Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:
"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8. Penjaga Waktu & Jam Pasir Bintang (Bagian III)
...Ketika Waktu Berhenti di Ujung Sebuah Pilihan...
..."Ada saat ketika waktu tidak lagi bertanya berapa lama engkau hidup. Ia hanya bertanya: sudahkah engkau memilih dengan kasih?"...
^^^—Petuah Ompu Tiktik^^^
Jam Pasir Bintang itu masih berada di atas batu putih. Butiran-butiran bintang juga masih terus mengalir.
Namun kini Deak Parujar menyadari sesuatu yang aneh. Bahwa aemakin lama ia memperhatikan, semakin lambat butiran itu bergerak. Hingga akhirnya, seluruh aliran terlihat berhenti total. Bukan karena pasirnya habis. Bukan pula karena jam pasir itu rusak.
Ia hanya benar-benar berhenti. Seluruh Lembah Waktu mendadak sunyi. Paruhum Ulaon menundukkan kepala. Parsijamita menghentikan bunyi lonceng mereka. Bahkan daun-daun Hariara Tikkos tidak lagi tampak bergoyang.
Untuk pertama kalinya sejak awal penciptaan, waktu berhenti.
Deak memandang Ompu Tiktik dengan heran, "Opung... Apakah ini bisa terjadi?"
Lelaki tua itu mengangguk perlahan, lalu menjawab: "Hanya pada satu keadaan."
"Keadaan apa?" tanya Deak lagi.
Beliau berdiri. Tatapannya mengarah ke cakrawala timur yang mulai diselimuti kabut keemasan, "Ketika sebuah hati pemilik takdir sedang memilih."
Deak terdiam, lalu sesaat kemudian ia kembali bertanya: "Apakah pilihanku nanti... Akan sepenting itu?"
Ompu Tiktik tersenyum, "Tidak hanya pilihanmu Putri, tetapi pilihan setiap makhluk. Seekor burung yang memutuskan memberi makan anaknya. Sebuah pohon Hariara yang memilih tetap berdiri meski diterpa badai. Seekor rusa yang rela kehilangan embun terakhirnya agar bunga tidak layu. Semua pilihan yang lahir dari kasih... selalu membuat waktu berhenti sejenak."
"Mengapa?" tanya Deak masih belum memahami sepenuhnya.
"Karena semesta sedang menghormati pilihannya itu." jawab sang Opung dengan pasti. Beliau lalu mengangkat tongkatnya. Ujung tongkat menyentuh Jam Pasir Bintang. Perlahan, dari dalam jam pasir muncul sebuah lingkaran cahaya. Lingkaran itu membesar. Semakin besar. Hingga berubah menjadi sebuah telaga bening yang melayang di udara. Namun permukaan telaga itu tidak memantulkan wajah. Ia memantulkan kemungkinan.
Deak kembali bisa melihat dirinya sendiri. Namun bukan hanya satu. Ada banyak Deak: Seorang Deak tetap tinggal di Banua Ginjang selamanya. Ia menjadi seorang guru bagi anak-anak langit.
Seorang Deak lain memilih menjelajahi bintang-bintang. Ia menjadi sahabat Burung Erung.
Ada pula Deak yang hidup menyendiri di bawah Hariara Bolon, menenun ulos tanpa pernah meninggalkan Banua Ginjang.
Lalu, muncullah bayangan yang terakhir. Deak itu terlihat berdiri di atas batu kecil di tengah samudra purba. Angin menerpa rambutnya. Ulos Cahaya berkibar.
Di depannya menjulang tubuh Naga Padoha yang begitu besar hingga langit seolah menjadi gelap. Namun, bayangan Deak itu tidak menghunus senjata. Ia mengulurkan tangan. Dengan mata yang dipenuhi belas kasih.
Tiba-tiba bayangan itu menghilang. Deak menatap telaga cahaya dengan napas tertahan dan akhirnya bertanya: "Yang mana... yang akan menjadi hidupku?"
Ompu Tiktik tersenyum bijak dan menjawab: "Tak satu pun."
Deak terkejut dan menyanggah: "Tetapi aku melihatnya Opung."
"Itu hanyalah jalan-jalan yang mungkin terjadi. Jalan yang benar-benar akan terjadi, masih belum ada."
Beliau menatap mata Deak dengan lembut dan meneruskan penjelasannya: "Karena jalan itu... akan kau bangun sendiri."
Saat itu, seekor Parsinuan hinggap di bahu Deak. Sayap kacanya berkilau memantulkan cahaya pagi.
Di belakangnya, ratusan Partondion, anak-anak cahaya yang selama ini bersembunyi di balik bunga-bunga langit, mulai bermunculan. Tubuh mereka hanya sebesar telapak tangan. Wajah mereka selalu tersenyum bahagia. Mereka saling bergandengan tangan, membentuk lingkaran di sekitar Jam Pasir Bintang. Lalu mereka mulai bernyanyi. Bukan dengan kata-kata. Melainkan dengan nada yang menyerupai desir angin dan gemericik mata air.
Lagu itu begitu tua. Bahkan Ompu Tiktik ikut menutup mata ketika mendengarnya.
"Lagu apa itu Opung?" tanya Deak dengan berbisik.
"Itu... Lagu Pilihan. Hanya dinyanyikan ketika semesta menyambut sebuah hati yang sedang bertumbuh." jawab Ompu Tiktik perlahan.
Tiba-tiba, langit di atas Lembah Waktu perlahan terbuka. Awan-awan tersibak ke kiri dan ke kanan.
Untuk sesaat, Deak melihat sesuatu yang belum pernah diperlihatkan kepadanya selama ini.
Di tengah Banua Tonga yang masih berupa samudra purba, terlihat sebuah titik cahaya kecil. Sangat kecil. Namun memancarkan warna emas kebiruan.
Perlahan titik itu membesar. Menjadi bayangan sebuah gunung. Belum utuh. Masih seperti mimpi. Namun puncaknya telah menyentuh langit.
"Apakah itu..." bisik Deak.
Ompu Tiktik menjawab dengan suara penuh hormat, "Itulah... gunung yang masih menunggu. Gunung yang belum lahir. Gunung yang kelak menjadi tiang pertama dunia manusia."
Deak memandangnya tanpa berkedip dan lagi-lagi bertanya: "Namanya?"
Lelaki tua itu tersenyum, lalu menjawab: "Belum ada. Karena belum ada manusia yang akan menyebut namanya. Tetapi semesta telah mengenalnya. Kelak... manusia akan memanggilnya... Pusuk Buhit."
Nama itu bergema di seluruh lembah.
Hariara Tikkos menggugurkan satu helai daun peraknya. Burung Erung melayang rendah sambil mengepakkan sayap sekali. Parhudon berlutut. Pargondang Langit memainkan satu hentakan gondang yang panjang.
Dan jauh... sangat jauh... di dasar Banua Toru... Naga Padoha perlahan membuka matanya.
Ia tidak mengetahui mengapa. Namun untuk pertama kalinya, ia merasakan bahwa sesuatu sedang tumbuh. Bukan di dasar samudra. Melainkan di dalam takdirnya.
...****************...
Ompu Tiktik kemudian mengambil Jam Pasir Bintang. Begitu beliau menggenggamnya, butiran-butiran cahaya kembali mengalir.
Waktu bergerak lagi. Burung-burung kembali bernyanyi. Angin kembali bertiup. Parsijamita kembali membunyikan lonceng kristal mereka.
Semesta seakan kembali bernapas.
Ompu Tiktik menatap Deak dengan mata yang dipenuhi kasih seorang guru, "Putri. Hari ini pelajaranmu tentang waktu telah selesai. Tetapi ingatlah satu hal. Waktu tidak pernah menunggu orang yang malas. Namun waktu juga tidak pernah meninggalkan mereka yang bertumbuh."
"Lalu apa yang harus kulakukan, Opung?" tanya Deak lebih lanjut.
Beliau tersenyum dan menjawab: "Teruslah belajar. Karena suatu hari nanti... ketika seluruh semesta menunggu keputusanmu, engkau tidak boleh memilih karena merasa takut. Engkau harus memilih, karena kasih."
...****************...
Ketika Deak meninggalkan Lembah Waktu bersama Jonggi, ia tidak lagi memandang hari-hari sebagai sesuatu yang harus dilewati.
Ia mulai memahami bahwa setiap pagi adalah kesempatan baru. Setiap senja adalah ruang untuk bersyukur.
Dan setiap pilihan, sekecil apa pun, sejatinya sedang menenun masa depan yang belum lagi terlihat.
Di balik punggungnya, Ompu Tiktik masih berdiri memandangi cakrawala. Beliau mengetahui bahwa murid kecilnya belum lagi menyadari satu kenyataan, bahwa Jam Pasir Bintang tidak pernah memperlihatkan seluruh masa depan. Ia hanya memperlihatkan bagian yang sanggup diterima oleh hati seseorang.
Dan hati Deak, baru saja membuka lembaran awal dari takdirnya.
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung ke Bab 9 – Tarian Matahari dan Bulan.
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/