NovelToon NovelToon
My Rude Ice Queen

My Rude Ice Queen

Status: sedang berlangsung
Genre:Playboy / Cinta pada Pandangan Pertama / Persahabatan
Popularitas:358
Nilai: 5
Nama Author: Xereaa

Hanya sebuah kisah tentang seorang remaja laki-laki bernama Jasver Alistair yang akhirnya merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta untuk pertama kali setelah enam belas tahun hidup di dunia. Di sekolah, Jasver dikenal sebagai playboy kelas kakap. Bukan karena ia gemar mengejar perempuan, melainkan karena setiap gadis yang menyatakan perasaan kepadanya selalu ia terima tanpa banyak berpikir. Hidupnya berjalan baik-baik saja hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis dari sekolah yang sama. Gadis itu menatap Jasver seolah sedang melihat sesuatu yang sangat menjijikkan. Sejak pertemuan yang tidak disengaja itu, takdir seakan terus mempertemukan mereka. Dan tanpa Jasver sadari, gadis yang selalu memasang wajah dingin itu perlahan menjadi alasan mengapa seorang playboy kelas kakap akhirnya mengenal arti cinta untuk pertama kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8

​"Gejala tipesnya kumat kayaknya," jawab Aery, suaranya terdengar agak prihatin. "Efek diforsir latihan O2SN lima hari penuh kemarin. Tadi subuh ibunya nge-chat gue, bilang Farah demam tinggi jadi hari ini izin ngga masuk sekolah."

​"Owalah..." Jasver mengangguk-angguk paham. "Pantesan. Kasihan juga si curut jagoan itu, terlalu maksain fisik."

​Aery menatap Jasver sekilas, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang sangat tipis hampir tak terlihat. "Tumben lo perhatian sama Farah."

​"Ya... gimanapun dia kan temen les gue sama Bumi-Ren," sahut Jasver sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Lagian kalau ngga ada Farah, sekolah rasanya bakal sepi banget hari ini. Ngga ada yang bikin huru-hara."

​"Iya juga..." gumam Aery pelan, memandang ke arah jendela kereta yang menampilkan pemandangan kota di pagi hari. "Satu hari tanpa Farah pasti berasa aneh."

​Setelah itu, hening kembali menyelimuti mereka. Tapi anehnya, kali ini rasa canggungnya tidak seluar biasa tadi. Percakapan singkat soal Farah rupanya berhasil mengikis sedikit demi sedikit tembok tinggi yang selama seminggu ini membentang di antara Jasver dan Aery.

Jasver melirik Aery dari sudut matanya, lalu tersenyum tipis dalam hati. Ternyata dia kalau diajak ngobrol biasa ngga segalak kayak kemarin-kemarin, batin Jasver lega.

​Begitu kereta perlahan melambat dan suara pengumuman stasiun tujuan mereka bergema, Jasver menegakkan posisinya. "Yuk, turun. Nanti keburu ditutup gerbangnya sama satpam."

Aery hanya mengangguk pelan. ​Mereka melangkah keluar dari pintu kereta bersama-sama, berjalan bersisian menyusuri peron menuju gerbang sekolah, menghadapi hari Senin tanpa keriuhan Farah, tapi dengan canggung yang perlahan mulai memudar.

♧♧♧

Pelajaran olahraga di jam ketiga hingga kelima selalu menjadi momen yang paling ditunggu sekaligus dihindari. Ditunggu karena bebas dari materi pelajaran di dalam kelas, tapi dihindari karena hawa Gedung Olahraga sekolah saat menjelang siang rasanya mirip dengan sauna raksasa.

Hari ini, jadwal penggunaan Lapangan Indoor SMA Astra Nova kebetulan digabung antara kelas X-E dan kelas X-A. ​Jasver, Ren, dan Bumi sudah rapi menggunakan seragam olahraga sekolah berwarna biru navi. Ren sibuk mendribel bola basket di tengah lapangan, sementara Jasver sedang meluruskan kakinya di pinggir lapangan sambil meminum air dari botolnya.

​"Gila, panas banget. Coba aja kalau kelas X-C olahraganya jam segini juga, pasti si Farah udah paling heboh ngerebut bola," cerocos Ren sambil melempar bola ke arah ring. Swish. Masuk.

​"Farah kan hari ini izin sakit, bego. Lagian kelas X-C mah jam olahraganya hari Kamis," sahut Jasver. Matanya lalu mengarah ke sudut lain gedung. "Tapi liat tuh, si kucir satu jadi merengut gitu."

Pintu besar Gedung Olahraga baru saja terbuka lebar, menampilkan rombongan siswi dari kelas X-A. Karena Farah, sahabat beda kelasnya yang biasa nyamperin pas istirahat sedang sakit, Aery berjalan sendirian di barisan belakang sambil memeluk bola voli dengan wajah lesu. Seragam olahraganya yang sedikit kebesaran membuat tubuhnya kelihatan makin mungil.

​Bumi yang tadinya sedang mengikat tali sepatu refleks mendongak. Begitu matanya menangkap sosok Aery, gerakan tangannya mendadak berhenti.

​"Wahh, gabungan nih jam olahraganya sama X-A?" celetuk Ren, matanya langsung berbinar. "Asyik, bisalah kita pamer skill basket ke anak kelas sebelah."

Jasver menyenggol lengan Bumi. "Bum, liat tuh. Tuan putri lo jalan sendirian ngga ada temen ngobrol. Ngga mau lo samperin?"

​Bumi tidak menjawab godaan Jasver. Dia hanya berdiri, merapikan kaus olahraganya, lalu mengambil satu bola basket lagi yang tergeletak di dekatnya. "Gue mau pemanasan dulu," ucapnya tenang, tapi langkah kakinya justru mengarah ke area lapangan voli tempat anak-anak X-A berkumpul.

Jasver dan Ren saling berpandangan, lalu kompak menjulurkan lidah masing-masing.​"Cakep betul gaya si Bumi. Alasannya pemanasan, tapi nyasar sampe ke tempat Aery," cibir Ren geleng-geleng kepala.

​"Biarin lah, kasian si Aery biasanya ditempelin Farah kalau istirahat, sekarang Farah ngga masuk jadi berasa makin sepi dia," sahut Jasver yang kini sudah benar-benar santai kalau membahas gadis dingin itu.

​Di sudut lapangan voli, Aery sedang berdiri sendirian sambil memantul-mantulkan bola voli ke lantai. Dia agak canggung karena anak-anak cewek di kelasnya sudah berpasangan untuk latihan passing.

​Tuk... tuk...

​Sebuah bola basket bergulir pelan mendekati kakinya. Aery menghentikan pantulan bola voli, lalu mendongak. Bumi berdiri dua langkah di depannya dengan senyuman hangat yang sanggup mengalahkan hawa gerah di dalam gedung.

​"Sendirian aja, Ry?" sapa Bumi, suaranya terdengar lembut di antara keriuhan anak-anak lain yang berlarian.

Aery memegang bola volinya lebih erat, senyum tipis otomatis terukir di wajahnya. "Iya, Bum. Farah juga lagi ngga masuk, jadi kerasa sepi banget."

​"Tau kok, tadi Jasver juga cerita kalau Farah lagi sakit," sahut Bumi. Dia lalu melirik bola voli di tangan Aery. "Lagi materi passing ya?"

Aery mengangguk. ​"Yap, tapi aku dari tadi susah passing atas. Jangkauan tanganku selalu melenceng," curhat Aery pelan, sedikit merona karena malu mengakui kelemahannya di depan Bumi.

Bumi tersenyum kecil. Tanpa ragu, dia meletakkan bola basketnya di lantai, lalu melangkah lebih mendekat. "Coba pegang bolanya kayak tadi. Tangan kamu kurang tinggi sedikit."

​Di sudut lapangan basket, Ren dan Jasver yang sedang lay-up mendadak menghentikan pergerakan mereka. Keduanya bersandar di tiang ring basket, menatap ke arah Bumi yang sedang mengajari Aery teknik memegang bola voli dengan jarak yang cukup dekat.

Jasver mendecak kagum. "Ren, lo liat ngga? Si Bumi mode guru privat gitu ternyata smooth banget mainnya."

​"Iya asemm," timpal Ren sambil geleng-geleng. "Coba aja kalau si Farah masuk terus kelasnya sebelahan sama gedung ini, pasti radar mak comblangnya udah bunyi heboh banget."

Jasver tertawa pelan. "Tapi bagus deh, suasana jadi adem. Si Bumi sama Aery juga makin ngga canggung."

Bumi melangkah selangkah lebih mendekat. Gerakannya tenang dan tidak terburu-buru. "Gini, Ry. Posisi siku kamu jangan terlalu merapat. Buka sedikit, terus jari kamu bentuk mangkuk di atas dahi. Cobain tanpa bola dulu."

Aery menurut. Dia mengangkat kedua tangannya ke atas dahi, mencoba mengikuti instruksi Bumi. Kucir ekor kudanya ikut bergoyang pelan saat dia mendongak. ​"Gini, Bum?" tanya Aery, memandangi jemarinya sendiri.

​"Nah, bener. Coba sekarang pakai bola," kata Bumi seraya mengambil bola voli di lantai dan melambungkannya pelan tepat di atas jari tangan Aery.

​Puk!

Pantulan bola kali ini melambung lurus, jauh lebih stabil dari dorongan-dorongan Aery sebelumnya. ​Senyum Aery yang tadinya ditahan mendadak mekar sempurna. Matanya berbinar menatap Bumi, ada rasa puas bercampur kagum yang tak bisa dia sembunyikan. "Wah, beneran bisa! Makasih ya, Bum."

​"Sama-sama," balas Bumi, senyum tipisnya makin hangat. "Tangan kamu lentur kok, cuma butuh pembiasaan aja."

​Sementara itu, di seberang lapangan, Jasver masih bersandar di tiang ring basket. Bola di tangannya didribelkan pelan di lantai, tapi fokus matanya sepenuhnya tertuju pada binar di mata Aery saat menatap Bumi.

Ada keheningan kecil yang mendadak menyelinap di benak cowok populer itu. ​Jasver selalu menganggap Aery sebagai cewek yang datar, galak, dan penuh ancaman gara-gara kejadian salah rangkul dan di bus saat itu. Tapi melihat Aery tersenyum semanis itu ke Bumi membuat Jasver menyadari sesuatu. Aery bukan cewek yang dingin. Dia hanya dingin jika berhadapan dengannya.

Ternyata manis juga kalau lagi senyum gitu, bisik batin Jasver tanpa sadar. Perasaan asing itu menyengat pelan, membuat dada Jasver agak berdesir aneh.

​Namun, tepat saat benih-benih ketertarikan itu hinggap, Jasver langsung memalingkan wajahnya ke arah papan skor. Dia menghembuskan napas panjang, menepuk kepalanya sendiri.

Bego lo, Ver, umpat Jasver dalam hati. Lihat tuh tatapan si Aery ke Bumi. Udah jelas banget dia ada rasa sama Bumi. Jangan ngaco deh lo.

​"Ver!" panggil Ren mendadak dari arah garis three point. "Keliatan bego amat lo berdiri di situ! Sini lempar bolanya, kita shoot lagi!"

​"Ah, iya! Sabar napa!" seru Jasver menutupi fokusnya yang sempat buyar. Dia menyambar bola basketnya, mencoba kembali fokus ke permainan meski fokus pikirannya agak sedikit terdistraksi oleh gadis berkucir satu di sudut lapangan.

Jam pelajaran selesai saat peluit panjang dibunyikan. Anak-anak berhamburan menuju pinggir lapangan untuk mengelap keringat dan mengambil botol minum.

​Aery berjalan pelan menuju pinggir lapangan, menyapu keringat di pelipisnya menggunakan handuk kecil. Saat sedang membuka tutup botol minumnya, sebuah bayangan jangkung menutupi cahaya lampu di hadapannya.

Aery mendongak. ​Jasver berdiri sambil memegang handuk yang dikalungkan di lehernya. Senyum konyol yang biasanya terpampang jelas di wajah cowok itu kali ini kelihatan agak canggung, tapi dia berusaha bersikap sesantai mungkin.

​"Ehem... makin jago aja passing-nya," tutur Jasver basa-basi, menunjuk bola voli di sebelah Aery menggunakan dagunya. "Gue liat tadi dari jauh, udah ngga melenceng lagi."

Aery agak terkejut karena Jasver mendadak menyapa. Dia merapikan anak rambutnya, lalu menatap Jasver dengan raut wajahnya yang kembali netral. ​"Masa?" responnya singkat. "Diajarin Bumi tadi."

​"Iya, tau. Si Bumi mah serba bisa," sahut Jasver kekeh pelan, menggaruk tengkuknya. Jasver melirik Aery sekilas, melihat pipi gadis itu yang masih sedikit merona, entah karena hawa panas gedung atau karena habis latihan bareng Bumi.

​Jasver tersenyum tipis, sebuah senyuman kecil yang terkesan 'tau diri'. "Yaudah, gue balik ke ruang ganti dulu ya. Nanti kalau Farah nanya di grup, bilangin tuh si Ren nyariin musuh mabar."

Aery mengangguk pelan. "Iya, nanti gue sampaikan."

​Jasver berbalik dan berjalan menyusul Ren dan Bumi yang sudah menunggunya di dekat pintu keluar gedung. Langkahnya terasa agak berat, tapi Jasver meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia cukup tau posisi. Aery nyaman dengan Bumi, dan dia cukup jadi penonton dari jauh saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!