahulu.
Halaman depannya ada tangga batu yang tersusun sederhana namun kokoh, ditumbuhi lumut hijau di celah-celahnya. Di sisi-sisinya tumbuh rumput pendek dan bunga liar berwarna putih, biru, serta ungu yang menjalar bebas sampai ke dinding rumah. Beberapa tiang kayu besar menopang atap teras, memberi tempat teduh yang sejuk sepanjang hari. Di belakangnya terlihat pepohonan lebat dan lereng gunung yang hijau, sementara suara air terjun terdengar terus-menerus — lembut, berirama, tak pernah berhenti, seperti detak jantung yang menenangkan.
Dinding rumah itu dari papan kayu yang warnanya sudah pudar terkena angin gunung dan hujan berkabut. Pintu depannya dari kayu tua yang berat, terasa kasar saat dipegang namun kokoh sekali — tak ada satu pun paku yang terlihat menonjol. Di sampingnya ada jendela dengan bingkai kayu serasi, daun jendelanya mudah digerakkan tanpa berdecit sedikit pun. Di depan teras dipasang pagar kayu kasar yang setinggi pinggang, lantainya semen yang sudah dipadatkan puluhan tahun — sekarang terasa halus dan rata saat dipijak, dipoles oleh waktu dan tapak kaki yang tak terhitung jumlahnya. Di ambang jendela tergantung pot tanah liat berisi bunga merah yang tumbuh subur, memberi sedikit warna cerah pada bangunan yang terlihat begitu alami dan tenang.
Di teras itu, sepasang suami istri duduk bersila beralaskan tikar plastik tipis yang sudah agak menipis di beberapa bagian, namun masih cukup nyaman. Mereka diam menikmati angin sore yang berhembus lembut, membawa aroma tanah basah dan bunga liar.
Sang ibu berwajah lembut sekali — seolah seluruh kelembutan di dunia ini berkumpul di wajahnya. Kulitnya putih bersih, tak pernah memakai krim apa pun tapi tetap terlihat bersinar segar setiap kali terkena cahaya senja. Rambutnya yang panjang sampai di pinggang disisir rapi, diikat longgar ke belakang, berkilau lembut terkena cahaya keemasan matahari yang mulai turun. Matanya bening dan hangat — menatap siapa saja dengan pandangan yang menenangkan, seolah ia tahu beban apa yang sedang kau pikul. Saat tersenyum, terasa tulus tanpa kepura-puraan sedikit pun. Tangannya bergerak terampil menuangkan air hangat dari teko tanah liat ke cangkir kayu yang permukaannya kasar namun halus dipegang. Senyumnya tak pernah hilang — seolah ia sudah merasa cukup dengan apa yang ada, dan tak meminta lebih dari hidup.
Di sampingnya duduk ayah. Kulitnya sawo matang, terbakar matahari ladang sejak muda. Ada garis-garis halus di dahi dan sudut matanya — peta kehidupan yang penuh kerja keras dan kejujuran. Matanya tajam namun terasa lembut setiap kali menatap istri dan anak-anaknya. Rambutnya lebat namun agak berantakan, seperti baru saja mengusap keringat lalu langsung duduk bersama keluarga tanpa mempedulikan penampilan. Ia mengenakan kemeja katun biru yang sudah pudar warnanya, lengan digulung sampai siku, dipadukan celana kain cokelat yang agak lusuh di bagian lutut. Tapi ia selalu terlihat bersih dan rapi, dan saat ada di dekatnya — rasanya aman. Seolah tak ada badai yang berani mendekat selama ia berdiri tegak.