Anya seorang perempuan kaya yang harus meninggalkan semuanya yang dia miliki karena sakit hati yang dia punya kepada Adi. Dia memilih menghilang dari kehidupan masa lalunya dan memulai segala sesuatunya dari nol. Akankah dia bertemu dengan kekasih baru dan mempunyai kehidupan yang lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia Arinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HP Baru
Anya dan Sofi turun dari angkutan umum ketika angkutan umum yang mereka naiki berhenti tepat di depan kantor. Mereka melangkah masih dengan canda tawa. Setelah sampai lobby kantor mereka berpisah. Anya berjalan menuju ruangannya.
"Selamat pagi cewek jutek", sapa Mario sesaat sebelum Anya masuk lift.
"Cowok tengil, pagi juga", Anya tersenyum. Mereka pun masuk ke dalam lift bersama. Saat lift terbuka Anya keluar dan berpisah dengan Mario. Anya berjalan ke departemen marketing.
"Selamat pagi Cindy", sapa Anya saat melewati meja Cindy.
"Pagi Bu Anya", kata Cindy dengan mulut penuh makanan. Anya tersenyum.
"Selesaikan sarapanmu, 15 menit lagi sudah waktunya bekerja", kata Anya sambil berlalu. Cindy pun mengangguk.
Anya yang sudah masuk ke ruangannya, menyalakan laptop dan mengeluarkan dokumen dari map yang dibawanya dari kosan. Anya mulai mengetik analisa laporan yang dia dapat.
Tok tok tok
"Masuk"
"Pagi Bu Anya, ada yang bisa saya bantu?", tanya Cindy sesaat setelah berada di hadapan Anya.
"Cin, laporan analisamu mana? Terus tolong sekalian mintakan laporan dari departemen keuangan terkait departemen marketing. Pokoknya semuanya", kata Anya. Cindy pun pergi ke departemen keuangan dan meminta laporan yang dibutuhkan Anya. Setelah itu Anya sangat sibuk dengan pekerjaannya.
Tok tok tok
" Masuk. Eh Cindy, laporan analisa yang aku minta sudah belum", tanya Anya tanpa melepaskan pandangan dari laptop.
"Ini Bu Anya", kata Mario menirukan suara perempuan sambil menahan tawa.
"Cowok tengil", Anya akhirnya menoleh pada Mario yang kini sudah tidak bisa menahan tawanya. "Ngapain kamu kesini?"
"Ayo makan siang, ini sudah waktunya istirahat", kata Mario. Anya lalu melihat jam tangannya.
"Ya ampun, udah siang aja. Pantas daritadi perutku bunyi terus. Ayo", Anya menutup laptopnya dan berdiri.
"Tumben langsung mau", Mario tertawa, "Udah luluh sama ketampanan aku ya?", goda Mario.
"Apaan sih? Aku tu dah laper daritadi, makanya ayo aja kalau mau makan. Jadi bareng nggak? Aku tinggal ni", kata Anya berlalu mendahului Mario. Mario hanya tersenyum dan menyusul Anya. Mereka berjalan beriringan menuju kantin perusahaan. Tampak karyawan lain terus memandang mereka, walau dengan menundukkan kepala setiap mereka lewat.
"Eh cowok tengil, ngapain sih pada lihatin kita?", tanya Anya yang mulai risih.
"Biasa kalau cowok ganteng lewat pasti dilihatin", kata Mario. Anya langsung mencubit lengan Mario. Mario mengusap usap lengannya yang sakit. Merekapun sampai di kantin. Anya memesankan Mario makanan karena Mario tidak mau pesan sendiri, namun Mario yang membayar makanan.
Anya pun membawa makanan yang dipesannya ke meja tempat Mario sudah duduk. Dua porsi gado-gado dan dua es teh. Mereka pun makan bersama dalam diam.
"Kenyang", kata Mario sambil memegang perutnya. "Ni ambil", Mario menyodorkan plastik berisi dus kecil.
"Apa ini?", tanya Anya sambil membuka kardusnya. "Ini HP siapa?".
"HP satpam depan sana", kata Mario sekenanya.
"Lah, kenapa kamu bawa kesini? Kamu nyuri? Bisa dipecat nanti kamu", kata Anya dengan mata membulat. "Aku nggak mau ya terlibat dalam hal pencurian. Nanti aku dibilang tukang tadah barang curian lagi". Anya mengembalikan HP tersebut kepada Mario.
"Ya elah Anya, jadi orang polos banget. Ini HP buat kamu", kata Mario sambil tertawa. "Ini HP aku yang beli buat kamu. Tapi maaf HP nya bukan HP keluaran terbaru. Uangku cuma cukup beli HP ini"
"Ya ampun cowok tengil, kamu beliin buat aku? Buat apa? Aku nggak butuh", tanya Anya heran.
"Astaga Anya. Kamu kan nggak punya HP jadi aku beliin, biar kamu bisa menghubungi teman kamu, teman kerjamu. Kerjaan kan bisa kamu kirim by email. Jadi kalau ada apa apa lebih mudah", Mario mulai kesal.
Anya sebenarnya tahu akan hal itu, Anya juga membutuhkan HP untuk membantu pekerjaannya, tapi Anya takut jika dengan memakai HP dan dia sampai bermedia sosial, maka masalalu yang sudah ia kubur dalam dalam, bisa sewaktu-waktu terbuka kembali. Dan dia akan kembali terluka. Anya tampak bimbang.
"Kalau tidak mau nerima ya sudah. Aku buang saja. Percuma aku ambil uang tabungan aku, kalau ternyata pemberianku tidak diterima", kata Mario dengan penuh penyesalan. Anya yang mendengarnya jadi merasa bersalah.
"Ya sudah sini aku terima hpnya. Tapi aku tidak bisa menerima dengan cuma cuma, aku akan cicil uangnya tiap gajian", kata Anya sambil mengambil HP yang dibawa Mario.
"Kamu tambah jelek kalau kaya gitu", goda Anya untuk mencairkan suasana. Mario pun tersenyum dan mengacak-acak rambut Anya.
"Ih.. Dasar cowok tengil nyebelin", Anya merapikan rambutnya namun dengan senyum tercetak di wajah cantiknya. "Terimakasih Mario". Mario terkesiap.
"Coba ulangi lagi. Kamu tadi beneran panggil namaku?", tanya Mario senang.
"Tidak ada siaran ulang", kata Anya sambil menjulurkan lidah mengejek Mario. Mario menunjukkan wajah sebal namun tak berapa lama langsung tertawa melihat senyum Anya.
Mereka pun kembali ke bagian masing masing untuk mulai bekerja kembali. Anya kembali ke ruangannya dan meneruskan pekerjaan yang sempat tertunda.
Tok tok tok
Cindy masuk dengan membawa beberapa dokumen yang diminta Anya.
"Wah HP baru Nya?", tanya Cindy begitu melihat ada HP tergeletak di samping laptop Anya.
"Dikasih cowok tengil. Awalnya aku tolak, tapi saat dia bilang dia pakai uang tabungan buat membelinya, aku jadi tidak tega menolaknya. Untung HPnya bukan keluaran terbaru, jadi lumayan terjangkau harganya. Kalau sudah gajian juga bakalan aku cicil. Aku nggak bisa begitu saja menerima pemberian orang dengan cuma cuma", jelas Anya.
"Cowok tengil siapa Nya? Jangan jangan Tuan Mario? Kamu kan sering bersamanya", selidik Cindy.
"Iya Cindy. Mario yang sering sama aku, siapa lagi. Kan temenku disini cuma kalian berdua", ujar Anya. Cindy hanya bisa melongo mendengar penuturan Anya.
sukses
semangat
keren dan mantap