Jia Li adalah seorang dokter genius dari modern. Meski begitu, keluarganya sendiri tidak pernah menghargainya dan lebih menyayangi kakak laki-laki nya yang menjadi pengangguran.
Tepat setelah Jia Li selesai melakukan operasi. Sebuah tamparan menantinya di pintu keluar. Awal dari segalanya.
Jiwa Jia Li terseret ke zaman kuno, lebih tepat nya memasuki raga Lin Jia. Lin Jia adalah putri dari Kaisar Lin Dong dan selir kedua. Diam - diam di belakang Kaisar. Lin Jia di remehkan karena tidak memiliki Elemen apapun dalam tubuhnya.
Namun semua berubah saat jiwa Jia Li menempati raga Lin Jia. Berkat bantuan sistem dan ruang ajaib. Jia Li akan mengubah takdir Lin Jia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Penangkapan
Malam itu, atmosfer di seluruh penjuru Kekaisaran Naga Langit terasa berbeda dari biasanya. Angin malam berembus dingin, membawa kelopak bunga persik yang gugur melintasi koridor istana megah.
Di dalam kamar pribadinya yang luas dan dihiasi ukiran giok, Putra Mahkota Lin Dui tengah berdiri di depan cermin besar, dengan pakaian penyamaran. Di sampingnya, Permaisuri Li berdiri tegak, menatap sang putra dengan sepasang mata yang memancarkan ambisi yang membara.
"Dengar baik-baik, Putra Mahkota..." Permaisuri Li memecah keheningan dengan suara yang ditekan rendah, namun sarat akan penekanan. "Malam ini adalah kesempatan emas mu. Kamu harus bisa menangkap kelompok pencuri misterius yang belakangan ini mengacaukan ibu kota. Kerahkan seluruh kemampuanmu dan buktikan kepada Ayahmu bahwa kamu adalah satu-satunya penerus yang mampu menjaga kedamaian kekaisaran ini."
Putra Mahkota Lin Dui menghentikan gerakannya sejenak. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman penuh percaya diri yang cenderung meremehkan. "Ibu terlalu cemas. Jangan khawatir. Aku menguasai empat elemen sekaligus. Menghadapi sekelompok tikus kecil seperti mereka? Aku bisa mengalahkan dan melenyapkan mereka semua dengan sangat mudah."
Permaisuri Li menghela napas panjang, gurat kecemasan sekilas melewati wajahnya yang anggun namun dingin. "Kamu terlalu meremehkan musuhmu, Putra Mahkota. Kesombongan sering kali menjadi tirai yang membutakan mata seorang prajurit sebelum pedang lawan menembus dadanya."
"Ini bukan bentuk meremehkan, Ibu..." sahut Lin Dui sambil berbalik, menatap ibunya dengan tatapan tajam. "Aku hanya sangat percaya pada kemampuan yang aku miliki. Tidak ada satu pun pencuri jalanan yang bisa lolos dari cengkeraman empat elemenku."
Namun, kalimat berikutnya yang keluar dari mulut Permaisuri Li seketika membuat tubuh Putra Mahkota mematung di tempatnya.
"Kamu harus benar-benar menunjukkan kelayakan mu di posisi Putra Mahkota sekarang juga," ucap Permaisuri Li, suaranya bergetar oleh urgensi yang nyata. "Apa kamu belum mendengar kabarnya? Pangeran Lin Tian telah sembuh total dari racun mematikan yang menggerogoti tubuhnya selama ini. Dan Ibu sangat yakin, detik ini juga dia pasti akan mulai membuka gerbang meridian nya untuk kembali ber-kultivasi. Jangan sampai kelengahan mu membuat bajingan kecil itu merayap naik dan menggantikan posisimu sebagai calon Kaisar!"
Putra Mahkota Lin Dui terdiam membisu, napasnya tertahan. Sesaat kemudian, dia hanya berdecak kesal, mencoba menyembunyikan keterkejutan yang sempat menyengat hatinya. "Cih, dia hanyalah seorang putra yang lahir dari rahim seorang selir. Mengapa Ibu harus begitu ketakutan setengah mati pada cacat yang baru sembuh itu?"
Permaisuri Li perlahan memejamkan matanya rapat-rapat. Jemarinya yang dihiasi kuku panjang berlapis emas meremas saputangan sutranya dengan amat kuat hingga memutih.
'Karena dia adalah anak dari wanita yang paling dicintai oleh Kaisar!' jerit Permaisuri Li dalam keheningan batinnya yang paling dalam.
Rasa iri dan dendam yang telah membusuk bertahun-tahun membakar dadanya. Alasan utama mengapa Permaisuri Li begitu gigih dan berniat kejam untuk menyingkirkan Selir Kedua beserta keturunannya bukanlah sekadar masalah takhta, melainkan karena fakta pahit bahwa wanita itulah yang memegang seluruh hati dan cinta sejati sang Kaisar, sementara dirinya hanyalah boneka politik di atas kursi megah Permaisuri.
Setelah berhasil menguasai gejolak emosinya, Permaisuri Li membuka mata dan kembali menatap putranya dengan dingin. "Ibu hanya mengingatkanmu agar tidak menyesal di kemudian hari. Dunia kultivasi kekaisaran ini sangat kejam."
"Baiklah, aku mengerti. Aku pergi dulu," kata Putra Mahkota singkat, membalikkan badan dengan langkah kakinya yang tegas meninggalkan ruangan.
Di lapangan utama istana yang diselimuti kabut tipis, ratusan prajurit dan beberapa jenderal telah berbaris rapi dalam formasi tempur. Mereka berdiri kaku dalam keheningan malam, menunggu instruksi dan rencana strategis dari sang Putra Mahkota yang untuk pertama kalinya terjun ke lapangan.
Lin Dui melangkah naik ke atas panggung komando, menatap pasukannya dengan pandangan mengintimidasi. "Dengar seluruh prajurit Kekaisaran Naga Langit! Malam ini, target kita sudah jelas. Kita harus bisa menangkap kelompok pencuri misterius itu hidup atau mati. Aku tidak menerima alasan apa pun, dan aku sama sekali tidak menyukai kegagalan!"
Dia maju selangkah, merendahkan intonasi suaranya agar tidak menggema terlalu jauh. "Rencana kita adalah bergerak dalam bayangan. Kita akan berpatroli dalam diam dan menyembunyikan keberadaan kita. Biarkan tikus-tikus itu berpikir bahwa keamanan Kekaisaran Naga Langit malam ini sangat buruk dan lengang. Kita akan mengawasi setiap sudut dari balik kegelapan. Begitu ada pergerakan sekecil apa pun dari mereka... kita tidak akan memberi ampun. Kita akan langsung mengepung dan mengunci seluruh jalur pelarian mereka!"
Sementara itu, jauh dari hiruk-pikuk persiapan militer di lapangan utama, suasana di Paviliun Musim Semi terasa berbanding terbalik. Keheningan yang menenangkan justru terasa pekat di tempat ini.
Lin Jia berdiri dengan keanggunan penuh di halaman paviliun, jemarinya yang lentik sesekali memainkan ujung selendangnya yang halus. Matanya yang jernih menatap lurus ke arah langit malam yang bertabur bintang, sementara seulas senyum penuh arti dan misteri perlahan terukir di bibirnya yang kemerahan.
Di sampingnya, Mei Mei berdiri setia menemani dalam diam yang patuh. Namun, pelayan muda itu tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya; sesekali matanya melirik cemas ke arah sang Nona yang tampak terlalu tenang di malam yang genting ini.
Lin Jia menghela napas panjang, sebuah desahan yang terdengar seperti perpaduan antara antisipasi dan geli. "Mei Mei, menurutmu apa yang akan terjadi sebentar lagi di luar sana?" tanya Lin Jia tanpa mengalihkan pandangannya dari langit.
Mei Mei melirik ragu sejenak sebelum menjawab dengan suara pelan, "Saya dengar dari para pelayan di depan, Nona... Putra Mahkota sedang menyiapkan rencana besar bersama seluruh pasukan utama untuk menangkap pencuri misterius yang meresahkan itu."
"Apa menurutmu, Putra Mahkota kekaisaran kita itu bisa melakukannya dengan baik?" tanya Lin Jia lagi, kali ini nadanya terdengar seperti sedang menguji.
Mei Mei terdiam sejenak, jemarinya saling bertautan seolah sedang menimbang-nimbang jawaban yang paling tepat. "Entahlah, Nona... tapi bukankah Putra Mahkota dianggap sebagai si jenius elemen? Jadi, rasanya mustahil jika beliau sampai gagal dalam misi malam ini," kata Mei Mei menyatakan keyakinan yang dianut oleh seluruh orang di istana.
Mendengar itu, Lin Jia justru melepaskan tawa kecil yang terdengar sangat merdu namun menyimpan sejuta makna tersembunyi. "Salah... kamu keliru, Mei Mei. Malam ini justru tidak akan berjalan sesuai dengan rencana miliknya. Malam ini... akan terjadi kekacauan besar yang sesungguhnya."
Mei Mei seketika mengerutkan keningnya, rasa cemas mulai merayapi hatinya yang polos. "Maksud Nona bagaimana? Apa ada hal buruk yang akan menimpa pasukan?" tanyanya cemas.
Lin Jia membalikkan badannya perlahan, menatap pelayan setianya itu dengan tatapan yang tajam namun meneduhkan. "Menurutmu... selama ini, apa kelompok pencuri itu pernah sekalipun melakukan aksi mereka di dalam area istana?" tanya Lin Jia, menyodorkan sebuah teka-teki.
Mei Mei terdiam sejenak, mencoba mengingat kembali rumor-rumor yang beredar di pasar dan paviliun dalam. Ia kemudian menggelengkan kepalanya dengan yakin. "Tidak, Nona... mereka hanya bergerak di luar. Mereka hanya mencuri di rumah-rumah keluarga bangsawan kaya dan perkebunan pejabat tinggi saja," kata Mei Mei.
"Kenapa mereka melakukan itu?" tanya Lin Jia lagi, memancing lebih dalam.
"Tentu saja karena keamanan istana sangat ketat, Nona. Mustahil ada pencuri yang bisa menembus formasi penjagaan berlapis istana," jawab Mei Mei dengan nada sangat yakin.
Lin Jia tersenyum puas, menyadari bahwa pelayannya mulai masuk ke dalam inti pemikirannya. "Lalu, apa yang akan terjadi saat semua prajurit terbaik dan Jenderal tangguh pergi keluar dari gerbang istana demi mengejar bayangan para pencuri itu di luar sana?" tanya Lin Jia lagi, suaranya melunak menjadi bisikan yang berbahaya.
Mata Mei Mei membelalak kecil saat sebuah realisasi mengerikan mulai melintas di benaknya. "Keamanan istana... tingkat pertahanan di dalam sini akan berkurang drastis karena kekosongan pasukan," jawab Mei Mei, suaranya mulai bergetar saat ia akhirnya mengerti arah pembicaraan ini.
Lin Jia tersenyum puas, sebuah senyuman kemenangan yang tampak begitu memukau di bawah sinar rembulan. "Target mereka yang selanjutnya... bukan lagi rumah para bangsawan. Target mereka malam ini... adalah istana ini sendiri," kata Lin Jia dengan nada dingin yang mutlak.
Mei Mei seketika menutup mulutnya dengan kedua tangan, sangat syok menyadari bahwa seluruh kekaisaran baru saja berjalan masuk ke dalam jebakan yang tak kasat mata.
"Putra Mahkota yang jenius itu... pada akhirnya hanya akan menangkap angin kosong, sementara rumahnya sendiri dijarah habis tanpa sisa."