Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Aku Ingin Bercerai
Pagi itu tidak berbeda dari pagi-pagi sebelumnya di rumah besar keluarga Wijaya.
Mela bangun sebelum matahari sepenuhnya naik. Ia menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi, menyiapkan baju kerja dan dasi yang ia setrika rapi. Tidak lupa, sepasang sepatu dan kaos kaki serta tas yang biasa suaminya bawa.
Setelahnya ia turun, menyusun obat-obatan untuk mertuanya sesuai urutan jam, lalu ke dapur, memastikan sarapan tersaji rapi, memeriksa ulang meja makan, piring sejajar, sendok garpu mengilap, dan taplak tidak berlipat agar semua terlihat sempurna.
Dua puluh tahun. Ia telah melakukan semua ini selama dua puluh tahun, mengabdi pada suami dan ibu mertuanya, mencoba menjadi istri dan menantu yang sempurna. Tapi, semua tampak sia-sia.
Rahman turun dari tangga dengan kemeja kerja yang ia siapkan. Seperti biasa, Mela menyodorkan jas padanya, membenarkan kerah kemeja, dan merapikan kancing manset suaminya. Tangannya bergerak cepat, tanpa perlu berpikir ulang.
"Nanti, jangan menunggu ku. Aku pulang terlambat karena ada rapat," ucap Rahman sambil meraih ponselnya.
"Baik," jawab Mela singkat.
Tidak ada cemburu. Tidak ada pertanyaan, atau apa pun yang perlu dipastikan.
Mereka duduk di meja makan. Mertua Mela sudah lebih dulu berada di sana, menyantap bubur dengan wajah datar. Tidak berapa lama, putrinya, Lina datang dan langsung duduk di sisi ayahnya.
Mela melayani suami dan putrinya dengan begitu cekatan. Baru setelahnya, ia duduk di kursinya dalam diam.
Di antara bunyi sendok yang menyentuh porselen, Mela akhirnya angkat bicara dengan suara yang terdengar tenang.
"Aku ingin bercerai."
Udara sekitar seolah berhenti bergerak.
Rahman mendongak dengan alis yang berkerut tajam. "Apa?"
Mertua Mela meletakkan sendoknya dengan keras. "Kau bilang apa? Bercerai?" sentak nya.
Mela mengangkat wajahnya. Tatapannya lurus, wajahnya dingin, menantang. "Ya." Mela menatap Rahman. "Aku ingin kita bercerai. Aku sudah mengajukan permohonan ke pengadilan. Nanti, pengacaraku yang akan menghubungi mu."
Rahman tertawa pendek, seperti seseorang yang mendengar sebuah lelucon yang konyol. "Sudah tua begini masih suka bercanda?"
"Aku tidak bercanda."
Rahman berdiri. "Kalau ini karena aku pulang malam—"
"Bukan," potong Mela cepat. "Aku bahkan tidak peduli kau pulang atau tidak."
"Lalu, karena apa?" suara Rahman meninggi.
Mela menatap piringnya yang nyaris tidak tersentuh. "Aku hanya tidak ingin melanjutkan pernikahan ini."
Mertua Mela berdiri dengan wajah memerah. "Wanita tidak tahu diri! Setelah semua yang kami berikan, kau bicara cerai semudah itu?"
Mela berdiri, membungkuk sedikit. "Aku sudah menyiapkan semua kebutuhan hari ini. Obat ibu ada di meja kecil. Makan siang juga sudah aku buatkan." Ia berbalik pergi, meninggalkan meja makan yang kini dipenuhi amarah dan rasa bingung.
Di kamarnya, Mela duduk di tepi ranjang. Ia menghela napas panjang, mendongak sambil mengedipkan matanya. "Jangan menangis, Mela! Semua yang kau lakukan ini sudah benar," gumamnya pada diri sendiri.
Ia tidak ingin menangis lagi. Yang dia pikirkan sekarang adalah, bercerai dari suaminya dan memulai kehidupan yang baru. Tidak peduli, jika nanti dia kalah dalam hak asuh anak, tapi yang jelas, dia sudah memberikan yang terbaik untuk keluarga kecilnya.
...****************...
Sidang pertama akhirnya di laksanakan di pengadilan agama.
Mela hadir di temani kuasa hukumnya, sedangkan Rahman datang bersama ibu dan di dampingi dua kuasa hukumnya.
Hakim mengecek kehadiran pemohon dan tergugat, lalu meminta mediator untuk membimbing mediasi di antara kedua belah pihak.
Mereka duduk berhadapan. Pengacara Rahman berbicara panjang lebar tentang reputasi, kehormatan keluarga, dan usia pernikahan. Semua terdengar seperti pidato yang pernah Mela dengar berkali-kali, hanya kali ini, ia berada di sisi yang berlawanan.
"Kami hanya ingin tahu alasannya," ucap mertua Mela, menatapnya tajam. "Setidaknya agar keluarga ini tidak dipermalukan."
Semua mata tertuju padanya.
Mela menggenggam tangannya di atas pangkuan. "Tidak ada alasan yang pantas untuk didengar."
Rahman mendesah frustrasi. "Kau ingin pergi, silakan. Tapi, jangan membuat seolah aku bukan suami dan ayah yang baik untuk keluarga kita "
Mela tersenyum tipis. "Aku tidak pernah mengatakan kau tidak baik. Justru, kau sangat baik dan bertanggung jawab."
"Lalu, kenapa kau ingin bercerai, hah?"
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Mela menarik napas dalam sambil memejamkan mata, saat ingatan itu datang tanpa diundang.
Sepuluh hari yang lalu, ia masuk ke ruang kerja Rahman hanya untuk mengembalikan map klien yang tertinggal. Map kulit hitam itu terjatuh dan terbuka, memperlihatkan sebuah foto yang membuat jantung nya seolah berhenti berdetak.
Foto tersebut, Rahman terlihat dengan seorang wanita muda. Jari mereka saling bertaut dan Rahman tersenyum lebar, senyum yang tidak pernah Rahman berikan padanya.
Mela memungut foto itu dengan tangan gemetar. Tapi, ia tidak langsung marah ataupun berteriak. Ia membuka map itu dan menemukan lebih banyak hal yang seharusnya tidak ia lihat.
Mela membuka matanya perlahan, lalu mengangkat wajahnya. "Alasanku tidak penting, tapi keputusanku sudah final."
Lina yang sejak tadi diam akhirnya bersuara, bukan untuk bertanya ataupun membelanya, tapi justru menyudutkan nya. "Mama egois. Papa tidak melakukan apa-apa, kenapa mama begitu jahat?"
Mela menoleh, menatap putri semata wayangnya yang ia besarkan dengan sepenuh hati. Ia tersenyum miris, saat putrinya memandangnya seperti orang asing.
"Baik! Jika kalian ingin benar-benar tahu alasannya."
Babak ini bukan tentang pembelaan. Ini tentang keberanian untuk tidak lagi menjelaskan diri sendiri.
Mela mengeluarkan dokumen. Ia membukanya, meletakkannya di meja satu per satu. Mulai dari Foto-foto, kontrak pemberian hadiah properti, tanggal dan satu nama yang tidak asing bagi suami Mela.
"Hubungan ini sudah berjalan sepuluh tahun," ucap Mela pelan. "Wanita itu bernama Camila."
Ruangan mendadak ricuh setelah tahu alasan Mela menggugat cerai Rahman.
"Awalnya, aku sudah meminta pengacaraku untuk memberitahu mu alasannya, tapi kau selalu beralasan sibuk hanya sekedar untuk bertemu." Mela menaikkan sudut bibirnya. "Pasti, kau sibuk dengan wanita itu, bukan?"
"Itu tidak benar. Semua tidak seperti yang kau pikirkan!" Rahman bangkit berdiri dengan dada yang naik turun.
Sementara, Mertua Mela membaca kontrak dengan tangan gemetar, lalu melemparkannya ke meja. "Itu semua demi bisnis. Harusnya kau lebih paham! Sudah tua, tapi tidak fleksibel," ucap mertuanya dengan nada ketus. "Camila bisa membantu mengembangkan bisnis keluarga. Sedangkan, kau bisa apa, hah?"
Lina bahkan mengambil foto itu dan menatapnya lama. "Tante Camila baik padaku. Kenapa Mama begitu pada Tante Camila?"
Mela menarik napas panjang mendengar kalimat itu keluar dari mulut putrinya. Rasanya seperti belati yang menusuk lebih dalam daripada pengkhianatan mana pun. Tapi, anehnya, hatinya justru terasa kosong.
"Sepuluh tahun," ulangnya dengan suara rendah. "Itu bukan satu kesalahan atau sekedar khilaf."
Ia menatap Rahman. "Aku tidak akan menuntut apa pun darimu," lirihnya. "Aku hanya ingin pergi."
Ia berdiri, mengambil tas kecilnya. "Untuk selanjutnya, kalian bisa membicarakan semuanya dengan pengacaraku."
Mela berbalik, berjalan ke arah pintu tanpa ada satupun orang yang berniat menghentikannya. Namun, ia tiba-tiba berhenti di ambang pintu. "Aku berharap, kau menyetujui permohonan ku. Karena, jika aku bertahan, aku akan kehilangan diriku sendiri."
Pintu tertutup perlahan. Dan, untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, Mela melangkah tanpa menoleh ke belakang.
atau ada yg lain mau mau jadi super Hiro nya mbak mela ??