NovelToon NovelToon
Setelah Aku Memilih Bercerai

Setelah Aku Memilih Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:49k
Nilai: 5
Nama Author: Mutzaquarius

Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Aku Ingin Bercerai

Pagi itu tidak berbeda dari pagi-pagi sebelumnya di rumah besar keluarga Wijaya.

Mela bangun sebelum matahari sepenuhnya naik. Ia menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi, menyiapkan baju kerja dan dasi yang ia setrika rapi. Tidak lupa, sepasang sepatu dan kaos kaki serta tas yang biasa suaminya bawa.

Setelahnya ia turun, menyusun obat-obatan untuk mertuanya sesuai urutan jam, lalu ke dapur, memastikan sarapan tersaji rapi, memeriksa ulang meja makan, piring sejajar, sendok garpu mengilap, dan taplak tidak berlipat agar semua terlihat sempurna.

Dua puluh tahun. Ia telah melakukan semua ini selama dua puluh tahun, mengabdi pada suami dan ibu mertuanya, mencoba menjadi istri dan menantu yang sempurna. Tapi, semua tampak sia-sia.

Rahman turun dari tangga dengan kemeja kerja yang ia siapkan. Seperti biasa, Mela menyodorkan jas padanya, membenarkan kerah kemeja, dan merapikan kancing manset suaminya. Tangannya bergerak cepat, tanpa perlu berpikir ulang.

"Nanti, jangan menunggu ku. Aku pulang terlambat karena ada rapat," ucap Rahman sambil meraih ponselnya.

"Baik," jawab Mela singkat.

Tidak ada cemburu. Tidak ada pertanyaan, atau apa pun yang perlu dipastikan.

Mereka duduk di meja makan. Mertua Mela sudah lebih dulu berada di sana, menyantap bubur dengan wajah datar. Tidak berapa lama, putrinya, Lina datang dan langsung duduk di sisi ayahnya.

Mela melayani suami dan putrinya dengan begitu cekatan. Baru setelahnya, ia duduk di kursinya dalam diam.

Di antara bunyi sendok yang menyentuh porselen, Mela akhirnya angkat bicara dengan suara yang terdengar tenang.

"Aku ingin bercerai."

Udara sekitar seolah berhenti bergerak.

Rahman mendongak dengan alis yang berkerut tajam. "Apa?"

Mertua Mela meletakkan sendoknya dengan keras. "Kau bilang apa? Bercerai?" sentak nya.

Mela mengangkat wajahnya. Tatapannya lurus, wajahnya dingin, menantang. "Ya." Mela menatap Rahman. "Aku ingin kita bercerai. Aku sudah mengajukan permohonan ke pengadilan. Nanti, pengacaraku yang akan menghubungi mu."

Rahman tertawa pendek, seperti seseorang yang mendengar sebuah lelucon yang konyol. "Sudah tua begini masih suka bercanda?"

"Aku tidak bercanda."

Rahman berdiri. "Kalau ini karena aku pulang malam—"

"Bukan," potong Mela cepat. "Aku bahkan tidak peduli kau pulang atau tidak."

"Lalu, karena apa?" suara Rahman meninggi.

Mela menatap piringnya yang nyaris tidak tersentuh. "Aku hanya tidak ingin melanjutkan pernikahan ini."

Mertua Mela berdiri dengan wajah memerah. "Wanita tidak tahu diri! Setelah semua yang kami berikan, kau bicara cerai semudah itu?"

Mela berdiri, membungkuk sedikit. "Aku sudah menyiapkan semua kebutuhan hari ini. Obat ibu ada di meja kecil. Makan siang juga sudah aku buatkan." Ia berbalik pergi, meninggalkan meja makan yang kini dipenuhi amarah dan rasa bingung.

Di kamarnya, Mela duduk di tepi ranjang. Ia menghela napas panjang, mendongak sambil mengedipkan matanya. "Jangan menangis, Mela! Semua yang kau lakukan ini sudah benar," gumamnya pada diri sendiri.

Ia tidak ingin menangis lagi. Yang dia pikirkan sekarang adalah, bercerai dari suaminya dan memulai kehidupan yang baru. Tidak peduli, jika nanti dia kalah dalam hak asuh anak, tapi yang jelas, dia sudah memberikan yang terbaik untuk keluarga kecilnya.

...****************...

Sidang pertama akhirnya di laksanakan di pengadilan agama.

Mela hadir di temani kuasa hukumnya, sedangkan Rahman datang bersama ibu dan di dampingi dua kuasa hukumnya.

Hakim mengecek kehadiran pemohon dan tergugat, lalu meminta mediator untuk membimbing mediasi di antara kedua belah pihak.

Mereka duduk berhadapan. Pengacara Rahman berbicara panjang lebar tentang reputasi, kehormatan keluarga, dan usia pernikahan. Semua terdengar seperti pidato yang pernah Mela dengar berkali-kali, hanya kali ini, ia berada di sisi yang berlawanan.

"Kami hanya ingin tahu alasannya," ucap mertua Mela, menatapnya tajam. "Setidaknya agar keluarga ini tidak dipermalukan."

Semua mata tertuju padanya.

Mela menggenggam tangannya di atas pangkuan. "Tidak ada alasan yang pantas untuk didengar."

Rahman mendesah frustrasi. "Kau ingin pergi, silakan. Tapi, jangan membuat seolah aku bukan suami dan ayah yang baik untuk keluarga kita "

Mela tersenyum tipis. "Aku tidak pernah mengatakan kau tidak baik. Justru, kau sangat baik dan bertanggung jawab."

"Lalu, kenapa kau ingin bercerai, hah?"

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Mela menarik napas dalam sambil memejamkan mata, saat ingatan itu datang tanpa diundang.

Sepuluh hari yang lalu, ia masuk ke ruang kerja Rahman hanya untuk mengembalikan map klien yang tertinggal. Map kulit hitam itu terjatuh dan terbuka, memperlihatkan sebuah foto yang membuat jantung nya seolah berhenti berdetak.

Foto tersebut, Rahman terlihat dengan seorang wanita muda. Jari mereka saling bertaut dan Rahman tersenyum lebar, senyum yang tidak pernah Rahman berikan padanya.

Mela memungut foto itu dengan tangan gemetar. Tapi, ia tidak langsung marah ataupun berteriak. Ia membuka map itu dan menemukan lebih banyak hal yang seharusnya tidak ia lihat.

Mela membuka matanya perlahan, lalu mengangkat wajahnya. "Alasanku tidak penting, tapi keputusanku sudah final."

Lina yang sejak tadi diam akhirnya bersuara, bukan untuk bertanya ataupun membelanya, tapi justru menyudutkan nya. "Mama egois. Papa tidak melakukan apa-apa, kenapa mama begitu jahat?"

Mela menoleh, menatap putri semata wayangnya yang ia besarkan dengan sepenuh hati. Ia tersenyum miris, saat putrinya memandangnya seperti orang asing.

"Baik! Jika kalian ingin benar-benar tahu alasannya."

Babak ini bukan tentang pembelaan. Ini tentang keberanian untuk tidak lagi menjelaskan diri sendiri.

Mela mengeluarkan dokumen. Ia membukanya, meletakkannya di meja satu per satu. Mulai dari Foto-foto, kontrak pemberian hadiah properti, tanggal dan satu nama yang tidak asing bagi suami Mela.

"Hubungan ini sudah berjalan sepuluh tahun," ucap Mela pelan. "Wanita itu bernama Camila."

Ruangan mendadak ricuh setelah tahu alasan Mela menggugat cerai Rahman.

"Awalnya, aku sudah meminta pengacaraku untuk memberitahu mu alasannya, tapi kau selalu beralasan sibuk hanya sekedar untuk bertemu." Mela menaikkan sudut bibirnya. "Pasti, kau sibuk dengan wanita itu, bukan?"

"Itu tidak benar. Semua tidak seperti yang kau pikirkan!" Rahman bangkit berdiri dengan dada yang naik turun.

Sementara, Mertua Mela membaca kontrak dengan tangan gemetar, lalu melemparkannya ke meja. "Itu semua demi bisnis. Harusnya kau lebih paham! Sudah tua, tapi tidak fleksibel," ucap mertuanya dengan nada ketus. "Camila bisa membantu mengembangkan bisnis keluarga. Sedangkan, kau bisa apa, hah?"

Lina bahkan mengambil foto itu dan menatapnya lama. "Tante Camila baik padaku. Kenapa Mama begitu pada Tante Camila?"

Mela menarik napas panjang mendengar kalimat itu keluar dari mulut putrinya. Rasanya seperti belati yang menusuk lebih dalam daripada pengkhianatan mana pun. Tapi, anehnya, hatinya justru terasa kosong.

"Sepuluh tahun," ulangnya dengan suara rendah. "Itu bukan satu kesalahan atau sekedar khilaf."

Ia menatap Rahman. "Aku tidak akan menuntut apa pun darimu," lirihnya. "Aku hanya ingin pergi."

Ia berdiri, mengambil tas kecilnya. "Untuk selanjutnya, kalian bisa membicarakan semuanya dengan pengacaraku."

Mela berbalik, berjalan ke arah pintu tanpa ada satupun orang yang berniat menghentikannya. Namun, ia tiba-tiba berhenti di ambang pintu. "Aku berharap, kau menyetujui permohonan ku. Karena, jika aku bertahan, aku akan kehilangan diriku sendiri."

Pintu tertutup perlahan. Dan, untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, Mela melangkah tanpa menoleh ke belakang.

1
Thewie
pasti dino adalah dinosaurus 🤭 eh salah dino adalah CEO yg menyamar😄😄🤭🤭👍
sunaryati jarum
Tahu kebenarannya apa Dino?.Mela pokoknya emak nggak rela jika kamu luluh pada penyesalan palsu Rahman.Segera menikah dengan Dino.Rajut kebahagiaan dengannnya.Rahman Dyah dan Lina hanya akan menjadikan kamu bersandar menopang hidupnya
mimief
dino si CEO yg paling kaya itu🫣🤣🤣
Vie
apa mungkin dino sebenarnya adalah pemilik atma grup yang masih misterius itu ya? 🤔🤔🤔🤔🤔 kok aku dari awal dino keluar agak curiga kalau Dino itu ceo atma grup deh....
partini
dah gas Iah ,biar si kutu kupret ga recokin Mulu mereka punya rencana loh ,, Dio do something lah you can di it mah
Jungkookieeeeeee97🐰
Wahhh din, Jangan² kamu ituu 😱😱
Jungkookieeeeeee97🐰
Gak pantesss knpa nya Mel??
yg duda aja pada nikah Ama gadis pede² aja tuh, Ngapain janda harus insecure /CoolGuy/
emng klo janda gak boleh gituuu klo sama Bujang?? /CoolGuy/
🇦 🇵 🇷 🇾👎
lbh baik jujur ceo dino🤣
mama
takut ketahuan klu km kayaaa ya dino🤣
🇦 🇵 🇷 🇾👎
tlg ya kk jauh mrk dr mela.

aq bnc ms ll... igt tu
🇦 🇵 🇷 🇾👎
pd x mokondo ni
ollyooliver🍌🥒🍆
dia bertindak dan berjuang karna ibunya bukan karna dia mmng memiliki yg katanya punya rasa cinta pd mela. bukti bahwa mmng rahman gk mencintai mela...ambisi aja yg dri dlu dia punya untuk memdapatkan sesuatu😌
ollyooliver🍌🥒🍆
cepat ya thor buat nih orng diambil malaikat maut dengan cara tragis😌
ollyooliver🍌🥒🍆
mana ada cinta...10 thn berselingkuh sampai menikahi camila. camila itu meski pemeran pembantu tapi mela kalah dengan camila. dari segi baik dan istri penurut mela diatas tapi pesona dan cara camila bertindak disisi rahman yg rahman mau jelas camila menang. rahman itu hanya merasa gk terima dengan nasibnya..karna camila gk setia disaat dia dititik terendah. tapi saat diatas..camila justru wanita yg sangat perhatian pdnya dan disitulah rahman jatuh cinta pd camila..cuman endingnya aja membuat rahman membandingkan mela dan camila..


dan kalau rahman cinta, dia tdk akan melupakan mela saat dia.membangun keluarga bahagia dengan camila.

ingat..pesona mela itu tdk bisa membuat rahman jatuh cinta pd mela. mungkin dia menjadikan mela istri dlu karna dino adalah saingannya dan rahman memiliki ambisi..menjadikan mela sebagai pertandingan..siapa yg menang mendapatkan mela..makanya dia dengan mudah berpaling pd camila karna dia sadar yg dia inginkan wanita seperti camila. dari fisik sampai perlakuannnya sedangkan mela? meski mela baik tapi tdk memungkin seorng pria jatuh cinta dan tdk berlaku pd rahman.
ollyooliver🍌🥒🍆
cemburu bukan karna cinta tapi karna dini lebih sagalanya drpd dia sekarang .mana ada rahman cinta..pesona mela kan kalah sama camila😌
ollyooliver🍌🥒🍆
idiiiiii......saat susah aja ingat mela. penyesalan lu gk ada artinya lu mengaku salah dan minta maaf juga gk tulus..karna lu melakukan semuanya karna lu dlm keadaan jatuh. coba waktu itu lu masih berjaya...kelakuan lu sama mela bahkan saat mela pergi. ada lu minta maaf? kagak! jadi nikmatilah kehidupanmu sekarang😌
ollyooliver🍌🥒🍆
mela bukan dijadikan istri tapi lebih tepatnya pembantu😏
ollyooliver🍌🥒🍆
seorang ibu tdk akan melupan darah yg memgalir pd anaknya tapi sebaliknya..anaknya dengan mudah melupakannya. hati mela mmng menjadi batu dan dingin tapi tdk dengan darah yg mengalir..dia tau bahwa meski anaknya tdk tau diri, darah daging tetaplah statusnya bagi mela.
ollyooliver🍌🥒🍆
cihh..gk tau diri🙄
sunaryati jarum
Orang jika tidak tahu malu , hanya ingin memaksakan kehendaknya. Tidak pernah merasa bersalah seperti Bu Dyah.Lina jika ingin mamamu , renungkan semua kesalahanmu padanya.Minta maaf yang tulus dan benar.Tekatkan pada diri untuk lebih baik dan taat pada ibumu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!