NovelToon NovelToon
Beladiri Yang Mencapai Puncak Cakrawala

Beladiri Yang Mencapai Puncak Cakrawala

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Kultivasi
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: JokyWong

Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reuni di Kedai Bambu

Setelah melangkah keluar dari paviliun, ia langsung pergi menuju ke ujung pasar kumuh Kota Qingfeng. Tujuannya adalah menepati janji yang pernah diucapkan beberapa hari lalu kepada seorang pedagang tua pemilik kios barang antik.

Di depan sebuah kios kayu kecil yang tampak reyot dan dipenuhi barang-barang berdebu, seorang pria tua berkerut sedang duduk diam di atas kursi bambu.

"Ini sepuluh batu roh kualitas rendah sebagai pembayaran lunas atas lempengan kuningan kuno kemarin," kata Chen'er sambil meletakkan sepuluh batu energi berwarna biru jernih di atas meja kayu kios. "Saya menepati janji untuk membayar dua kali lipat."

Mata pria tua itu langsung membelalak lebar setelah melihat tumpukan batu roh yang berkilau di hadapannya. Tangannya yang gemetar segera mengumpulkan batu-batu tersebut dengan gerakan terburu-buru ke dalam saku bajunya. "Terima kasih banyak, anak muda! Aku tahu kau bukan orang biasa sejak pertama kali melihat matamu yang jernih itu. Kejujuranmu ini sangat langka di kota yang dipenuhi para penipu ini!"

Setelah menyimpan sisa batu rohnya kembali ke dalam kantong kain, langkah kakinya berlanjut menyusuri jalanan batu pusat kota yang mulai ramai oleh para pejalan kaki.

Sebuah tepukan keras mendadak mendarat di bahu kanan dia dari arah belakang, diiringi suara tertawa yang sangat keras hingga menarik perhatian beberapa orang di sekitar.

"Gila! Kau benar-benar Luo Chen sahabatku?!" teriak Ye Feng dengan mata melotot lebar dan mulut yang terbuka lebar. Tangannya langsung mencubit jubah biru bergaris emas yang dipakai oleh Chen'er, lalu meraba lengannya berkali-kali. "Lihat bahan sutra berkualitas tinggi ini! Sangat halus dan tebal! Dan aura kekuatan ini... tunggu dulu, bagaimana bisa kau berada di ranah Pemurnian Tubuh tahap lima?! Bagaimana caranya kau melompat sejauh ini hanya dalam beberapa bulan, sementara aku yang berlatih sampai muntah darah masih tertahan di tahap tiga?"

Mendengar teriakan heboh dari sahabatnya tersebut, Chen'er hanya tersenyum tipis lalu melepaskan cengkeraman tangan Ye Feng dari jubahnya. "Ada beberapa keberuntungan yang terjadi di hutan bambu akhir-akhir ini. Kenapa kau berjalan-jalan di pusat kota sendirian hari ini?"

"Ayo, kita tidak boleh membicarakan hal luar biasa ini di pinggir jalan! Aku yang akan mentraktirmu makan besar hari ini sebagai perayaan atas kekuatan barumu!" teriak Ye Feng sambil menarik lengan jubah Chen'er dengan paksa, menuntunnya berjalan cepat menembus kerumunan pasar.

Kedai Bambu Hijau di sudut pasar menjadi tujuan mereka beberapa menit kemudian. Tempat itu cukup ramai oleh para praktisi bela diri tingkat rendah yang sedang beristirahat.

Sesosok wanita pelayan cantik bernama Lin'er segera berjalan mendekati meja mereka dengan membawa nampan kayu. Senyum manis terukir di wajah pelayan itu saat melihat kedatangan mereka.

"Dua piring ayam panggang madu, satu mangkuk besar sup daging sapi pedas, sepiring bakpao daging, dan teko teh hangat terbaik untuk kami, Lin'er yang cantik!" kata Ye Feng dengan nada bicara yang sangat bersemangat, matanya berkedip jenaka ke arah pelayan tersebut. "Hari ini sahabatku sedang kaya, jadi berikan porsi yang paling besar!"

"Tentu saja, pesanan Anda akan segera disiapkan," jawab Lin'er sambil tertawa kecil sebelum melangkah pergi menuju ke arah dapur kedai.

Setelah makanan diletakkan di atas meja beberapa menit kemudian, Ye Feng langsung menyambar satu paha ayam panggang dan melahapnya dengan rakus hingga minyaknya membasahi dagunya.

"Ngomong-ngomong, apakah kau sudah mendengar kabar besar yang sedang ramai dibicarakan di seluruh penjuru kota hari ini?" tanya Ye Feng setelah menelan daging di mulutnya, lalu meneguk segelas air teh hangat hingga tandas. "Sekte Pedang Surgawi dari wilayah timur akan mengadakan ujian perekrutan murid luar di alun-alun kota dalam waktu tiga hari ke depan."

"Sekte Pedang Surgawi?" tanya Chen'er sambil mengambil sepotong bakpao hangat di piringnya.

"Benar! Mereka adalah salah satu sekte pedang terbesar yang berafiliasi langsung dengan Liga Seribu Pedang di pegunungan hijau!" jelas Ye Feng dengan nada suara menggebu-gebu, tangannya digerakkan meniru gerakan menebas pedang di udara. "Aku ingin mencoba peruntunganku di sana. Batas minimal untuk mendaftar sebagai murid luar adalah ranah Pemurnian Tubuh tahap tiga, dan aku baru saja menembusnya bulan lalu. Apakah kau tertarik untuk ikut mendaftar bersamaku? Kita bisa mendaki gunung bersama!"

"Saya tidak tertarik untuk bergabung dengan sekte mana pun saat ini," jawab Chen'er dengan tenang sebelum menggigit bakpaonya. "Banyak hal yang harus saya selesaikan di rumah."

"Kenapa? Dengan kekuatan Pemurnian Tubuh tahap lima yang kau miliki saat ini, kau pasti akan langsung diterima sebagai murid dalam tanpa perlu melalui ujian fisik yang rumit!" kata Ye Feng dengan dahi berkerut, mencoba meyakinkan sahabatnya kembali. "Ini adalah kesempatan emas untuk mendapatkan teknik bela diri tingkat tinggi dan pasokan pil bulanan yang melimpah! Mengapa kau menolaknya?"

Sambil menikmati makanan di atas meja, Chen'er hanya tersenyum tipis tanpa memberikan jawaban lebih lanjut atas bujukan panjang tersebut.

Di tengah obrolan hangat mereka, sebuah gerakan kecil mendadak terjadi di balik Kantong Semesta yang terikat di pinggang Chen'er.

Sebuah kepala kecil berbulu emas murni tiba-tiba menyembul keluar dari balik lipatan kantong spasial tersebut. Detik berikutnya, makhluk kecil itu melompat dengan sangat cepat ke atas meja kayu, langsung menyambar sisa piring ayam panggang kedua dan melahap setengah bagian dagingnya dalam satu gigitan besar dengan suara kunyahan yang nyaring.

Semburan air teh langsung keluar dari mulut Ye Feng yang sedang minum, membasahi sebagian meja kayu dan hampir mengenai wajah pelayan yang lewat di dekat mereka.

"Uhuk! Uhuk! Demi leluhurku yang agung, makhluk berbulu emas apa ini?!" teriak Ye Feng setelah berhasil meredakan batuknya dengan wajah merah padam karena tersedak. "Dia baru saja menelan separuh ayam panggang utuh dalam satu detik! Dan bagaimana bisa makhluk sekecil ini keluar dari dalam kantong penyimpanan spasial milikmu?!"

Dengan tenang, Chen'er mengambil selembar kain bersih untuk mengeringkan cipratan air teh di dekat piringnya sebelum menjawab dengan nada datar.

"Ini Xiao Lin. Dia adalah seekor binatang spiritual yang saya temukan secara tidak sengaja di lereng hutan Gunung Tiga Jari beberapa hari lalu," jawab Chen'er sambil mengusap kepala berbulu emas makhluk kecil itu yang kini sedang asyik mengunyah tulang ayam. "Kami telah mengikat kontrak jiwa setara, jadi dia bisa tinggal di dalam kantong penyimpananku."

"Apakah itu Kirin?! Kau berhasil mengikat kontrak jiwa dengan anak Kirin?!" teriak Ye Feng dengan suara tertahan sambil mencondongkan tubuhnya ke depan meja, matanya menatap tajam ke arah tanduk kecil di kepala Xiao Lin. "Bagaimana mungkin seorang kultivator di Kota Qingfeng bisa menemukan makhluk legendaris seperti ini dan menjadikannya hewan peliharaan? Perubahanmu selama beberapa bulan ini benar-benar membuat otakku tidak sanggup berpikir lagi!"

"Dia hanya anak binatang biasa yang membutuhkan banyak makanan," jawab Chen'er untuk mengalihkan pembicaraan dari asal-usul Xiao Lin yang sebenarnya.

Melihat bulu emas Xiao Lin yang tampak sangat tebal, berkilau, dan bersih, mata Ye Feng mendadak berbinar terang. Rasa tertarik yang sangat besar terpancar jelas dari wajahnya yang kini dipenuhi senyuman lebar.

"Astaga, dia sangat lucu dan menggemaskan!" teriak Ye Feng sambil menjulurkan kedua tangannya ke depan meja, mencoba menangkap tubuh Xiao Lin dengan gerakan cepat. "Kemarilah, makhluk kecil! Biarkan aku memelukmu sebentar!"

Mendapatkan ancaman sergapan tersebut, Xiao Lin langsung melompat lincah ke arah kiri, menghindari tangkapan tangan Ye Feng dengan mudah. Kaki kecilnya menjejak piring kosong hingga menimbulkan bunyi dentangan nyaring.

"Hei! Jangan bergerak terlalu cepat! Aku hanya ingin memeluk bulu emasmu yang lembut itu!" kata Ye Feng yang tidak menyerah. Tubuhnya condong ke depan meja, kedua tangannya kembali mencoba menyergap Xiao Lin dari arah samping.

Dengan gerakan yang sangat gesit, makhluk kecil berbulu emas itu melompat ke atas kepala Ye Feng, lalu menggunakan rambut cokelat sahabatnya itu sebagai tumpuan untuk melompat kembali ke bahu Chen'er. Tindakan itu membuat rambut Ye Feng menjadi berantakan tidak karuan.

"Aduh! Cakar kecilnya agak tajam!" teriak Ye Feng sambil memegangi kepalanya yang berantakan, namun matanya tetap menatap Xiao Lin dengan pandangan penuh kekaguman. "Luo Chen, peliharaanmu ini benar-benar sangat luar biasa dan menggemaskan! Bolehkah aku memegangnya sekali saja? Aku bersumpah tidak akan menyakitinya!"

"Dia tidak terlalu suka disentuh oleh orang asing," jawab Chen'er sambil menepuk pelan kepala Xiao Lin yang kini sedang berdiri tegak di bahunya, mengeluarkan suara geraman kecil ke arah Ye Feng. "Jika kau memaksanya, dia mungkin akan menggigit jarimu."

"Sayang sekali," gumam Ye Feng sambil mengembuskan napas panjang dengan pasrah, meskipun sesekali tangannya masih bergerak jahil mencoba mendekati ekor kecil Xiao Lin setiap kali makhluk itu lengah. "Tapi bagaimanapun juga, aku sangat senang melihatmu menjadi sekuat ini sekarang."

"Jangan dipikirkan terlalu dalam. Mari selesaikan makanan kita sebelum Xiao Lin menghabiskan sisa piring sup di depanmu," kata Chen'er sambil menunjuk ke arah mangkuk sup sapi yang mulai didekati oleh makhluk kecil berbulu emas tersebut.

1
🌹🌹Alika Moi🌹🌹
sangatbagus isi ceritanya tapi sayang tidak di lanjutkan.
Joe Maggot Curvanord
bagus cuma terlalu sedikit bab oer hari nya
JokyWong: oke makasih ya masukkan nya, nanti di up ya 2 bab per hari 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!