Cerita ini hanya fiksi semata, hanya halu author.
Cerita ini, terispirasi dari curhatan-curhatan seorang ibu yang merasa lukanya terabaikan, lelahnya tak terlihat, dan sakitnya yang dianggap sepele, diselingkuhin pula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Illana Clr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejadian Tak terduga
Waktu terus bergulir tanpa bisa dihentikan, Johan sering mengunjungi Cia di rumah, Alana yang berusaha bersikap dewasa demi anaknya mulai merasa terbebani. Karna Rafa jarang ada di rumah akhir-akhir ini.
Saat sarapan pagi, Alana dan Rafa berbincang tentang perkembangan Cia dan Johan.
"Cia gimana sayang? Udah mulai dekat dengan Johan?" tanya Rafa sambil mengaduk jusnya.
"Lumayan, Mas". Sahut Alana singkat.
Rafa mengangguk, melihat Alana yang terlihat tidak seperti biasanya.
"Kamu kenapa, sayang?" Tanya Rafa khawatir.
Alana menatap suaminya, lalu menari nafas panjang.
"Aku takut, Mas. Ini akan jadi boomerang buat kita" ia diam sejenak. "Aku juga takut, Safa gak tau semua ini, dan nanti timbul salah faham yang besar" lanjutnya.
Rafa mengulurkan tangan menggenggam erata tangan istrinya itu.
"Sayang, aku percaya sama kamu. Kamu bisa jaga diri, kamu bisa jaga Cia".
Sentuhan jempol dipunggung tangan Alana begitu menenangkan.
"Soal Safa, itu menjadi urusan mereka aja. Kita gak perlu ikut campur ya, sayang".
Tambahnya lagi.
Suara langkah kecil terdengar menuju ruang makan.
"Pagi Mama, pagi Papa..." Sapa Cia dengan senyum cerianya.
"Pagi sayang" sahut Rafa dan Alana bersamaan.
"Sini, ada telur rebus sama buah naga kesukaan Cia, makan yang banyak ya sayang" Alana menyiapkan makanan Cia di atas piring mungilnya.
"Waaaah enak ini, makasih Mama"
Cia pagi ini terlihat ceria.
Skip
Disekolah Cia,
Alana menunggu di parkiran didalam mobil, dia melihat Johan berdiri bersandar kemobilnya.
"Astaga, dia masih nemuin Cia disekolah juga?"
gerutunya kesal. Namun, ia terkejut dengan kehadiran anal kecil laki-laki yang menghampiri Johan dan berteriak "Papa".
Ya, Vino dijemput Johan akhir-akhir ini
Johan seperti memperbaiki hubungannya dengan Vino.
Johan terlihat memasuki mobil dengan putranya itu, dan bergegas pergi.
Alana melongo melihat Johan yang berubah
"Itu, anaknya? Sekolah disini bareng Cia?"
Ia mengeratkan genggamannya di setir, tak lama ketukan kecil dijendela mobil membuyarkan lamunannya, dilihatnya Cia tersenyum sumringah.
"Cia.."
Alana segera turun dari mobil, memeluk anaknya.
Cia bingung dengan ekspresi Alana yang tiba-tiba terlihat sangat khawatir.
"Mama, kenapa?"
Tanya polos Cia sambil mengelus punggung Alana.
"Mama cuma kangen kamu, sayang"
Alana melepas pelukan, dan menuntun Cia memasuki mobil.
Diperjalanan pulang, Alana bertanya-tanya dihatinya. "Apa Cia tau kalo adik tirinya satu gedung sekolah dengan dia?" Batinnya berkecamuk.
"Mama, kok diem mulu? Kenapa?"
Tanya Cia polos, sambil menatap ibunya.
"Nggak apa-apa, Sayang. Cia mau makan apa hari ini makan di luar atau dirumah?"
Alana mencoba mengalihkan perhatian Cia.
"Makan ramen boleh? Udah lama soalnya, tapi ajakin Papah juga. Papa Rafa, Papa Johan. Boleh ya mah? Pleeeease" Cia memohon denga. Memasang wajah imutnya.
"Iya sayang, Mama usahain ya."
Alana membelokan mobilnya kearah mall, namun saat diputar balikan sebuah truk melaju kencang, menghantam mobilnya Alana dan Cia yang terkejut tak bisa berkutik.
Mobilnya terbalik, Cia meringis air matanya tumpah "Mamah...." Teriakan kecilnya membangunkan kesadaran Alana.
"Sayang...." Alana berusaha keluar dari mobil namun tak bisa. Saat beberapa orang datang Alana berteriak "Tolong anak saya dulu pak".
Teriaknya kesalah satu orang disana.
para bapak-bapak itu mencongkel pintu mobil disamping Cia. Cia berhasil keluar, diselamatkan.
Alana berusaha keluar dari mobil, yang sudah mengebul. "Arrghhhh" Erang Alana saat menarik kakinya seorang bapak-bapak berhasil menolong Alana.
Saat Alana dan Cia berhasil diselamatkan, mobil terbakar. Alana memeluk Cia, ia hampir kehilangan putrinya beserta nyawanya sendiri.
"Cia, kamu gak apa-apa sayang? Liat mamah sayang... Jangan merem ya, Cia liat mamah"
Alana menepuk pipi Cia, ia takut putrinya meninggalkannya.
Ambulans datang, Alana dan Cia masuk ke satu ambulans. Di perjalanan Alana terus berdoa menggenggam tangan Cia, ia tak sadar kepalanya bocor dan tangan kirinya bengkak. Ia terlalu fokus pada Cia.
Saat sampai dirumah sakit, Alana dan Cia mendapat perawatan. Alana duduk dikursi roda menggenggam tangan Cia.
"Cia, sayang... Cia liat mamah sayang"
Alana menyadarkan Cia. Cia tampak trauma dengan kecelakaan itu.
"Mamah.. Cia takut"
Lirihnya lemah denga. Air mata menggenang.
"Nggak usah takut, mamah disini sayang. Cia ada yang sakit?" Alana tak memperdulikan sakit di badannya.
Cia hanya menggeleng pelan menatap Alana.
Skip
Dikantor Rafa mendapat telpon dari Rumah Sakit, menginfokan bahwa anak dan istrinya kecelakaan dan dirawat disana.
Rafa tanpa pikir panjang segera meluncur ke Rumah Sakit, ia mengendari mobil dengan kecepatan tinggi. Perasaannya berkecamuk, tangisnya pecah dimobil.
Saat sampai di Rumah Sakit Rafa segera menuju kamar rawat inap Cia.
Pintu terbuka pelan, Alana dan Cia menoleh ke arah pintu, sosok yang mereka tunggu kini hadir.
"Mas..." Panggil Alana lirih. "Papa..." suara Cia hampir habis.
Alana duduk dikursi roda disamping ranjang Cia, dengan perban melilit dikepala dan tangan dan kaki kirinya. Begitupun Cia, kepala di perban dan leher memakai cervical corral.
Rafa menghampiri mereka dengan air mata yang tak sanggup ia bendung lagi.
"Maafin Papa,,,, Papa terlambat sayang" ia mengecup kening Cia dan Alan bergantian.