Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.
Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.
Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.
Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAKTI BUTA SUAMIKU
Bunyi alarm dari ponsel usang Adinda berdering nyaring tepat saat jarum jam menunjuk angka dua dini hari. Suara tit-tit-tit yang monoton itu memecah kesunyian malam yang masih teramat pekat di dalam gang sempit. Adinda mengerang pelan, kelopak matanya terasa sangat berat akibat sisa tangis dan perdebatan hebat yang menguras energinya hingga lewat tengah malam tadi. Kepalanya berdenyut nyeri, sebuah reaksi fisik yang wajar setelah dihantam badai emosi.
Namun, hidup tidak memberikan kelonggaran bagi seorang wanita yang menggantungkan napas dapurnya pada pesanan orang. Adinda menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk mengusir rasa kantuk dan penat yang menggelayuti tubuhnya. Ia menoleh ke samping, menatap Dimas yang masih tertidur dengan selimut tipis menutup dada.
Adinda memutuskan untuk tidur di kamar sekat bersama Dimas malam ini. Pertengkaran hebat dan kata-kata kasar Bagas di jalan pulang, disusul dengan kelancangan suaminya yang masuk ke kamar hanya untuk meminjam uang demi iuran mas Broto, membuat Adinda merasa muak. Ia tidak sudi lagi berbagi tempat tidur dengan laki-laki egois itu. Malam tadi, setelah menolak tegas semua janji palsu Bagas, Adinda langsung mengangkat bantalnya, melangkah keluar, dan mengunci diri di kamar sekat tripleks ini bersama putranya, membiarkan Bagas terjebak dengan kebingungan dan gengsinya sendiri di luar.
Adinda menyibak selimut, bangkit dari kasur busanya dengan gerakan sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara derit yang bisa mengusik tidur putranya. Begitu kakinya menyentuh lantai semen kontrakan, rasa dingin langsung menjalar naik. Ia melangkah keluar dari kamar sekat menuju ruang tengah yang sekaligus berfungsi sebagai dapur darurat mereka.
Di ruang tengah yang remang, Adinda mendapati Bagas tidur meringkuk di atas sofa ruang tamu yang sempit dengan posisi tidak nyaman, masih mengenakan celana kain kantornya semalam namun jas hitamnya sudah tergeletak di lantai. Pria itu mendengkur halus, tampak tidak terganggu oleh beban utang dua juta atau fakta bahwa ia baru saja menghancurkan hati istrinya. Adinda menatap suaminya sejenak dengan pandangan yang kosong. Rasa benci yang berapi-api semalam kini telah bermutasi menjadi sebuah rasa hambar yang teramat dingin. Ia tidak lagi peduli.
Adinda menyalakan lampu dapur yang temaram, lalu mulai mencuci beras ketan untuk menu lemper pesanan arisan tetangga komplek sebelah. Tangannya bergerak cekatan, menimbang tepung, mengocok telur, dan menyiapkan isian daging ayam. Suara gemercik air kran dan desis pelan dari kompor yang mulai memanaskan kukusan menjadi musik latar yang menemani kesendiriannya membelah sunyi fajar.
Waktu bergulir cepat. Tepat saat jarum jam dinding murahan itu menyentuh angka tiga pagi, pintu sekat tripleks perlahan terbuka. Tanpa perlu dibangunkan, Dimas melangkah keluar dengan mata yang sudah melek sepenuhnya. Remaja berusia empat belas tahun itu sudah rapi mengenakan celana pendek dan kaus oblong.
Bagi Dimas, bangun di jam tiga pagi bukanlah sebuah kebetulan karena keributan semalam. Ini adalah rutinitas yang selalu ia lakukan setiap hari. Sebagai anak laki-laki satu-satunya, Dimas sadar betul betapa berat beban yang dipikul ibunya sendirian. Karena itu, setiap jam tiga pagi, sebelum bersiap pergi ke sekolah, Dimas selalu mendisiplinkan dirinya untuk bangun demi membantu ibunya mempersiapkan pesanan katering.
Tanpa banyak bicara agar tidak membangunkan Abahnya di sofa, Dimas melangkah mendekati meja makan kayu, mengambil sejumput daun pisang yang sudah layu karena dijemur kemarin sore, lalu mengambil kain lap bersih. "Dimas bantu lap daun pisangnya ya, Bu. Biar Ibu bisa fokus cetak kue mangkoknya," bisiknya pelan.
Adinda tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca menatap kecekatan putranya. Di saat anak-anak seumurannya masih mendengkur pulas di bawah selimut tebal, Dimas sudah terbiasa terpapar asap kompor dan bau adonan demi meringankan bebannya.
Mereka berdua bekerja dalam keheningan yang menenangkan, sebuah kontras yang tajam dari kegaduhan ego yang diledakkan Bagas semalam. Dimas dengan telaten memotong daun pisang menjadi ukuran-ukuran kecil, membersihkan permukaannya dengan kain lap, lalu menumpuknya rapi di dekat nampan plastik.
"Ibu... matanya merah sekali. Kepala Ibu sakit lagi, ya?" tanya Dimas memecah kesunyian, suaranya terdengar berat dan sarat akan kekhawatiran.
Adinda tersenyum, mengusap pelipisnya dengan punggung tangan yang bersih dari tepung. "Cuma kurang tidur sedikit saja, Dim. Nanti kalau pesanan ini sudah beres semua dan diantar, Ibu bisa tidur siang sebentar."
Dimas menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengelap daun. Ia menundukkan kepala sejenak, menatap tumpukan daun pisang di hadapannya. Rahangnya tampak mengeras, menyiratkan ada sesuatu yang berkecamuk hebat di dalam pikiran remajanya sejak pertengkaran semalam. Dimas menarik napas dalam-dalam, lalu mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata ibunya yang tampak lelah.
"Bu..." panggil Dimas pelan, namun memiliki penekanan yang teramat serius.
"Iya, Nak? Ada apa?" Adinda tetap fokus menuangkan adonan kue ke dalam cetakan kecil.
Dimas meletakkan kain lapnya di atas meja. Ia memajukan langkahnya hingga berdiri tepat di samping tempat ibunya bekerja. "Bu, kalau Ibu sudah capek sama Abah... lebih baik kita hidup berdua saja, Bu."
Kalimat yang meluncur dari bibir Dimas seketika membuat gerakan tangan Adinda membeku di udara. Sendok berisi adonan merah muda itu tertahan beberapa sentimeter di atas cetakan. Adinda menoleh dengan cepat, menatap wajah putranya dengan pandangan terkejut.
"Dimas, kamu bicara apa..." bisik Adinda, suaranya tercekat.
"Dimas serius, Bu," potong Dimas cepat, sorot matanya memancarkan ketegasan yang mutlak. "Dimas enggak apa-apa enggak punya Abah. Dimas enggak bakal merasa malu atau kekurangan kalau di sekolah ditanya orang tentang Abah. Buat apa kita punya Abah kalau setiap hari Ibu cuma dijadikan mesin pencari uang buat menambal iuran gengsi keluarganya?"
"Dimas, bagaimanapun juga dia itu Abah kamu.."
"Abah yang mana, Bu?" Dimas kembali memotong, kali ini suaranya bergetar oleh emosi yang tertahan. "Abah yang semalam memarahi Ibu di jalan hanya karena Ibu tidak punya uang buat iuran tas mewah Nenek? Atau Abah yang selama bertahun-tahun ini selalu menyembunyikan uang bonus dan uang lemburnya di dalam tas hitam itu hanya untuk mentraktir mas Broto dan mbak Rika makan-makan mahal?"
Air mata yang sejak tadi ditahan Dimas akhirnya luruh juga, membahasi pipi remajanya. "Selama ini, peran Abah itu tidak ada di kehidupan Dimas, Bu! Apa-apa kan Ibu yang urus! Yang belikan Dimas seragam sekolah dari SD sampai sekarang SMP itu Ibu dari uang katering. Yang bayar uang buku, uang kegiatan, sampai uang jajan Dimas sehari-hari itu Ibu! Yang menemani Dimas belajar saat malam hari, yang merawat Dimas kalau lagi sakit, semuanya Ibu!"
Dimas melangkah lebih dekat, memegang kedua tangan ibunya yang terasa kasar karena kapalan akibat kerja keras. "Dimas ingat banget, Bu. Waktu Dimas minta dibelikan sepatu sekolah baru karena sepatu lama Dimas sudah jebol dan kekecilan sampai jempol kaki Dimas berdarah, Abah bilangnya enggak ada uang. Abah membentak Dimas, bilang Dimas anak yang enggak tahu diri dan boros. Tapi besok malamnya, Dimas lihat sendiri di status WhatsApp mbak Rika, Abah dengan bangganya mentraktir sepupu-sepupu Dimas makan steik mahal di mal."
Adinda merasakan dadanya seperti dihantam batu besar mendengarkan curahan hati putranya. Luka-luka lama yang ia kira hanya ia rasakan sendiri, ternyata terekam dengan sangat jelas dan rapi di dalam ingatan anak laki-lakinya. Rasa bersalah yang teramat besar seketika menyeruak di dalam hati Adinda. Selama ini ia bertahan dalam caci maki dan pemerasan halus Bagas karena mengira kehadiran sosok ayah adalah hal yang mutlak dibutuhkan oleh Dimas. Namun pagi ini, di bawah temaram lampu dapur kontrakan, anaknya sendiri yang meruntuhkan pemikiran keliru itu.
"Dimas melihat semuanya, Bu," lanjut Dimas dengan suara yang serak, jemarinya meremas lembut tangan Adinda. "Dimas lihat bagaimana Ibu menangis diam-diam di dapur ini sambil membungkus nasi kotak jam tiga pagi. Dimas lihat bagaimana Abah dengan gampangnya mengambil uang di dalam laci meja Ibu tanpa izin hanya buat pamer di depan saudara-saudaranya. Dimas enggak butuh sosok ayah yang kayak begitu, Bu. Keberadaan Abah di rumah ini cuma menambah beban pikiran dan air mata Ibu."
Dimas menyeka air matanya dengan punggung tangan, lalu memaksakan sebuah senyuman tulus yang teramat tegar di hadapan ibunya. "Kita hidup berdua saja ya, Bu? Setelah pesanan kue Ibu selesai, Dimas bisa bantu antarkan pakai sepeda ke komplek depan sebelum berangkat sekolah. Nanti kalau Dimas sudah lulus, Dimas akan kerja keras biar bisa membelikan Ibu rumah yang layak, yang dapurnya luas, biar Ibu enggak perlu masak di tempat yang sempit dan pengap seperti ini lagi. Kita enggak butuh Abah, Bu. Kita berdua sudah lebih dari cukup."
Adinda tidak mampu lagi membendung air matanya. Air matanya tumpah ruah, mengalir deras membasahi pipinya yang lelah. Ia langsung menarik Dimas ke dalam pelukannya, mendekap erat tubuh putranya yang kini sudah hampir setinggi dirinya. Adinda menangis tersedu-sedu di pundak Dimas, meluapkan seluruh rasa sakit, kehancuran, namun sekaligus rasa syukur yang teramat luar biasa yang membuncah di dalam dadanya.
Ia bersyukur karena di balik kegagalan pernikahannya dengan Bagas, Tuhan memberikannya seorang anak yang luar biasa berhati mulia. Seorang anak yang menjelma menjadi pelindung sejati di saat laki-laki yang berstatus sebagai suaminya justru bertindak sebagai penindas.
"Maafkan Ibu ya, Nak... Maafkan Ibu karena membuatmu harus melihat dan merasakan semua kesulitan ini," bisik Adinda di sela-sela tangisnya, suaranya bergetar hebat.
Dimas menggeleng di dalam pelukan ibunya, mengusap punggung Adinda dengan penuh kasih sayang. "Ibu enggak salah apa-apa. Ibu adalah ibu terbaik di dunia buat Dimas. Jadi, Ibu jangan takut lagi ya? Ada Dimas di sini yang bakal selalu jaga Ibu."
Di luar, semburat cahaya fajar berwarna biru keperakan mulai muncul di ufuk timur, perlahan mengusir kegelapan malam yang pekat. Di dalam dapur kontrakan yang sempit itu, sebuah ikatan batin yang baru saja dikokohkan oleh kejujuran dan air mata telah resmi terbentuk. Adinda melepaskan pelukannya, menatap wajah Dimas dengan pandangan yang kini dipenuhi oleh sepasang mata yang bersinar terang sebuah sinar keberanian yang baru.
Kalimat Dimas pagi itu bukan sekadar penghibur lara, melainkan sebuah kunci pembuka gerbang kebebasan bagi Adinda. Ketakutan akan masa depan jika ia berpisah dari Bagas kini telah lenyap tak berbekas, digantikan oleh keyakinan mutlak bahwa bersama Dimas, hidupnya akan jauh lebih damai dan bermartabat.
"Terima kasih, anak gantengnya Ibu," ucap Adinda sembari menyeka sisa air mata di pipi Dimas, lalu mengecup kening putranya dengan takzim. "Sekarang, mari kita selesaikan pesanan kue ini bersama-sama. Kita tunjukkan kalau kita berdua bisa berdiri tegak tanpa bantuan siapa pun."
Dimas mengangguk mantap dengan binar mata penuh semangat. Keduanya pun kembali melanjutkan rutinitas pagi itu dengan ritme yang lebih ringan. Uap dari kukusan kue mangkok yang merekah indah seolah menjadi simbol dari awal kehidupan baru yang akan segera mereka jemput di ujung jalan pengabdian yang melelahkan ini.