Sejak berusia sepuluh tahun, Yan Kai hidup sebagai pelayan di Sekte Hutan Bambu setelah kehilangan kedua orang tuanya. Karena memiliki akar spiritual yang sangat lemah, ia tidak pernah diterima sebagai murid dan selama delapan tahun hanya menjadi sasaran penghinaan, perundungan, serta siksaan dari para murid sekte. Hidupnya dipenuhi penderitaan, hingga suatu hari sebuah tugas sederhana membersihkan perpustakaan kuno mengubah takdirnya selamanya.
Sebuah buku misterius membawanya ke Dimensi Tak Berujung, tempat seekor Naga Kegelapan kuno disegel sejak ribuan tahun lalu akibat perang besar antara ras naga dan para dewa. Yan Kai mendapatkan secuil kekuatan naga itu hingga mengubah akar spiritualnya yang sebelumnya cacat menjadi fondasi yang luar biasa. Tanpa mengetahui rahasia besar yang kini tersembunyi dalam dirinya, Yan Kai memulai perjalanan kultivasinya menuju puncak kekuatan sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANTE-KUN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Setelah memperoleh inti jiwa Badak Kepala Dua, Yan Kai tidak berlama-lama di tempat itu. Ia kembali membuka peta sederhana yang dibelinya dari Paviliun Mata Elang.
Berdasarkan perkiraannya, Danau Seribu Bulan sudah tidak terlalu jauh. Tanpa membuang waktu, ia kembali melanjutkan perjalanan menembus kabut tebal yang memenuhi hutan.
Sepanjang perjalanan, Yan Kai beberapa kali bertemu binatang iblis, namun ia memilih menghindarinya apabila tidak benar-benar menghalangi jalan. Tujuan utamanya saat ini adalah mencapai danau secepat mungkin.
Matahari perlahan bergeser ke barat. Setelah hampir seharian penuh menyusuri Hutan Kabut Kematian, kabut di sekitarnya mulai menipis. Udara yang semula lembap berubah menjadi sangat segar. Energi spiritual di sekelilingnya juga terasa semakin padat.
Yan Kai berhenti sejenak. "Tempat ini..." Ia dapat merasakan setiap tarikan napasnya dipenuhi energi spiritual yang jauh lebih murni dibanding tempat lain. Tanpa sadar, langkahnya menjadi lebih cepat.
Tak lama kemudian, pepohonan di depannya mulai terbuka. Sebuah danau yang begitu luas akhirnya terbentang di hadapannya. Airnya sebening kristal, permukaannya memantulkan cahaya matahari sore hingga tampak seperti ribuan bulan kecil yang berkilauan.
Di sekitar danau tumbuh berbagai bunga spiritual dan pepohonan yang memancarkan aura kehidupan. Energi spiritual yang keluar dari permukaan air bahkan dapat dirasakan dengan jelas oleh Yan Kai.
"Jadi... ini Danau Seribu Bulan."
Namun, rasa kagumnya hanya bertahan sesaat. Karena di tengah danau, telah ada seseorang.
Seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahunan tengah berendam dengan tenang di dalam air. Rambut hitam panjangnya tergerai hingga menyentuh permukaan danau, sementara tubuhnya hanya tertutup sehelai kain tipis yang membuat seluruh lekukan tubuhnya terlihat jelas dengan gunung kembar yang menonjol cukup besar.
Meski berpakaian sederhana untuk berendam, aura anggun dan elegan yang dipancarkannya membuat siapa pun enggan memandangnya dengan sembarangan.
Wajahnya sangat cantik—kecantikannya bahkan memiliki pesona dewasa yang berbeda dengan wanita bercadar dari Paviliun Teratai Putih yang pernah ditemui Yan Kai.
Namun yang membuat Yan Kai paling terkejut bukanlah kecantikannya, melainkan ia sama sekali tidak mampu merasakan tingkat kultivasi wanita tersebut.
Seolah-olah wanita itu hanyalah orang biasa. Tetapi justru karena itulah Yan Kai menjadi semakin waspada. Orang yang mampu menyembunyikan auranya hingga tidak dapat dideteksi biasanya memiliki kultivasi yang sangat tinggi.
Yan Kai menghela napas pelan. "Nampaknya aku terlambat..." Ia memandang Danau Seribu Bulan dengan sedikit kecewa. Menurut informasi yang diperolehnya, ketika seseorang sedang menggunakan danau ini untuk berkultivasi, energi spiritual yang terkumpul akan terserap terlebih dahulu dan membutuhkan waktu cukup lama untuk pulih kembali. Artinya, ia harus mencari kesempatan lain.
Yan Kai tidak ingin mencari masalah dengan orang yang jelas-jelas jauh lebih kuat darinya. "Aku lebih baik kembali saja." Tanpa menimbulkan suara, ia perlahan membalikkan badan dan berniat meninggalkan tempat itu.
Namun baru satu langkah ia berjalan, sebuah suara wanita yang lembut terdengar sangat dekat.
"Sudah datang sejauh ini, lalu langsung pergi?"
Yan Kai membelalakkan matanya. Ia refleks berbalik. Dan seketika tubuhnya menegang.
Wanita yang tadi masih berada di tengah danau, kini telah berdiri tepat beberapa langkah di hadapannya. Pakaiannya telah rapi kembali, jubah berwarna biru muda membalut tubuhnya dengan anggun.
Bahkan setetes air pun nyaris tak terlihat menempel pada dirinya, seolah dalam sekejap ia telah mengeringkan seluruh tubuhnya menggunakan Qi.
Yan Kai sama sekali tidak mengetahui kapan wanita itu bergerak. Ia bahkan tidak sempat merasakan sedikit pun fluktuasi energi spiritual. "Bagaimana mungkin..." batinnya terkejut. Kecepatan seperti itu benar-benar berada di luar pemahamannya.
Wanita itu justru tersenyum tipis melihat ekspresi Yan Kai. Senyumnya lembut, sama sekali tidak menunjukkan permusuhan. "Kenapa kau langsung pergi?"
Yan Kai tersadar dari lamunannya. Ia segera menangkupkan kedua tangan dengan hormat. "Senior. Saya hanya berpikir Danau Seribu Bulan sedang digunakan oleh Senior untuk berkultivasi. Karena itu saya tidak ingin mengganggu."
Mendengar jawaban tersebut, wanita itu terkekeh pelan. Suaranya terdengar sangat merdu. "Siapa bilang aku sedang berkultivasi? Aku hanya sedang berendam."
Yan Kai sedikit terkejut. "Hanya... berendam?"
Wanita itu mengangguk santai. "Aku memang menyukai tempat ini. Pemandangannya indah, udara di sini juga menenangkan. Jadi sesekali aku datang hanya untuk menikmati suasananya."
Ia kemudian berjalan perlahan ke tepi danau, angin sore mengibaskan rambut hitam panjangnya. "Aku hampir bosan sendirian. Kebetulan kau datang." Wanita itu menoleh sambil tersenyum. "Duduklah. Temani aku mengobrol."
Yan Kai langsung menjadi canggung. Ia tidak mengenal wanita ini, namun ia juga tidak berani menolak. Melihat kultivasi wanita tersebut yang sama sekali tidak bisa ia ukur, Yan Kai tahu bahwa menolak secara kasar bukanlah pilihan yang bijaksana.
Wanita itu kemudian berkata dengan nada santai. "Benar juga, kita bahkan belum saling mengenal. Namaku Su Lian. Kalau kau?"
Yan Kai kembali memberi hormat. "Junior bernama Yan Kai."
Su Lian mengangguk pelan. "Nama yang bagus." Ia kemudian duduk di sebuah batu besar di tepi danau, tatapannya mengarah ke permukaan air yang berkilauan diterpa cahaya matahari senja.
Yan Kai pun akhirnya ikut duduk beberapa meter darinya. Meski terlihat tenang, pikirannya tetap dipenuhi kewaspadaan. Ia sama sekali tidak mengetahui siapa sebenarnya wanita bernama Su Lian itu. Yang ia tahu hanyalah wanita ini sangat kuat. Sangat, sangat kuat.
Namun Yan Kai tidak pernah membayangkan bahwa wanita yang kini duduk santai di sampingnya sebenarnya adalah Su Lian, Ketua Sekte Bulan Darah, salah satu sekte aliran sesat paling ditakuti di seluruh Kerajaan Awan Suci.
Namanya saja sudah cukup membuat banyak kultivator aliran lurus kehilangan keberanian untuk menghunus pedang. Namun saat ini, Yan Kai sama sekali tidak mengenali identitas tersebut.
Su Lian memecah keheningan. "Kau datang ke Hutan Kabut Kematian untuk apa?"
Yan Kai menjawab jujur. "Saya mendengar bahwa Danau Seribu Bulan memiliki energi spiritual yang sangat melimpah. Jadi saya ingin mencoba berkultivasi di sini."
Su Lian hanya mengangguk kecil. "Lumayan masuk akal."
Setelah itu suasana kembali hening. Yan Kai mulai merasa semakin gugup. Ia tidak tahu harus mengatakan apa.
Su Lian yang melihat ekspresinya justru tertawa kecil. "Kenapa tegang sekali? Aku bukan binatang iblis yang akan memakanmu."
Yan Kai tersenyum kaku. "Maaf, Senior. Saya memang sedikit gugup."
Su Lian menggeleng pelan. "Kalau begitu jangan gugup. Anggap saja kau sedang menemani seorang teman berbincang."
Yan Kai hanya bisa tersenyum pahit. Baginya, mustahil menganggap seseorang sekuat wanita ini sebagai teman.
Su Lian kemudian mengangkat kepalanya menatap langit. Matahari perlahan mulai tenggelam di balik pepohonan, langit berubah menjadi jingga kemerahan.
Pemandangan Danau Seribu Bulan menjadi semakin indah, pantulan cahaya senja di atas permukaan air menciptakan pemandangan yang menenangkan hati.
Su Lian menghela napas panjang. "Inilah alasan aku sering datang ke sini. Menurutku, pemandangan Danau Seribu Bulan justru paling indah saat malam tiba. Ketika cahaya bulan memantul di permukaan air, tempat ini benar-benar seperti negeri dalam mimpi." Ia menoleh ke arah Yan Kai. "Kalau kau tidak sedang terburu-buru, temani aku sampai malam."
Yan Kai sedikit terdiam. Ia sebenarnya masih ingin segera berkultivasi. Namun melihat sikap Su Lian yang sama sekali tidak menunjukkan niat buruk, ditambah ia juga tidak berani menolak permintaan seorang kultivator misterius yang jauh lebih kuat darinya, akhirnya ia menganggukkan kepala.
"Baik, Senior. Saya akan menemani Senior menikmati pemandangan Danau Seribu Bulan malam ini."
Senyum tipis kembali menghiasi wajah Su Lian. "Bagus. Kalau begitu, kita tunggu bulan terbit bersama."