Dia hanyalah sekretaris tak menarik dan berkacamata yang selalu terlihat sibuk dengan tugasnya.
Tapi di balik penampilannya yang polos, Cassia Manon diam-diam menyimpan rasa pada bos playboy, Maxence Kingsford.
Sayangnya, Maxence tak pernah menggodanya meskipun dia seorang playboy karena mungkin di matanya—Cassia sama sekali tak menarik.
Sampai suatu malam dalam sebuah pesta bisnis, Max dijebak dengan minuman perangsang oleh seorang wanita yang menginginkan dirinya.
Cassia Manon yang selalu bersamanya—akhirnya menyelamatkannya, tapi konsekuensinya berat, satu malam menjadi pelampiasan hasrat bosnya. Dan Cassia justru menyerahkan tubuhnya dengan sukarela.
Pagi harinya, Cassia mengira semuanya selesai. Tapi ternyata Maxence tak ingin berhenti.
Bagaimana hubungan mereka selanjutnya? Apakah tetap tanpa ikatan dan hanya sekadar pelampiasan semata? Ataukah akan ada benih-benih cinta di hati Max untuk Cassia yang semakin lama cintanya semakin besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagi Max, Itu Menantang
Pukul 23.30, Saat pesta mulai mereda, para tamu berhamburan keluar menuju lift. Suasana di ruangan itu perlahan lengang hanya menyisakan orkestra jazz yang masih memainkan lagu penutup dan beberapa orang yang masih asyik mengobrol di balkon.
Maxence dan Clarissa masih duduk di sofa dekat bar. Kini jarak mereka lebih dekat, hanya terpisah beberapa inci.
Maxence bisa mencium wewangian Clarissa. Ia merasa ini saat yang tepat.
“Clarissa,” ucap Maxence pelan, matanya menatap wanita di sampingnya dengan intens. “Pemandangan dari penthouse-ku jauh lebih indah daripada ini. Aku punya koleksi wine yang lebih tua dari Julian, dan ... jujur, aku masih ingin mendengar banyak cerita darimu.”
Ajakan itu jelas. Maxence benar-benar ingin Clarissa datang ke apartemennya, melanjutkan obrolan mereka di ruang yang lebih privat.
Di dalam hatinya, Clarissa mendengar suara yang berteriak, ‘Iya, aku mau!’ Ia benar-benar ingin. Tubuhnya bahkan sudah sedikit condong ke arah Maxence.
Tapi kepalanya yang rasional segera mengambil alih. Ia mengenal tipe pria seperti Maxence, mungkin bukan yang vulgar, tapi tetap saja, jika Clarissa terlalu mudah, maka besok pagi dia hanya akan menjadi wanita semalam yang namanya bahkan mungkin tidak akan diingat.
Clarissa butuh harga diri. Ia butuh dikejar.
“Max,” Clarissa menghela napas, lalu tersenyum manis. “Kau sangat menarik. Sungguh. Tapi aku tidak tidur dengan pria yang baru aku kenal di pesta. Apalagi pria yang mengajakku ke penthouse-nya di tengah malam tanpa janji akan mengantarkanku pulang di pagi hari.”
Maxence tertawa kecil. “Aku pasti akan mengantarmu pulang. Bahkan bisa setiap hari.”
“Candaan yang manis. Tapi jawabanku tetap tidak.”
Clarissa berdiri dengan anggun. Ia merapikan dress burgundy-nya, lalu menoleh ke belakang dengan senyum setengah menggoda. “Sampai jumpa lain waktu, Maxence Kingsford. Semoga kita bertemu lagi.”
Maxence hanya bisa terdiam, setengah kagum, setengah frustrasi. Belum pernah dalam hidupnya seorang wanita menolak tawarannya semudah itu.
Tak lama, Julian muncul dari kerumunan. Tepat saat Maxence masih termenung, bahunya ditepuk dari belakang.
“Max! Di sini rupanya. Aku lihat kau mengobrol serius dengan Clarissa tadi.”
“Kau sudah lama kenal dia?” tanya Maxence berusaha santai.
“Dia teman Jenni. Clarissa itu manajer investasi di Blackthorn, salah satu yang terbaik kata Jenni. Cantik, pintar, dan terkenal susah didekati. Kau berhasil mengobrol hampir sejam, itu sudah pencapaian.”
Maxence tersenyum tipis. “Dia menolak ajakanku ke penthouse.”
Julian tertawa. “Tentu saja! Itu Clarissa. Dia bukan wanita murahan yang langsung kagum melihat nama Kingsford. Justru itu bagus, Max. Kau punya tantangan.”
“Tantangan?”
“Iya, kau kan suka yang susah. Kalau mudah, bosan.”
Julian lalu meraih bahu Maxence dan menunduk ke arah telinga Max.
“Dengar, minggu depan aku akan mengadakan pesta lagi. Kali ini di yacht-ku, Kita akan berlayar ke tengah laut, Clarissa pasti datang karena dia teman Jenni. Kau bisa pendekatan lebih intens lagi.”
Maxence mengangkat alis. “Good idea.”
“Di tengah laut, mau tidak mau kalian akan sering berdua.”
Senyum muncul kembali di wajah Maxence.
“Baiklah. Aku setuju,” jawab Maxence akhirnya. “
Mereka bersulang dengan gelas masing-masing, satu untuk kemenangan bisnis, satu lagi untuk pengejaran wanita yang baru saja dimulai.
JANGAN LUPA LIKE, FAVORIT dan KOMEN YANG BANYAAAAKK yaaak …
yuk semangatt cassia bentengi hati km yaa!
suka boleh, tapi dalam batas wajar.
biar kedepannya km tidak merasakan sakit mendalam.
ehh aku yakin cassia bukan type cwe yg bakal terpuruk oleh percintaan sii hihi
tpi untuk visual max disini bikin aku sedikit 🤏 salting 🤭