Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.
Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.
Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.
Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.
Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan mertua : 02
Helyara berdiri bergeming di bawah naungan ranting berdaun lebat pohon Mangga. Perasaan asing merasuki hati, mengusik pikiran.
Sepasang tangan mungil menggapai angin, netra hitam bulat berbinar cerah dengan mulut kecil memainkan air ludah. Wajah bayi entah umur berapa itu bertumpu di pundak wanita yang berdiri membelakangi Helyara.
Brak!
Tubuh kaku Helya tersentak. Jiwanya seperti ditarik kembali ke dunia nyata.
“Kamu itu ada tamu bukannya disapa malah dipelototi, dimana adab sopan santunmu, Helya!” teguran dengan nada tegas, tatapan mencemooh tertuju teruntuk sang menantu yang ia labeli mandul.
“Maaf, Ma.” Ia menunduk dalam, jemari saling menggenggam dilenturkan. Sedikit terburu-buru mendekat sampai pinggul sebelah kanan menabrak bagian depan mobil.
Hssttt.
Ringisan sakit sama sekali tidak menggugah hati nurani sosok paruh baya memakai blouse merah hati.
Lagi-lagi hinaan terlontar. Sebagai ibu mertua, Ganira menyuarakan ketidakpuasan memiliki menantu berbadan mirip Kerbau, tidak pintar berbaur dengan keluarganya.
“Makanya kurusin tu badan! Harusnya perut diisi bayi bukannya timbunan lemak! Percuma kamu ikut program hamil dari yang alami sampai mengikuti saran dokter kandungan kalau ujung-ujungnya tetap gabuk alias mandul!” hinanya tanpa peduli wajah memerah menahan tangis.
“Mama!” Alan menegur, suaranya sarat ketidaksukaan.
Ganira jelas tidak terima. Merasa terhina ditegur didepan suami dan menantunya.
“Apa yang Mama bilang kan memang fakta, bukan mengada-ada!” kelakarnya dengan suara menggelegar, sorot mata menelanjangi Helyara.
‘Kamu pasti kuat Helya. Kan sudah biasa dikatai mirip seekor Babi, Kerbau, dan dicap mandul. Rahim gabuk,’ batinnya menguatkan, pikiran mensugesti agar segera bertindak sebelum terjadi pertengkaran antara anak dan ibu.
“Maaf, Ma, Pa … dan ….” Ia menyamping memandang sopan wanita berambut keriting sama seperti bayi yang digendongnya.
Alan memutar bagian kap mobil, berdiri di sebelah istrinya, merangkul pundak Helya.
“Dia Rianti, istri sepupu Mas. Suaminya sedang berlayar, dan dirinya dititipkan di rumah Mama,” jelas Alan dengan suara biasa saja.
Rianti menyapa, suaranya terdengar kikuk dan menatap sungkan. “Mbak ….”
“Jangan panggil Mbak, dia lebih muda beberapa tahun dari kamu. Memang sih secara fisik kalau dipandang seperti berumur 40-an padahal masih 27 tahun,” sahut Ganira kembali menyemburkan racun lewat ucapan pedas.
Senyum Helya seperti seseorang menahan lara, ia berusaha tegar kendati hatinya berdarah.
“Panggil nama saja, Mbak. Helya,” katanya dengan suara sedikit bergelombang.
“Baik, Helya.” Ia mengangguk lalu sibuk membuka kepalan tangan bayi yang menarik rambut panjang sebahu.
Alan melepaskan rangkulan, membuat Helya merasa kehilangan.
Jarak diantara mereka hanya tiga langkah kaki tetapi terasa seperti terpisah jurang membentang.
“Alamsyah, gak boleh jambak, Nak. Kasihan ibumu kesakitan.”
‘Sejak kapan mas Alan bisa berbicara selembut itu sama bayi yang katanya cuma anak sepupunya? Terus namanya Alamsyah, kok mirip sama nama mas Alandi?’ perasaan tak nyaman mulai muncul seiring interaksi manis sang suami meraih tubuh gembul lalu menggendongnya.
Helya merasakan seakan dunia di sekelilingnya berhenti berputar, para orang mematung. Hanya ia dan Alan serta bayi tertawa renyah yang bergerak.
‘Mengapa hatiku sakit? Perasaan ini lain dari biasanya ketika menyaksikan mas Alan bercanda dengan Kartika?’ batinnya berisik, sementara mata nyaris tak berkedip.
“Kamu itu pernah diajarin sopan santun gak sama orang tuamu, Helya?” teguran lebih dingin datang dari pria berambut hampir seluruhnya memutih, berperawakan tinggi kurus.
“Maaf, Pa. Maaf.” Ia tersadar kalau belum menyalami kedua tangan mertuanya. Efek terkejut membuatnya gugup sekaligus linglung.
Helya menyalami punggung tangan yang urat-uratnya menyembul dibawah kulit mulai keriput, lalu berbalik badan berjalan empat langkah mendekati ibu mertuanya.
Plak!
Tangan berjari pendek, gemuk, ditepis kuat sampai lengannya tersentak dan tubuh empunya terhenyak.
“Telat! Umurmu sudah tua, tapi adab minus. Harusnya sedari tadi salim, lalu membimbing kami masuk rumah. Bukankah malah kayak orang bodoh yang baru pertama kali melihat bayi digendong pria dewasa!” sarkas Ganira, ia melengos sambil menghentakkan kaki, berjalan menaiki teras luas.
Heuuheuuuu ….
Pipinya mengembung lalu membuang napas terasa sesak terlalu lama tertahan dalam dada. Helyara berjalan paling belakang sambil menyaksikan suaminya yang seolah lupa memiliki istri baru saja direndahkan.
Alan terlalu asik mengajak bercanda bayi yang dipanggil Alam.
Para tamu memasuki ruang santai yang mana kudapan, teh hangat telah disuguhkan oleh bi Mirma. Pembantu rumah tangga sudah bekerja lima tahun lamanya.
Si pemilik rumah berdiri bersebelahan dengan bibi, sementara tamu menikmati secangkir teh, mengunyah kue pukis.
“Nyonya kenapa gak ikutan duduk?” bisik bi Mirma, merasa kasihan kepada sang majikan yang sangat penurut, tertutup, tidak enakan.
“Kursinya sudah penuh, Bi. Lagian capek duduk terus,” alibinya jelas saja dusta.
Masih ada bagian kosong, tetapi di sebelah ibu mertua, Helya tidak seberani itu duduk di sana.
Ganira sengaja duduk di sofa panjang seorang diri, agar sang menantu berdiri bagaikan pembantu.
“Si Siska kemana?” tanya Ganira setelah mengelap mulut lengket minyak menggunakan tisu. Dia baru saja makan satu potong kue bika ambon.
“Sudah tiga hari pulang kampung, Ma. Katanya nanti sore balik kesini,” Helya menjelaskan tentang asisten rumah tangga satu lagi. Seumuran dengannya.
“Kamu itu jadi majikan jangan terlalu baik. Babu kok dimanjakan banget. Bentar-bentar cuti, kayak gak niat kerja,” ada saja yang dikritik.
“Iya, Ma,” sahutnya cepat, percuma mau membela diri yang ada tambah dicaci.
Tiba-tiba Alam merengek dalam gendongan Alan. Bayi sehat, aktif itu mengusap-usap muka.
“Kemarikan, Mas. Alam udah ngantuk, biar saya tidurkan.” Rianti mengulurkan tangan meminta putranya.
‘Mas? Apa wajar panggilan terdengar akrab itu?’ sudut matanya melirik sang suami yang memberikan Alam ke ibunya.
“Helya, tunjukkan mana kamar tidur untuk Rianti. Biar dia bisa menyusui bayinya!” seru Ganira.
“Maaf, Ma. Tadi aku cuma beresin satu kamar saja, gak tahu kalau ada —”
“Astaga!” suara Ganira melengking, dia sampai berdiri dan sangat lancang menuding wajah sang menantu. “Kamu itu selain gila makan, apa gak ada hal berguna lainnya yang bisa dibanggakan, hah?!”
“Masak gak pinter, bersih-bersih gak bisa, memperlakukan tamu pun bodoh! Apa salahnya kamu berlari ke kamar lain, langsung membersihkan agar layak ditiduri, malah mencari alasan biar gak disalahkan!” Dadanya membusung menyimpan udara terasa panas bercampur rasa kesal luar biasa.
“Cukup, Ma! Mungkin aku memang mandul, tapi gak seharusnya Mama hina terus-terusan! Ini rumahku, kenapa selalu aku yang kalian perlakuan layaknya pembantu ketika datang berkunjung! Mengapa?!” ia menjerit, meluapkan sesak dalam dada tak lagi bisa menahan rasa sakit hati.
“Helyara! Jangan membentak Mama! Dia itu pengganti ibumu, kalau gak ada ibuku kamu sudah seperti anak sebatang kara karena sudah tak memiliki orang tua!” suara Alan tidak kalah tinggi.
Seketika tangis bayi memenuhi udara, membuat suasana kian gaduh.
Helyara berlari dengan langkah pendek sambil menangis. Dia pergi ke kamarnya sendiri.
“Ini ni yang Mama gak sukai, kamu terlalu manjain istri jadinya dia kurang ajar!”
.
.
Bersambung.
sukuriiinnn..ketahuan yaaahhh..kalo habis maen kuda²an sama SiAlan....
pas ini untuk menyerang memojokkan
tapi gas tipis2 Heelll
blm waktunya membantai habis
aku suka..aku suka...
injek sekuat tenaga, Hel...
klo bisa, aku bantuin nginjeknya dah 🤭