Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19 - Arman Tidak Siap
Arman membenci bengkel itu sejak pertama melihatnya.
Bengkel Pak Jaya berada di pinggir jalan besar, dekat warung nasi dan tempat tambal ban. Bau oli menyengat. Lantai semen penuh noda hitam. Suara mesin, palu, dan kompresor membuat kepala Arman berdenyut.
Pak Hendra mengantarnya sendiri.
"Mulai hari ini kamu belajar di sini."
Arman menatap ayahnya.
"Ayah serius mempermalukanku?"
Pak Hendra tidak berkedip.
"Yang mempermalukanmu bukan bengkel. Kelakuanmu sendiri."
"Aku bisa daftar seleksi bulan depan."
"Kamu bisa daftar kalau hidupmu sudah rapi."
"Apa hubungannya?"
"Instansi tidak hanya melihat nilai. Mereka melihat sikap, rekomendasi, catatan lingkungan. Kamu baru membuat keributan satu kampung."
Arman mengepalkan tangan.
Pak Jaya, pemilik bengkel, keluar sambil mengelap tangan dengan kain. Ia teman lama Pak Hendra, tubuhnya besar, wajahnya keras tapi tidak jahat.
"Ini Arman?"
"Iya. Tolong ajari kerja dari bawah."
Pak Jaya menatap Arman dari ujung kepala sampai kaki.
"Bisa pegang kunci pas?"
Arman tersinggung.
"Saya bukan anak kecil."
"Bagus. Anak kecil biasanya lebih cepat belajar karena tidak kebanyakan gengsi."
Pak Hendra hampir tersenyum.
Arman memalingkan wajah.
Di saat yang sama, Bella berdiri di rumah Pak Darto, menunggu kabar.
Ia berharap Arman menolak sebentar, lalu Pak Hendra luluh. Namun siang hari Bu Lilis menelepon Bu Ratna dan berkata Arman sudah ditinggal di bengkel.
Bella terduduk.
"Bengkel sungguhan?"
Bu Ratna menatapnya.
"Tentu sungguhan."
"Tapi... kalau dia kerja di bengkel, kami tinggal di mana?"
"Pak Hendra bilang kontrakan kecil."
Bella merasa mual.
Kontrakan kecil.
Ia mengingat rumah kecil Raka yang dilihatnya sekilas dari luar. Walau kecil, rumah itu milik Raka sendiri, bersih, dan Nadia masuk sebagai istri sah yang dihormati. Kontrakan Arman pasti berbeda. Sementara ia seharusnya tinggal di kompleks dinas, dipanggil Bu Arman, memakai perhiasan, membuat Nadia iri.
Kenapa jalannya berubah?
Atau jangan-jangan dari awal ia hanya melihat bagian yang salah?
Bella menepis pikiran itu.
Tidak. Nadia pasti memakai cara kotor. Nadia membuat Pak Hendra membenci Arman. Nadia membuat Om Raka mengambil posisi yang seharusnya tidak ia ambil.
Eyang Marni masuk sambil membawa tas belanja.
"Bagaimana? Kapan keluarga Arman datang?"
Bu Ratna menjawab, "Tiga hari lagi lamaran resmi. Akad dua minggu setelah itu."
"Terlalu lama."
Bella langsung berkata, "Eyang, tolong bicara dengan Pak Hendra. Kalau lama, orang-orang akan makin menghinaku."
Eyang Marni duduk, wajahnya masam.
"Dulu kalau Nadia menurut, semua tidak begini. Dia sengaja membuat posisinya lebih tinggi dulu, baru membiarkan kamu menunggu."
Bu Ratna tidak membantah.
Bella menangis.
"Aku tidak mau dipanggil keponakan oleh dia."
"Sabar," kata Bu Ratna. "Setelah kamu menikah, fokuslah membuat Arman berhasil. Kalau Arman naik, orang tetap akan melihatmu."
"Tapi kalau dia tidak naik?"
Bu Ratna menatapnya.
"Jangan bicara begitu."
Bella diam, tapi ketakutan itu sudah masuk.
Sore hari, Arman datang ke rumah Pak Darto.
Bajunya bau oli.
Bella yang awalnya ingin memeluknya langsung berhenti. Arman melihat perubahan kecil itu dan wajahnya mengeras.
"Kenapa? Bau?"
Bella gugup.
"Bukan begitu. Aku hanya kaget."
"Kaget calon suamimu kerja?"
"Mas, jangan salah paham."
Arman duduk kasar di kursi.
Bu Ratna cepat membuat teh. Eyang Marni keluar dari kamar, melihat Arman dengan wajah antara kasihan dan kecewa.
"Kamu benar-benar kerja di bengkel?"
Arman tertawa sinis.
"Semua orang sepertinya senang sekali mengulang itu."
Bella duduk di sampingnya.
"Mas, ini sementara, kan?"
Arman menatapnya.
"Menurutmu?"
"Aku hanya bertanya."
"Kalau bukan karena kamu mendesak akad, Ayah tidak akan separah ini."
Bella seperti ditampar.
"Karena aku?"
"Iya. Kamu dan ibumu terus menangis, membuat Ayah merasa aku harus cepat bertanggung jawab. Sekarang lihat."
Bu Ratna meletakkan gelas dengan keras.
"Arman, jangan menyalahkan Bella. Kamu juga ikut masuk kamar."
"Saya tahu!" Arman membentak.
Eyang Marni kaget.
Bella menangis.
"Mas, aku melakukan semua karena mencintaimu."
Arman memandangnya.
Mungkin dulu kata itu cukup membuatnya merasa jantan. Sekarang kata cinta terdengar seperti beban.
"Cinta tidak membayar kontrakan."
Bella pucat.
Bu Ratna menatap Arman dengan dingin.
"Kalau kamu laki-laki, jangan bicara begitu pada perempuan yang akan kamu nikahi."
Arman berdiri.
"Kalau kalian terus menekan, tidak usah menikah sekalian."
Bella menjerit kecil.
"Mas!"
Eyang Marni langsung panik.
"Jangan bicara sembarangan. Kamu sudah merusak nama Bella."
Arman menunjuk dirinya.
"Nama saya juga rusak."
"Kamu laki-laki. Lebih mudah pulih."
Arman tertawa kasar.
"Ternyata kalau butuh tanggung jawab, saya laki-laki. Kalau butuh uang, saya anak keluarga Wiratmaja. Kalian mau yang mana?"
Bu Ratna menahan marah.
Arman mengambil gelas, meminum teh seteguk, lalu meletakkannya kembali.
"Aku pulang."
Bella memegang lengannya.
"Mas, jangan pergi dalam keadaan marah."
Arman melepas tangannya.
"Aku capek."
Ia pergi.
Bella berdiri gemetar.
Bu Ratna memeluknya.
"Sabar. Dia hanya lelah."
Tapi Bella tahu.
Ada sesuatu di mata Arman tadi.
Sesuatu yang dulu mungkin pernah dilihat Nadia.
Di rumah kecil Raka, Nadia sedang menjemur kain lap ketika Sari datang membawa kabar itu.
"Mereka bertengkar hebat," kata Sari. "Arman sampai bilang tidak usah menikah."
Nadia menggantung kain terakhir.
"Sudah kuduga."
Sari menatapnya.
"Kamu tidak kaget sama sekali."
"Arman tidak suka tanggung jawab. Dia suka dihormati."
"Kamu dulu hampir menikah dengannya."
Nadia diam sebentar.
"Iya."
Sari menyesal.
"Maaf. Aku tidak bermaksud..."
"Tidak apa-apa."
Nadia mengambil keranjang kosong.
"Mbak, kalau suatu hari Bella datang menangis, jangan langsung percaya."
"Kamu pikir dia akan datang?"
"Mungkin tidak sekarang. Tapi orang yang merebut bara api biasanya mencari air setelah tangannya terbakar."
Sari bergidik.
Di ruang tamu, Raka sedang membaca dokumen sambil minum teh. Ia mendengar sebagian percakapan, tapi tidak ikut sampai Nadia masuk.
"Arman membuat masalah?"
"Arman menjadi Arman."
Raka menutup dokumen.
"Saya minta maaf."
Nadia menatapnya heran.
"Untuk apa?"
"Dia keponakan saya."
"Aku tidak menikah dengan keluargamu. Aku menikah denganmu."
Raka terdiam.
Nadia meletakkan keranjang.
"Tapi karena aku menikah denganmu, keluargamu akan jadi bagian dari hidupku. Aku tahu itu. Jadi jangan minta maaf setiap kali mereka salah. Cukup berdiri di tempat yang benar."
Raka mengangguk pelan.
"Saya akan berusaha."
Sari melihat mereka berdua, lalu tersenyum kecil.
"Aku pulang dulu sebelum Rani membongkar warung."
Setelah Sari pergi, Nadia duduk di depan Raka.
"Mas Raka sedang baca apa?"
"Catatan pengeluaran rumah."
"Rumah ini?"
"Iya. Saya ingin kita tahu kebutuhan bulanan."
Nadia mengambil kertas itu.
Tulisan Raka rapi. Ada biaya listrik, air, obat, belanja, dana darurat. Bahkan ada bagian kosong bertuliskan kebutuhan Nadia.
"Kenapa namaku kosong?"
"Saya tidak tahu kebutuhanmu. Kamu yang isi."
Nadia memegang pulpen.
Dulu, ia harus meminta uang belanja kepada Arman dan menjelaskan setiap rupiah. Sekarang Raka memberikan kertas dan ruang kosong.
Ia menulis perlahan: tabungan pribadi.
Raka membaca, lalu mengangguk.
"Berapa?"
"Mas Raka tidak bertanya untuk apa?"
"Tabungan pribadi tidak perlu alasan."
Nadia menatapnya lama.
Di luar, mungkin Arman sedang mengutuk bengkel. Bella mungkin menangis karena hidup tidak sesuai bayangan. Bu Ratna mungkin menyusun rencana baru.
Di dalam rumah kecil ini, Nadia belajar menulis kebutuhan dirinya sendiri.
Itu kemenangan yang tidak berisik.
Tapi sangat nyata.
Raka menyimpan kertas itu di map rumah tangga. Nadia memperhatikan label yang ia tulis di depannya: Keuangan Kita.
"Bukan keuangan Mas Raka?"
"Bukan."
"Bukan juga keuanganku?"
"Kalau uang pribadimu, itu punyamu. Kalau biaya rumah, kita bicarakan bersama."
Nadia memainkan pulpen di jarinya.
"Mas Raka tahu tidak, kalimat seperti itu bisa membuat perempuan jadi berani?"
"Bagus."
"Tidak takut aku terlalu berani?"
Raka menatapnya.
"Saya menikahimu setelah melihat kamu melempar gelas ke Arman. Kalau saya takut perempuan berani, saya sudah mundur sejak malam pertama."
Nadia tertawa.
Tawa itu ringan, tapi di luar sana Arman mungkin sedang menyebut keberanian Nadia sebagai duri. Di rumah ini, Raka menyebutnya alasan untuk tetap tinggal.
🤣🤣🤣