Demi rasa iba, Arhan menikahi Dira, seorang gadis yatim piatu yang baru kehilangan kedua orang tuanya. Dira mengira pernikahan itu adalah awal dari kehidupan yang penuh kasih sayang. Nyatanya, ia hanya dijadikan istri untuk mengurus rumah, melayani suami, dan merawat ibu mertuanya.
Lima tahun berlalu tanpa kehadiran buah hati. Dira terus menyalahkan dirinya karena dianggap mandul. Ia tak pernah tahu bahwa setiap hari Arhan memberinya pil KB yang dikemas sebagai obat penyubur agar ia tak pernah mengandung.
Ketika alasan "mandul" itu digunakan Arhan untuk menikahi wanita yang sejak dulu dicintainya, hati Dira hancur. Lebih menyakitkan lagi, ia tak sengaja mendengar percakapan yang mengungkap bahwa selama ini dirinya hanyalah seorang babu yang sengaja dipertahankan sampai wanita pujaan Arhan kembali.
Namun, semua kebohongan memiliki waktunya untuk terbongkar. Saat rahasia pil KB akhirnya terungkap, penyesalan mulai menghantui Arhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang dengan Membawa Istri Kedua
Dira menyandarkan tubuhnya pada sofa empuk, tangannya sibuk memencet siaran televisi yang ia akan tonton bersama ibu mertuanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tapi belum ada tanda-tanda Arhan akan pulang. Sudah Dira telpon tapi tetap panggilan dari Dira diabaikan begitu saja.
"Arhan belum pulang Ra?" tanya Bu Rena yang sedang membalut kakinya dengan minyak urut.
"Mas Arhan mungkin lagi lembur Bu, dari tadi Dira telpon tidak dijawab. Mungkin masih rapat."
'Assalamu'alaikum..' suara pintu yang terbuka diiringi dengan salam.
"Wa'alaik......." seketika mulut Dira bagai terkunci rapat. Matanya melebar sempurna. tenggorokannya terasa tercekat serta pundaknya bagai terhantam pukulan kencang. Lihat apa yang terjadi di depan sana.
Arhan pulang bersama dengan istri barunya Ayu. Dengan langkah pelan tapi pasti, Arhan menggandeng Ayu yang terus menebarkan senyuman penuh kemenangan ke arah Dira.
"Ada apa Ra?" Bu Rena yang belum tau ikut menoleh kearah pintu depan. Sama halnya dengan Dira, bu Rena pun ikut kaget dengan apa yang dilihatnya, Arhan dengan istri barunya yang semakin mendekat ke arahnya.
"Bu Arhan bawa Ayu untuk tinggal disini, secara agama kami telah resmi menikah."
Deg.
Dira sudah tahu bahwa Arhan akan menikah lagi, tapi mengapa bisa secepat itu. Jika diibaratkan omongan Arhan itu masih basah dibibirnya. Dira menarik nafasnya pelan, berusaha agar tidak menangis dengan melihat kenyataan pahit ini. Jemarinya sudah mulai bergetar.
"Secepat ini mas?, apa kalian sudah memiliki hubungan sebelumnya?" Dira menatap wajah Arhan, suami yang pura-pura mencintainya selama ini.
Arhan melirik tegas ke arah Dira. Ia tidak menyangka akan mendapat tembakan pertanyaan seperti itu dari istri pertamanya.
"Mas Ar aku capek banget mau bobo, badan aku pegal-pegal." rengek Ayu dengan suara yang dibuat sangat manja.
Sontak hal itu mendapat delikan halus dari Bu Rena, ia menatap penampilan istri kedua Arhan yang sangat jauh berbeda dengan Nadhira. Penampilannya sungguh sangat berlebihan, dengan pakaian yang kurang bahan, rambut merah dengan model aneh tidak beraturan, serta makeup yang menor. Tidak masalah jika sikapnya baik dan sopan, tapi sejak kedatangannya pun bahkan Ayu tidak mencium tangan Bu Rena yang kini menjadi ibu mertuanya.
"Salim dulu sama ibu sayang..." ucap Arhan halus.
hal itu sontak membuat dada Dira berdentum lagi. Dilihat dari perlakuan Arhan yang sangat manis pada Ayu, Dira dapat menyimpulkan jika suaminya ini memang sudah memiliki hubungan dengan Ayu sebelumnya.
"Bu aku Ayu, istri mas Arhan yang baru" ucap Ayu dengan senyum yang terkesan dipaksakan.
"Hemm." ucap Bu Rena membiarkan tangannya untuk dicium oleh Ayu.
"Hai, kamu siapa. Oh aku lupa disini kan ada istri pertama mas Arhan. Siapa nama kamu..?"
Tahan Dira, walau tangan ini tidak tahan ingin mencomot bibirnya.
Batin Dira, seraya mengembangkan senyuman terpaksa ke arah Ayu.
"Yu ah udah mas, kita ke kamar. Kita kan pengantin baru..." ucap Ayu seraya menarik tangan Arhan menuju tangga.
"Iya sayang..." ucap Arhan tanpa pamit langsung menggandeng pinggang Ayu, serta menuntunnya untuk memasuki kamar baru. Kamar yang selama ini terkunci rapat, kamar yang sudah disiapkan Arhan jauh-jauh hari, kamar yang lebih luas dibandingkan dengan kamar Arhan dengan Dira.
Dira hanya berdiri mematung, hati istri mana yang tidak sakit kala melihat pemandangan itu semua.
Hari ini Nadhira harus menelan dua pil pahit sekaligus.
Satu kenyataan pahit tentang pil kontrasepsi yang selama ini Arhan berikan pada Dira, dengan dalih pil itu adalah sebagai obat penyubur.
Yang kedua Dira harus menerima rasa sakit, jika Arhan memang tidak mencintainya, dan telah menjalin hubungan dengan wanita lain.
"Ra ibu harap kamu bisa bersabar dengan ini semua. Arhan anak ibu satu-satunya, yang dimana Arhan harus memiliki keturunan."
Deg.
Hati Dira kembali berdenyut nyeri.
"Iya buk, maaf bila Dira selama ini belum ngasih cucu pada ibu."
"Ra, ibu mau masuk kamar aja."
Dira mengangguk kalau mengantarkan Bu Rena menuju kamarnya, kemudian ia menaiki tangga lantai atas menuju kamarnya. Sampai pada anak tangga terakhir, langkah Dira sontak terhenti.
Pintu kamar yang selama ini terkunci akhirnya terbuka.
"Mas kamarnya luas banget, pasti kamu udah siapkan kamar ini jauh-jauh hari buat aku ya.."
"Tentu saja sayang...kamu kan tujuan aku.."
"Aww...sayang pelan-pelan.."
Dira sontak menutup telinganya, ia merasa sangat jijik dengan apa yang telah ia dengar dari balik kamar itu. Dira melanjutkan langkahnya menuju kamar, memasukinya kemudian menutup kamarnya rapat-rapat. Dira bersandar dibalik pintu, tangannya menekan dadanya yang terasa sangat sesak, Perlahan tubuh Dira merosot kebawah, air mata sudah mengalir di pipinya, sekuat apapun menahan, tapi tetap hatinya terasa sangat sakit.
"Ya Allah jika mas Arhan memang ditakdirkan untukku, tolong ikhlaskan dan lapangkan hati ini. Namun, jika memang mas Arhan bukan jodohku, ya Allah tolong lancarkan jalannya agar aku terlepas dari rasa sakit ini. Ya Allah istri mana yang tahan jika ia telah dibohongi oleh suaminya sendiri." lirih Dira sambil menangkupkan tangan pada wajahnya.
Lima tahun bukanlah waktu yang singkat.
****
Dua Minggu kemudian.
"Mas masakan aku enak kan...?" ucap Ayu yang memperlihatkan potongan sotong yang amburadul.
"Ek enak ko sayang..." ucap Arhan sembari tersenyum, padahal tenggorokannya terasa panas. Sotong yang dimasak oleh Ayu terlalu banyak memakai cabe kering yang terasa pedas dan panas.
Sarapan pagi sudah disuguhi dengan yang pedas, tapi demi wanita yang sangat ia cintai Arhan tetap memakan sotong dengan bentuk abstrak itu hingga habis. Sampai keringat mengucur membasahi kemeja kerjanya.
"Teh nya mas..." Dira menyajikan segelas teh untuk Arhan, Dira sedari berusaha menahan tawa, melihat ekspresi Arhan yang kepedesan dan melihat bentuk sotong yang yang masih berjanggut panjang, dengan mata yang melotot ingin keluar.
Arhan meneguk langsung segelas teh yang diberikan oleh Dira.
"Kalau enak, yasudah aku bungkus ya buat makan siang mas dikantor."
"Ekehmmm." Dira tidak kuat menahan tawanya.
"Apasih aneh banget.." delik Ayu pada Dira.
"Cemburu kali mas dia, liat kemesraan kita di pagi yang cerah ini." ucap Ayu sambil menyuapkan potongan sotong yang besar kedalam mulut Arhan.
"Tidak usah sayang, aku udah janji sama teman-teman kantor buat makan siang diluar." ucap Arhan dengan mulut penuh dengan sotong pedas, dan rasanya sangat pahit akibat kebanyakan cabai kering.
Setelah sarapan selesai, Dira pergi begitu saja meninggalkan Arhan yang masih bermesraan memakan sotong pahit bersama.
Arhan hanya bisa menatap punggung Dira yang semakin menjauh, Arhan sadar akan sikap Dira yang semakin dingin padanya. Tidak ada lagi senyuman manis yang selalu Dira tunjukkan padanya, tidak ada perkataan semangat dan doa ketika Arhan akan berangkat kerja, tidak ada lagi bekal enak dan unik yang Dira siapkan untuknya. Kini Arhan merasa Dira makin menjauh darinya, bahkan ia merasa Dira sedang menghindari kontak mata padanya.
Bersambung