NovelToon NovelToon
Kebangkitan Istri Yang Direndahkan

Kebangkitan Istri Yang Direndahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:76.9k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Astrid mengorbankan segalanya untuk keluarga. Namun, pengorbanannya justru dibalas dengan hinaan.

Setelah melahirkan, tubuh Astrid berat badannya naik drastis hingga membuat Lucas, suaminya yang seorang dokter, merasa malu memiliki istri sepertinya. Tak hanya itu, Marta, sang mertua, juga menganggap Astrid sebagai wanita tidak berguna karena tidak memiliki pekerjaan maupun prestasi yang bisa dibanggakan.

Puncaknya terjadi saat Lucas dan Marta mempermalukannya di depan banyak tamu undangan. Harga dirinya diinjak-injak tanpa belas kasihan, seolah seluruh pengorbanannya selama ini tidak pernah berarti. Hari itu, Astrid memutuskan untuk berhenti menangis.

Dengan bantuan Mateo, Astrid bangkit dan mengubah hidupnya. Saat satu per satu kesuksesan berhasil diraihnya, orang-orang yang dulu merendahkan mulai menyadari kesalahan mereka.

Kini giliran mereka yang memohon, sementara Astrid tak lagi peduli. Karena ada penghinaan yang bisa dimaafkan, tetapi tidak pernah bisa dilupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

...Penyesalan Astrid adalah terlalu banyak berkorban untuk keluarga yang tidak pernah menghargainya....

"Selamat ya, Dokter Lucas. Menjadi Kepala Departemen Bedah di usia semuda ini benar-benar pencapaian yang luar biasa."

Senyum lebar terukir di wajah Lucas saat ia menjabat tangan salah satu koleganya. "Terima kasih."

Malam itu aula hotel mewah dipenuhi para dokter, petinggi rumah sakit, rekan bisnis, dan keluarga besar. Acara syukuran yang digelar untuk merayakan pengangkatan Lucas sebagai Kepala Departemen Bedah berlangsung meriah.

Lucas menjadi pusat perhatian. Ke mana pun ia berjalan, selalu ada orang yang menghampiri untuk mengucapkan selamat. Semua orang memuji kesuksesannya dan mengaguminya.

Sebagai istrinya, Astrid berdiri tidak jauh dari sana.

"Bu Astrid." Seorang wanita paruh baya menghampirinya sambil tersenyum ramah.

Astrid mengenalnya sebagai istri salah satu dokter senior di rumah sakit tempat Lucas bekerja.

"Kamu pasti bangga sekali dengan pencapaian suamimu."

"Iya." Astrid tersenyum tulus.

"Dokter Lucas memang luar biasa. Dari dulu saya sudah yakin dia akan menjadi orang besar."

Astrid mengangguk. Matanya tanpa sadar tertuju pada Lucas yang sedang berbincang dengan beberapa petinggi rumah sakit.

Astrid selalu menemani setiap langkah proses Lucas dari mulai kuliah jurusan kedokteran. Mendukung setiap perjuangannya. Mendengar setiap keluh kesahnya. Melihat semua jerih payahnya. Lalu malam ini, melihat suaminya berdiri di puncak keberhasilan, seharusnya membuatnya ikut bahagia.

"Dokter Lucas beruntung memiliki istri yang selalu mendukungnya."

Astrid tersenyum malu. Namun sebelum ia sempat menjawab, suara lain terdengar dari belakang.

"Oh, soal itu saya tidak begitu yakin."

Senyum Astrid langsung membeku. Ia mengenali suara itu. Marta, ibu mertuanya.

Wanita paruh baya itu berjalan mendekat dengan gaun merah marun yang terlihat mahal. Senyum tipis menghiasi bibirnya.

Astrid tahu betul, senyum seperti itu selalu menjadi pertanda buruk.

"Maksud Anda?" tanya wanita tadi bingung.

Marta terkekeh kecil. "Lucas memang beruntung dalam banyak hal."

Tatapannya perlahan beralih ke Astrid. "Tapi kalau urusan istri."

Marta menghela napas panjang. "Saya rasa anak saya pantas mendapatkan wanita yang lebih baik."

Ruangan di sekitar mereka seketika terasa sunyi. Astrid merasakan darahnya seperti berhenti mengalir. Wanita yang tadi berbicara dengannya terlihat salah tingkah.

Marta belum selesai. Tatapannya turun dari kepala hingga kaki Astrid, lalu kembali naik ke wajahnya.

"Kalau aku jadi kamu, aku pasti malu keluar rumah."

Kalimat itu meluncur begitu saja di tengah ramainya acara, dari mulut Marta. Wanita paruh baya berpenampilan glamor.

Tawa dan obrolan para tamu masih terdengar di berbagai sudut ruangan, tetapi bagi Astrid, semua suara itu seolah menghilang dalam sekejap. Tangannya membeku.

Perlahan, Astrid mengangkat wajah. Di hadapannya berdiri Marta, ibu mertuanya. Wanita itu sedang tersenyum. Namun, senyum itu sama sekali tidak mengandung kehangatan. Sebaliknya, senyum itu penuh ejekan.

"Kenapa Ibu bilang begitu?" tanya Astrid pelan.

Marta menghela napas panjang seolah sedang menghadapi seseorang yang sangat menyebalkan.

"Aku bilang, kalau aku jadi kamu, aku pasti malu menampakkan diri di depan orang banyak."

Beberapa tamu yang berada di dekat mereka langsung menghentikan percakapan. Tatapan mereka berpindah dari Marta ke Astrid. Mereka tahu kalimat itu bukan bercanda, itu penghinaan. Dan penghinaan itu sengaja dilontarkan di depan banyak orang.

Astrid merasakan tenggorokannya mengering. "Ibu ...."

"Coba lihat dirimu." Marta menunjuk tubuh Astrid tanpa ragu sedikit pun.

"Dulu waktu Lucas mengenalkanmu ke keluarga, kamu cantik. Tubuhmu langsing. Semua orang memuji penampilanmu." Tatapan wanita itu turun dari kepala hingga kaki Astrid.

"Sedangkan sekarang?" Marta tertawa kecil. "Astaga. Aku bahkan hampir tidak mengenalimu."

Beberapa orang tampak tidak nyaman. Namun, tidak ada yang berani menyela.

Astrid menundukkan kepala. Panas mulai menjalar ke wajahnya. Ia tahu apa yang dilihat orang-orang saat memandangnya. Tubuh gemuk, pipi yang membulat. Lengan yang tidak lagi ramping. Ia tahu semuanya. Karena setiap kali bercermin, ia melihatnya juga.

Setelah melahirkan putrinya dua tahun lalu, tubuh Astrid berubah drastis. Berbagai cara sudah dicoba. Diet, olahraga, mengurangi porsi makan, namun berat badannya tetap sulit turun.

Belum lagi waktu dan tenaganya habis untuk mengurus suami, anak, dan kebutuhan keluarga. Akan tetapi semua pengorbanan itu tidak pernah terlihat. Yang dilihat orang hanya bentuk tubuhnya.

"Astrid sudah berusaha, Bu," ujar salah satu kerabat mencoba menengahi.

Marta mendengus. "Berusaha?" Wanita itu tertawa sinis. Lalu, lanjut berkata, "Kalau itu namanya berusaha, berarti aku tidak tahu lagi apa arti kata menyerah."

Tawa kecil terdengar dari beberapa orang. Mungkin mereka tidak bermaksud jahat, hanya ikut tertawa karena suasana.

Namun, tetap saja tawa itu terasa seperti tamparan yang mengenai wajah Astrid. Ia menggigit bibir bagian dalam agar tidak menangis.

"Tidak. Aku tidak boleh menangis. Tidak di sini. Apalagi di depan mereka semua," batin Astrid.

Saat itulah sebuah suara terdengar dari belakang. "Sudahlah."

Jantung Astrid langsung berdebar. Lucas, suaminya datang menghampiri. Pria itu mengenakan jas hitam yang membuatnya terlihat semakin tampan dan berwibawa.

Malam ini adalah malam penting baginya. Banyak dokter, kolega, dan petinggi rumah sakit hadir untuk merayakan keberhasilannya mendapatkan posisi baru.

Astrid menatap Lucas dengan harapan yang tiba-tiba tumbuh di dalam dadanya. Akhirnya ada seseorang akan membelanya. Dia berharap suaminya akan menghentikan semua ini.

Namun, harapan itu hanya bertahan beberapa detik. Karena Lucas berdiri tepat di samping ibunya.

"Bukankah Ibu hanya mengatakan kenyataan?"

Wajah Astrid langsung pucat. Seolah darah di tubuhnya menghilang begitu saja.

"Apa?"

Lucas memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Ekspresinya datar tidak ada kemarahan, keberatan, atau pembelaan untuk istrinya.

"Astrid, kamu memang harus bisa menjaga diri."

Jantung Astrid seperti diremas. "Kamu juga berpikir begitu?"

Lucas mengembuskan napas panjang. "Aku sudah berkali-kali membicarakan hal ini denganmu."

"Apa kamu malu padaku?" Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Lucas terdiam. Dan diamnya jauh lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.

Astrid merasakan sesuatu runtuh di dalam dirinya. Selama ini ia selalu mencoba meyakinkan diri bahwa Lucas masih mencintainya. Bahwa suaminya hanya khawatir tentang kesehatannya. Ternyata semua hanya perasaannya saja.

Malam ini, akhirnya Astrid tahu kebenarannya. Lucas memang malu memiliki dirinya. "Apa aku sering jadi bahan pembicaraan teman-temanmu itu?" tanyanya lirih.

Lucas memalingkan wajah.

Seketika air mata memenuhi mata Astrid. Dadanya terasa sesak. Seolah seseorang sedang menginjak-injak hatinya di depan umum.

Marta kembali berbicara. "Aku sudah bilang sejak dulu, Lucas pantas mendapatkan wanita yang lebih baik."

Kali ini beberapa tamu benar-benar terkejut. Ucapan itu terlalu kejam dan sangat terang-terangan. Namun, Marta tidak peduli. Tatapannya tetap tertuju pada Astrid.

"Lihat istri para dokter di sini." Marta menunjuk ke beberapa wanita yang menjadi tamu undangan.

Astrid mengikuti arah pandangannya. Para wanita yang berdiri di sekitar ruangan memang terlihat cantik. Tubuh mereka ramping. Penampilan mereka elegan. Sebagian besar memiliki karier yang membanggakan.

"Lalu, lihat dirimu! Kamu tidak bekerja. Kamu tidak punya prestasi. Kamu bahkan tidak menjaga penampilanmu."

Kalimat itu menghantam begitu keras. Mata Astrid mulai kabur oleh air mata. Setiap kata terasa seperti pisau, menusuk tanpa ampun. Padahal selama enam tahun terakhir, hidupnya hanya berputar untuk keluarga.

Saat Lucas masih berjuang menyelesaikan pendidikan spesialisnya, Astrid yang mengatur keuangan rumah tangga. Saat Lucas pulang larut malam karena tugas rumah sakit, Astrid yang menunggunya.

Saat putri mereka lahir dan sakit, Astrid yang begadang semalaman. Ia memberikan seluruh waktunya, seluruh tenaganya, seluruh hidupnya, untuk keluarga. Namun malam ini, semua itu seolah tidak pernah ada. Yang mereka lihat hanyalah kekurangannya. Bukan pengorbanannya.

"Sebagai istri seorang dokter, seharusnya dia bisa menjaga pola hidup. Tubuhnya obesitas, sehingga malah merendahkan profesi suaminya yang seorang dokter," celetuk salah seorang tamu undangan.

"Benar. Pastinya akan banyak orang bertanya-tanya, kenapa istrinya Dokter Lucas badannya obesitas? Apa Dokter Lucas tidak bisa mengobatinya?" lanjut yang lain berbisik.

Astrid menatap Lucas dengan berharap. Mungkin suaminya akan mengatakan sesuatu yang akan membelanya.

Namun, Lucas tetap diam. Diam yang terasa lebih menyakitkan daripada penghinaan Marta. Karena diam itu berarti setuju.

Semua orang terdiam. Tidak ada lagi yang tawa ataupun bisik-bisikan.

Kini, hanya suara napas Astrid yang terdengar tidak teratur. Air mata mengalir tanpa bisa ditahan.

Namun anehnya, di tengah rasa sakit yang luar biasa itu, sesuatu perlahan berubah di dalam dirinya, harapan. Rasa yang selama ini selalu dia pertahankan, akhirnya mati pada malam itu.

Perlahan Astrid mengangkat wajah. Matanya yang basah menatap Lucas lalu Marta, bergantian.

"Aku mengerti sekarang." Suara Astrid sangat pelan. Namun, seluruh ruangan dapat mendengarnya.

Lucas mengernyit. "Mengerti apa?"

Astrid menghapus air matanya sendiri. Bukan karena ia sudah tidak sedih. Melainkan karena ia tidak ingin mereka melihat kelemahannya lagi.

"Aku mengerti bagaimana kalian memandangku."

Marta melipat tangan di dada. "Lalu?"

Astrid menarik napas panjang. Satu tarikan napas yang terasa seperti perpisahan dengan kehidupan lamanya.

"Aku akan mengingat malam ini. Aku akan mengingat setiap hinaan yang kalian berikan." Tatapan Astrid membuat senyum Marta perlahan memudar.

Jantung Lucas tiba-tiba berdebar tidak nyaman. Ada sesuatu dalam tatapan istrinya yang berbeda. Tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Bukan tatapan wanita yang terluka, tetapi tatapan seseorang yang sudah kehilangan segalanya dan tidak lagi takut kehilangan apa pun.

"Suatu hari nanti, kalian akan menyesali kejadian malam ini." Suara Astrid terdengar tenang.

Setelah mengatakan itu, Astrid berbalik. Melangkah meninggalkan aula, melewati para tamu yang terdiam. Tidak seorang pun mencoba menghentikannya ataupun yang mengejarnya.

Tidak seorang pun menyadari bahwa malam itu mereka baru saja menghancurkan seorang wanita yang selama ini selalu diam. Karena beberapa luka tidak membuat seseorang hancur, justru melahirkan seseorang yang baru. Seseorang yang suatu hari nanti akan membuat mereka menyesal telah meremehkannya.

***

Assalamualaikum, semua. Aku kembali membuat karya baru, semoga kalian suka. Jangan lupa selalu klik like dan tinggalkan jejak lainnya sebagai dukungan.

1
Yeyet Rohaeti
lanjut
Mardiana
Lucas... lupa sama istrinya karena lihat yg lebih kinclong 😈
Mardiana
cakep ...👍👍👍👍
Aidil Kenzie Zie
ha ha ha selamat datang di hotel prodeo Lucas 🤣🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Good
sunaryati jarum
Saatnya Lucas runtuh,harta yang dikumpulkan dari hasil mencuri akhirnya akan kembali ke pemiliknya
sunaryati jarum
Semoga uang yang dicuri dan diberikan pada selingkuhannya kembali ke Astrid.Dan semua asetnya dibekukan dan jadi hak Astrid
Sugiharti Rusli
apa itu data" transaksi pengalihan yang dimiliki oleh istrinya yang selama ini juga disalah gunakan olehnya,,,
Sugiharti Rusli
dan kira" apa isi amplop yang pada akhirnya membuat pertahanan si Lucas runtuh yah itu,,,
Sugiharti Rusli
dalam hal ini sepertinya si Lucas sudah mempersiapkan kala dirinya sudah tertangkap dan bukti kejahatan mulai di paparkan,,,
Sugiharti Rusli
tapi kalo penyidik sudah berpengalaman tahu kapan mulai menyerang si tersangka yah,,,
Sugiharti Rusli
memang yah ada karakter penjahat yang bisa memainkan emosi penyidik sih dalam dunia kriminal,,,
Sugiharti Rusli
sekalinya penjahat tetap penjahat yah si Lucas itu
Sugiharti Rusli
dan kamu berkilah sama ibu kamu kalo ini hanya salah paham agar bisa menutupi semua kecurangan yang sudah kamu lakukan,,,
Sugiharti Rusli
dan sekarang kamu menghadapi dua gugatan sekaligus, dari Astrid dengan gugatan cerai, dan kasus penyelewengan
Sugiharti Rusli
kamu pikir kamu sudah bermain cantik dan tidak akan ketahuan dengan semua trik licik yang telah kamu perbuat, bahkan sama istri kamu sendiri,,,
Sugiharti Rusli
kamu memang terlalu sombong dan jumawa Lucas dengan sepak terjang kamu selama ini,,,
sutiasih kasih
lanjut thor...
ku kirim 🌹&☕.. biar semangat...
sutiasih kasih
yakin dech.... perempuan trindahmu... yg km cintai ugal"an.... g akn mau brtahan mdampingi kerutuhan karir dan hidupmu lucas🤣🤣
Tarwiyah Nasa
semakin seru 😄 gimana2 perasaan lo casss 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!