Lima tahun lalu, Reihan Wijaya—pewaris konglomerat paling berkuasa di Jakarta—lenyap tepat di hari kontrak triliunannya diteken, meninggalkan Nathania yang tengah mengandung dan seluruh utang keluarga Lie yang mencekik.
Lima tahun kemudian, Nathania pulang. Bukan lagi gadis yang dulu terpuruk, tapi pendiri Astera Group yang berdiri di atas kakinya sendiri—dengan satu rahasia kecil bernama Meira, putrinya yang berusia lima tahun.
Di sebuah sudut jalan, Meira menarik tangan seorang pria gembel yang kehilangan ingatan. "Ma… itu Papa," katanya, sambil menggenggam sehelai foto lusuh.
Hasil DNA membuat tangan Nathania gemetar: 99,99%.
Pria "bodoh" yang ia bawa pulang, yang mencuci piring dan menjaga Meira, yang dijuluki "suami simpanan" oleh keluarganya sendiri—ternyata adalah taipan yang seluruh kota kira sudah mati. Dan di tangannya, tergenggam brankas, dendam lima tahun, serta satu Surat Perjanjian yang pernah mengunci Nathania dalam sangkar emas.
Saat topeng terbuka di depan seluruh Jakarta, saat kebohongan lima tahun terkuak… apakah Nathania akan memaafkan pria yang membiarkannya menyalakan dupa untuk "mendiang"-nya sendiri?
Dengan satu putri kecil sebagai mak comblang paling nekat, sang konglomerat siap menurunkan seluruh harga dirinya—demi merebut kembali istri dan anaknya.
"Berapa pun maharnya, akan kubayar. Asal kalian pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27: Lelang Sang Legenda TARO
"Mei cuma angkat papan kalau Papa bilang angkat."
"Bukan kalau Papa bilang," koreksi Han. "Kalau Papa sentuh dua kali."
Meira memegang paddle kecil dengan dua tangan. "Kalau satu kali?"
"Diam."
"Kalau tiga kali?"
"Makan kue."
"Itu aturan bagus."
Nathania menatap mereka dari kursi samping. "Aku mendengar kata papan, sentuh, dan kue. Kenapa aku merasa tidak aman?"
Han menoleh dengan wajah polos. "Permainan."
"Permainan di balai lelang?"
"Mei bosan kalau tidak ada permainan," kata Meira membela diri.
"Mei boleh bosan. Mei tidak boleh bikin Mama masuk berita."
Meira langsung menutup wajah dengan paddle. "Mei kecil. Tidak masuk berita."
Denny yang duduk di belakang hampir tertawa. Nathania menoleh padanya.
"Kamu tahu sesuatu?"
"Saya tahu malam ini akan ramai."
"Jawaban diplomatis lagi."
"Saya belajar dari Ibu."
Balai Lelang Astaguna malam itu penuh kamera. Nama TARO ditampilkan di layar besar, diapit foto lama Lie Sian Hok dan visual sistem AI generasi kedua. Bagi banyak investor teknologi, TARO adalah legenda yang hilang setelah Lientech runtuh.
Bagi Nathania, itu adalah nama yang membuat dadanya sesak.
Papa Lie pernah menulis kata TARO di papan putih rumah saat ia masih kuliah. Ia tidak paham seluruh rumusnya, tetapi ia ingat mata ayahnya hidup ketika menjelaskan.
"Mama sedih?" bisik Meira.
"Sedikit."
"Karena Kakek Lie?"
Nathania mengangguk.
Han mendengar, tetapi tidak menoleh. Tangannya mengepal sebentar di atas lutut. Ia tahu apa yang ada di panggung itu bukan jiwa TARO. Jiwa sistem itu sudah ia pindahkan lima tahun lalu, malam sebelum semua terbakar.
Di sisi lain ruangan, Vincent masuk dengan Vania. Jasnya rapi, senyumnya disusun untuk kamera.
"Pak Vincent, apa target Anda malam ini?" tanya seorang reporter.
Vincent berhenti. "TARO adalah warisan teknologi bangsa. Grup Wijaya ingin memastikan warisan itu jatuh ke tangan yang mampu mengembangkannya."
Vania tersenyum di sampingnya. "Dan tentu, kami menghormati karya mendiang Lie Sian Hok."
Denny berbisik, "Menghormati sambil siap membeli murah lalu jual nama."
Nathania menatap Vincent. "Dia tidak datang untuk menghormati Papa."
"Tidak," kata Han pelan. "Dia datang untuk membeli bayangan."
Nathania menoleh. "Apa maksudmu?"
Lampu ruangan meredup sebelum Han menjawab.
Pemandu lelang naik ke panggung. "Selamat malam, Bapak dan Ibu. Malam ini kita membuka penawaran untuk aset teknologi bersejarah, sistem TARO generasi kedua..."
Penjelasan dimulai. Layar menampilkan demo antarmuka, sertifikat aset, dan sejarah Lientech. Orang-orang merekam. Komentar live mulai naik di layar samping.
TARO comeback?
Papa Lie legend.
Siapa berani beli?
Vincent duduk di baris bidder utama. Bram berdiri dua langkah di belakangnya, membawa tablet. Vania membungkuk ke telinga Vincent.
"Ambil. Setelah RUPS kemarin, kamu butuh simbol."
"Aku tahu."
"Kalau kamu pegang TARO, orang akan bicara bahwa Wijaya bukan cuma properti. Kamu bisa masuk teknologi."
"Dan Nathania?"
"Dia akan melihat karya ayahnya di tanganmu."
Vincent tersenyum. "Itu bagian terbaik."
Bram menunduk, mengirim pesan cepat.
Vania memancing.
Balasan Han:
Biarkan.
Penawaran dibuka di Rp 80 miliar.
Beberapa paddle naik. Ruangan hangat oleh angka. Rp 100 miliar. Rp 125 miliar. Rp 150 miliar.
Vincent menunggu sampai tiga bidder mundur, lalu mengangkat paddle.
"Rp 180 miliar dari Pak Vincent Wijaya."
Kamera langsung berputar.
Meira berbisik, "Itu Om Vincent?"
"Iya," jawab Nathania.
"Yang mukanya seperti tidak suka kalah?"
Denny tersedak pelan.
Nathania menutup mulut anaknya. "Mei."
Han menyentuh lutut Meira dua kali.
Meira langsung mengangkat paddle kecilnya.
"Rp 190 miliar dari bidder keluarga Astera."
Nathania membeku. "Meira."
Meira menurunkan paddle cepat. "Papa sentuh dua kali."
Semua mata di sekitar mereka menoleh.
Han menatap panggung seolah tidak terjadi apa-apa.
"Han," bisik Nathania tajam.
"Permainan."
"Aku akan membunuhmu dengan sangat legal."
"Nanti."
Vincent menoleh ke arah mereka. Melihat Meira, wajahnya berubah. "Anak kecil?"
Vania berbisik, "Jangan kalah dari anak kecil, Vin."
"Diam."
Di baris media, dua reporter mulai mengarahkan kamera ke Meira. Nathania langsung menarik anak itu lebih dekat.
"Jangan sorot anak saya," katanya dingin.
Reporter itu menurunkan kamera. Denny berdiri setengah, siap memanggil keamanan.
Han berkata pelan, "Mereka akan berbalik ke Vincent."
Nathania menatapnya tajam. "Karena kamu?"
"Karena Vincent lebih suka dilihat daripada selamat."
Benar saja, begitu Vincent mengangkat paddle lagi, semua kamera kembali mengarah ke panggung. Meira hanya tinggal anak kecil di pangkuan ibunya.
Itu tidak membuat Nathania lega. Itu membuatnya sadar Han bukan sekadar mengikuti permainan. Ia membaca ruangan.
Pemandu lelang tersenyum profesional. "Rp 190 miliar. Apakah ada Rp 200 miliar?"
Vincent mengangkat paddle. "Rp 200 miliar."
Han menyentuh lutut Meira dua kali.
Paddle kecil naik lagi.
"Rp 210 miliar."
Bisik-bisik menyebar.
"Itu anak Nathania Lie?"
"Astera mau ambil balik TARO?"
"Lucu banget anaknya ikut lelang."
Nathania menekan tangan Meira. "Sayang, jangan angkat lagi."
Meira menatap Han, bingung.
Han menunduk mendekati telinganya. "Kalau Mama bilang berhenti, berhenti."
"Tapi permainan?"
"Mama menang dari semua permainan."
Meira mengangguk serius.
Nathania mendengar kalimat itu dan kemarahannya goyah satu detik.
Di baris depan, Om Winata membungkuk ke arah Denny. "Pria di samping Bu Nathania itu siapa?"
Denny menjawab hati-hati. "Keluarga Bu Nathania."
"Keluarga?"
"Ayah Meira."
Om Winata memandang Han lagi. Ia tidak mengenal wajah itu, tetapi ia mengenal cara seseorang menunggu lawan menjatuhkan diri sendiri.
"Menarik," katanya.
Denny pura-pura sibuk membuka catatan.
Namun Vincent sudah terpancing.
Rp 250 miliar.
Bidder lain mulai mundur. Beberapa tertawa gugup. Om Winata yang duduk tidak jauh dari baris depan memandang Vincent, lalu memandang Han. Matanya menyipit.
Ia tidak mengenal Han sebagai Reihan. Tetapi ia mengenal pola permainan orang yang sabar menunggu lawan menyombongkan diri.
"Pak Vincent," Bram berkata pelan, "batas internal kita..."
"Aku tahu batasnya."
Vania menekan lagi. "Kalau mundur sekarang, besok semua akun gosip bilang Grup Wijaya kalah dari anak TK."
Vincent meremas paddle.
Pemandu lelang menaikkan harga. "Rp 300 miliar."
Tidak ada yang angkat.
Han tidak menyentuh Meira.
Meira berbisik, "Papa, kok diam?"
"Kita lihat Om Vincent."
Vincent menatap sekeliling. Kamera menunggu. Vania menunggu. Harga dirinya menunggu.
Ia mengangkat paddle.
"Rp 320 miliar."
Ruangan bersuara.
Denny berbisik, "Ini sudah gila."
Nathania menatap Han. "Kamu tahu sesuatu tentang TARO."
"Sedikit."
"Sedikit seperti kalung itu?"
Han tidak menjawab.
Di panggung, pemandu lelang memberi kesempatan terakhir.
Satu bidder dari Singapura mengangkat paddle di Rp 350 miliar, lalu mundur ketika Vincent langsung meloncat ke Rp 380 miliar.
Vania tersenyum. "Bagus. Tekan mereka."
"Aku tidak akan kalah."
"Tentu tidak."
Bram melihat tablet. Di balik aplikasi catatan, pesan dari Han muncul.
Naikkan panas. Jangan paksa. Biarkan dia pilih.
Bram membungkuk. "Pak, media sudah menyorot. Kalau Bapak menang di bawah Rp 400 miliar, itu akan terlihat kuat."
Vincent mendengar bagian yang ia suka: terlihat kuat.
Vania tidak berhenti. "Bayangkan headline besok. Vincent Wijaya kembalikan TARO ke panggung nasional. Itu akan menutup cerita brankas, cerita RUPS, semua."
"Aku bilang aku tahu."
"Kalau kamu mundur, orang akan bilang kamu hanya anak bayangan Ko Reihan."
Nama itu menancap tepat di tempat paling busuk. Vincent mengangkat paddle sebelum pemandu lelang selesai bicara.
"Rp 420 miliar."
Ruangan bertepuk tangan setengah bingung, setengah lapar drama. Bram mencatat tanpa ekspresi. Di layar tabletnya, ia menandai satu kata: ego.
Ketika harga mencapai Rp 420 miliar, ruangan tinggal menonton dirinya sendiri menjadi sejarah kecil. Pemandu lelang berkeringat tipis. Infotainment menyorot wajah Vincent dan Meira bergantian, seolah anak kecil itu lawan resmi konglomerat.
Meira sudah bosan.
"Mama, kue tiga kali kapan?"
"Tidak ada kue tiga kali."
"Papa bilang."
"Papa akan menjelaskan di rumah."
Han menatap lurus ke panggung.
Pemandu lelang mengangkat palu. "Rp 450 miliar, satu kali."
Vincent tersenyum.
Di belakang ruangan, seseorang dari tim lelang menerima pesan. Pemandu lelang mengangguk kecil.
"Kami menerima penawaran tertulis Rp 470 miliar dari bidder institusional."
Vincent berdiri setengah. "Siapa?"
"Identitas dirahasiakan sesuai aturan."
Vania mencengkeram lengannya. "Naik."
Bram berkata, "Pak, mungkin lebih baik..."
"Diam."
Vincent mengangkat paddle. "Rp 500 miliar."
Ruangan meledak.
Kamera menyala seperti kilat kecil. Komentar live menggila.
Rp 500 miliar!
Vincent all in!
TARO pecah rekor!
Nathania berdiri sedikit dari kursinya. "Han, apa yang terjadi?"
Han memegang tangan Meira agar anak itu tidak ikut berdiri.
"Dia memilih," kata Han pelan.
"Memilih apa?"
Vincent berdiri di bawah cahaya, wajahnya merah oleh kemenangan yang terlalu cepat ia percaya. Pemandu lelang mengangkat palu tinggi.
"Rp 500 miliar, satu kali."
Om Winata menatap Han.
Di sisi lain ruangan, beberapa bidder yang tadi ikut menawar mulai berbisik. Mereka mundur bukan karena tidak punya uang. Mereka mundur karena angka itu sudah tidak rasional. Orang kaya boleh berani, tetapi orang putus asa selalu punya bau yang berbeda.
Denny menatap layar tablet. "Bu, saham beberapa anak usaha Wijaya mulai ramai dibicarakan."
"Karena angka itu?"
"Karena orang bertanya uangnya dari mana."
Nathania menatap Vincent. Untuk pertama kalinya malam itu, kemenangan Vincent terlihat seperti sesuatu yang dipinjam dari besok.
"Dua kali."
Meira berbisik, "Mama, Om Vincent menang?"
Nathania tidak bisa menjawab.
Han menatap palu yang belum turun.
"Belum," katanya.
Palu itu menggantung di udara.
Dan seluruh ruangan menahan napas sebelum bunyinya jatuh.