Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.
Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.
Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.
Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.
Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.
Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
Atmosfer di dalam ruang keluarga kediaman orang tua Hanum perlahan mulai mendingin, meskipun sisa-sisa ketegangan dan luka masih terasa pekat di udara. Isak tangis Mama Hanum yang memeluk putrinya mulai mereda, berganti dengan usapan lembut di bahu Hanum yang sejak tadi berusaha tegak menopang harga dirinya.
Papa Irwan menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan beban moral yang teramat berat. Pria paruh baya yang biasanya selalu disegani di dunia bisnis internasional itu kini menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Pak Yusuf.
"Pak Yusuf, Ibu... sekali lagi, dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya," ucap Papa Irwan dengan suara yang bergetar menahan rasa sesal. "Saya merasa telah gagal total. Gagal mendidik salah satu anak di dalam keluarga saya. Dulu... saat Hanif berpacaran dengan Hanum, saya menaruh harapan yang sangat besar pada anak itu. Saya memanjakannya, memberikan dia segala fasilitas mewah, memasukkan dia ke lingkungan sosial yang tinggi, murni karena saya ingin memantaskan dirinya yang sedang bersanding dengan Hanum. Saya tahu Hanum adalah putri dari keluarga terpandang, dan saya ingin Hanif bisa berdiri sama tinggi di sampingnya."
Papa Irwan mengepalkan tangannya di atas lutut, wajahnya mengeras oleh rasa kecewa yang mendalam. "Namun, saya tidak pernah menyangka bahwa semua kebaikan dan fasilitas yang saya berikan justru menumbuhkan monster kesombongan di dalam dirinya. Dia bukannya menjaga amanah yang saya berikan, malah bertingkah seperti binatang yang menginjak-injak harga diri wanita yang sudah mengangkat derajatnya. Saya benar-benar malu, Pak Yusuf."
Melihat ketulusan dan rasa bersalah yang begitu besar dari besannya, kemarahan di dada Pak Yusuf yang tadinya meledak-ledak perlahan mulai menyurut. Sebagai sesama pria dan kepala keluarga, Pak Yusuf tahu betul bahwa watak seseorang tidak selalu bisa ditentukan oleh bagaimana orang tuanya mendidik. Ada kalanya, sifat dasar manusia memang sudah busuk dari akar tertuanya.
Pak Yusuf menggelengkan kepalanya pelan, lalu menatap Papa Irwan dengan pandangan yang melunak. "Semuanya bukan salah Anda, Pak Irwan. Tolong jangan membebani diri Anda dengan kesalahan yang dibuat oleh laki-laki dewasa yang sudah bisa berpikir sendiri. Hanif sudah legal secara hukum, dia sudah menjadi seorang ayah, dan dia tahu betul apa konsekuensi dari setiap perbuatan bejatnya. Anda sudah memberikan yang terbaik sebagai seorang ayah tiri. Jadi, ini bukan salah Anda."
Pak Yusuf menjeda kalimatnya sejenak. Matanya menatap tajam ke arah Papa Irwan, menyiratkan sebuah pertanyaan sensitif yang sejak tadi mengusik benaknya. "Lalu... jika boleh saya tahu, bagaimana dengan hubungan Anda dan juga istri Anda sebelumnya, Pak Irwan? Ibu Rahma... bagaimanapun juga, dia adalah ibu kandung Hanif dan kemarin dia ikut andil dalam menghina putri saya. Maaf jika saya terkesan lancang menanyakan urusan rumah tangga Anda seperti ini."
Mendengar pertanyaan sensitif tentang status hubungannya dengan Ibu Rahma, Papa Irwan tidak menunjukkan ekspresi terkejut atau tersinggung sedikit pun. Wajahnya justru berubah menjadi sangat dingin, sedingin es yang tidak lagi memiliki celah untuk belas kasihan.
"Bapak tenang saja," jawab Papa Irwan dengan nada suara yang datar namun bertenaga mutlak. "Saya sudah mengurus semuanya sejak kemarin malam. Semua orang yang hanya menumpang hidup dan menjadi benalu di dalam keluarga saya sudah saya usir secara tidak hormat. Termasuk Rahma, Hanif dan tentu saja... perempuan jalang yang menjadi istri baru Hanif itu. Mereka semua sudah saya depak keluar dari rumah saya tanpa membawa sepeser pun harta."
Papa Irwan menarik napas dalam, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa dengan gestur yang sangat tegas. "Dan bukan hanya itu saja, Pak Yusuf. Kemarin malam, sesaat setelah mengusir mereka, saya juga sudah menghubungi pengacara pribadi saya untuk segera memproses perceraian saya dengan Rahma. Saya tidak sudi lagi berbagi nama belakang, berbagi ranjang, atau berbagi kehidupan dengan wanita yang telah memelihara sifat khianat dan mendukung anaknya untuk merusak rumah tangga orang lain."
Mendengar keputusan radikal yang diambil oleh besannya, Pak Yusuf seketika tertegun. Bahkan Mama Hanum pun sempat menghentikan usapannya di bahu Hanum karena terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa Papa Irwan akan bertindak sejauh dan setegas ini hingga mengorbankan pernikahan pribadinya demi membela Hanum.
"Pak Irwan... apa ini tidak berlebihan?" tanya Pak Yusuf dengan nada suara yang mendadak merasa tidak enak hati. "Prahara ini adalah masalah antara Hanif dan Hanum. Hubungan pernikahan Anda dan Ibu Rahma sudah berjalan bertahun-tahun. Apakah tidak sebaiknya Anda memikirkannya kembali secara matang? Saya tidak ingin masalah anak-anak kita justru merusak rumah tangga Anda sendiri."
"Tidak ada yang berlebihan, Pak Yusuf," potong Papa Irwan dengan cepat dan tegas, sepasang matanya memancarkan binar perlindungan yang sangat kuat.
"Menyakiti Hanum dan kedua cucu kembar saya, Kayla dan Kenzie, secara otomatis akan membuat orang tersebut masuk ke dalam daftar musuh terbesar di dalam kehidupan saya. Siapa pun mereka, tidak terkecuali istri saya sendiri."
Pria paruh baya itu menatap Hanum dengan tatapan mata yang mendadak melembut, persis seperti tatapan seorang ayah kandung yang sedang menatap putri kecilnya yang terluka. "Saya memang orang lain jika dilihat dari hukum nasab, Pak Yusuf. Saya tidak memiliki hubungan darah setetes pun dengan Hanum atau anak-anaknya. Tetapi, selama bertahun-tahun ini, saya sangat menyayangi Hanum seperti putri kandung saya sendiri. Dia adalah wanita yang luar biasa, menantu yang tidak pernah mengeluh, dan ibu yang hebat untuk cucu-cucu saya. Jadi, ketika ada orang yang berani mengusik ketenangannya, saya sendiri yang akan maju paling depan untuk menghancurkan orang tersebut. Pernikahan saya dengan Rahma sudah selesai semenjak dia memilih untuk bersekongkol dengan Hanif."
Mendengar pembelaan yang begitu luar biasa dan tanpa pamrih dari Papa Irwan, air mata haru kembali menetes di pipi Hanum. Dia benar-benar merasa bahwa di balik ujian berat kehilangan suami yang berkhianat, Tuhan menggantinya dengan sosok ayah mertua yang kebaikannya melampaui batas samudera.
Pak Yusuf pun mengembuskan napas lega, rasa hormatnya kepada Papa Irwan kini naik berlipat-lipat ganda. "Alhamdulillah, Pak Irwan... saya benar-benar bahagia dan bersyukur memiliki besan yang berhati emas seperti Anda. Terima kasih karena sudah menganggap putri saya sebagai anak kandung Anda sendiri."
Pak Yusuf kemudian memutar tubuhnya, menatap lurus ke arah putri tunggalnya yang sejak tadi lebih banyak diam mendengarkan percakapan para orang tua.
"Lalu sekarang, Hanum..." panggil Pak Yusuf dengan nada suara yang kembali serius. "Bagaimana dengan keputusanmu sendiri? Apakah kamu akan benar-benar menceraikan Hanif? Papa ingin mendengar ketegasan dari mulutmu sendiri di depan Pak Irwan."
Hanum mendongakkan kepalanya, menghapus sisa air mata di sudut matanya dengan gerakan yang anggun. Tatapan matanya yang tadi sempat melunak kini kembali mengeras, memancarkan aura ketangguhan seorang wanita mandiri yang tidak bisa diinjak-injak lagi.
"Iya, Papa," jawab Hanum dengan suara yang terdengar sangat mantap dan tidak bergetar sedikit pun. "Besok Hanum akan langsung mengurusnya. Berkas gugatan cerai, bukti-bukti perselingkuhan dan penggelapan dana yang dilakukan Mas Hanif semuanya sudah lengkap di tangan Pak Baskoro. Hanum tidak akan menunda satu hari pun untuk menyingkirkan nama pria itu dari hidup Hanum."
"Itu keputusan yang sangat baik, Nak," ucap Pak Yusuf dengan senyum bangga yang mengembang di wajah tuanya. Beliau menepuk-nepuk punggung tangan putrinya. "Laki-laki seperti Hanif tidak pantas dipertahankan bahkan untuk satu detik pun. Kamu tidak perlu takut, ada Papa dan Mama yang akan selalu berdiri di belakangmu. Kalau begitu, besok pagi Papa yang akan menemani kamu ke kantor Pak Baskoro dan mengantarmu ke Pengadilan Agama untuk mendaftarkan gugatan itu, ya?"
Hanum baru saja hendak menganggukkan kepala untuk menyetujui tawaran papanya, ketika sebuah suara bariton yang berat, dingin, dan kaku tiba-tiba menginterupsi dari sudut ruangan.
"Maaf, Om, jika saya terdengar lancang..."
Semua orang di dalam ruangan itu Pak Yusuf, Mama Hanum, Papa Irwan, termasuk Hanum sendiri seketika menoleh ke arah sofa tunggal di mana Tian sejak tadi duduk dalam diam sebagai pengamat. Pria kaku itu perlahan memperbaiki posisi duduknya, menatap Pak Yusuf dengan sepasang mata elangnya yang tajam namun penuh dengan rasa hormat yang formal.
"Sebaiknya saya saja yang mengantar dan mendampingi Hanum besok," ucap Tian dengan nada suara yang datar namun sarat akan ketegasan yang tidak menerima bantahan.
Pak Yusuf mengerutkan keningnya sedikit, menatap Tian dengan bingung. "Lho, Nak Tian mau mengantar Hanum?"
"Iya, Om," jawab Tian, wajahnya tetap sekaku es batu, namun gerak-geriknya memancarkan aura protektif yang sangat kuat. "Rumah Om Yusuf ini jaraknya terlalu jauh dari kantor pengacara Pak Baskoro dan Pengadilan Agama yang berada di pusat kota. Perjalanan dari sini akan memakan waktu berjam-jam dan hanya akan menguras tenaga Om. Ditambah lagi, saya tahu betul bahwa Om Yusuf adalah orang yang sangat sibuk dengan urusan pengelolaan yayasan dan bisnis korporasi Om saat ini."
Tian melirik sekilas ke arah Hanum yang juga sedang menatapnya dengan tatapan terkejut, sebelum kembali mengunci pandangannya pada Pak Yusuf.
"Sementara saya, saat ini jadwal saya di Indonesia sedang kosong karena semua urusan operasional di luar negeri sudah saya delegasikan kepada wakil saya selama saya berada di sini. Tugas utama saya dari Papa saat ini adalah memastikan keamanan dan kelancaran seluruh proses hukum milik Hanum. Jadi, biar saya saja yang bertanggung jawab penuh untuk mengawal Hanum besok pagi. Om dan Tante bisa tetap tinggal di rumah untuk menjaga dan menemani Kayla serta Kenzie bermain."
Penjelasan yang keluar dari mulut Tian terdengar sangat logis, efisien dan penuh perhitungan, khas gaya seorang eksekutif muda yang tidak suka membuang-buang energi untuk hal yang tidak perlu. Di balik nada sarkas dan kaku yang biasa dia tunjukkan, kalimat Tian kali ini murni berisi perlindungan yang sangat nyata.
Papa Irwan yang mendengar ucapan putranya hanya bisa tersenyum tipis, beliau tahu betul bahwa di dalam dada Tian yang dingin, ada rasa tanggung jawab yang teramat besar untuk melindungi Hanum dari segala bentuk gangguan luar. Sementara Pak Yusuf diam sejenak, menatap Tian dengan pandangan menilai, sebelum akhirnya sebuah senyuman lega terukir di wajah beliau.
"Baiklah kalau begitu, Nak Tian," ucap Pak Yusuf sambil menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Papa titip Hanum kepadamu besok. Tolong kawal putri Papa dengan baik."
Tian hanya memberikan satu anggukan minimalis sebagai jawaban, pertanda bahwa tugas besar untuk mengawal babak baru kehancuran Hanif secara hukum telah resmi dia ambil alih sepenuhnya.
blng aja pgn d tmani mkn gt,ga ush ngeles sna sni....gengsi aja d gdein.....🙄🙄🙄
kalo mau ngajak makan bareng lngsung aj ngomong ,, gx usah gengsi gtuuu🤣🤣🤣🤣
Yg gengsiny stnggi gunung.....kt tau lh kl situ holang kaya,ya kali kelaparan.....🤣🤣🤣....
bkannya bruntung pnya istri cntik,mndiri,kaya raya pula...d tmbh kluarga yg mau nrima dia...
ni mlah ngelunjak...d kira dnia bkln kiamat kali kl hanum ga sm dia....
ccckkk.....🙄🙄🙄
udh emnk si hanif ,, seharusny tnggal di tempat yg skrang ,, gx cocok dy tnggal di rumah mewaah ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
aku setuju banget klo mereka bersatu, biar Hanif semakin merana....
semangat thor, ceritanya bagus banget
Dr kulkas 6 pntu,jd cair kl sm ponakannya....