Di dunia di mana status ditentukan oleh kekuatan roh bela diri, Lin Xiao dianggap sebagai sampah tak berguna karena hanya memiliki roh berupa sebuah makam kuno yang hancur.
Dikhianati oleh klannya sendiri, dirundung habis-habisan oleh sepupunya, dan secara terbuka dihina oleh tunangannya yang sombong, Lin Xiao mencapai titik terendah.
Namun, di saat kematian mendekat, rahasia makam itu bangkit. Alih-alih sebuah sampah, makam itu ternyata adalah Makam Para Raja, gudang tersembunyi yang menyimpan sisa-sisa jiwa, ingatan, dan teknik tak terkalahkan dari ratusan kaisar dan raja bela diri kuno yang pernah mendominasi dunia.
Didorong oleh dendam membara, Lin Xiao berlatih secara diam-diam menggunakan warisan terlarang tersebut.
Dari pemuda yang diremehkan, dia tumbuh menjadi sosok dingin yang kejam terhadap musuh, siap menghadapi seluruh klan dan sekte demi melindungi ayahnya yang lemah, serta mendaki puncak kekuatan bela diri sebagai Pewaris Makam Para Raja yang sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Hanya Tetua Lin Mo dan satu tetua lainnya yang tetap bersidekap dada dan menolak untuk mengangkat tangan.
"Sembilan suara setuju, dua suara menolak." putus Lin Zhen dengan senyum kemenangan yang sangat menjijikkan.
"Pemungutan suara telah selesai, keputusannya sudah mutlak."
Lin Zhen menatap Lin Tianhai yang masih berpura-pura terbatuk-batuk.
"Lin Tianhai, mulai detik ini kau bukan lagi tetua klan. Serahkan token identitasmu dan tinggalkan kediaman ini sebelum matahari terbenam."
Lin Jian tertawa dengan sangat puas dan melangkah mendekati Lin Xiao.
"Kau dengar itu, sampah? Kalian berdua sudah resmi menjadi gembel jalanan."
"Bawa ayahmu yang cacat itu dan enyah dari pandanganku sekarang juga." usir Lin Jian sambil mengulurkan tangannya berniat mendorong dada Lin Xiao.
Namun tangan Lin Jian tidak pernah sampai ke dada pemuda itu.
Plak.
Sebuah tangan besar dan sangat kokoh tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Lin Jian dengan kecepatan kilat.
Bukan tangan Lin Xiao, melainkan tangan dari pria paruh baya yang sedari tadi terlihat sangat lemah dan penyakitan.
Lin Tianhai berdiri tegak, napasnya yang tadi tersengal-sengal kini berubah menjadi sangat teratur dan dalam.
Batuk palsunya menghilang sepenuhnya tanpa bekas.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku, orang tua cacat!" teriak Lin Jian sambil berusaha menarik tangannya.
Namun cengkeraman Lin Tianhai terasa seperti kait besi yang tidak bisa digoyahkan.
Mata Lin Jian membelalak lebar saat dia merasakan sesuatu yang sangat mustahil sedang terjadi.
Wush.
Ledakan energi spiritual yang sangat dahsyat tiba-tiba memancar dari tubuh Lin Tianhai.
Aura itu tidak lemah, tidak rapuh, dan sama sekali tidak memiliki tanda-tanda kerusakan meridian.
Itu adalah aura dari seorang kultivator tahap Inti Emas tingkat pertama, tahap yang bahkan belum bisa dicapai oleh Kepala Tetua Lin Zhen!
Gelombang energi itu menyapu seluruh balai utama seperti badai yang mengamuk.
Kursi-kursi kayu bergeser, dan beberapa murid di luar balai sampai jatuh terduduk karena tekanan spiritual yang sangat mengerikan tersebut.
Krak.
"Aaaargh!" jerit Lin Jian saat pergelangan tangannya dipatahkan dengan sangat mudah oleh cengkeraman Lin Tianhai.
Tubuh pemuda sombong itu langsung ditendang hingga terlempar sejauh belasan meter.
Bruk.
Lin Jian menghantam pilar kayu balai utama dan langsung memuntahkan darah segar dari mulutnya.
"Jian'er!" teriak Lin Zhen dengan wajah sepucat kertas putih.
Pria tua itu langsung berdiri dari kursinya dengan seluruh tubuh gemetar hebat.
Bukan hanya Lin Zhen, seluruh tetua di ruangan itu ikut berdiri dengan mata terbelalak seolah melihat hantu di siang bolong.
Tetua Lin Mo yang selalu tenang pun kini menganga lebar tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.
"K-kultivasimu... tahap Inti Emas?" gagap Lin Zhen dengan suara yang kehilangan seluruh wibawanya.
"Bagaimana mungkin? Tabib dari ibu kota bilang kau sudah jadi cacat permanen!"
Lin Tianhai menatap seluruh tetua yang baru saja mengkhianatinya dengan pandangan yang sangat merendahkan.
Dia tidak lagi menutupi wibawanya sebagai mantan tetua agung yang pernah memimpin klan ini di masa kejayaannya.
"Apakah kalian semua kecewa melihatku berdiri dengan tegak hari ini?" tanya Lin Tianhai dengan suara bariton yang menggema di setiap sudut balai.
"Kalian mengira aku sudah menjadi harimau tanpa gigi yang bisa kalian tendang sesuka hati?"
Para tetua yang tadi mengangkat tangan untuk mengusirnya kini berkeringat dingin sebesar biji jagung.
Mereka sangat sadar bahwa menyinggung kultivator Inti Emas sama saja dengan menggali kuburan mereka sendiri.
"Saudara Tianhai... ini... ini semua hanya salah paham." ucap salah satu tetua penjilat dengan suara bergetar ketakutan.
"Kami hanya mengikuti perintah Kepala Tetua, kami tidak memiliki niat buruk."
"Tutup mulut busukmu itu." potong Lin Tianhai dengan sangat dingin.
"Aku sudah melihat dengan jelas wajah asli kalian semua hari ini."
Lin Tianhai kemudian menoleh ke arah Lin Zhen yang masih berdiri kaku di depan kursinya.
"Lin Zhen, kau menyuruhku menyerahkan token identitas dan pergi dari klan ini?"
"Kau yang memaksaku untuk bertindak kejam!" teriak Lin Zhen berusaha mempertahankan harga dirinya meski kakinya gemetar.
"Kau pikir dengan memulihkan kultivasimu kau bisa bertindak semena-mena di balai ini?"
"Akulah Kepala Tetua klan ini!" bentak rubah tua itu sambil mengeluarkan senjatanya.
Lin Xiao yang sedari tadi diam menonton pertunjukan ayahnya, kini tertawa pelan.
Tawa itu terdengar sangat jernih dan penuh dengan kepuasan yang mendalam.
"Hahaha, Kau bukan lagi Kepala Tetua, Lin Zhen." ucap Lin Xiao sambil melangkah maju berdiri di samping ayahnya.
Lin Xiao menatap seluruh orang di ruangan itu dengan sorot mata yang menyala-nyala oleh ambisi.
"Aturan klan menyatakan bahwa posisi patriark dan tetua tertinggi berhak diduduki oleh orang dengan tingkat kultivasi paling tinggi di dalam klan."
Pemuda itu menunjuk ke arah Lin Zhen dengan jarinya yang ramping.
"Mulai hari ini, ayahku adalah penguasa mutlak Klan Lin."
"Dan jika ada dari kalian yang berani menentangnya..." ucap Lin Xiao sambil melepaskan sepercik niat membunuh dari Kaisar Pedang Haus Darah ke seluruh ruangan.
"Kalian akan berakhir persis seperti tentara bayaran di Hutan Kabut Berdarah."
Mendengar nama Hutan Kabut Berdarah disebut, wajah Lin Zhen dan Lin Jian yang sedang merintih di lantai langsung berubah menjadi ungu.
Mereka kini benar-benar yakin seratus persen bahwa Lin Xiao lah yang membantai para pembunuh bayaran itu.
Balai utama Klan Lin yang tadinya menjadi tempat pengadilan untuk mengusir mereka, kini berubah menjadi panggung penobatan yang paling menakutkan bagi faksi antagonis.
Lin Xiao tersenyum kejam melihat keputusasaan di mata musuh-musuhnya.
Permainan ini baru saja dimulai, dan dia pastikan mereka tidak akan mati dengan mudah.