Enam tahun lalu, Kenzo Roman De Luca kehilangan seorang wanita yang tak pernah berhasil ia lupakan. Yang tak pernah ia ketahui, wanita itu pergi membawa dua kehidupan yang tumbuh menjadi anak-anak genius.
Takdir mempertemukan mereka kembali.
Namun, sebelum Kenzo mengetahui kebenarannya, seorang bocah laki-laki yang tak sengaja bertemu dengannya dengan berani menawari sesuatu padanya.
"Asal Anda siap menikah dengan Mommy kami. Maka saya siap bekerja sama dengan Anda," ujar Mateo enteng.
Kenzo terpaku, dia tak tahu anak yang sedang memohon kepadanya itu adalah putranya sendiri. Akankah, Kenzo setuju atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Sore itu, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan lobi apartemen. Digo mematikan mesin, lalu menoleh ke kursi belakang. Mateo dan Alisya duduk dengan tenang sambil memandangi gedung tinggi di hadapan mereka. Kenzo, lalu mengeluarkan ponsel, sebelum menelpon Tara, dia lebih dulu berbicara dengan kedua anaknya.
"Kalian tetap di dalam mobil. Jangan turun sebelum Mommy kalian turun ke sini, mengerti?" ucap Kenzo tegas.
"Iya, Daddy," jawab keduanya serempak.
Kenzo kemudian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Tara. Tak butuh waktu lama, panggilan itu tersambung.
[Halo?] suara Tara terdengar dari seberang.
[Di mana anak-anak? Mereka baik-baik aja, kan?] tanyanya cemas.
"Mereka ada di mobil bersamaku," jawab Kenzo singkat. "Bersiaplah, aku akan membawa kalian ke rumahku. Sesuai perjanjian, mulai hari ini kita tinggal bersama."
Tara terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, [Aku belum bisa. Semua barangku masih di apartemen ini.]
"Itu bukan masalah, Digo akan mengurus semuanya."
[Tapi, Tuan Kenzo—]
"Aku memberimu waktu sepuluh menit untuk turun." Nada suara Kenzo berubah dingin dan tak terbantahkan. "Kalau dalam sepuluh menit kamu belum juga muncul, aku akan membawa anak-anak pergi tanpa menunggumu."
Mendengar ancaman itu, napas Tara tercekat. Ia tahu Kenzo bukan tipe pria yang mengucapkan sesuatu tanpa melakukannya.
[Oke, aku turun sekarang,] jawab Tara pelan.
"Bagus, aku tunggu di bawah."
Sambungan telepon pun terputus. Tara segera berlari ke kamar, mengambil tas berisi barang-barang pentingnya. Tanpa sempat berpikir panjang, ia bergegas keluar apartemen menuju lobi, sementara di luar mobil, Kenzo hanya melirik arloji di pergelangan tangannya, menghitung setiap detik yang berlalu.
Tak sampai sepuluh menit kemudian, pintu lobi apartemen terbuka. Tara keluar sambil membawa sebuah tas. Wajahnya tampak ditekuk kesal, jelas menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak menyukai keadaan yang memaksanya menuruti keinginan Kenzo.
Namun, begitu pandangannya jatuh pada Mateo dan Alisya yang duduk dan Alisya tersenyum dari dalam mobil, rasa cemas yang sejak tadi menghimpit dadanya perlahan menghilang, dia mengembuskan napas lega.
Digo turun dari mobil, lalu membuka pintu penumpang.
"Masuk," titah Kenzo, dengan wajah dinginnya.
Tara tetap berdiri di tempatnya.
"Aku butuh penjelasan, Tuan Kenzo. Kenapa harus sekarang? Kenapa harus pindah ke rumah Anda?"
Kenzo menatapnya datar, tanpa sedikit pun mengubah ekspresinya.
"Aku tidak datang untuk berdebat."
"Tapi—"
"Masuk..." potong Kenzo dengan suara dingin. "Atau aku tinggalkan kamu di sini."
Tara mengepalkan tangannya, berusaha menahan kesal. "Anda selalu memaksakan kehendak."
"Itu pilihanmu," jawab Kenzo singkat. "Ikut sekarang, atau cari jalan sendiri. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
Tara menatap Kenzo beberapa detik. Ia ingin membantah, tetapi melihat Mateo dan Alisya yang memperhatikannya dari dalam mobil, ia akhirnya menghela napas panjang.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Tara masuk ke dalam mobil dan menutup pintu dengan sedikit lebih keras dari biasanya.
Kenzo kembali ke kursi di samping pengemudi, Digo menyalakan mesin, lalu mobil itu melaju meninggalkan apartemen, membawa mereka menuju rumah yang kini akan menjadi tempat tinggal mereka bersama.
"Mommy, tadi kami di ajak jalan-jalan syama Daddy," seru Alisya bercerita pada Tara, Alisya begitu antusias berbeda dengan Mateo, yang nampak cuek.
"Wah, pergi ke mana aja?" tanya Tara, lalu Alisya menceritakan semua hal, dan itu membuat Tara sedikit lega dan tersenyum, sudah lama sekali Tara tak melihat anaknya sebahagia itu.
anknya di biarin aja
bini nya tangannya ga mau dilepas 🫣🤣🤣
dasar...mantan jomblo 40 th🙄
aku suka keributan ini
asal kau di sisi ku dan memegang erat tangan ku
semua akan baik baik saja 😍
up lagi doooong yang buuuuuuuuuuuanyak