Satu malam mengubah hidup Keyla selamanya.
Dijebak oleh ibu tirinya sendiri, Keyla kehilangan kehormatan dan masa depannya. Pria yang bersamanya malam itu bukan pria sembarangan—Dominic, mafia berbahaya yang tak pernah tersentuh hukum.
Bagi Dominic, wanita hanyalah alat. Kecuali istri yang amat sangat ia cintai.
Namun tekanan dari ibunya memaksanya mencari seorang pewaris, sementara istrinya menolak memberinya anak.
Saat Keyla muncul dalam hidupnya, sebuah keputusan kejam diambil Dom terpaksa menjadikannya istri kedua.
Tapi siapa sangka, hubungan yang diawali dengan paksaan justru menumbuhkan rasa yang sulit dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Rencana Licik
Malam itu, ruang makan kediaman Fredrick menjadi saksi bisu berkumpulnya sebuah keluarga.
Dominic duduk di tengah, diapit oleh dua wanita yang statusnya sama-sama sah sebagai istrinya.
"Bibi Key, Bibi mau makan apa? Pilih cemuanya, jangan malu-malu! Nanti dimalahi paman Dom," celoteh Zoey, memecah kecanggungan.
Zoey duduk tepat di samping Keyla, seolah menjadi pelindung kecil bagi istri kedua pamannya itu.
Keyla terdiam, matanya menyapu deretan hidangan yang tersaji di atas meja. Ada salmon panggang, sup rumput laut yang mengepul, hingga ayam goreng rempah yang aromanya begitu menggoda.
Selama hidupnya di rumah Siska, ia hanya mengenal nasi putih dengan sisa sayur yang hampir basi. Jika beruntung, ia mendapat sepotong tahu.
Pagi hari, biasanya Keyla hanya minum segelas air putih dan satu buah apel untuk mengganjal perut sebelum ke kampus.
"Apa saja, Zoey," jawab Keyla pelan.
"Nah, Bibi ayo makan ayam goleng! Zoey cuka cekali ayam ini, dagingnya empuk ndak kayak daging naga," ucap Zoey sembari memindahkan potongan paha ayam ke piring Keyla.
Clara, yang duduk di sisi lain Dominic, menatap pemandangan itu dengan tatapan jijik yang tak disembunyikan.
Clara memilin serbet, hatinya panas melihat kedekatan Zoey dengan Keyla.
"Entah guna-guna apa yang dia gunakan. Sampai-sampai anak sekecil Zoey bisa menempel padanya seperti perangko," gumam Clara dalam hati, bibirnya berkedut menahan makian.
Keyla mulai makan. Ia tidak bisa berbohong bahwa perutnya sudah berontak sejak semalam. Ia melahap ayam goreng itu dengan lahap, membuat pipinya menggembung lucu.
"Cih! Kalau kau makan seperti orang kelaparan begitu, kau bisa cepat gemuk. Ingat ya, suamiku punya standar tinggi. Setelah kau jadi ba-bi hutan, mungkin dia akan langsung menceraikan mu detik itu juga!" celetuk Clara sinis, matanya melirik tajam ke arah Keyla. "Lihat tubuhku, aku sangat hati-hati memilih makanan supaya suamiku betah bersamaku. Tidak seperti orang miskin yang baru melihat daging."
Dominic tetap diam, wajahnya datar seolah sedang mendengarkan laporan bisnis yang membosankan.
Sementara Diego dan Elise hanya saling lirik, lalu kembali menikmati hidangan mereka.
Mereka sudah sepakat untuk tidak ikut campur dalam "
perang dingin ini selama belum ada piring yang melayang.
"Oh ya, aku lupa, kau kan tidak pernah makan makanan enak. Sedangkan aku? Aku sudah mencoba semuanya dari Paris sampai Milan sampai rasanya aku bosan! Lidahku sudah terlalu mahal untuk makanan begini." Clara melipat tangan di dada, kepalanya mendongak angkuh. "Awas, perut kampunganmu bisa sakit kalau dipaksa makan mewah!"
Keyla menelan suapannya, lalu menatap Clara sambil senyum tipis. "Terima kasih atas pujiannya, Kak. Aku akan ingat kalau Kakak sudah bosan jadi orang kaya."
Dominic hampir tersedak air yang diminumnya. Ia menahan tawa dalam hati. Gadis kecilnya ternyata punya taring yang cukup tajam untuk membalas tanpa harus memaki.
"Makanlah sup ini." Dominic mengambil semangkuk sup rumput laut hangat dan meletakkannya tepat di depan Keyla. "Ini bagus untuk staminamu."
"Terima kasih, Tuan," ucap Keyla refleks.
"Tuan?" sahut Diego seraya meletakkan garpunya. "Kau memanggil suamimu dengan sebutan tuan? Apa kau pikir dia bosmu di kantor?"
Keyla tersentak dengan wajah merona merah. Ia lupa kalau Dom pernah menyuruhnya berhenti memanggil tuan.
Sebelum Keyla sempat menjawab, Dominic sudah memotong lebih dulu.
"Dia masih belum terbiasa memanggilku sayang, Pa. Maklum, hubungan kami berawal dengan sesuatu yang tak terduga. Nanti malam aku akan mengajarinya pelan-pelan di kamar," jawabnya tenang.
"Cih! Sayang katanya?" Diego mengejek sembari melirik sang putra. "Cinta istri pertama saja diduakan, gaya-gayaan mau mengajari soal sayang."
"Diego, cukup! Lanjutkan saja makan mu!" Elise menimpali sembari mencubit perut suaminya di bawah meja.
"Aww!" rintih Diego yang langsung terdiam seribu bahasa.
Merasa panggungnya direbut dan perhatian Dominic sepenuhnya beralih pada Keyla, Clara mulai melancarkan aksinya.
"Sayang, aku juga mau sup rumput lautnya. Ambilkan untukku juga," pintanya dengan nada manja yang dibuat-buat manis.
Diego yang sudah kembali tenang, menyahut tanpa menatap menantu pertamanya itu. "Bukankah kau tadi bilang sudah bosan dengan semua makanan ini, Clara? Kenapa minta lagi?"
Wajah Clara memerah padam. Ia merasa dipojokkan oleh mertuanya sendiri. "Maksudku... aku hanya ingin disuapi Dominic, Pa," ucapnya kikuk.
Zoey yang sejak tadi asyik mengunyah, tiba-tiba menatap Clara dengan tatapan menyelidik.
"Bibi galak jangan makan cup itu. Nanti bica cakit pelut kalau makan cembalangan. Katanya bibi bocan?" celetuk Zoey. "Bial Bibi Key yang makan cemuanya. Bibi Key kan mau punya bayi, jadi wajib makan banyak cupaya bayinya ndak kelapalan di dalam pelut. Kalau bibi galak kan ndak mau punya bayi, jadi minum aja cukup, kan?"
Deg!
Meja makan mendadak hening total mendengar ucapan Zoey.
Clara terpaku, matanya melotot menatap Zoey yang kembali asyik menyendok nasinya.
Ucapan bocah lima tahun itu tepat mengenai titik terlemah Clara, dimana ia enggan memberikan keturunan untuk Dominic sampai detik ini.
Dominic tersenyum tipis, sangat tipis hingga hampir tak terlihat. Lalu mengusap kepala Zoey dengan bangga. "Anak pintar."
Clara merasa berteriak meledak saat itu juga. Ia menatap Keyla yang kini tertunduk, lalu beralih pada Dominic yang sama sekali tidak membelanya.
"Kalian... kalian semua memojokkan aku?!"
"Sudahlah, Clara. Jika kau tidak nafsu makan, silakan kembali ke kamarmu. Jangan merusak selera makan Zoey. Kau tahu bukan bagaimana Zoey kalau sudah ngambek?" ucap Elise tegas.
Clara pun bergegas bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamar lalu menutup kasar pintunya.
"Semua ini gara-gara jala-ng itu!"
Prang!
Clara menyapu seluruh botol parfum mahalnya hingga hancur berkeping-keping di lantai. Napasnya memburu, dadanya naik-turun menahan amarah yang membakar kewarasannya.
Semenjak kehadiran Keyla, dunianya yang sempurna mendadak runtuh. Perhatian Dominic, pembelaan mertuanya, bahkan kasih sayang Zoey, semuanya direnggut paksa oleh adik tirinya yang dianggap sampah itu
"Argh! Kenapa jadi seperti ini?! Kenapa semua orang membela dia?!" teriak Clara histeris di depan cermin sembari menatap wajahnya yang mulai sembap karena emosi.
Setiap kata-kata pedas yang Clara lontarkan di meja makan tadi seolah balik menghantam wajahnya sendiri.
Abainya Dominic adalah luka terdalam yang belum pernah ia rasakan selama lima tahun pernikahan mereka.
"Benar kata Ibu, Keyla memang pembawa si-al! Dia parasit yang menghancurkan hidupku!" Clara mencengkeram pinggiran meja rias hingga buku jari yang memutih.
"Lihat saja, aku tidak akan membiarkanmu tenang di rumah ini. Jika aku harus hancur, maka kau akan hancur seribu kali lebih parah dariku!"
Seringai keji muncul di wajahnya. Rencana licik mulai tersusun di kepalanya untuk menyingkirkan Keyla sebelum ia berangkat ke Paris besok pagi.
gw salah, gw sadar, gw sangat mencintai lo.
pretttt🙂
masa iya orng yg punya pengalaman jatuh cinta bahkan sampai bodoh gk tau perasaannya sendiri gimana pd wanita lain🙃