NovelToon NovelToon
Oh No! Calon Ibu Tiri Kami Ternyata Bu Guru

Oh No! Calon Ibu Tiri Kami Ternyata Bu Guru

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / CEO / Duda
Popularitas:18.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Kepindahan Arumi ke sekolah elit di ibu kota membawanya menjadi wali kelas Azzam dan Azzura, si kembar anak konglomerat yang dikenal paling bermasalah. Dengan ketulusan dan kesabarannya, Arumi berhasil mengubah mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Takdir kemudian mempertemukannya kembali dengan Zaky Tanuwijaya, ayah si kembar sekaligus cinta pertama yang pernah menghancurkan hatinya di ambang pernikahan. Kini, Zaky yang telah menjadi duda ingin menebus kesalahan masa lalu dan memenangkan kembali hati Arumi.
Namun, ibunda Zaky terus menanamkan ketakutan kepada Azzam dan Azzura bahwa ibu tiri hanyalah wanita yang mengincar harta. Di tengah penolakan si kembar dan luka lama yang belum sembuh, mampukah Arumi membuka kembali hatinya dan membuktikan bahwa kasih sayang tulus mampu mengalahkan prasangka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1

Pagi itu, secarik kertas dengan kop resmi Dinas Pendidikan mengubah jalan hidup Arumi Anggraini. Surat penugasan itu datang mendadak, memindahkan tugas mengajarnya dari sebuah sekolah di pelosok daerah ke salah satu sekolah menengah pertama paling elit di Jakarta. Bukannya gentar, darah muda Arumi justru berdesir. Prestasinya yang gemilang selama mengabdi di kampung membuatnya haus akan tantangan baru. Jakarta, dengan segala kemegahannya, adalah panggung baru yang siap ia taklukkan.

Namun, di balik kegemilangan kariernya terlebih setelah satu bulan lalu ia resmi diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan nilai kelulusan yang memuaskan kehidupan asmara Arumi justru mati suri. Di usianya yang matang, ia masih betah sendiri. Di kampung, orang tuanya sudah jengah dan berulang kali mencoba menjodohkannya dengan pria-pria mapan. Bahkan Pak Kades sampai detik ini masih memendam harap, menunggu Arumi menerima lamarannya. Namun bagi Arumi, pintu hati itu sudah digembok rapat. Trauma dan luka masa lalu akibat pengkhianatan cinta pertamanya membuat Arumi tak lagi percaya pada makhluk bernama laki-laki. Baginya, kebahagiaan sejati ada pada senyum anak-anak didiknya, bukan pada janji manis seorang pria.

Keesokan harinya, petualangan itu dimulai. Sebagai wanita yang benar-benar awam dengan belantara beton kota metropolitan, Arumi belum bernyali mengendarai sepeda motornya sendiri. Alhasil, aplikasi ojek online menjadi penyelamatnya.

Hampir satu jam lamanya Arumi terombang-ambing di atas motor, membelah kemacetan Jakarta yang menguras emosi. Ketika motor berhenti tepat di depan gerbang megah bertuliskan SMP Chandrakanta, Arumi terpaku. Gedung sekolah itu menjulang megah, tempat bernaungnya anak-anak para pejabat dan pengusaha papan atas. Sekolah yang kabarnya kekurangan sosok guru tegas namun berhati tulus.

Arumi turun dari motor, merapikan jilbab dan seragam batiknya yang sedikit kusut. Ia menghembuskan napasnya, lalu merapatkan kedua tangannya di dada.

'Bismillah... Ya Allah, lancarkanlah langkah hamba di tempat ini. Jadikan hamba pelita bagi mereka,' bisiknya dalam hati, memanjatkan doa.

Rupanya, kedatangan Arumi sudah diantisipasi. Begitu melangkah melewati pos satpam, ia langsung disambut oleh seorang staf Tata Usaha bernama Roy. Pria bertubuh gempal yang kerap dijuluki bujang lapuk oleh rekan-rekannya itu seketika melebarkan senyum saat melihat Arumi. Roy merasa seperti ketiban bulan runtuh karena mendapat tugas mengantar guru baru yang ternyata memiliki paras sangat cantik nan anggun.

"Mari, Bu Arumi, saya antar langsung ke ruangan Kepala Sekolah. Oh ya, perkenalkan, saya Roy dari bagian TU," ucap Roy dengan nada suara yang sengaja dibuat manis sembari menuntun jalan.

"Terima kasih banyak, Pak Roy. Mohon bantuannya ya, saya masih baru sekali di Jakarta," balas Arumi ramah, lengkap dengan senyum profesionalnya yang membuat jantung Roy berdegup dua kali lebih cepat.

Langkah kaki mereka bergema di koridor sekolah yang bersih dan ber AC. Setibanya di depan sebuah pintu kayu jati yang kokoh dengan papan nama Kepala Sekolah, Arumi mendadak merasa gugup. Jemarinya meremas tali tas kerjanya.

Tok! Tok! Tok!

Roy mengetuk pintu dengan penuh percaya diri. Tak butuh waktu lama, sebuah suara berat dan berwibawa menyahut dari dalam.

"Masuk!"

Roy membuka pintu dan mempersilakan Arumi masuk terlebih dahulu. Di balik meja kerja yang besar, seorang pria matang, berwibawa, dan memancarkan kharisma kepemimpinan langsung berdiri. Pria itu menyambut mereka dengan senyuman hangat yang menenangkan, lalu mengulurkan tangannya.

"Dengan Ibu Arumi Anggraini, ya?" tanya Bapak Kepala Sekolah, suaranya terdengar begitu bersahabat.

Arumi menyambut uluran tangan itu dengan senyum tertahan, mencoba menyembunyikan kegugupannya. "Betul sekali, Pak!"

"Perkenalkan, saya Bima Darmawangsa. Saya menjabat sebagai kepala sekolah di SMP Chandrakanta ini. Selamat datang, Bu Arumi. Semoga Ibu betah dan bisa memberikan warna baru dalam mendidik anak-anak di sekolah kami. Silakan duduk, Bu."

"Terima kasih, Pak Bima," jawab Arumi sembari mendudukkan diri di kursi kulit yang empuk.

Pak Bima kemudian mengalihkan pandangannya kepada staf TU yang masih berdiri mematung di dekat pintu, memandangi Arumi dengan tatapan kagum yang belum pudar.

"Dan untuk Pak Roy, terima kasih banyak karena sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Anda bisa kembali ke ruangan Anda sekarang," ujar Pak Bima tegas, sembari memberikan kedipan mata kode keras agar Roy segera angkat kaki dan tidak mengganggu privasi pertemuan tersebut.

Roy langsung tersentak. Ia menghela napas panjang, tampak berat hati karena harus menyudahi momen indahnya bersama sang guru baru secepat ini. "Baik, Pak Bima. Saya permisi dulu. Mari, Bu Arumi..." pamit Roy lesu, lalu melangkah gontai keluar dari ruangan, meninggalkan Arumi yang kini siap memulai babak baru hidupnya di SMP Chandrakanta.

Di dalam ruang kerja yang sejuk, Pak Bima menatap berkas di tangannya sebelum beralih menatap Arumi dengan senyum yang sulit diartikan.

"Baik, Bu Arumi. Berdasarkan surat keputusan, Anda akan mengajar mata pelajaran Matematika. Selain itu, pihak sekolah juga memutuskan untuk langsung menunjuk Anda sebagai wali kelas yang baru, menggantikan posisi wali kelas sebelumnya yang mendadak mengundurkan diri," jelas Pak Bima, nadanya terdengar sangat hati-hati.

Mendengar hal itu, sebuah pertanyaan besar mulai bergelayut di pikiran Arumi. Mengundurkan diri? Apa yang sebenarnya menyebabkan sang wali kelas sebelumnya sampai mengambil keputusan se ekstrem itu di tengah semester? Namun, sebelum Arumi sempat mengutarakan kebingungannya, Pak Bima sudah berdiri dari kursi kebesarannya.

"Nah, Bu Arumi... Setelah ini Anda akan langsung mengajar di kelas 7 C. Mari saya antar, Bu. Dan... saya mohon Ibu bisa sedikit bersabar menghadapi murid-murid di sana," ujar Pak Bima sembari melangkah menuju pintu.

Mendengar wejangan tersebut, rasa penasaran Arumi semakin memuncak. Ia mengangguk mantap, sudah tidak sabar untuk segera pergi ke kelas 7 C dan melihat sendiri medan perangnya.

Pak Bima berjalan di depan memandu arah. Sebenarnya, di dalam lubuk hatinya, sang kepala sekolah merasa sangat bersalah. Ada rasa tidak tega karena harus menempatkan sosok guru yang tampak lembut, cantik, dan baik seperti Arumi di kelas yang bisa dengan mudah membuat siapa pun hilang kesabaran. Bagaimana tidak? Hanya dalam semester ini saja, sudah ada 5 wali kelas yang mengundurkan diri bergantian karena tidak tahan dengan kenakalan murid-murid di kelas itu yang dinilai sudah keterlaluan.

Saat Arumi dan Pak Bima berjalan menyusuri koridor menuju ruang kelas 7 C, beberapa guru yang berpapasan tampak memandangi Arumi dengan tatapan iba. Mereka bahkan berhenti sejenak, mengusap dada mereka sendiri sembari berbisik lirih.

"Semoga guru baru kali ini bisa tahan dengan mereka," ujar salah satu guru wanita berhijab yang baru saja keluar dari ruang guru, menatap punggung Arumi dengan cemas.

Arumi mengencangkan genggaman pada buku diktat Matematika di pelukannya. Atmosfir di koridor ini mendadak terasa mencekam.

Begitu mereka tiba di depan pintu kelas 7 C, Pak Bima menghentikan langkah, menarik napas dalam-dalam, lalu memutar gagang pintu. Namun, tepat saat pintu kayu itu terbuka....

Syuuuut!

Puk!

Sebuah penghapus papan tulis kayu yang penuh debu kapur melayang cepat dari dalam kelas, terlempar keluar dan hampir saja menghantam wajah sang kepala sekolah jika Pak Bima tidak refleks memundurkan kepalanya. Debu putih mengepul sesaat di udara.

Suasana kelas yang tadinya riuh layaknya pasar malam seketika hening. Mengetahui bahwa yang hampir mereka celakai adalah orang nomor satu di sekolah ini, para siswa dan siswi buru-buru berlarian kembali ke bangku mereka masing-masing. Mereka duduk tegap, namun saling berbisik dan menyembunyikan senyum geli di balik buku.

Arumi yang menyaksikan kejadian itu secara langsung spontan menelan ludahnya kesusahan. Jantungnya berdegup kencang. Sementara itu, Pak Bima menghembuskan napas berat, berusaha sekuat tenaga untuk tetap sabar dan tenang menghadapi kelakuan murid-muridnya.

Di barisan bangku paling belakang, seorang remaja laki-laki dengan seragam yang tidak dimasukkan dan dasi yang sengaja dilonggarkan malah tertawa renyah tanpa rasa bersalah. Dia adalah Azzam, si ketua geng di kelas urakan tersebut.

"Woy, elo salah sasaran! Yang harusnya elo lempar itu si wali kelas baru, bukannya pak kepala sekolah!" seru Azzam lantang pada temannya di seberang bangku, memicu tawa cekikikan dari murid-murid yang lain. Di sampingnya, seorang anak perempuan yang wajahnya sangat mirip dengannya yakni Azzura hanya bersedekap dada sambil menatap Arumi dengan pandangan meremehkan.

Saat Pak Bima dan Arumi akhirnya melangkah masuk ke dalam kelas, pemandangan di dalam sana benar-benar memprihatinkan. Ruangan tersebut begitu berantakan, kertas-kertas berserakan di lantai, meja kursi tidak beraturan, dan coretan-coretan usil memenuhi sudut papan tulis.

Arumi menghentikan langkahnya di samping meja guru. Ia menghela napas panjang, lalu perlahan mengusap dadanya sendiri untuk menenangkan gemuruh di dalam sana.

'Arumi, ini adalah perang yang sesungguhnya. Kau sudah berkomitmen menjadi guru, dan kau harus bisa mengatasi anak-anak nakal ini! batinnya menyemangati dirinya sendiri, menatap lurus ke arah sepasang mata kembar yang kini tengah menantangnya.

Bersambung...

1
aristi
wow Brebes itu kampungku thor😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: wah, apa kabar warga Brebes 🤗
total 1 replies
Nar Sih
pilihan yg tepat zaky,buruan temuin ayu minta tolong pada nya dia pasti tau sebab mslh kamu knpa arumi berubah pada mu
Nar Sih
jgn menyerah zaky,cri tau sebab arumi berubah
mimief
hayooo Zaki
sekarang si tinggal terserah lu
masih mau ga berjuang
Arumi mah udah pasrah Ama takdir
toh...gw juga bisa kok selama ini tanpa lu
mimief: lanjut Thor 🤭
total 2 replies
Uba Muhammad Al-varo
Zaky........dari dulu sampai sekarang kenapa otakmu lemot dan kau nyonya Maya yang sombong yang membiarkan anaknya Zaky menjadi duda karatan dan tak tersentuh, hadeuh dasar si nyonya ogeb/Hammer//Hammer//Hammer//Hammer//Hammer/
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: Oalah duda karatan 🤣🤣🤣
total 1 replies
mamayasna
syuuliitt dahh
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
neny
selidiki ath zaky. atas apa yg terjadi sm arumi,mengapa sikap nya berubah,,tanya sm ayu,,km kan pintar,masa gtu ajh mesti dikasih tau
neny: ya iya lah,,hanya bertanya tanya dlm hati doang mah gk akan ada jawaban nya🤣🤣
total 2 replies
Teh Euis Tea
Zaky, ibumu biang keroknya, ibumu jg yg nyekokin biar km ga nikah lg
dasar nenek lampir
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hooh, mak lampir 🤣🤣
total 1 replies
Teh Yen
yah Zaky engg tau dong ibunya udh ngelabrak Arumi yah
Teh Yen
duh yg CLBK (cinta lama bersemi kembali) brasa muda kembali sampe.engg sadar senyum" sendiri hihii 🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Nar Sih
zaky ..cri tau sja knpa sikap arumi berubah ,dan itu grgr ibu mu
Nar Sih
jatuh cinta berjuta rasa nya ,kebayang,,bila ngk jumpa 😂😂
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali kak 🤣🤣
total 1 replies
Teh Euis Tea
ya ampun Bu Maya bkn Arumi loh yg deketin putramu tp si Zaky sendiri yg msh ngejar Arumi
Arumi lawan jgn diam aj, cabein aj mulut kotor Bu Maya klu ga berani suruh othor yg maju duluan ntar aku bantuin doa dari jauh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: weh, aku di tumbalin 🤣🤣🤣/Cleaver//Cleaver//Cleaver/
total 1 replies
mimief
gas yu...yg model beginian mah jangan kasih kendor 🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hooh siap 🤣🤣
total 1 replies
Uba Muhammad Al-varo
ayolah Ayu jaga Arumi dari kekejaman mulutnya nyonya Maya,kalau dia menyakiti Arumi lawan Ayu jangan diam aja udah terlalu banyak penderitaannya Arumi akibat nyonya Maya karena fitnahnya Citra
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 😄
total 1 replies
neny
sabar ya rum,,nanti jg kebenaran akan terungkap,,cepat atau lambat,,semangat💪😘
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: semangat juga kak 😀
total 1 replies
Teh Euis Tea
baru di senyumin Arumi aj udah serasa dunia milik km sendiri Zaky 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: nah itu dia, apalagi klo yg lain, bisa pingsan 🤣🤣
total 1 replies
neny
ter arumi arumi...🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hooh kak🤣🤣
total 1 replies
Patrick Khan
lanjut
Nar Sih
arumi hati,,zaky emg serius sama kmu tpi ibu nya ngk suka dgn mu
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!