NovelToon NovelToon
PENYIHIR TANPA SIHIR

PENYIHIR TANPA SIHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Gerbang Kota Toga dan Petunjuk sang Pandai Besi Legendaris

Setelah menembus ketegangan di bukit batu dan meninggalkan sisa-sisa kelompok perampok Gagak Merah yang telah tak berdaya, kereta kuda milik Tuan Harun kembali melaju tanpa hambatan. Sore itu, matahari perlahan tenggelam, memancarkan rona merah keemasan yang membakar langit di ufuk barat saat siluet dinding pembatas sebuah kota besar mulai terlihat di balik cakrawala.

Kota Toga. Kota perbatasan yang strategis, kokoh, dan menjadi pusat bertemunya para pedagang dari berbagai penjuru benua, sekaligus benteng luar sebelum menyentuh wilayah-wilayah liar yang tak tersentuh hukum.

Begitu kereta kuda melewati gerbang besar yang dijaga ketat oleh pasukan prajurit berzirah resmi, Tuan Harun mengembuskan napas lega yang teramat panjang. Ketegangan yang mencekik dadanya selama beberapa hari terakhir seketika menguap, digantikan oleh rasa aman yang luar biasa. Ia mengarahkan keretanya menuju sebuah alun-alun perdagangan yang ramai, tempat penginapan dan kedai-kedai besar berjejer.

Setelah memarkirkan keretanya dengan aman di halaman sebuah losmen, Harun langsung melompat turun dari kursi kemudi. Tubuh tambunnya bergerak dengan lincah, menghampiri Askara yang berdiri tenang di samping roda kereta sembari membetulkan letak tudung jubah hitamnya yang koyak.

"Dewa perdagangan benar-benar merestui jalanku hari ini!" seru Harun dengan suara lantang yang dipenuhi kegembiraan, menarik perhatian beberapa orang yang melintas di sekitar mereka. Ia menepuk pundak tegap Askara dengan akrab, meskipun pemuda itu hanya menanggapinya dengan anggukan kecil. "Kita berhasil, Askara! Barang-barang daganganku utuh tanpa kurang selembar kain pun! Jika bukan karena dirimu, kepalaku mungkin sudah dipajang di atas bukit gersang itu oleh si mantan kesatria sialan!"

Askara mengulas senyum tipis di balik kegelapan tudungnya.

"Aku hanya menjalankan bagianku dari kesepakatan kita, Tuan Harun. Sebuah transaksi bisnis yang adil, bukan?"

"Benar! Adil dan sangat menguntungkan!" Harun terkekeh geli. Ia segera meraba sabuk kulitnya yang tebal, melepaskan sebuah kantong kain beludru yang tampak sangat berat, lalu menyerahkannya langsung ke tangan kanan Askara. Suara gemerincing logam mulia di dalamnya terdengar begitu nyaring.

"Ini adalah pembayaran penuh sesuai harga kontrak lima pengawal penakut yang kabur hari itu. Tepat tiga puluh koin emas murni."

Askara menerima kantong tersebut, merasakan bobotnya yang mantap di telapak tangannya. Namun, belum sempat ia memasukkan kantong itu ke balik jubahnya, Harun kembali meraba saku bagian dalam mantel sutranya. Pria tambun itu mengeluarkan sebuah kantong kecil lain, berwarna merah tua dengan tali pengikat keemasan, lalu meletahkannya di atas genggaman tangan Askara.

"Dan ini... jangan kau tolak, Anak Muda," ucap Harun dengan raut wajah yang mendadak berubah menjadi sangat serius dan penuh rasa hormat. "Ini adalah bonus pribadi dariku. Isinya sepuluh koin emas tambahan dan sebutir batu permata safir kecil. Anggap saja ini adalah tanda terima kasihku karena kau telah menyelamatkan nyawaku secara fisik.

Uang kontrak itu untuk melindungi barang daganganku, sedangkan bonus ini untuk nyawaku yang berharga ini. Jangan pernah meremehkan rasa terima kasih seorang pedagang kaya."

Askara menatap dua kantong di tangannya sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia menghargai prinsip Harun yang menjunjung tinggi balas budi. "Terima kasih, Tuan Harun.

Uang ini akan sangat berguna untuk kelanjutan perjalananku."

Askara memasukkan seluruh koin emas itu ke dalam saku tersembunyi di balik jubah hitamnya. Namun, ia tidak langsung berbalik pergi. Mengingat serpihan pedang baja yang hancur berantakan di bukit kapur kemarin, Askara tahu ia memiliki kebutuhan mendesak yang harus segera diselesaikan sebelum melangkah lebih jauh ke area berbahaya.

"Tuan Harun, sebelum kita berpisah dan menempuh jalan masing-masing, ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu," kata Askara, merendahkan volume suaranya di antara kebisingan alun-alun kota.

Harun yang sedang memeriksa kembali ikatan terpal keretanya menoleh, menaikkan sebelah alisnya yang tebal. "Oh? Bertanyalah, Pahlawanku. Selama itu adalah informasi seputar Kota Toga ini, aku tahu hampir segalanya. Apa yang kau butuhkan? Penginapan terbaik? Kedai minuman yang menyajikan daging panggang paling lezat? Atau informasi jalur rahasia?"

"Bukan semua itu," jawab Askara, menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku membutuhkan sebuah pedang baru. Pedang biasa yang dijual di pasar atau yang digunakan oleh tentara bayaran standar tidak akan pernah bertahan lama di tanganku. Kau melihatnya sendiri kemarin, besi baja terbaik dari ibu kota hancur menjadi debu setelah menahan sihirku. Aku membutuhkan senjata yang berbeda. Di manakah tempat pembuatan pedang terbaik di kota ini?"

Mendengar pertanyaan Askara, senyuman di wajah Harun perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi wajah yang penuh pertimbangan. Ia mengelus dagunya yang berlapis lemak beberapa kali, tatapannya menerawang ke arah sudut-sudut kota yang dipenuhi kepulan asap dari distrik pandai besi.

"Ah... masalah pedang," gumam Harun dengan nada suara yang merendah, seolah membicarakan sebuah rahasia besar.

"Jika kau bertanya tentang pandai besi biasa yang membuat pedang massal untuk para prajurit penjaga, ada puluhan bengkel di distrik barat. Tapi, karena kau menanyakan tempat pembuatan pedang terbaik... hanya ada satu nama yang layak diucapkan di Kota Toga ini. Namanya adalah Moses."

Askara menyipitkan matanya di balik tudung. "Moses?"

"Benar. Moses," tegas Harun, mengangguk dengan penuh keyakinan. "Pria tua itu adalah seorang pengrajin besi legendaris. Bisa dikatakan, dia adalah pembuat senjata terbaik sepanjang sejarah berdirinya Kota Toga. Karya-karyanya bukan sekadar besi tajam; setiap bilah senjata yang keluar dari tungku apinya adalah mahakarya yang memiliki daya tahan luar biasa terhadap konduksi mana.

Kesatria tingkat tinggi dan petualang peringkat atas dari berbagai wilayah rela mengantre dan membayar ribuan koin emas hanya untuk mendapatkan satu belati buatannya."

Mendengar penjelasan Harun, secercah harapan muncul di dalam hati Askara. Senjata yang mampu menahan konduksi mana tingkat tinggi adalah persis apa yang dibutuhkan oleh wadah sihir kegelapannya. "Di mana aku bisa menemukannya?" tanya Askara langsung.

Harun tidak segera menjawab. Ia justru menghela napas panjang, menatap Askara dengan pandangan yang menyiratkan rasa khawatir dan peringatan yang sungguh-sungguh.

"Menemukan bengkelnya di distrik bawah dekat tebing kota tidaklah sulit, Askara. Siapa pun di sana bisa menunjukkan jalannya padamu," ujar Harun sembari melipat kedua tangannya di depan dada yang tambun. "Namun, meminta Moses untuk menempa sebilah pedang untukmu... itu adalah perkara yang sama sekali berbeda. Membutuhkan usaha dan perjuangan yang luar biasa besar untuk bisa meyakinkannya."

"Apa maksudmu? Apakah karena tarif harganya yang terlalu mahal?" Askara mengerutkan keningnya. "Aku baru saja menerima empat puluh koin emas darimu. Apakah itu masih belum cukup?"

"Ini bukan tentang uang, Anak Muda," jawab Harun sembari menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Bagi seorang maestro seperti Moses, tumpukan koin emas tidak lagi memiliki arti jika dibandingkan dengan harga diri karyanya. Pria tua itu sangat suka pilih-pilih dalam menentukan siapa yang berhak memegang senjata buatannya. Dia memiliki prinsip yang sangat keras kepala; dia tidak mau pedang yang ia buat dengan cucuran keringat dan jiwanya dipakai oleh orang sembarangan, penjahat, atau petarung amatir yang tidak menghargai esensi dari sebilah senjata."

Harun maju satu langkah, menatap lurus ke arah kegelapan di balik tudung Askara, menurunkan suaranya hingga menyerupai bisikan. "Banyak kesatria sombong dari ibu kota yang datang membawa sekoper koin emas, namun berujung diusir dari bengkelnya hanya karena Moses menilai hati dan cara mereka memegang pedang tidak layak. Dia akan menguji setiap calon pemilik senjatanya dengan caranya sendiri. Kau adalah pemuda yang hebat, Askara. Kemampuan berpedangmu luar biasa, dan sihirmu... yah, di luar nalar manusia. Tapi di hadapan Moses, kau harus siap menghadapi kepribadiannya yang eksentrik dan kasar jika kau benar-benar menginginkan sebuah pedang darinya."

Askara terdiam sesaat, meresapi setiap kata yang diucapkan oleh sang pedagang paruh baya itu. Alih-alih merasa gentar atau malas menghadapi rintangan tersebut, ego dan tekad di dalam dadanya justru semakin tertantang. Seorang pengrajin besi yang idealis adalah jaminan mutlak bahwa senjata yang dihasilkan bukanlah barang murahan.

"Pria tua yang menarik," ucap Askara dengan nada suara yang kembali tenang dan penuh keyakinan. "Aku lebih menyukai pengrajin yang pilih-pilih daripada pandai besi serakah yang menjual senjatanya pada sembarang orang yang memiliki koin. Terima kasih atas petunjukmu, Tuan Harun."

"Sama-sama, Askara. Berhati-hatilah di kota ini," Harun tersenyum hangat, mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Askara untuk terakhir kalinya. "Semoga dewa perdagangan dan keberuntungan menyertai langkahmu. Jika suatu hari kau menjadi kesatria besar dengan pedang buatan Moses, jangan lupakan pedagang tambun yang pernah kau selamatkan ini, ya!"

Askara membalas jabat tangan tersebut dengan mantap.

"Aku tidak akan lupa."

Setelah berpamitan, Askara berbalik badan, membiarkan sosok Harun kembali sibuk dengan urusan dagangnya di losmen. Jubah hitam misteriusnya berkibar pelan menyapu lantai jalanan berbatu saat ia melangkah meninggalkan alun-alun kota, mengarahkan pandangan dan tujuannya menuju distrik bawah Kota Toga, tempat kepulan asap dari bengkel besi milik sang pengrajin legendaris bernama Moses berada.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!